[CERPEN] Noktah Hitam Remaja

[CERPEN] Noktah Hitam Remaja

Usianya masih belia, emosinya belum sempurna dan cintanyapun masih terlalu dini. Memaknai cinta dengan dangkalnya, hingga ia tak sadar terperosok dalam keruwetan hidup.

Ah remaja, dirimu terlalu memaksa diri untuk larut dalam jaman yang begitu maju namun mundur dari moral dan akhlak. Atas nama agar bisa diterima sekawanan remaja engkau tega melepas kepolosanmu. Kini engkau hanya bermuram durja menangisi nasib yang payah.         

Tersebutlah dua anak manusia yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas menjalin kasih yang terlihat sedap, namun sebenarnya sungguh tak beradab. Meninggalkan sisi-sisi wanita jawa yang penuh dengan tata krama dalam percintaan. Meninggalkan sisi-sisi wanita islam yang amat asing dari sesuatu yang haram.

Sebut saja namanya Arka dan Melisa. Arka seorang anak yang tak dipedulikan kedua orangtuanya. Setiap hari ia tinggal bersama neneknya.

Bujang tanggung yang hidup tanpa keluarga seutuhnya dan kehilangan cinta orangtuanya setiap usianya bertambah. Konon ia bukanlah anak kandung ayahnya. Sementara ibunya memang terlihat tak menginginkannya semenjak ia lahir.

Hidup di bawah pengasuhan neneknya yang sudah tua, dan kadang ia harus rela berbagi kasih dengan cucu-cucu neneknya yang lain. Ah, tampaknya wanita jaman sekarang suka sekali memberikan anaknya untuk diasuh neneknya.

Melisa, anak keluarga berada yang selalu dipenuhi segala fasilitas hidupnya. Layaknya anak remaja jaman sekarang yang suka berpakaian trendi sesuai model-model baju artis, dilengkapi gadget yang canggih dan kendaraan yang menurutku sangat berlebihan untuk seorang pelajar.

Mungkin bagi orangtuanya kasih sayang materi adalah segalanya, tak peduli melihat akhlak, moral, pergaulan dan bagaimana prinsip hidupnya. Seorang remaja yang akan murung jika malam minggunya sepi tanpa kekasih, dan akan merasa malu pada teman-temannya yang mempunyai kekasih.

Ah, sungguh dangkal pemikiran remaja jaman sekarang. Bagaimana mungkin dunia ini seolah runtuh hanya gara-gara seorang pacar. Sedang nyatanya jika kau nanti sudah berumah tangga kisah kegalauan kalian begitu buang waktu untuk ditangisi. 

 

Di suatu sabtu siang sepulang sekolah “Mel, malam minggu ini kita nongkrong di alun-alun yuk, habis itu kita nonton film.” “Mau ... mau banget Arka cayang”, jawab melisa dengan sumringahnya.

Begitulah yang sering dilakukan sepasang kekasih ini setiap malam minggu tiba, dan aku yakin seratus persen, jika mereka sudah jalan bersama, tak cukup hanya berpegangan tangan atau berpelukan, sungguh tak cukup. Semuanya akan terbukti seiring waktu. Gejolak anak muda yang selalu berganti rasa dan warna, namun tak pernah memikirkan kesalahan fatal yang bisa mempengaruhi masa kini dan masa depannya nanti.

***

“Arka ... mulai hari ini juga kita putus!. Jangan pernah kamu hubungi aku lagi”, pinta Melisa suatu hari diiringi kemarahan yang berkecamuk pada dirinya. “Apa-apaan ini Mel, sudah ku bilang aku gak pernah selingkuh dari kamu. Kenapa sih kamu gak mau percaya sama aku, kenapa lebih percaya sama orang lain. Aku ... pacar kamu sendiri”.

Susah payah Arka menjelaskan semuanya pada Melisa, namun tetap saja Melisa tak mau mempercayainya lagi. Akhirnya mereka benar-benar putus tanpa kerelaan Arka.

Beberapa bulan dari masa putus mereka, melisa tampak menggandeng pacar baru yang lebih segalanya dari Arka. Sifat Arka yang terlalu mengobral pesonanya kepada setiap gadis membuat Melisa jengah untuk selalu menahan cemburu.

Putus tampaknya membuat gadis tanggung itu merasa mengira mempunyai kedamaian yang lebih baik. Hingga suatu hari peristiwa besar mengubah seluruh keceriaan dalam hidupnya. Seolah ia tak pernah merasakan keceriaan sebelumnya.

Ah ... remaja, jiwamu begitu rapuh dan begitu pandai mengeluh. Imanmu begitu keropos dan tak terlihat. Laksana kawanan domba yang mudah digiring oleh penggembala ke tempat mana saja yang ia suka.

Seorang nenek tua pergi dengan tergesa menuju rumah ketua RT desa itu, dengan penuh harap ia ingin ada seseorang yang mampu menyelamatkan cucunya itu. “Pak, tolong dampingi cucu saya, Arka. Ada masalah yang penting saya takut terjadi hal yang buruk pada cucu saya pak”. “Apa yang terjadi dengan Arka Nek?” “Nanti di rumah saya jelaskan pak, mohon dengan sangat pak RT bisa datang segera setelah sholat maghrib nanti”.

Selepas maghrib Pak RT segera datang ke rumah neneknya Arka. Di sana diceritakanlah panjang lebar tentang kasus yang menimpa Arka, kasus yang cukup fatal dan bisa menyeretnya ke ranah hukum jika keluarga Melisa tidak terima. Ya, keluarga Melisa, karena kasus ini menyangkut tentang kehormatan dan harga diri Melisa.

Setelah isya, pak RT segera pulang ke rumahnya. Di rumah Bu RT menanyainya dengan serentetan pertanyaan. “Aduh Pak ... apa yang terjadi, Ibu di sini khawatir bapak jadi kena getahnya, apalagi anak kita beberapa hari yang lalu mimpi bapak dibelenggu tangannya”. “Si Arka, memang membuat kesalahan besar Bu, itu bisa jadi bumerang buat dirinya sendiri. Ini nih ... akibat orangtua kurang peduli dengan anak-anak mereka, dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan”.

“Memangnya Arka melakukan apa pak, menghamili anak orang?, memperkosa atau apa?”, Ibu RT semakin penasaran dengan masalah Arka. “gak bu, tapi ini memalukan, dan bisa kena undang-undang pornogafi kalau sudah menyebar begini”.

“Maksud bapak?” “Arka ini ga terima diputusin sama pacarnya dulu, karena marah dia mengirimkan foto melisa yang sedang telanjang ke WA dan sudah tersebar kemana-mana. Keluarga besar mantan pacarnya ga terima bu, si Arka ini hampir di keroyok pemuda-pemuda yang pro mantannya dulu. Berkali-kali mereka datang ke rumah Arka. Nah, bapak di suruh dampingi Arka kan orangtuanya ga ada di sini. Katanya si orang tua  mantannya itu mau ke rumah Arka untuk meminta pertanggungjawaban, soalnya mau dibawa ke polisi juga kasus ini. Tapi tadi keluarga mantan pacarnya ga datang-datang. Bapak rasanya sedih campur malu Bu”.

“Arka ... arka ...  kok bisa kamu kaya gitu nak”, ibu RT hanya bisa menggeleng-geleng kepala mendengar berita yang begitu mengejutkan itu

Arka waktu kecil sebenarnya adalah seorang anak yang baik. Ia sering ikut mengaji di TPA. Ia juga sering adzan dan iqomat di masjid, alangkah menyejukan melihat anak kecil seperti itu. Tapi semenjak remaja, pergaulan telah mengubah Arka.

Kasih sayang dan kepedulian yang kurang dari orangtuanya juga turut andil dalam mengubah Arka menjadi seperti sekarang ini. Hanya karena tak terima dicampakkan begitu saja oleh Melisa, hanya karena tak ingin melihat Melisa bahagia dengan pria lain ia tega menghancurkan kehormatan dan harga diri melisa.

***

Melisa gadis yang kini telah kehilangan keperawanannya di usia begitu dini. Ia juga telah kehilangan harga diri dan kehormatannya. Ia hanya bisa menangis meratapi kebodohannya yang mau berhubungan intim dengan lelaki yang belum sah menjadi suaminya.

Ia hanya menangis pilu ketika tau diam-diam Arka memotret tubuhnya yang telanjang setelah mereka melakukan hal itu, dan tanpa rasa kasihan menyebarkan foto dirinya yang tanpa busana ke setiap nomer WA teman-teman Melisa, bahkan pacar Melisa sekarang.

Melisa sedih memikirkan bagaimana citra dirinya dihadapan teman-teman dan guru-gurunya nanti. Apa kata tetangga, dan yang pasti ke dua orangtuanya begitu terpukul saat mengetahuinya. Mereka tak menyangka jika putri kesayangan mereka melakukan hal yang melampaui batas seperti itu.

Dalam sedetik seolah dunia Melisa hancur gelap gulita, dan itu karena ulah Arka orang yang amat ia cintai dahulu. “Arka, tega kamu ka ... aku gak nyangka kamu bakal setega ini menghancurkan kehidupanku. Tuhan maafkan kebodohanku ini.”

Arka, ia kini seperti seorang buron yang terus bersembunyi dari amukan orang-orang yang mendukung Melisa. Kabarnya keluarga Melisa ingin menjebloskan Arka ke penjara, sungguh Arka yang malang.

Beberapa hari berselang kabarnya Arka dijemput pamannya. Pamannya yang terkenal sangar layaknya preman itu ingin melindungi Arka. Ia ingin menyembunyikan Arka dari orang-orang yang ingin mengeroyoknya juga dari jerat hukum yang akan mengintainya.

Arka, sampai kapan kamu sembunyi?, lepas dari tanggungjawab yang seharusnya kau pikul. Ah ... remaja, sungguh remaja, kalian tak pernah berpikir panjang dan menimbang dengan matang jika bertindak. Hingga akal jernih rusak.

Remaja yang dikenal dengan darah muda, selalu berbuat sesuka hati demi pencarian jati diri. Ah, jati diri yang mana jika kau harus menghancurkan kehidupan orang lain. Jati diri yang mana jika hidupmu hanya menjadi racun bagi yang lain.

Tuhan, hidup di jaman apakah aku ini, bagaimana bisa anak-anak yang masih sekolah berbuat seperti Arka dan Melisa. Anak-anak yang masih hidup di desa jauh dari hingar bingar kota. Bagaimana para remaja kotanya, ah ... sungguh aku ngeri membayangkan itu.

Jaman memang sudah begitu asing untukku. Aku yang begitu tertinggal oleh jaman yang mulai rusak ini. Jaman yang sudah tak waras yang memaksakan kehalalan penyakit kaum luth, jaman yang sudah tak waras lagi yang pria dan wanita seperti binatang bebas berganti-ganti pasangan tanpa ikatan sakral pernikahan.

Jaman yang begitu jauh meninggalkanku. Dimana banyak remaja sekolah putus sekolah karena hamil di luar nikah. Semoga di jaman yang berat seperti sekarang, para orangtua lebih sibuk memperhatikan anak-anaknya lagi.

Semoga tak ada lagi kisah Arka dan Melisa yang lainnya. Cukup satu noktah hitam saja yang akan mengurangi warna indah masa remaja generasi muda kita. Jangan ada lagi noktah-noktah yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
D.M Andora - Apr 2, 2020, 7:35 PM - Add Reply

mantap

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 12:10 AM - Fernanda Ayu
Apr 13, 2020, 9:05 PM - Aisah Agil Wahyunita
Apr 13, 2020, 1:21 PM - Aisah Agil Wahyunita
Apr 13, 2020, 12:11 PM - Aisah Agil Wahyunita
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 20, 2020, 1:47 PM - Aisah Agil Wahyunita
Recent Articles