[CERPEN] Proposal

[CERPEN] Proposal

Aku terpaku menatapnya dari kejauhan. Menurut ciri-ciri yang ia kirim melalui pesan Whatapps, aku yakin itu dia. Pria yang sejak lama kukagumi dan hari ini kami berjanji akan bertemu. Namun, siapa wanita di sebelahnya?

Mereka berdua semakin dekat. Mata kami bertemu, aku pun melambaikan tangan berusaha menampilkan senyum setulus mungkin. Ia membalas senyuman dan melambai juga, lalu mempercepat langkahnya seraya menggandeng tangan wanita itu.

Pria ini tampak manis dengan kacamata menghiasi wajahnya yang terlihat putih bersih. Jantungku berdegup lebih kencang saat ia semakin mendekat. Namun, sekali lagi aku memandang wanita di sebelahnya yang turut tersenyum, ia begitu anggun dan cantik dengan balutan gamis biru muda dengan motif bunga sakura dipadu jilbab polos berwarna senada.

Hatiku mencelus. Dia sudah beristri? Ah sial!

***

Aku adalah editor di sebuah penerbitan indie di Bandung. Meskipun hanya berstatus freelance, aku meletakkan banyak harapan dan usaha pada pekerjaan ini. Selain itu, aku juga sering menulis walau belum memiliki karya terbaik, tetapi sudah banyak buku yang selesai aku tulis. Ya, menjadi penulis dan editor adalah suatu kepuasan bagiku.

Dia Bramantya Purwa, salah satu penulis yang mengirimkan naskah ke penerbitan tempatku bekerja. Saat menyunting naskahnya, aku membaca biodata narasi yang ia miliki. Terutama bagian kegiatannya selama ini, yakni sebagai pendongeng. Entah apa yang membuatku tertarik akan hal itu. Namun, tulisannya berhasil membuat editor dingin sepertiku tersenyum seolah tepi bibirku mampu menyentuh telinga.

“Kamu baca apaan sih, Mblo?” Vania datang mengejek seperti biasa. Berapa kali ia berusaha menjodohkan aku dengan pria kenalannya, tetapi aku menolak. Jadilah kini ia selalu memanggilku dengan sebutan “jomblo” di mana dan kapan pun itu. Meski kesal, aku tak keberatan. Toh, itu memang benar. Kupasrahkan saja nama indahku berubah seperti itu di mulut Vania.

“Ini, naskahnya bagus. Ceritanya unik, penulisnya juga kayaknya asyik.” Aku menyodorkan naskah itu pada Vania. Ia membolak-balik bundel itu sambil membaca.

Well, seperti naskah bagus lainnya ....” Ia mengembalikan naskah itu lalu kembali menghirup kopi yang sedari tadi ia bawa.  “Tidak ada yang istimewa. Aku heran kenapa tulisan biasa ini bisa bikin biksu penerbitan kita tersipu, hah?”

Aku mendengus kesal.

“Mau apa ke sini?” ujarku sembari kembali fokus pada naskah tadi.

“Pinjam duit, dong!”

“Apa? Nggak salah? Kepala bagian kita yang terhormat minjam uang ke editor lepas dan jomblo seperti hamba ini?”

Vania segera meninju bahuku kesal. Kami pun tergelak lantas lanjut membicarakan hal-hal remeh. Meski ia memiliki jabatan lebih tinggi dariku, wanita berlesung pipit itu tak pernah lupa menyapaku dan menghabiskan waktu seperti yang kami lakukan hari ini.

***

Mas Bramantya Purwa, ada beberapa koreksi saya terhadap naskah Anda yang masuk ke Redaksi kami. Bisa kita diskusikan?

 

 

Panggil saja, Purwa. Baik, saya akan baca koreksinya. Malam pukul 10.00 saja bisa?

Oke. Deal.

 

Begitulah percakapan kami lewat pesan whatsapp sore itu. Seperti yang sudah dijanjikan, malamnya kami berdiskusi. Lagi-lagi via online chat.

Semakin lama aku merasakan perasaan berbeda. Terkadang di sela diskusi naskah, kami membahas hal lain dan itu membuatku sangat terhibur. Terutama ketika ia menceritakan tentang pengalamannya mendongeng ke daerah pelosok, bertemu anak-anak unik dan kesialan remeh saat menerobos hutan menuju tempat ia bertugas, dan masih banyak lagi.

Siapa sangka itu menjadi candu bagiku. Jika sehari saja tak membaca pesannya, ada rasa sakit menusuk tepat di sana. Ya, tepat di dalam hati.

Hari ini setelah beberapa bulan berhubungan dan berkisah lewat dunia maya, kami berjumpa. Sebuah hadiah indah di bulan Desember. Siapa yang tahu, setelah tahun ini berganti, saat bulan dingin ini berpindah ke Tahun yang baru aku akan memiliki kisah berbeda.

***

Kembali ke kafe, saat ini.

           “Assalamu’alaikum”

            “Wa’alaikumussalam ...”

            Aku berdiri lalu menyapa hendak menjabat tangannya, tetapi belum sempat aku mengulurkan tangan Mas Purwa menyatukan kedua telapak tangannya di dada seraya menunduk dan tersenyum. Spontan aku merasa paham dan canggung lalu mengikuti gerakannya. Sementara itu, wanita tadi menyalami dan memelukku. Kami pun berkenalan.

“Sudah pesen?” suara Mas Purwa begitu berat dan terdengar merdu di telingaku barusan menyentakkan lamunan.

“Ah-Eh. Iya, sudah. Mas dan Mbak Kinan mau pesan apa?” Aku sedikit salah tingkah menghadapi kedua pasangan ini. Mas Purwa menolak dengan sopan lalu berdiri.

“Biar aku saja, kalian ngobrol dulu, ya.”

Aku merasakan kecanggungan luar biasa saat ia beranjak. Wanita di hadapanku pun buka suara.

“Sudah lama kenal sama Purwa?”

“Ah, hanya lewat dunia maya, Mbak. Baru ini ketemu langsung.” Aku membenarkan letak duduk dan merapikan jaket serta jilbab yang seolah terasa miring. Wanita anggun dan rapi ini membuatku merasa risi dan terbanting sekeras-kerasnya.

Aku lalu memperhatikan pakaianku sendiri. Celana dan jaket jeans, kerudung seadanya, dan sepatu sport hitam yang sudah belel ini benar-benar membuatku merasa tidak percaya diri. Well, aku memang tomboi dan tidak pernah memperhatikan penampilan selama ini. Entah menapa sekarang aku mempermasalahkannya.

Apa karena Purwa? Atau karena intimidasi tak kasat mata dari istrinya ini?

“Mbak Senja kok kayaknya tegang, sih?” ucapnya lagi seraya tersenyum.

Ah, sial. Manis sekali wajahnya, aku bahkan terpesona. Kalau dilihat-lihat mirip sama Mas Purwa. Konon kata orang-orang jodoh itu wajahnya selalu mirip, ya.

“Ditanya malah melamun, Mbak?”

“Ah-eh, maaf. Saya kurang fokus beberapa hari ini,” ujarku berusaha mengalihkan pandangan. Tersenyum miris.

“Baru kali ini, loh. Purwa ngajak saya ketemu cewek.”

Aku menatapnya heran. Melihat ekspresiku dia tertawa.

“Purwa itu, anak terakhir di keluarga kami. Tetap manja biar sudah tua. Di usia segitu dia diminta cepat menikah oleh Abi dan Ummi. Siapa sangka, hari ini aku diajak ketemu sama calonnya.”

Aku mengerjap bingung. Sambil berusaha mencerna kata-kata wanita itu.

“Sebentar, Mbak ini bukan istri Mas Purwa?” tanyaku dengan wajah heran.

“Ah, bukan! Aku kakaknya.” Ia tertawa renyah.

“Oh, jadi Mas dan Mbak akan bertemu calonnya Mas Purwa di Kota ini juga?” tanyaku lagi, kecewa. Meski wanita ini ternyata bukan istrinya tetap saja ia telah punya calon. Memang sia-sia saja aku berharap.

“Iya, di kafe ini juga.”

“Wah, kalau begitu saya akan cepat pergi, deh. Takut mengganggu acara keluarga,” ucapku lagi. Ada sedikit nyeri dalam hati saat mengucapkan itu.

“Lho, kok mau pergi? Kan calonnya itu kamu.”

Aku mematung sejenak. Jantungku berdegup dan aliran darah di seluruh tubuh terasa hangat lalu panas. Belum sempat aku berkilah. Mas Purwa mendekat, suara baritonnya yang terdengar merdu itu berhasil membuatku melayang entah ke mana.

“Dia benar, asal kamu mau dan bersedia. Saya tidak akan memaksa, kok. Anggap saja aku lagi ngajukan proposal.”

Aku terpaku menatap keduanya bergantian. Hanya suara degup jantungku yang terdengar lebih kencang.

***

   Aku editor sekaligus penulis berhati dingin, mendapat julukan biksu penerbitan di kantor akhirnya luluh oleh pria itu. Meski kami bertemu di bulan terakhir pada tahun itu, aku yakin kisah cinta kami tidak akan berakhir hingga ajal menjemput dan berlanjut lagi di kehidupan selanjutnya.

Desember kali ini benar-benar spesial. Bulan indah yang akan selalu kuingat hingga menua dan mati. Sebuah penantian yang terbayar dengan cara terindah. Seperti bulan Desember yang akan selalu kembali di tahun-tahun berikutnya, cinta kami pun terus tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 21, 2020, 3:59 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:56 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:00 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:51 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:42 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:32 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:24 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:09 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 20, 2020, 11:22 PM - Ryan Putra Anugrah
About Author

Generasi millenial yang suka gaya dan hal-hal klasik. Selera humornya receh dan selalu canggung di setiap keadaan. Dua hal yang membuat ia bahagia menatap kehidupan adalah menggeluti pekerjaannya sebagai pengajar dan penulis.

Popular This Week
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 17, 2020, 9:08 PM - Bram Asta
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Feb 17, 2020, 12:19 AM - Nabila Afira quraina