Tentang Menulis: Dialektika Perasaan Diri Sendiri

Tentang Menulis: Dialektika Perasaan Diri Sendiri

Selalu ada alasan ketika kita melakukan sesuatu, termasuk dalam hal menulis. Lalu pertanyaannya, “Kenapa kita menulis?”. Sebagian dari kita pasti memiliki alasan tersendiri. Namun, bagaimana jika menulis dapat menyehatkan mental? Mungkin kita harus berpikir, “Bagaimana bisa?” kalau kita sering-sering menulis, coba tanyakan lagi “Apa alasan kita menulis selama ini?”.

Tentunya ada berbagai alasan, semuanya tergantung jenis tulisan yang kita geluti. Saya akan berangkat dari cerita pribadi. Sekitar tahun 2014. Pada waktu itu, saya terlibat dalam kepengurusan organisasi etnis yang berdomisili di Salatiga. Saya dipertanggunggjawabkan sebagai kabid Sumber Daya manusia (SDM). Dari beberapa program yang di jalankan, ada satu program yang menjadi titik awal ketertarikan saya dalam menulis.

Program itu adalah Kabar KEMAMORA (Kerukunan Masyarakat Moluku Kie Raha). Sebuah program jurnalistik seputar berita-berita kegiatan organisasi. Saya teringat betul ketika pertama kali mengerjakan program ini. Bersama beberapa rekan-rekan, kami mencoba menulis. Timbul sebuah pertanyaan “kok bisa ya! Menulis sesulit ini?” padahal hanya berisikan informasi dan gambaran kegiatan saja.

Singkatnya, meski program ini berjalan tidak sesuai harapan tetapi saya bersyukur pada proses yang telah di lalui. Setidaknya, dari situlah pemicu semangat untuk bisa menulis. Saya terus menulis di blog dengan sesuka hati, apa saja yang penting menulis. Bahasa kasarnya menulis dengan asal-asalan. Terbukti! Setelah tahun 2018, saya mengecek kembali tulisan-tulisan itu. Hasilnya, ada yang bikin ketawa dan juga kagum. Ketawanya, kok bisa ya! saya menulis begitu? Kagumnya, ternyata ada tulisan yang baik juga.

Saya merasa seperti ada yang hilang ketika sekian lama vakum berorganisasi. Hati dan pikiran mulai berjalan tak searah. Pikiran mulai terkoyak-koyak oleh hati yang terbentur oleh keadaan. Kehilangan mood beraktivitas, mengalami insomnia, dan sering depresi. Saya awalnya tak tahu-menahu soal depresi, namun ketika di cek di om google, Ya! ciri-cirinya mendekati, tapi tidak sampai niat bunuh diri, wkwk.

Hal yang disarankan untuk mengatasinya adalah dengan terbuka pada orang terdekat. Namun yang terpikir, bagaimana respon mereka? palingan ya, kamu kurang berdoa mungkin, kamu kurang bersyukur mungkin, dan mungkin-mungkin yang lainnya. Tapi mungkin saja respon mereka tidak seperti yang saya mungkinkan. Tapi ya sudahlah! Semua itu saya lewati sendiri tanpa mencurhat ke siapapun, wkwk sok kuat. Dan kita sampailah pada alasan sesungguhnya kenapa saya menulis. Dalam kekosongann waktu, dalam situasi di alinea sebelumnya. Saya menuangkan apa yang ada pikiran kedalam tulisan.

Mencari-cari bacaan ringan seperti buku novel, motivasi, dan pengembangan diri. Dan buku karya andrea hirarta yang berjudul “Pohon Sirkus” adalah novel pertama yang saya baca. Setelah membaca saya menulis lagi, ini menjadi rutinitas dalam 2 bulan terakhir. Entah apa yang terjadi, pola tidur saya berubah sebagaimana mestinya, lebih semangat bangun pagi dan lebih makin bergairah dalam menulis. Rupanya, masalah bisa menjadi racun di pikiran ketika tidak di keluarkan. Entah medianya melalui bercerita kepada orang terdekat ataupun menulis sama saja. Sama-sama membuat hati makin ploooong.

Namun, ketika menulis sebagai medianya, kita perlu kuat dalam memotivasi diri sendiri. Misalnya, membaca, menonton film dan apapun yang dapat membuat kita termotivasi. Ketertarikan saya dalam dunia kepenulisan kian menggelora, sampai mencoba menulis novel yang mandek pada 25 halaman saja. Alasannya, saya butuh belajar lebih dalam lagi bukan Cuma modal niat saja. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti kelas menulis Cerpen online (KMCO). Ini bukan tentang siapa saya tapi ini tentang kekuatan di balik menulis. Tentang kita sebagai manusia yang sekiranya harus juga merawat mentalnya bukan hanya fisik semata.

Makna Menulis bagi Filsuf Stoa Stoacisme atau Filsasat stoa adalah salah satu aliran filsafat yang lahir dan berkembang pesat pada abad ke-3 Masehi. Ajarannya adalah mengenai pengendalian dan kontrol diri untuk mencapai tujuan tertinggi hidup manusia yakni kebahagian (Well-being). Filsafat Stoa mengejarkan bagaimana manusia memaksimalkan nalarnya untuk mengatasi emosi yang sifatnya merusak dirinya sendiri. Menurut Epictetus (55M-135M) filsafat adalah cara/jalan hidup, bukan sekadar sebuah disiplin teoritis. Baginya, segalah hal, kejadian, fenomena, yang ada dari luar diri kita tidak bisa di kontrol atau di kendalikan.

Artinya diri kitalah yang bertanggung-jawab penuh atas seluruh pikiran dan tindakan kita. Dalam hal menulis, menurutnya, filsafat adalah cara/jalan kehidupan itu harus di tuliskan setiap hari. Karena itu ia mewajibkan para muridnya untuk menulis setiap hari. Dengan demikian, muridnya dapat mempraktikan filsafat serta melatih kedisiplinan diri. Berbeda dengan Seneca (Tahun 4M-65M).

Sama seperti Epictus, seneca juga seorang filsuf stoik. Menurutnya, imajinasi, kreativitas, dan pikirannya sangat berkembang ketika malam mulai memeluk bumi dan ketika istrinya sudah tertidur pulas. Ketika itu pula ia merefleksikan dan memeriksa seluruh pengalaman sepanjang hari, menelusuri setiap kata dan perbuatan yang sudah dia lakukan hari itu, kemudian menuliskannya secara lengkap tanpa menyembunyikan sesuatu apapun. Baru setelah itu ia beristirahat malam. Baginya dengan disiplin menulis, selain mampu memeriksa pikiran dan perbuatannya supaya bisa mengoreksi keesokan harinya. Ia juga akan mengalami tidur yang sungguh lelap dan menyenangkan.

Sedangkan Marcus Aurelius (26 April 121-17 Maret 180 M) mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Karyanya berjudul “Ta eis heauton” atau “Kepada dirinya sendiri” atau yang lebih populer dengan Meditation adalah bukti yang tak terbantahkan. Karyanya ini merupakan semacam catatan pribadi yang berisi gagasan atas pikiran dan tindakannya yang ia bangun diatas interpretasi dan praktiknya atas ajaran Stoa. Sasarannya adalah refleksi dan perbaikan diri ke arah yang lebih baik. Misalnya, ia menulis demikian, “Biarkan opini tidak menguasai dirimu, dan dengan begitu tak seorang pun akan berpikir bahwa dirinya salah. Jika tak seorang pun mengira bahwa dirinya bersalah, maka tidak akan ada lagi hal yang kita sebut kesalahan. (Versi bahasa inggris yang di terjemahkan oleh Meric Casaubon) Manfaat-Manfaat dalam Menulis Pemaknaan menulis menurut para filsuf stoa diatas telah memberikan suatu gambaran jelas mengenai “Benarkah menulis dapat menyehatkan mental?” hal ini didukung juga oleh penelitian yang telah membuktikan bahwa menulis dapat membantu manusia dalam mengatasi persoalan mentalitas. Menulis yang sifatnya terbuka pada sendiri, serupa dengan dua orang manusia yang sedang mengobrol dan saling terbuka satu sama lainnya (Curhat-Mencurhat).

Berikut ada beberapa manfaat yang di peroleh dari menulis.

  1. Kesehatan Psikologis Terjaga. Dalam studinya, Baikie meminta partisipan menulis 3 sampai 5 peristiwa hidup yang penuh tekanan selama 15-20 menit. Hasil studi menunjukkan, mereka yang menuliskan hal tersebut meningkatkan kesehatan fisik dan mental secara signifikan daripada mereka yang menulis topik-topik netral.
  2. Berkorelasi Erat dengan Kebahagiaan. Bersama Jane Dutton, Adam Grant menemukan bahwa orang-orang yang bekerja di bidang penggalangan dana, berhasil meningkatkan penghasilan sebesar 29 persen dalam waktu 2 minggu setelah mengalihkan rasa stres dengan membuat jurnal harian.
  3. Lewati Masa-masa Sulit. Masih berdasarkan pengamatan Adam Grant, dalam sebuah penelitian yang melibatkan insinyur yang belum lama berhenti bekerja, periset menemukan adanya korelasi positif antara hobi menulis dengan potensi menemukan pekerjaan baru. “Para insinyur yang menuliskan pemikiran dan perasaan mereka tentang kehilangan pekerjaan, dilaporkan cenderung tidak melampiaskan emosinya lewat amarah, minuman keras, ataupun aktivitas fatal yang sia-sia. Tiga bulan setelahnya, 26 persen mantan pegawai yang gemar menulis, mendapatkan pekerjaan setelah melalui 1 interview kerja saja. Pada bulan ke-8 pasca-penelitian, lebih dari 52 persen insinyur yang terbiasa menulis secara ekspresif telah mendapatkan perkerjaan kembali,” ungkap Adam Grant. Hasil studi ini sesuai dengan riset yang pernah dilakukan oleh James Pennebaker bersama Sandra Beall. Dalam penelitian tersebut, partisipan diminta untuk berusaha menuliskan perasaan terdalam mereka tentang kejadian traumatis besar dalam hidup. “Meskipun saya belum pernah berbicara dengan siapa pun tentang apa yang saya tulis, akhirnya saya dapat mengatasi rasa sakit akan masalah tersebut, alih-alih mencoba untuk menutup diri,” ungkap salah satu peserta.
  4. Sebagai Latihan Mengungkapkan Rasa Syukur New York Times melaporkan bahwa memiliki hobi menulis jurnal dapat meningkatkan kebahagiaan, kesehatan, serta hal-hal baik dalam kehidupan. Selain itu, menuliskan apa yang Kamu syukuri selama 15 menit setiap malam bisa membantu Kamu tidur lebih nyenyak, menurut sebuah studi psikologi terapan. Dengan menuangkan rasa syukur ke dalam sebuah jurnal, kepribadianmu lambat-laun akan semakin rendah hati. Sebab Kamu melibatkan Tuhan sebagai sumber kekuatan, yang memungkinkan segala hal baik terjadi dalam hidupmu. Dan biasanya, apa yang disampaikan dari hati pasti sampai ke Maha Pemilik Hati.

Manfaat menulis ternyata lebih dari yang kita bayangkan. Selama ini kita terjebak pada manfaat yang bersifat eksternalitas dan mengesampingkan manfaatnya yang bersifat internalitas. Sehingga hal-hal yang mencakup kesehatan mental menjadi sangat asing bagi kita. Kegiatan menulis sebaiknya jangan di pandang sebagai dialektika intelektual murni, tetapi menulis harus dipandang juga sebagai dialektika perasaan. Karena Perasaan itu diibaratkan lampu yang bertugas menerangi ruang jiwa. Jika perasaan itu tak berfungsi (tak menyala), maka jiwa kita pasti akan sangat gelap.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Frainto kalumata, sapa saja frento. Lahir 11 juli 1996 di kota Tobelo. Kota kecil yang berada di halamahera Utara. Mahasiswa manajemen Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Jejaknya bisa di lacak melalui akun instagram @frentokalumata.

Recent Articles
Apr 6, 2020, 1:37 AM - Deni Riyandi
Apr 5, 2020, 1:02 PM - Andria Ranti
Apr 5, 2020, 10:15 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz