Review Film Birds of Prey (2020)

Review Film Birds of Prey (2020)

Sejak dirinya diperkenalkan di film Suicide Squad pada tahun 2016, karakter Harley Quinn sudah mampu mencuri hati para pecinta film superhero. Margot Robbie yang memerankan karakter Harley Quinn bisa dengan baik menggambarkan sosok wanita badut jahat yang merupakan pacar dari Joker ini. Kini, di tahun 2020 ini, Harley muncul di film solonya tanpa kehadiran Joker.

Film berjudul Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn), film produksi DC Entertainment dan Warner Bros studio. ini menjadi bagian DC Extended Universe (DCEU). Film ini bercerita tentang kehidupan Harley setelah dia putus cinta dengan pujaan hatinya yaitu Joker dan dirinya harus menghadapi banyak musuh di Gotham City. Di saat itulah, dia bertemu sekutu-sekutu yang tidak pernah dia kira sebelumnya. Di film solonya ini, Harley Quinn juga berperan sebagai narator atau pembawa cerita.

Adegan film ini dimulai dengan Harley Quinn yang sedang menceritakan awal kehidupannya hingga dia bisa menjadi seorang Harley Quinn seperti sekarang. Tanpa mengungkap mengapa dia dan sang pujaan hati Joker akhirnya putus, Harley Quinn yang patah hati berusaha untuk move on. Dia mendapatkan Bruce, seekor hyena (dubuk), dia menemukannya dari tempat penampungan hewan, nongkrong di klub, mencoba berteman dan menikmati sisa hidupnya.

Harley Quinn berusaha untuk jujur kepada teman-temannya dengan mengatakan kalau dirinya dan Joker telah putus. Namun, tak satupun orang mempercayai dirinya. Merasa dirinya putus asa dan ingin secepatnya lepas dari bayang-bayang Joker, Harley Quinn meledakkan pabrik asam yang menjadi simbol hubungannya dengan Clown Prince of Crime itu. Yang Harley tidak sadari adalah setelah mendeklarasikan berakhirnya hubungan asmaranya dengan Joker, nyawanya pun terancam.

Pasca ledakan pabrik itu, banyak orang yang memburu Harley. Mereka ramai-ramai ingin balas dendam terhadap perbuatan yang dilakukan Harley ketika dia masih bersama Joker. Tak hanya para penjahat yang memburunya, polisi pun juga ikut mengincarnya. Salah satu dari polisi yang sangat ingin menangkap dirinya adalah Renee Montoya (Rossi Perez).

Di sisi lain, Harley Quinn berhasil mengenal Dinah Lance alias Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), seorang penyanyi dari diskotik milik Roman Sionis/Black Mask (Ewan McGregor). Tak hanya pandai dalam hal menyanyi, Dinah juga mempunyai kekuatan yang mampu membuat sang boss Roman terpukau. Roman kemudian mengangkat dirinya menjadi sopir pribadi Roman. Roman adalah orang konglomerat yang sangat ambisius dan sangat jahat di Gotham. Dirinya ingin menguasai kota. Berbagai macam cara pun dilakukannya untuk bisa membuat kota Gotham jatuh ke tangannya. Salah satunya, dirinya telah menguasai berlian warisan dari keluarga Bertinelli yang ia bunuh bertahun-tahun lalu. Tanpa dia sadari, salah satu anggota dari keluarga Bertinelli masih hidup dan berada di kota Gotham untuk balas dendam. Ia adalah Helena Bertinelli (Mary Elizabeth Winstead) yang menamai dirinya sebagai Huntress.

Harley Quinn, Renee Montoya, Dinah Lance dan Helena Bertinelli akhirnya tidak sengaja bertemu ketika Roman memburu Cassandra Cain (Ella Jay Basco). Cassandra adalah seorang pencopet yang handal. Dirinya mencopet berlian Bertinelli itu dari tangan kanan Roman, Victor Zsasz. Namun, Ia kemudian ditangkap polisi setelah salah satu dari korbannya melapor. Dirinya pun langsung digelandang ke kantor polisi.

Harley Quinn lalu pergi ke kantor polisi untuk membawa Cassandra kepada Roman demi menyelamatkan nyawanya. Montoya lalu memburu kedua orang tersebut. Harley Quinn berhasil menyelamatkan Cassandra dan membawa dirinya ke tempat tinggalnya. Namun, disitulah terjadi sebuah pengkhianatan yang mengubah segalanya.

Birds of Prey memiliki alur cerita dengan tempo yang maju mundur tanpa batasan yang begitu jelas. Ketika film ini sudah berada dalam taraf cerita yang maju, tiba-tiba plotnya dimundurkan dengan lini masa yang tidak terlalu jelas dan terasa kurang konsisten. Ya, mungkin perhitungan waktu saya yang terlalu saklek. Namun, bagian ini kurang begitu nyaman saat ditonton. Tempo yang kurang konsisten ini membuat film ini seperti agak membosankan. Di sisi lain, sebagai sebuah film yang diberi rating R alias Dewasa, film ini tidak terlalu banyak mengumbar kekerasan yang keji dan kejam. Selain bahasanya yang terlalu kasar, film ini kurang dalam hal berdarah-darah sebagai sebuah film aksi dengan rating R.

Namun, jika kita bicara soal aksi dan performa dari para bintangnya, Birds of Prey punya kesatuan performa yang cukup solid dan  bagus. Orang tak perlu lagi meragukan bagaimana kepiawaian Margot Robbie dalam menghidupkan kembali Harley Quinn. Sosok yang satu ini tetap menjadi sosok yang istimewa. Dia selalu sedih, tapi sangat cepat untuk gembira, kurang memiliki empati tapi pada akhirnya dia menyadari bahwa tidak semua orang seperti yang dirinya bayangkan. Apa yang terjadi di sekitar dirinya, akhirnya mengubah pandangannya. Sementara, aksi dari Mary Elizabeth Winstead sebagai Huntress pun sudah cukup bisa mencuri perhatian. Karakternya yang sangat lugas dan kaku, ternyata juga bisa dibengkokkan dan itu bisa menjadi lucu. Dia terlihat selalu jengkel pada orang disekitarnya, tapi sebenarnya dia seorang yang perhatian yang memiliki dendam di dalam dadanya. Sementara, untuk aksi Ewan McGregor sebagai Roman Sionis alias Black Mask juga lumayan bagus. Dirinya mampu memperlihatkan sosok penjahat yang benar-benar jahat, ambisius tapi juga terlihat konyol. Hanya saja, karakter ini tidak diberi porsi yang cukup untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Gambar-gambar yang ditampilkan di film ini berbeda dengan apa yang biasa disajikan DC di film-film sebelumnya. Birds of Prey menyajikan gambar cerah dan berwarna yang bisa memikat mata. Inilah yang membuat bagaimana film ini terasa berbeda. Nuansa dark ala DCEU memang masih ada, tapi begitu minim di Birds of Prey. Perbedaan lainnya ialah dari sisi humor. Film ini memang banyak menampilkan humor karena tingkah laku Harley Quinn yang terlihat cukup konyol di film ini.

Di lain sisi, meskipun cukup menarik untuk ditonton, film Birds of Prey ini lebih terasa seperti film Harley Quinn ketimbang film tentang kelompok wanita pembela kebenaran ini. Untuk sebagai sebuah film assembling, sutradara dari Birds of Prey, Cathy Yan, sepertinya terlalu sibuk dengan karakter Harley dan tetek bengeknya sampai-sampai tidak terlalu fokus untuk menyatukan mereka dengan lebih cepat di film ini. Persatuan mereka terjadi di sekitar seperempat bagian terakhir dari 1 jam 40 menit durasi film ini. Birds of Prey jadi terasa seperti film Harley Quinn yang menampilkan Birds of Prey sebagai pendukungnya, dan bukan sebaliknya. Film ini pun lumayan melelahkan karena karakter yang ditampilkan—di luar Harley—hanya sepintas saja, sedangkan ada beberapa adegan Harley yang tidak terlalu penting jadi tampil. Selain itu, di film ini, selain karakter Sal, semua pria itu digambarkan jahat.

Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) adalah film yang lumayan menghibur dan terlalu berfokus pada Harley Quinn ditambah kurang berdarah-darah.

Film Birds of Prey sudah bisa dinikmati di bioskop kesayangan kalian. Film ini diberi rating R alias Dewasa. Jadi, bijaklah memilih tontonan untuk keluarga kalian. Selamat menyaksikan!



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Recent Articles