Prosa: Surat Corona Untuk Siapa

Prosa: Surat Corona Untuk Siapa

Sentak degup nadi melangut sedih, kenapa bisa seperti itu, tanyaku.

Terlihat tayangan bersuara pada sebuah harian senja, jumlah korban merambat naik. 

Kutenggak kopi, asam, sama seperti keadaan saat ini, akankah asaku terjadi jika hal itu selalu terjadi dan terjadi lagi, gumamku. Prihatin  derita panjang siap berlanjut dan enggan meluluh berganti semangat hidup baru, entah kapan selesai edisi wabah ini.

Jika ini terjadi terus-menerus banyak kepelikan hidup bagi semua insan, tak terkecuali.

Terbayang angan, sebuah bundaran sasaran tembak yang akan dibidik, entah siapa memulai tembakan itu,  ke sumber bencana ataukah pembawa bencana agar tuntas habis. Selesai. Harus dengan cara keras.

Sontak kaget dimulai lagi dengan sebuah tayangan baru, rasa gelisah menggeliat dengan haru. Ingin sekali kata ini membidik lagi siapa yang salah, pasti juga tak tentu arah membidik siapa gerangan. Tidak bisa menembak siapapun saat ini, tapi suatu saat akan terjadi salah dan saling tembak.

Berkerumun sepanjang jalan padat berjejal bak semut bergerak bebas tanpa arah pimpinan terdepan.

Arak langkah menuju tempat penampian secara pasrah bak audisi seleksi alam, siapa gerangan yang lemah pasti jatuh. Walau kuatpun menjadi lemah, ikut terbawa arus yang lemah. 
Bak saringan besar mengayak, goyangan lembut meloloskan korban baru.

Gertak pimpinan terdengar namun jauh dan kecil, entah darimana sumber suara itu. Seakan telinga enggan ikut arahan. Arahan semakin mengajak untuk berburu janji indah dimasa sulit. Suara yang selalu menimbulkan  hasrat perut untuk kebutuhan pangan.

Semakin kurang terdengar petunjuk itu, kerumunan kian merambah dan mendekat ke pusat keramaian. Seakan tertarik sebuah kenikmatan akan suara itu dan mengejar cakap janji manis.

Petak luas sebesar tanah lapang menjadi tempat ajang acuan pemenuhan janji, berkumandang petunjuk membuat batas tak jelas berbagi tempat untuk mengatur jarak, social distancing, ah mereka tidak paham bahasa itu, meskipun mengerti tapi jauh dari arti dasar kepahaman  mendalam tentang amaran itu.

Mengerikan, terbayang virus santai melenggang ditengah kerumunan.

Rebak gaduh mengiringi jalur tengah terik menghujam kepala.  
Tekanan semakin menekan ubun. 

Siang semakin tinggi dan semakin kuat bau aspal panas menerjang kaki. 
Namun panas semakin menguatkan tekad membawa buah tangan atas janji sang pemimpin.

Derak langkah aparat membuka barisan seakan membelah bambu. 
Barisan acak terpisah bak sayatan menepi kiri kanan jalan. Sejenak menyepi dan menyeruak bersatu kembali kebarisan. 

Aparat berkata dengan corongnya, “acara ini ditunda sementara, kembali pulang dan jaga kesehatan”. Terlihat tatap wajah sendu berpadu sedih, harapan janji lepas sudah. Tangan kosong melenggang pulang. “Ini perintah pimpinan. Mohon maaf” sambung aparat.

Gegap geram menyambut pembubaran. Kecewa sudahlah pasti.

Walau tak jelas namun harapan bisa dipegang sesuai gambaran kebutuhan bulanan.
Seandai saja semua benar dan nyata, kebutuhan tak bisa ditunda.

Kami butuh makan. Kami punya anak dan istri.

Detak jantung seakan belum berhenti untuk tenang. Berita nan berita seakan menggambarkan betapa susahnya penyampaian informasi untuk kebaikan. Banyak cerita, gambar diam dan bergerak, jumlah terpapar sakit dan meninggalpun bersusulan, begitupun kasus pilu melanda seluruh pelosok Indonesia. Apakah menunggu semua sakit baru selesai kejar-kejaran ini? 

Berkejaran jumlah yang sudah kembali pulang. Hanya berbeda arah, pulang ke rumah atau ke alam sana.

Kotak-kotak kayu sudah tersedia, lengkap dengan atribut plastik berlapis. Petugas pembungkus dan penghantar siap jaga penuh dedikasi peraturan ketat, siap mengantar siapapun untuk yang berpulang dadakan. Langkahpun tepat dan akurat, jika salah merekapun siap masuk juga kotak itu, nantinya.

Datang dalam dekapan keluarga, pulang tanpa siapapun mengantar.

Tiada lagi doa dan tangis mengiringi kepulangan teman, sahabat, saudara dan keluarga. Tragis sekali.

Bolak-balik hanya terdengar sirene menggelegar kota. Tak tahu persis ambulan atau pemadam, mungkin juga iring-iringan pejabat yang lewat. Pengumuman melalui pengeras suarapun sering menggema mengantarkan kepulangan sanak saudara. Apakah pengumuman itu menjelaskan sakit corona atau tidak, siapa yang tahu. 

Ramai dan membuat angan bergidik.

Sahabat karib terkabar berpulang sore hari. Sahabat kental yang punya banyak kerabat dalam catatan pertemanan. Mempunyai kesohoran nama dibidangnya. Tiga hari perawatan menunggu cemas tak henti siang dan malam.  Malamnya, konon kabar ambulan melaju cepat mengejar waktu dalam gelap. Tak boleh dikawal, tak boleh diikuti bahkan didekati. Tersembunyi dalam paket pengantaran. Rahasia dalam sepi.

Pengantar jenazah hanya menaruh temanku berpulang disebuah tempat. Terkirim gambar suasana makam, sunyi hening ketika sahabat turun ke dalam liang lahat tanpa suara penghantar, entah dimana.

Corona untuk siapa.

Tak lepas pandangmu menari berputar di atas kami.

Tak pilih besar atau kecil, semua kau sapa.

Ketika sudah memilih tak lepas cengkeramanmu dan rubuhlah bersama.

Detak jantung menjadi saksi semua peristiwa nan dekat. 

Sehari-hari kasus terpapar dalam guratan pena digital. 

Entah pengalaman pribadi ataupun sekedar mencetak sebar kirim. Semua membuat hati bergejolak menjaga diri, sedikit curiga.

Di luar rumah, suasana berbeda. Harapan yang terpikir betapa indah dan baik saran dan arahan tertulis yang terpampang disetiap pojok kota. Syahdu irama pembawa berita menyampaikan pesan. Namun kenyataan hanya sedih dan perih, melihat petunjuk banyak dilanggar. 

Sengaja tak sengaja, masa bodoh dan apatis tak berbatas tegas,  seakan semua sudah biasa, tak mau diusik kenyamanan kesehariannya.

Kami butuh uang dan kami masih harus bekerja, bagaimana keluarga kami makan……..

Kulemaskan kaki dan kubuka pintu pagar membuang sampah. 

Kupandang kanan dan kiri, satu dua tetangga kusapa berjemur mentari pagi.

Terasa kaku lama bekerja di rumah. Work From Home, bekerja dari rumah. 

Teruntuk orang yang bekerja di kantor sehari-hari.

Pekerjaanku membantu orang untuk sembuh. Saat ini siapa yang mau disembuhkan, tak lagi datang kepadaku. Semua ke rumah sakit. 

Saya hanya tinggal dirumah saja untuk melakukan pekerjaan yang tak biasa.
Saat ini seakan menjadi ahlinya, memasak, bercocok tanam, alih-alih mengurangi pengeluaran harian. Kupetik sayuran , kuracik bumbu dari lahan kecil depan rumah, sajian sehat tersedia ala kadarnya.

Bawang kuiris berhelai tipis dan lembut.

Kol putih berdecak renyah terlepas dari semangnya.
Merah wortel halus mencerahkan hasrat, berbaur cabai menggugah selera.

Dibalur tepung menyatu keemasan, sempurna renyah gurih.

Mungkin jika sayuran dan bumbu ini banyak bertumbuh bisa membuka warung kecil, angan melayang. Tak terbayang masa depan. Gelap dan kabur.

Sekonyong gerombolan anak tanggung melewati jalanan perumahan. Persis depan rumah tanpa masker. Tanpa jaga jarak dan tak peduli bising dibuatnya. 

Kuraih radio komunikasi satuan jaga perumahan. Satu dua kali panggil dan tersambung. 

Setengah teriak, warga kampung sebelah lewat, masuk lolos tak terbendung, dua puluh orang mengalir begitu saja tanpa penggiringan.

Teringat pintu jalur tembus antar kampung ditutup karena sekitaran perumahan terpapar virus. Surat  aparat rukun bertetangga, posisi daerah diberi warna merah oleh pemerintah. 

Red Zone, bahasa asing yang tak terpahami mereka. Tak paham zona merah bagi aparat pengamanan, gerombolan itu berasal dari daerah itu, mungkin saja terbawa virus tak sengaja ke tengah warga perumahan. Marah tak menggoyang mereka, mana mungkin mampu mengusir mereka dari jalanan. 

Ini jalan pintas. Kusimpan saja gusarku.

Membuat tembok tinggipun takkan mampu menghalangi , ada jalan pintas lain.

Warga berdiam dan membisu, tetap di dalam rumah pilihannya, tak bergeming.

Gurat pena digitalku berbagi cerita kepada teman, seandainya saja kekuasaan tertinggi mampu menghentikan aktifitas yang kurang penting. 

Bergerombol, berkumpul, berkerumun adalah pantangan besar. Untuk sementara waktu saja. 

Tapi kenyataan, disekeliling kita, membuat perasaan banyak menawar pasrah.

Bagaimana bisa berakhir ketika perilaku tak berubah, walau hanya beberapa hari sesuai anjuran dunia kesehatan. Semua saling bertumpukan dan kadang membahayakan. 

Satu pihak ingin mengadakan bakti kebaikan untuk sesama tapi dilain sisi penyebaran penyakit makin besar.

Ingin hati menolong, bagi berkat lebih.

Datang bergerombol tak kuasa dibendung.

Sakit dihitung jumlah berlebih.
Salahi aturan pidana merundung.

Kelakar antar teman. Percuma berbagi cerita kepada teman yang juga sudah membaca cerita yang sama ditempat lain. Sudah basi. Apakah tidak ada cerita lain yang bisa menguatkan. Jika saja tulisan sebar kirim disaring tentunya sedikit kebenaran yang ada. Seandainyapun itu benar apakah perlu untuk sesama teman yang sudah tahu. Yang penting adalah bagaimana supaya  masyarakat mau tahu dan mau melakukan informasi itu.

Bagaimana jika masih ada masyarakat yang tidak tahu atau memang tidak pernah bertulis di media sosial. Perangkat telepon genggam untuk komunikasi katanya, bukan bergosip. Ditilik perangkatnya masih konvensional dan biasa saja. Untuk berkabar ke rumah dan sebaliknya, jauh dari berbisnis apalagi kasak-kusuk berita internasional. Berita nasionalpun tetangga lebih banyak tahu, pasti.

Masyarakat Indonesia senantiasa tunduk pimpinan. 
Berkata tenang semua mengikuti arus nyaman.
Awal satu tumbuh enam ribu. 
Terasa panik terlena tenang.

Corona itu penting disikapi bukan diskusi atau ajakan.

Peristiwa melaju demi peristiwa, tindakan perlahan namun hati-hati.
Berpikir jauh membuai negeri, ambang jatuh nan rapuh.
Puncak gunung meninggi, menanjak mudah serasa bertapak awan. 

Berharap landai melaju turun, tanda kesudahan sesuai harapan.

Mencanangkan rencana besar untuk negeri ini, pemerintah menganjurkan untuk tenang dan sabar menghadapi masalah bersama-sama. Memutus rantai penularan. Berdiam diri dirumah. Guna membatasi sarana, fasilitas dan juga ketersedian tenaga Kesehatan, diharapkan mengisolasi diri serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Pembatasan pergerakan masyarakat dan juga kebutuhan hidup rakyat dipertimbangkan dalam sebuah wacana bantuan sosial dari negara.

Sarana Kesehatan ditingkatkan meskipun tertatih, seakan tidak mungkin jika ledakan jumlah penderita begitu banyak, namun tetap dan harus dijalankan kemi keutuhan bangsa dan negara. Jumlah tenaga medis dikerahkan disemua lapis dan jajaran keilmuan, bantu membantu dengan bidang keilmuan masing-masing. Korbanpun berjatuhan. Mereka berjuang untuk bangsa dan negara, melawan musuh yang tak terlihat. Berbekal senjata apa adanya sepeninggal kasus terdahulu, semua senjata ditembakkan. Mati tapi terbantu hidup ketika ada orang mendekat dan memberi peluang hidup kembali.

Salah satu cara terbaik adalah pengekangan diri. Untuk bertahan dan bersabar menghadapi ini semua. Secara bersama-sama dan serempak bersama belahan bumi yang lain, tidak memberi peluang corona untuk berpindah dan menghancurkan sasaran baru lagi.

Ketika sebagian tinggal di rumah sebagian keluar rumah, tentu saja penyebaran bisa berlanjut. Yang keluar rumah akan kembali ke rumah dan menularkan kekeluarganya. Berputar terus dan lama berhentinya. Konon penyakit ini tidak membentuk imunitas dalam tubuh, yang pasti setelah Covid 19 ini berakhir, perubahan cara pandang kita tetap berpegang teguh pada kebersihan dan kesehatan.

Masalahnya, apakah pola pikir ini sama dengan orang-orang disana yang sampai sekarang juga belum paham dan mengerti. Lebih baik dicanangkan dari sekarang.

Corona ini penyakit berbahaya, mau bebas atau mau kena adalah pilihan. Ketika sudah memilih jangan mengajak yang lain. Haruskah seperti itu?.

Corona untuk siapa. Surat ini kulayangkan untuk semua yang sudi mau membaca untuk mengerti.

Pengalaman adalah guru terbaik.

Menuang ilmu nan panjang  senantiasa berubah.

Cucur keringat tercurah serasa tak habis diperas.

Doa sembuh dan sehat barisan garda terdepan. 

Indonesia sehat Indonesia kuat.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

Master Medical Hypnosis since 2004 General Practicioner

Popular This Week
Recent Articles
Jun 9, 2020, 2:32 PM - Novi Kurnia
Jun 2, 2020, 3:25 PM - Deni Riyandi
Jun 2, 2020, 1:37 AM - Singgih Tri Widodo
May 23, 2020, 2:28 AM - Adre Zaif Rachman
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
May 21, 2020, 1:47 AM - Rahmat Gunawan
May 21, 2020, 1:33 AM - Stephanus Putra Nurdin