Pendar Kembang Api Terakhir

Pendar Kembang Api Terakhir

Ini tahun ke empat. Di tempat yang sama, di moment yang sama pula, Key duduk dengan sekaleng minuman beralkohol ringan. Menunggu jam dua belas. Menanti pijar kembang api dan tiupan terompet di sana sini.

Ini tahun ke empat,  ia selalu bersendiri, memeluk sepi-sepinya, yang terus ia pelihara. Perasaan seperti ini, semula terasa menyiksa. Tapi lama kelamaan ia malah menikmatinya. Ada sensasi  yang menimbulkan bermacam romansa, berada di dalam euphoria kemeriahan, di manapun itu. Sementara euphoria itu, atau ia sendiri, tak membaur. Semua tetap dalam koridornya. Key seperti dibentengi oleh sebuah tembok  yang kedap dan  kebal dari suara halilintar sekalipun. Ia hanya menyaksikan euphoria itu seperti gambar yang ia tonton, tanpa suara.

Ini tahun ke empat pula, saat ia berharap dan menunggu untuk  melihat seorang laki-laki, dengan rambut sedikit gondrong lurusnya yang khas, hidung mancungnya, kulit putih dan wajah keras itu, menggendong bocah lelaki yang lucu, di dampingi seorang perempuan yang wajahnya tak cantik-cantik amat. Hanya rambutnya saja di cat kuning keemasan kontras dengan kulit  putihnya, yang membuat penampilannya jadi terlihat luks.

Mula-mula, si lelaki dengan bocah lucunya itu yang datang. Duduk-duduk di bundaran air mancur. Key melihatnya lagi kini. Dia datang dengan blazer abu-abu tua, plamboyant sekali. Rambutnya? Ternyata tak diikat seperti satu tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Sudah dipotong agak pendek, meski tetap sedikit gondrong. Bocah laki-lakinya? Tak digendongnya lagi, tapi lari-lari kecil di sampingnya. Dengan menenteng terompet kertas yang agak besar. Rambutnya merah kriwil, kulitnya putih, hidungnya mancung seperti  Ayahnya.  Dan istrinya itu?  Kemana dia?

Pandangan Key berbagi ke segala arah. Tak tampak perempuan itu di samping si lelaki seperti biasanya. Atau sedang berjalan menujunya. Key seakan menunggu. Memperhatikan dari tempatnya duduk, di altar yang biasa digunakan sebagai panggung pertunjukan, ke tempat si lelaki.

Lelaki itu duduk di tembok bundaran, sesekali bercanda dengan bocahnya. Selebihnya? Ia hanya duduk mencangkung, dengan sebatang rokok dan segelas plastik kopi yang masih mengepul. Sepertinya ia memesan kopi itu di warung gerobak yang berjejer di depan taman kota. Perempuan itu, istrinya, benar-benar pergi?

Seorang teman mengabarkan itu pada Key.

“Istrinya mungkin sudah merasa tak tahan hidup dalam kesederhanaan. Punya suami seorang sopir angkot tak bisa memenuhi tuntutan gaya hidupnya yang glamour. Ia pergi ke Jepang. Meninggalkan anak laki-laki dan menceraikan Roni!” terangnya.

Tak bisa dipercaya. Khayalan Key tentang laki-laki itu? Jauh sebelum Key selalu melihatnya di taman kota ini secara kebetulan. Di Tiga tahun yang lalu, pada saat dan moment yang sama. Pesta akhir tahun.

Dan ini tahun keempat, ia melihat Roni. Datang berdua ke tempat ini, tanpa istri yang konon menceraikannya.

Key seperti terlambat sadar saat puluhan bahkan mungkin ratusan kembang api, melesat ke udara dan berpendar di sana. Ia tengadah. Suara terompet yang berbaur simpang siur menimbulkan suara  riuh dan meriah, tak begitu mengganggu keasyikannya menikmati pendar kembang api di atas sana.

Semua orang yang berkumpul di sana saling berteriak mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang lama dan menyambut kedatangan tahun yang baru. Key hanya mematung saja, memandang ke langit sana.

Pada legukan terakhir minuman kalengnya, Key kembali memperhatikan Roni dari kejauhan. Laki-laki itu ia lihat masih duduk di tembok bundaran, seraya sesekali  melayani  bocah lelaki yang superaktif di dekatnya.

Key tersenyum. Ia mengitarkan pandang ke sekeliling. Orang orang yang tadi berkumpul di taman kota sudah mulai meninggalkan tempat itu. Kembali memacetkan jalan dengan berkonfoy ke masing-masing tujuan.

Key berdiri. Menggeliat. Menatap sebentar pada fokus pandangannya di tembok bundaran sana. Lalu membalikkan badan. Melangkah menuju motor yang terparkir di area depan Taman Kota.

“Selamat datang hari baru. Selamat tinggal kenangan lama...” gumamnya.

Gerimis luruh dengan rintik rintik kecil. Menyapu kabut yang mulai turun di sepertiga malam ini. Seperti kenangan yang tersapu titik-titik realita. Tentang beberapa hal yang tak memungkinkan Key untuk mewujudkan khayalan yang terpelihara sekian lama. Jauh sebelum empat musim ia kembali melihat Roni. Cinta pertama yang meninggalkannya sembilan belas tahun lalu demia sebuah cita-cita. Kemudian menghilang selama lima belas tahun tak tentu rimba. Menyisakan harapan dalam bangunan impian masa remajanya yang tak selesai. Dibaluti oleh ketidakpuasan akan kehidupan rumah tangga yang diarunginya secara terpaksa. Key menikah dengan Papanya Abin, seorang duda muda beranak satu, demi sebuah status sosial.

Menjadi perawan dalam usianya yang hampir kepala tiga adalah aib bagi orang-orangtua di kampungnya. Ketika Papa Abin melamarnya, Key tak bisa lagi mengatakan tidak. Ia bungkus kenangan bersama Roni dan melanjutkan penantian dalam khayalannya.

Hingga hari ini, saat seperti yang diimpikannya, lelaki itu kembali sendiri. Harusnya Key bahagia dan menjemput mimnpinya. Tapi adilkah itu buat Abin dan papanya? Lalu gadis mungil yang terlahir dari rahimnya tujuh tahun lalu? Bukankah itu buah cintanya dengan Papa Abin?

Key mempercepat laju motor. Menjemput hari barunya. Meski setelah ini, ia tak akan melihat pendar kembang api lagi di taman kota. Tapi pendar-pendar kembang api yang lain akan selalu dilihat di dalam rumahnya. Pendar cinta lelaki mapan yang menyayanginya dan dua buah hati yang tak pantas dijadikannya masa lalu.

  ***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma