VAR, Membantu Atau Mengganggu?

VAR, Membantu Atau Mengganggu?

Banyaknya keputusan-keputusan kontroversial yang dihasilkan oleh pengadil lapangan dalam banyak pertandingan sepak bola, mendorong terciptanya sebuah teknologi yang diharapkan  dapat mengurangi kesalahan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh wasit dalam memimpin pertandingan sepak bola, dan juga dapat berperan dalam pengambilan keputusan terhadap insiden-insiden yang terjadi di lapangan, yang luput dari pantauan sang pengadil lapangan.

Teknologi tersebut saat ini sudah tercipta, dan saat ini sudah digunakan dibeberapa Liga top Eropa, salah satunya Liga Inggris. Teknologi tersebut ialah Video Assistant Referee atau saat ini lebih dikenal dengan sebutan VAR. VAR merupakan teknologi pembantu wasit, yang menggunakan  sejumlah kamera sebagai peranti utamanya untuk menangkap momen-momen dalam pertandingan, termasuk momen kontroversial yang lolos dari pengawasan wasit dan asisten wasit.

Kamera-kamera ini merekam seluruh jalannya pertandingan dan terhubung dengan layar yang ditempatkan di sisi luar lapangan, untuk digunakan wasit saat melakukan pengecekan terhadap sebuah insiden yang tidak terlihat dari penglihatan wasit dan pengecekan terhadap pengambilan keputusan yang dirasa kurang tepat.

Tampilan dari VAR tersebut juga terhubung dengan sebuah ruang khusus yang berisi dari beberapa kru asisten dan beberapa layar, yang bertugas untuk membantu wasit melakukan pengecekan tersebut. Sehingga kesalahan terhadap pengambilan keputusan dan pelanggaran-pelanggaran yang tidak terlihat bisa terdeteksi.

Sejak pertama kali digunakan untuk uji coba salah satu pertandingan Major League Soccer pada tahun 2016, setelah mendapat persetujuan dari International Football Association Board (IFAB) peran VAR menjadi sangat vital sebagai salah satu komponen yang wajib ada pada pertandingan sepak bola.

VAR secara resmi diperkenalkan pada pertandingan persahabatan internasional antara tim nasional Prancis melawan tim nasional Italia beberapa bulan setelah uji coba pertamanya. Pertama kali VAR diperkenalkan di liga professional yaitu pada pertandingan Liga Australia atau A-League pada 7 april 2017, pada pertandingan Melbourne City vs Adelaide United, yang berakhir tanpa intervensi VAR. Sebagai teknologi yang dipercaya memakai budget yang tidak sedikit, penggunaan VAR sejatinya dapat membantu sang pengadil lapangan dalam membuat keputusan-keputusan yang relevan dan adil.

Sayangnya, dalam beberapa pertandingan, masih terjadi kesalahan-kesalahan pengambilan keputusan, bahkan berasal dari VAR dan kru yang bertanggung jawab atas teknologi tersebut. Contohnya saat pertandingan Liverpool melawan Manchester City. Dalam pertandingan yang diselenggarakan di Stadion Anfield tersebut, terdapat insiden-insiden yang bisa dianggap merugikan dari pihak tim Manchester City.

Seperti, insiden Handball oleh Trent Alexander-Arnold di kotak penalty Liverpool. Wasit tidak menganggapnya sebagai Handball dikarenakan posisi tangan Arnold dianggap bukan posisi natural dari tangannya. Sedangkan, dalam video tayangan VAR, terlihat jelas bahwa bola mengenai tangan Arnold saat tangannya berada diposisi natural, tetapi wasit tidak menganggapnya sebagai Handball. Berkat insiden itu, pemain Manchester City melakukan protes terhadap wasit, yang mengakibatkan konsentrasi dari para pemain tersebut terpecah.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh para punggawa Liverpool. Hasilnya, 21 detik setelah insiden di kotak penalty Liverpool tersebut, tim asuhan Jurgen Klopp berhasil mencetak gol ke gawang Manchester City, melalui proses serangan balik yang memanfaatkan buyarnya konsentrasi para pemain Manchester City yang melakukan protes. Insiden handball pada pertandingan tersebut kembali terjadi pada babak kedua, tepatnya saat Raheem Sterling mencoba untuk menusuk jantung pertahanan Liverpool melalui sisi kanan pertahanan dari tim merah tersebut. Masih dengan pemain Liverpool yang sama, Raheem Sterling yang sudah berada di kotak penalti  Liverpool, mencoba untuk untuk melewati Arnold dengan mengangkat bola lebih tinggi. Sayangnya, bola kembali mengenai tangan Arnold.

Kejadian ini pun kembali dianggap oleh wasit Mike Dean bukan sebagai handball. Keputusan-keputusan kontroversial ini sangat disayangkan oleh para pemain dan staff Manchester City, khususnya manajer mereka, Pep Guardiola. Pep yang sangat merasa kecewa, mendatangi para wasit dan hakim garis saat pertandingan usai, sembari mengatakan “Thank you so much!.” dengan menggunakan nada sarkas.

Kekecewaan Pep amat sangat wajar, mengingat bahwa pertandingan ini adalah pertandingan anatara 2 tim yang dipercaya oleh sebagian besar pihak sebagai kandidat terkuat juara Liga Inggris musim ini. Peran VAR yang sejatinya diharapkan menjadi teknologi yang dapat membantu wasit membuat keputusan-keputusan yang lebih tepat dan adil saat ini belum bisa dirasakan oleh beberapa pihak. Pasalnya, teknologi ini masih menggunakan decision maker secara manual, yaitu berdasarkan pantauan para kru yang berada di ruang monitor khusus. Ini tidak ada bedanya dengan hanya menambah wasit didalam pertandingan. Pada forum pelatih UEFA yang diselenggarakan di Swiss pada 11 November lalu, Jurgen Klopp selaku pelatih Liverpool mengungkapkan pendapatnya mengenai penggunaan VAR yang dinilainya masih banyak mengalami permasalahan, khususnya saat wasit mengambil keputusan dalam pertandingan. Klopp mengungkapkan “VAR masih dapat diperbaiki. VAR memang mungkin tidak dapat 100 persen benar. Tapi, ada beberapa aspek yang tidak tepat dalam penggunaan VAR.” ungkapnya dikutip di salah satu situs web talkSPORT.  

Penggunaan VAR dalam sepakbola ternyata tidak terlalu didukung oleh Presiden UEFA, Alesander Ceferin. Ceferin menyebutkan bahwa dia tidak menyetujui penggunaan VAR di dunia sepakbola. Ceferin juga menyebutkan bahwa VAR adalah kekacauan yang tidak dapat diperbaiki. Ceferin menyatakan “Ini adalah sebuah kekacauan. Saya tidak berpikir beda 1 atau 2 sentimeter dapat dibilang sebagai posisi offside. Jika salah seorang pemain memiliki hidung yang panjang, pastinya pemain itu berada dalam posisi offside sekarang.

Selain itu garis, garis offside diputuskan oleh VAR. Jadi itu adalah keputusan yang subjektif terhadap keputusan yang harus objektif.” dikutip oleh Sky Sport. Ceferin juga menambahkan, bahwa UEFA akan mengusulkan perubahan kepada IFAB. “Kami akan mengajukan permintaan perubahan kepada IFAB. Dan juga untuk wasit. Kami tidak memiliki banyak intervensi dalam kompetisi UEFA karena kepala wasit kami, Roberto Rosetti, mengatakan bahwa VAR hanya digunakan untuk kesalahan yang jelas dan pasti.”  ujar Ceferin.

Ceferin menilai penggunaan VAR sudah terlanjur digunakan sehingga tidak mungkin lagi untuk dibatalkan. Tapi paling tidak, dia menilai penggunaan sistem VAR dapat diperbaiki kedepannya agar esensi yang diharapkan pada sistem VAR bisa didapatkan. Dan juga pengambilan keputusan oleh wasit dapat lebih baik lagi. Jadi, apakah untuk saat ini, keberadaan sistem VAR membantu dunia sepakbola, atau malah mengganggu belum dapat disimpulkan.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
Febry Winarto - Dec 9, 2019, 9:58 AM - Add Reply

Kalo menurut saya VAR sangat membantu wasit dalam memberikan keputusan yang adil di pertandingan, banyak kasus keputusan wasit yang merugikan salah satu tim

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

Beginner Writer, just share my thoughts

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 24, 2020, 3:20 PM - Akhmad Fauzi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma