Pengguna Peci Perlu Baca: Asal Usul Peci (Kopiah)

Pengguna Peci Perlu Baca: Asal Usul Peci (Kopiah)

Asal Kata Kopiah

Kata Kopiah bisa jadi merupakan pemelayuan dari Kaffiyeh. Kata arab yang bermakna penutup rambut lelaki secara umum.

Terma kopiah lebih banyak diterima di alam melayu. Bersamaan dengan terma lainnya; Songkok. Yang hingga saat tulisan ini kami buat, belum bertemu asal katanya.

Songkok umum juga dipergunakan di Semenanjung Malaya. Hingga ke Jawa.

Adalagi sebutannya; Peci. Menurut Ir. Sukarno berasal dari kata Belanda Petje, topi kecil.

Pendapat Presiden pertama itu belum tentu benar. Karena phecy juga digunakan oleh orang Turki untuk menyebut Fez. Tutup kepala yang bisa jadi awal bentuk Kopiah atau Peci saat ini.

Apapun, Kopiah, Peci ataupun Songkok, dahulu bermakna sama; Penutup Kepala Lelaki berbahan Beludru Hitam. Ada juga yang warnanya merah, ini turunan dari Fez Turki era kebangkitan Turki Muda. Yang dipopulerkan oleh Kemal Attaturk.

Sejarah Awal

Kopiah, menjadi salah satu pelengkap pakaian nasional Indonesia. Saat ini, para pejabat berfoto dengan kelengkapan kopiah.

Kopiah menurut Rozan Yunos dalam ‘The Origin Of Kopiah or Songkok’ dibawa masuk oleh pedagang muslim.

Kemungkinan kopiah yang dimaksud, adalah penutup kepala bulat yang biasa dipergunakan oleh Nabi Muhammad dibawah sorbannya. Yang berwarna putih disebut Mudlarriyah.

Para pedagang mempergunakan Kopiah atau Songkok, ntuk membedakan dengan ulama. Yang memakai Surban.

Ketika Islam mulai mengakar di kepulauan Melayu abad 13, Songkok menjadi pemandangan yang umum.

Hal ini tak terlepas dari geopolitik zaman tersebut. Dimana hegemoni Dinasti Ayyubiyah di Mesir masih terasa. Sementara Dinasti Ustmani baru menapaki peradaban.

Karena itu para pedagang juga mempergunakan Fez (Turki) dan Tarbus (Mesir). Sebagai lambang status sosial sekaligus afiliasi politik. Selanjutnya Peci juga tumbuh menjadi regalia kerajaan nusantara.

Di India, Fez atau juga sering disebut Phecy disebut Rumi Cap (Topi Roma). Rumi dalam abad 13 merujuk pada Turki. Penggunaan Fez di India sebagai bentuk dukungan pada Kekhalifan Turki Ustmani.

Hal yang sama juga kemungkinan yang mendasari pemakaian Peci oleh Sultan – Sultan Nusantara. Karena Affiliasi Politik para penyebar Agama Islam abad 13 dan 14 adalah ke Turki Ustmani.

Hal ini dibuktikan dengan Peci yang menjadi ‘oleh – oleh’ para Pangeran yang pulang dari belajar Islam di Giri.

Hal ini dicatat dalam sejarah Ternate. Ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dia kembali ke Ternate dengan membawa kopiah atau peci sebagai buah tangan.

“…sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkeh,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III.

Kopiah Zaman Pergerakan Nasional

Jauh sebelum kita merdeka. Sultan Abdul Rahman dari Kesultanan Riau-Lingga berfoto dengan menggunakan Jas dan Kopiah.

Pakaian kalangan bangsawan Melayu ini kemudian menjadi trend tersendiri dan menjadi ‘wabah’ di masyarakat. Menggantikan tutup kepala tradisional bahkan dipakai ulama yang terbiasa memakai Surban.

images6616939637525565728.jpeg?resize=554%2C554

Pada 1913,Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Tiga Serangkai yang sedang diasingkan ke Belanda. Diundang dalam rapat SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag.

Ki Hajar menggunakan topi fezTurki berwarna merah. Sebagai simbol perjuangan kalangan Nasionalis. Fez merah populer di kalangan nasionalis setelah kemunculan gerakan Turki Muda tahun 1908 yang menuntut reformasi kepada Sultan Turki.

Dr. Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam, yang memang populer di kalangan orang Nusantara saat itu. Menggantikan popularitas ikatan kain.

Sedangkan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala.

135605_620128656668413693669.jpg?resize=620%2C355&ssl=1

Menjadi Tutup Kepala Nasional

Sukarno dengan bangga menceritakan hari itu. Di bulan Juni 1921. Sukarno akan tampil sebagai seorang pembicara di rapat Jong Java.

Di Kota Surabaya itulah menurut pak Sukarno. Tren Kopiah sebagai identitas di kalangan nasionalis Indonesia dimulai.

Dengan gaya khasnya, Sukarno mengungkapkan ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita.

Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” sebagaimana dikutip oleh historia.

Namun ungkapan ‘Buruh Bangsa Melayu’ pak Sukarno masih diperdebatkan. Sejarawan mengungkap buruh – buruh Melayu tidak banyak. Dan jikapun ada, di zaman itu mereja lebih senang menggunakan ikat kain.

Dari istilah itu seakan – akan, pak Sukarno menganggap dirinya lah yang menaik hebatkan peci. Padahal kalangan bangsawan bangsa Melayu telah mempergunakannya. Untuk pakaian kebesaran.

Pak Sukarno bahkan, memakai Kopiah dengan cara khas Melayu; kopiah dimiringkan. Bukan dengan gaya Fez Nasionalis Turki. Di mana Pak Sukarno bisa dikatakan terinspirasi oleh Kemal.

Kopiah pada masa akhir kesultanan Melayu,sebelum melebur menjadi Indonesia merupakan pelengkap yang populer saat berpakaian kebesaran.

Tapi memang Sukarno lah yang mempopulerkannya di Indonesia. Sukarno secara konsisten memakainya. Dengan busana ala eropa. “ciri khas saya… simbol nasionalisme kami.” kata Sang Proklamator pada Cindy Adams.

Sukarno menjadi brand ambassador Peci. Poster – poster yang memuat fotonya populer di kalangan muda.

Hingga puncaknya pada 1932, kader – kader Partindo memakai Peci sebagai pengganti Fez. Dengan bahan dan buatan Indonesia sendiri. Namun Sukarno, sebagai inspirator, tetap dengan kebiasaannya memakai kopiah dengan bludru dari Italia.

Di kalangan Jawa dan Melayu, catat Lombard, kuluk atau ikatan sudah hampir hilang. Namun segera digantikan oleh Kopiah atau Peci. 

Walau di kalangan Priayi Jawa dan kelas bangsawan Melayu Blangkon dan Tanjak tak bisa digantikan. Juga hingga awal 1950an, kalangan rakyat melayu masih suka memakai Tengkulas.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 26, 2019, 1:04 PM - cucuk espe
Dec 26, 2019, 12:59 PM - Febry Winarto
Dec 11, 2019, 4:55 PM - Agus Kurniawan
Dec 10, 2019, 9:41 AM - Jumadi Gading
About Author

Penulis dan Penerbit Buku Sendiri

Recent Articles
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz
Mar 30, 2020, 12:29 PM - novi kurniasih
Mar 30, 2020, 12:27 PM - novi kurniasih
Mar 26, 2020, 10:13 AM - Indraz
Mar 26, 2020, 9:54 AM - Risa Fitriana
Mar 26, 2020, 9:42 AM - Moh Khozah