Stop Bully! Anies Baswedan Bukan Gubernur Terbodoh

Stop Bully! Anies Baswedan Bukan Gubernur Terbodoh

Ketikkan kata-kata “gubernur terbodoh di Indonesia” pada mesin pencari google maka akan muncul gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Ini adalah suatu informasi yang keterlaluan dan mesti dipertanyakan kebenarannya. Tulisan ini mencoba meluruskan sebelum hal ini menjadi salah kaprah yang meluas di kalangan masyarakat pengguna internet alias warganet. Sebelumnya ijinkan saya mengutip kata-kata filosofis dari sang gubernur DKI Jakarta berikut ini :

“Anak muda tidak menawarkan masa lalu, tapi menawarkan masa depan.”

Anies Rasyid Baswedan dilahirkan pada tanggal 07 Mei 1969 di Kuningan Jawa Barat dari ayah dan ibu yang berkecimpung di bidang akademisi. Ayahnya Rasyid Baswedan adalah mantan wakil rektor Universitas Islam Indonesia sedangkan ibunya adalah Aliyah Rasyid seorang guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta. Saudara kandungnya adalah Abdillah Rasyid dan Ridwan Rasyid.

Selama menempuh pendidikan di Yogyakarta Anies adalah seorang siswa yang berprestasi cemerlang. Masuk TK Masjid Syuhada di umur 5 tahun, dilanjutkan ke SD IKIP Laboratori, kemudian SMPN 5 Yogyakarta lalu masa SMAnya dihabiskan di SMAN2 Yogyakarta. Di tahun terakhir SMA ia berhasil mendapatkan beasiswa AFS year program untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama 1 tahun di Wisconsin, Amerika Serikat. Sepulangnya dari negeri paman Sam pada tahun 1989, ia mulai berkarier di TVRI Yogyakarta sebagai redaktur dan pembawa acara “tanah merdeka” sampai tahun 1991. Sambil kuliah di fakultas ekonomi universitas Gajah Mada.

Anies Baswedan melanjutkan kuliah S2 nya di University of Maryland, Amerika Serikat dengan beasiswa. S3 nya juga didapatkan dengan beasiswa di Northern University, Illinois, Amerika Serikat. Masih berpikir kalau Gubernur DKI 2017-2022 ini gubernur terbodoh di Indonesia? buang jauh-jauh pikiran itu. H. Anies Baswedan SE, MPP, Ph.D adalah suami dari Fery Farhati Ganis S.Psi, M.Sc, bukan hanya cemerlang di bidang akademis ia juga seorang peneliti dan dosen yang handal. Terbukti ia pernah menjabat sebagai direktur riset pada lembaga The Indonesian Institute dan juga menjadi rektor di Universitas Paramadina pada usia yang masih relatif muda, 38 tahun.

Sebelum terjun di bidang politik Anies Baswedan juga menggagas dan menginisiasi beberapa gerakan sosial terkait bidang pendidikan. Salah satunya adalah gerakan Indonesia Mengajar yang mengirim anak-anak muda untuk berbagi ilmu ke berbagai pelosok daerah terpencil di Indonesia. Gerakan lainnya yang diinisiasi olehnya adalah gerakan turun tangan. Ayah dari 4 orang anak ini sudah melirik dunia politik pada saat itu. Ia berpikir bahwa untuk mencapai tujuan mengabdi dan memajukan negara secara lebih baik harus melalui jalur politik.

Ia benar-benar mengambil langkah politik dengan mengikuti konvensi calon presiden dari partai demokrat. Sekalipun gagal, ia tidak menyerah dan berhenti melangkah. Pada saat pemilihan presiden di tahun 2014 Anies Baswedan bergabung dengan tim kampanye Joko Widodo – Jusuf Kalla sebagai juru bicara. Setelah terpilih sebagai presiden Joko Widodo memasukkan Anies Baswedan sebagai anggota kabinet kerja jilid I sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jabatan mentri ini dipegangnya hanya sampai tahun 2016 karena terkena penggantian oleh presiden Joko Widodo.

Di tahun 2017 ia maju bersama pengusaha Sandiaga Uno sebagai wakilnya dalam pertarungan memperebutkan kursi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Setelah melalui proses kampanye yang panjang dan melelahkan serta meresahkan masyarakat karena dibawa-bawanya isu agama dan rasial akhirnya Anies Baswedan – Sandiaga Uno memenangkan pemilihan gubernur dengan suara 58% pemilih mengalahkan pasangan Ahok – Djarot. Dalam pemilihan kepala daerah ini Anies Baswedan diusung dan didukung penuh oleh partai Gerindra yang ketua umumnya, Prabowo Subianto, dikalahkan oleh Joko Widodo yang  pada pemilihan presiden tahun 2014 dimana pada waktu itu Anies Baswedan menjadi juru bicara di pihak Joko Widodo. Sedangkan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di saat Joko Widodo menjadi gubernur DKI Jakarta adalah wakil gubernur. Ahok pada waktu itu adalah kader partai Gerindra.

Jadi politik itu cair, semua bisa berubah dan bergeser dengan mudah. Sedangkan di level akar rumput, cenderung menanggapinya dengan sepenuh hati. Kalau sudah tidak suka dengan seseorang terus saja tidak suka. Kalau sudah senang tidak akan mau berpindah ke pilihan lain. Inilah yang membuat warganet suka melontarkan kata-kata yang membully di berbagai media yang dapat diakses. Saking ramainya dunia maya, sampai-sampai keyword “gubernur terbodoh di Indonesia” di google akan memunculkan Anies Baswedan. 

Google tidak salah. Google hanyalah mesin pencari. Ia akan membantu mencarikan apapun yang diketikkan oleh penggunanya. Banyaknya bully-an yang dialamatkan kepada Anies Baswedan membuat namanya muncul di halaman pertama google jika seseorang mencari gubernur terbodoh di Indonesia. Jika sebagian besar warganet berhenti membully maka hasil pencarian itu akan berubah dengan sendirinya.

Penyebab bully terhadap Gubernur terpilih DKI Jakarta terpilih ini adalah karena kemenangannya pada pemilihan kepala daerah yang dinodai oleh eksploitasi agama dan ras etnik. Banyak warga yang tidak mendukung Anies Baswedan merasa calon yang didukungnya dikalahkan dengan cara-cara yang kasar dan penuh intrik politik. Kekecewaan ini terus tumbuh berkembang karena berbagai kebijakan Anies Baswedan yang tidak populer. Hingga terus menerus menjadi bahan pergunjingan di dunia maya. Diantaranya pengangkatan TGUPP dengan jumlah 74 orang yang digaji dari APBD dengan total gaji yang lumayan besar. Kemudian diabaikanya fasilitas Jakarta Smart City yang dapat memantau keadaan seluruh wilayah DKI Jakarta. Susahnya masyarakat mengakses balai kota untuk bertemu gubernur, proyek instalasi getah getih yang menggelikan. Kemudian diganti dengan instalasi batu bertumpuk. Bongkar pasang trotoar. Semrawutnya kembali pasar Tanah Abang padahal sudah sempat tertib dan rapi pada masa gubernur sebelumnya. Pengelolaan APBD yang kurang tepat dan terakhir tidak adanya antisipasi atas datangnya musim hujan membuat DKI Jakarta terendam banjir di awal tahun 2020. Berbagai kekecewaan warganet ditumpahkan di internet dan saking banyaknya ungkapan kekecewaan ini berhasil menobatkan Anies Baswedan sebagai gubernur terbodoh di Indonesia pada mesin pencari google.

Hubungan Anies Baswedan dengan Novel Baswedan

Kakek Anies Baswedan dari pihak ayah bernama Abdurahman Baswedan adalah seorang anggota BPUPKI. Ia adalah politisi, pejuang dan diplomat serta pernah menjabat sebagai menteri muda penerangan di kabinet Syahrir III. Dari perkawinannya yang kedua dengan Barkah Ganis memberikan 11 orang anak diantaranya adalah Rasyid Baswedan dan Salim Baswedan. Salim Baswedan mempunyai anak Novel Baswedan yang pernah bertugas sebagai penegak hukum sebelum mengemban tugas dalam waktu yang lama sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hingga sering disebut sebagai penyidik senior di KPK.

Jadi hubungan Anies Baswedan dengan Novel Baswedan adalah saudara sepupu.

Novel Baswedan menjadi perhatian masyarakat sewaktu mengalami penganiayaan karena disiram dengan air keras yang menyebabkan luka-luka pada bagian wajahnya dan sebelah matanya buta. Pengungkapan kasus ini terkesan lama dan berlarut-larut karena ketiadaan saksi mata pada saat kejadian berlangsung.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Popular This Week
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 17, 2020, 9:08 PM - Bram Asta
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Feb 17, 2020, 12:19 AM - Nabila Afira quraina