Ziarah Makna Tsunami Aceh

Ziarah Makna Tsunami Aceh

Nangroe Aceh Darussalam (NAD)! Hari ini tahun 2004 lalu, sungguh suasana memilukan terjadi. Tsunami hebat berkekuatan 9,0 pada skala richter dengan kedalaman 10 kilometer telah meluluhlantakkan bumi Serambi Mekah. Gempa terbesar sepanjang abad 21 itu menyuguhkan catatan sekaligus pelajaran. Mari sejenak kita ziarah makna atas peristiwa alam yang juga melanda 14 negara di belahan Asia Tenggara tersebut.

Gempa 15 tahun lalu itu menelan korban lebih dari 170 ribu jiwa warga sepanjang pantai barat Sumatera, begitulah catatan yang dirilis SAR Nasional kala itu. Sebuah peristiwa yang tidak mampu kita tolak juga tidak bisa kita minta. Peristiwa alam kehendak Tuhan –tsunami Aceh—yang memberi pelajaran besar bagi kita. Meskipun jauh dari lokasi peristiwa, namun batin kita seolah ikut merasakan denyut penderitaan warga yang terdampak peristiwa tersebut. Ketika masyarakat Aceh mulai bangkit, tertatih berjalan di sela puing-puing harapan, ada sebuah pelajaran besar yang patut kita renungkan. Bahwa hidup tak selamanya harus meratapi ketidakenakan atau apapun yang ‘seolah’ menghancurkan kita. Jujur, sebagai warga Indonesia, saya merasa bangga dengan kerabat kita di Aceh yang dengan sigap berani menata kembali, bangkit dari reruntuhan akibat tsunami.

Selain pelajaran besar tersebut, ada makna lain sebagai hikmah dibalik peristiwa pilu tersebut. Yakni; apa yang kita miliki bisa datang dan pergi dengan sekejap. Bahkan apapun yang kita bangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam sekejap mata. Tsunami Aceh telah menggulung bumi Serambi Mekah hanya dalam hitungan menit (sekitar 8 – 10 menit).

Gelombang tinggi sekitar 30 meter pun menggulung dan menerjang seluruh isi wilayah Banda Aceh dan sekitarnya. Patut kita renungkan bahwa yang kita miliki sejatinya tidaklah kekal.

Makna lain peristiwa tanggal 26 Desember 2004 adalah dibutuhkan kekuatan dan jiwa besar untuk mampu menerima apapun yang terjadi dalam hidup. Terdengar mudah namun sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Setidaknya fenomena tsunami Aceh telah menjadi contoh nyata, kita ‘dipaksa’ –diajak latihan oleh Tuhan—untuk berjiwa besar. Menerima apapun yang menimpa diri kita tanpa menyalahkan siapapun. Tsunami Aceh telah berlalu sekitar 15 tahun.

Untuk mengenangnya, kini berdiri bangunan Museum Tsunami di pusat kota Banda Aceh. Serta beberapa artefak korban lainnya yang tersebar di sudut wilayah Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Bangunan-bangunan tersebut seakan mengantarkan kita pada ziarah makna demi mengambil hikmah atas peristiwa tersebut.

Terakhir, atas peristiwa besar itu, masyarakat Indonesia menjadi siaga dan mementingkan pelajaran tanggap bencana, pengetahuan jalur evakuasi, pusat peringatan dini tsunami, serta setrategi hidup di negeri jalur bencana (lingkar api bencana). Dan masih banyak lagi kegiatan lainnya demi upaya meminimalisir korban jika terjadi bencana serupa. Semoga ziarah makna ini membuat kita lebih waspada. Dan doa selalu untuk kerabat kita korban tsunani Aceh (26/12/2004) serta keluarga yang ditinggalkan.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

OR

Related Articles
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 26, 2019, 1:04 PM - cucuk espe
Dec 26, 2019, 12:59 PM - Febry Winarto
Dec 11, 2019, 4:55 PM - Agus Kurniawan
Dec 10, 2019, 9:41 AM - Jumadi Gading
Nov 25, 2019, 9:18 PM - Agus Kurniawan
About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 17, 2020, 12:19 AM - Nabila Afira quraina
Feb 17, 2020, 9:08 PM - Bram Asta
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo