Satria tak Berkuda yang Sering Ku Abaikan

Satria tak Berkuda yang Sering Ku Abaikan

Dua hari lalu aku diusik oleh pikiran yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Hal itu sungguh membuatku sedih dan menangis. Sebenarnya sudah lama aku pernah menyadari perasaan itu, namun baru merasakan puncak kesedihannya saat dua hari lalu. Dua hari yang lalu, aku pergi ke pusat kota mengikuti tes yang lagi nge-hits, test aparatur sipil negara. kalau ditanya hasilnya, pasti bikin nyesek. Jadi jangan tanya hasil, tapi mari berfokus pada isi dari cerita lengkapku.

Setelah tes berakhir, aku langsung bergegas kembali dari tempat test ke terminal. Tidak ingin berlama-lama disana karena aku rindu rumah atau bahasa kerennya “home sick”. Setelah mengikuti tes itu, pikiran jadi linglung. Bahkan aku hampir salah masuk parkiran bis antar provinsi DAMRI. Rasanya blank, waktu itu aku benar-benar pulang sendiri hingga sempat gupuh karena salah arah. Untungnya waktu itu memakai kacamata dan masker, sehingga wajah bingungku tertutup dengan sempurna.

Sempat menelpon salah seorang teman dan berdialog dengan nada santai untuk menghilangkan kecemasan. Alhamdulillah tak lama setelah berusaha mengalihkan pikiran dari rasa cemas, bis sesuai tujuanku akhirnya ketemu. Tanpa pikir panjang langsung masuk bis dan duduk di sebelah kanan jendela. Tempat duduk yang aku tempati ada 3 kursi, tak berselang lama ada 2 cewek yang menempati tempat duduk sampingku. Oke aman, aku tidak perlu mencemaskan ‘siapa’ yang akan duduk disampingku nanti.

Bus menunggu penumpang penuh. Sekitar 15 menit aku menunggu, langsung menghubungi “Satria ku” bahwa aku sudah mendapatkan bis dan akan melaju pulang. Selama bus masih berdiam diri ditempat yang sama aku naik, tiba-tiba hatiku nyesek. Rasanya berat...berat sekali. Bahkan aku sempat menangis di bis untuk meluruhkan beban di dada. Perasaan itu masih membuatku sesak hingga aku menulis dibagian ketiga paragraf ini. Entah tiba-tiba aku memikirkan “Satria ku”, Satria yang sering aku panggil bapak.

Rasanya terbawa suasana dengan musik yang ku putar dan kursi bis yang aku tempati, sama seperti ketika bapak mengantarkanku untuk test 5 tahun yang lalu. Ujian masuk sekolah tinggi negara. 5 tahun yang lalu, orang tua ku sering mengantarkan ujian kesana-kemari supaya aku mendapatkan tempat yang terbaik untuk melanjutkan kuliah. Orang tua ku sering mengantarkanku, tapi yang paling sering adalah bapak. Bapakku yang menjadi saksi bisu perjuanganku mendapatkan kursi di bangku kuliah.

Hal yang paling berkesan adalah ketika bapak mengantarku naik bis menuju wilayah Batu tepat 5 tahun lalu. Kami kesana hanya untuk registrasi dokumen guna memenuhi persyaratan ujian sekolah tinggi negara. Biasanya bapak mengantarku menggunakan kendaraan pribadi, tetapi waktu itu beliau memutuskan untuk mengantar naik bus saja, toh cuman sehari. Saat itu aku kedapatan jadwal siang hari, jadi kami memutuskan untuk berangkat pagi dan menunggu bis di halte dekat rumah.

Kami tiba di lokasi tepat saat adzan dzuhur berkumandang. Kami mencari masjid dekat lokasi. Setelah itu, aku langsung menuju loket menunjukkan kartu identitas peserta untuk mendapat nomor antrian. Bapak berpesan bahwa beliau akan menunggu didepan lokasi hingga keperluanku selesai. Beliau menawariku makan siang, namun aku sedang tidak mood. Beliau memaksa, tapi aku menjawab singkat bahwa aku tidak lapar. Aku ingin makan setelah selesai registrasi saja. Beliau mengiyakan.

Waktu itu aku juga tidak ketemu teman SMA sama sekali. Jadi ya bener-bener sendiri. Tapi setidaknya aku bisa melihat wajah bapak dikejauhan, hatiku sudah aman. 2 jam lamanya bapak menunggu registrasiku selesai. Alhamdulillah waktu itu tidak hanya ada halangan apapun sehingga semua berjalan lancar, aku bergegas menemui bapak dan mengatakan bahwa aku lapar. Bapak membelikanku makanan tapi beliau tidak ikut makan, sudah makan katanya. Setelah makan, kami mendapatkan bis untuk menuju pulang.

-----

2 minggu berselang, ujian digelar. Aku mengikuti sesuai prosedur dan memang banyak sekali yang ikut. Sebelumnya, H-1 kami istirahat di penginapan rekan bapak dulu sewaktu dinas di kota Batu. Aku merasa bahwa ujian ku isi dengan lancar dan baik-baik saja. Namun, ternyata hasil yang kudapat tidak sesuai harapan. Belum lagi aku juga mendapatkan kabar bahwa jalur undanganku ditolak. Rasanya ingin menangis, tapi aku tidak ingin menangis didepan bapak atau ibu. Aku tahu, tangisan seorang anak akan membuat mereka ikut terpuruk.

Selain ditolak, aku juga ditolak oleh semua ujian yang sudah aku ikuti. Mulai dari jawa timur hingga jawa tengah. Bapak lah yang selalu mengantarku kemana-mana tiap aku test. Daerah istimewa, Batu, kota Pahlawan, kota Transit, dan masih banyak lainnya. aku menangisi bukan karena hasil yang kudapatkan. Hal yang paling membuatku sedih adalah bapakku. Aku melihat perjuangan seorang bapak yang selalu setia mendampingiku dimanapun aku mengikuti ujian.

Di setiap perjalanan pulang setelah mengikuti ujian, aku benar-benar kasihan dengan bapak. Bapakku tidak lagi muda, tepatnya waktu itu usia 45 tahun. Tapi aku seperti masih takut untuk kemana-mana sendiri, jadi aku masih membutuhkan beliau untuk menjadikan teman pendamping ujianku. Rasanya campur aduk, aku sungguh tidak menangisi hasil ujianku. Aku malah menangisi keadaan bapak yang rela mengantarku kemana-mana, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit mulai dari keperluan pendaftaran ujian, makan, hingga uang perjalanan.

---

Maka dari itu... sering sekali aku berpikir, apa saja yang sudah lakukan untuk membalas rasa terima kasihku pada bapak? Aku belum melakukan hal apapun untuk membahagiakan bapak ibuku. Saat ini aku benar-benar tersadar usiaku sudah dewasa, bukan saatnya lagi aku main-main dan melakukan sesuatu hal yang kekanakan. Sangat sedih rasanya melihat bapak yang sampai sekarang masih bekerja pergi pagi pulang malam demi menghidupi kami. Tapi aku berterima kasih pada-Nya, jika tidak disadarkan pada kondisi seperti ini pasti aku akan terus nyaman di comfort zone ku.

Banyak sekali artikel, kutipan, hingga Al-Qur’an untuk berbakti kepada orang tua terutama pada Ibu. Pertama Ibu, kedua Ibu, ketiga Ibu, keempat baru Ayah. Ibu memang diutamakan, tapi jangan pernah melupakan jasa seorang Ayah. Ayah, seorang satria tak berkuda yang sering sekali aku abaikan. Mungkin bukan aku saja, ada segelintir anak yang mengabaikan jasa seorang Ayah. Perlu kita sadari bila kita benar-benar membuka mata, memahami setiap kata, Ayah juga sangat berjasa bagi kehidupan anak-anak diseluruh dunia.

Segelintir anak kadang lupa atas jasa yang diberikan seorang Ayah untuk mereka (untuk aku juga). Hal pertama yang mereka lakukan pasti memikirkan ibu, baru memikirkan Ayah. Tak ku pungkiri, aku dan banyak teman yang ku tanyain juga merasakan hal yang sama. namun aku bersyukur bisa berada diposisi yang benar-benar sadar bahwa sosok Ayah juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dengan porsi yang sama seperti ibu.

Ah... dari tadi mataku tidak bisa berhenti memproduksi air mata.  Sungguh pembahasan tentang seorang Ayah ini bikin aku baper, sedih, bikin terenyuh, campur aduk pokoknya. Aku bersyukur sekali memiliki Bapak yang sehat, yang mengerti agama sehingga contoh-contoh baiknya bisa aku implementasikan dalam prinsip hidupku. Karena tidak sedikit pula seorang Ayah kurang mengerti agama, hingga membiarkan anaknya buta akan ilmu agama. Bukan bermaksud sombong, tapi inilah kisah asli yang terjadi pada beberapa temanku yang kurang beruntung.

----

Bapak adalah cinta pertamaku,

Bapak adalah lelaki pertama yang menyentuh dan membisikkan suara merdu adzan untukku.

Bapak adalah seseorang yang selalu menanyaiku secara detail tiap kali aku pergi

Bapak selalu mengecek dan memastikan bahwa aku sudah tidur di kamar setiap malam

Bapak selalu mengecek dan memastikan bahwa aku sudah bangun tidur di setiap pagi

Bapak rela mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menafkahi istri dan anak-anaknya

Bapakku adalah satria tak berkuda yang sering aku abaikan...

Terima kasih bapak, doakan anakmu ini menjadi sosok yang bisa membanggakan dengan prestasi yang sedang aku rajut saat ini.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Halo! aku pengguna baru di Rackticle :) mohon saran dan masukannya ya. makasih

Popular This Week
Recent Articles
Apr 6, 2020, 1:37 AM - Deni Riyandi
Apr 5, 2020, 1:02 PM - Andria Ranti
Apr 5, 2020, 10:15 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz