Virus Corona Vs Flu Spanyol

Virus Corona Vs Flu Spanyol

Pandemi terparah dalam sejarah adalah flu spanyol. Yang terjadi pada tahun 1918. Flu ini berlangsung selama dua tahun. Dalam tiga gelombang serangan. Tercatat 500 juta orang terinfeksi dan 50-100 juta kematian. (data wikipedia).

Namun sebagian besar kematian terjadi di gelombang kedua, ketika masyarakat sudah sangat merasa tidak nyaman dengan karantina dan jarak sosial, ketika mereka dibolehkan keluar rumah lag, masyarakat berbondong-bondong merayakannya dengan suka cita di jalan-jalan. Beberapa minggu kemudian, serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan juta kematian.

Kini kita dihadapkan dengan pandemi baru yang tidak kalah mengerikan dari flu spanyol. Virus corona yang pertama kali melanda negera china. Hingga melebarkan sayapnya ke berbagai negara bahkan ke seluruh dunia.

Virus corona menguncang dunia. Mempengaruhi perekonomian. Tidak hanya satu negara tetapi seluruh dunia. Bandara ditutup, pelabuhan ditutup. Eksport import lumpuh total. Semua menagis, semua mengeluh. Apakah pemerintah tinggal diam? Tidak, segala cara telah dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Namun hasilnya virus tersebut tidak hilang di muka bumi ini.

Jika negara maju mengeluhkan tentang virus corona ini, maka mari kita lihat kehidupan negara berkembang, atau negara miskin di dunia ini. Pasti mendapat guncangan yang lebih dahsyat dari negara maju.

Salah satu negara yang merasakan dampak yang sangat signifikan yaitu Indonesia, negara yang tercinta kita ini. Negara yang mulai berkembang. Namun tidak mampu untuk melakukan lock down seperti negara lainnya. Lalu apa yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk memutuskan mata rantai virus corona? Yaitu melakukan pembatasan sosial berskala besar. Selain itu memberikan bantuan kepada masyarakat sebenar 600 ribu rupiah perbulan selama tiga bulan berturut-turut. Hanya saja pemberian bantuan tersebut terkadang tidak akurat, tidak sampai pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Hasilnya masyarakat meraung, memilih melanggar pembatasan sosial berskala besar dan keluar rumah untuk bekerja.

“Lebih baik mati karena virus corona, dari pada anak dan istri mati karena kelaparan,” begitulah prinsip para tulang punggung di negara tercinta kita ini. Bukan karena merasa diri hebat. Bukan karena kebal terhadap penyakit tetapi karena ada tanggung jawab. Padahal tidak ada tabungan untuk menutupi pengeluaran selama pandemi.

“Kerja aja, penghasilan hanya untuk makan hari itu. Gimana bisa dapat uang lebih?” begitu keluhan pada kepala keluarga. Dan satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup yaitu menerobos virus corona, bekerja sekuat tenaga. Agar anak dan istri bisa tetap makan.

Saat pemerintah Indonesia memutuskan untuk menutup bandara dan pelabuhan, melakukan pembatasan sosial berskala besar. Rakyat kecil menjerit, harga pertanian jatuh. Pemerintah disalahkan atas kekacauan yang ada. Padahal pemerintah Indonesia berusaha untuk memutus mata rantai penularan virus corona tersebut. arus perekonomian terhambat.

Eskport import dihentikan. Harga hasil pertanian turun drastis. Semua kena dampaknya. Bahkan petani harus ikhlas mencabut tanaman yang susah payah ditanam, hanya karena pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan. Biaya perawatan tanaman jauh lebih mahal dari pada hasil jualnya, alhasil petani semakin terpuruk.

“Kenapa pemerintah melakukan pembatasan? Itu hanya akan hancurkan masyarakat kecil,” begitu kata netizen. Lagi-lagi pemerintah menjadi kambing hitam. Pemerintah akan selalu disalahkan untuk apa yang sedang terjadi di negera tercinta kita ini. Sibuk menyalahkan pemerintah tanpa mau tahu betapa pemerintah berjuang untuk kesejahteraan warganya. Hal yang sulit untuk pemerintah putuskan jika itu menyangkut kemaslahatan warga negara Indonesia. Tetapi keputusan harus tetap dilakukan untuk memilimalisir kemungkinan yang terburuk. Semua sudah dipertimbangkan, hanya saja warga kadang tidak peduli.

Kehidupan berubah drastis. Harus tinggal di rumah, berusaha untuk mengurangi aktifitas diluar rumah.  Perlahan tetapi pasti, PSBB dan di rumah aja memberikan efek yang sginifikan. Penyebaran virus corona semakin menurun, bahkan beberapa daerah tidak mengalami pertambahan pasien pengidap virus corona. Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan PSBB. Memberikan kehidupan baru di tengah pandemi yang melanda dunia ini. Pemerintah memutuskan untuk membuat tatanan kehidupan baru yang disebut NEW NORMAL.

Untuk memulihkan perekonomian rakyatnya pemerintah Indonesia kemudian memutuskan untuk menjalankan tatanan kehidupan baru, yaitu hidup normal baru. Warga boleh saja beraktifitas dengan keluar rumah dengan syarat memenuhi protokol kesehatan yaitu :

Memakai masker saat keluar rumah.

Sering cuci tangan.

Melaksanakan sosial distancing.

Namun meski demikian tetap saja penularan virus corona semakin hari semakin bertambah.kembali pemerintah menuai kriti pedas yaitu : Apakah pemerintah Indonesia akan mengulang kesalahan yang sama? Kesalahan saat flu spanyol melanda dunia? Atau dengan menerapkan protokol kesehatan mampu menghentikan penyebaran virus corona.

Yang pastinya pemerintah Indonesia berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi warganya. Sebab selalu ada pro dan kontra untuk setiap keputusan yang diambil oleh pemerintah. Tinggal warga yang berusaha untuk bijak melihatnya.

Sekarang warga sudah beraktifitas seperti biasanya meski harus selalu menggunakan masker. Seolah semua kembali normal seperti sebelumnya dimana virus belum melanda negeri tercinta kita ini. Perlahan dan pasti semua tentang virus corona yang mengerikan mulai redup. Hidup sehat dan menjaga pola makan menjadi prioritas utama dalam menghadapi virus corona.

Setiap musibah pasti ada hikmahnya, setidaknya dengan adanya virus corona mengajarkan untuk hidup sehat. Kehidupan sehat yang kadang kala kita abaikan selama ini.

Mari kita bersama melawan virus corona. Bersama kita pasti bisa. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

Hanya seorang penulis yang selalu ingin menghibur orang lain

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma