Tewasnya Komandan Garda Revolusi Iran Berpotensi Menaikkan Harga BBM Dan Dicabutnya Subsidi

Tewasnya Komandan Garda Revolusi Iran Berpotensi Menaikkan Harga BBM Dan Dicabutnya Subsidi

Serangan udara brutal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) melalui militernya ke Bandara Internasional Baghdad pada Jumat pagi (3/1) waktu setempat, bakal berbuntut panjang menambah tegang hubungan antara AS, Iran, dan Irak.

Pasalnya, serangan udara militer Amerika Serikat itu menewaskan Komandan Pasukan Al Quds Garda Revolusi Iran, yang bernama Jenderal Qassem Soleimani, dan wakil komandan milisi Irak yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Rakyat, bernama Abu Mahdi al-Muhandis. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan mempunyai alasan untuk memerintahkan membunuh Soleimani.

Trump berdalih Soleimani merencanakan serangan besar terhadap warga AS di Timur Tengah, maka dari itu dia mencegahnya dengan menyerang terlebih dulu. Yang di takutkan bukan cuma ketegangan politik yang akan terjadi karena tragedi ini. Tetapi, juga merembet ke ketegangan ekonomi dunia yang berdampak besar dengan krisis global.

Serangan militer AS ke Iran tentu saja bakal memperkeruh iklim ekonomi global yang sudah sangat tidak menentu akibat perang dagang yang sebelumnya terjadi antara AS dengan China terang Pengamat ekonomi politik yang berasal dari Universitas Airlangga Ichsanudin Noorsy "Ya pasti akan meningkatkan tingkat ketidakpastian ekonomi global. Jika saja Iran memberikan perlawanan, maka Timur Tengah akan tegang," ucap Ichsan Tidak di situ saja, efek dari tingkah laku nakal Amerika Serikat ini juga tentu bakal merunut ke lonjakan harga minyak dunia yang mungkin bisa saja harga nya melambung tinggi.

Harga minyak dunia naik 2 dolar AS menjadi 63,18 dolar AS per barel tidak lama setelah serangan itu dilaporkan terjadi. Ditambah, perlawanan Iran yang memangkas ekspor minyak Iran menjadi 200 miliar dolar AS, yang merupakan akibat dari AS yang menjatuhkan sanksi-sanksi ke industri minyak Iran. Menurut Ichsan, Indonesia juga bakal terdampak dari serangan AS ke Iran hari ini. Di mana asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2020 dipatok sebesar 63 dolar AS per barel. Dampak paling nyatanya adalah lonjakan harga BBM hingga pencabutan subsidi. "Subsidi dicabut karena memang rezim neolib (neoliberalisme). Beban rakyat secara optimal untuk optimalnya kenikmatan pemodal finansial," kata Ichsan.

Kebijakan itu, diprediksi Ichsan bisa saja terjadi. Karena pemerintahan saat ini bisa diibaratkan seperti dua sisi mata uang koin yang berbeda. Kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan jargon politik Kabinet Presiden Joko Widodo “Indonesia Maju”. Artikel Belum Dimonetisasi!



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma