"New Normal" dan Kekuatan Masyarakat Mempertahankan Rutinitas Lama

"New Normal" dan Kekuatan Masyarakat Mempertahankan Rutinitas Lama

Percaya atau tidak Pandemi Covid 19 telah mengubah banyak hal kehidupan masyarakat. Rutinitas pra-pandemi yang biasa kita lakukan, secara selangkah tapi pasti mengalami banyak pergeseran, tidak lagi berdesak-desakan diantara kerumunan masa baik di pasar maupun tempat umum lainnya. Intensitas masyarakat belanja offline-pun menurun drastis terganti oleh belanja-belanja online. Hanya kebutuhan yang sifatnya Krussial membuat kita harus turun ke jalan membeli barang untuk kebutuhan atau demi suatu persoalan tertentu. Rutinitas pra-pandemi seperti bermain, belanja, beribadah di masjid, gereja, wihara dst yang biasa dijalani tanpa rasa was-was dan kekhawatiran terutama berkaitan dengan kesehatan,tiba-tiba berubah bahkan 180 derajat di masa pandemi, kita cukup kuatir dan waspada.

Prilaku tersebut tidak hanya terjadi di satu negara melainkan seluruh negara di bumi ini,sejarah dunia benar-benar berubah dan masa depan kehidupan dunia pun disinyalir akan berubah karena rutinitas sudah mulai ditinggalkan berganti dengan rutinitas baru.

Di masa PSBB kita lihat bagaimana protokol Kesehatan bekerja.

Semua lapisan baik sipil maupun aparatur negara dari pusat sampai daerah bersinergi membangun kesadaran publik akan resiko,dan dampak dari pandemi ini,meski diawal-awal guncangan sosial terjadi lambat laun publik bisa menerima dan  menyadari.

Sejalan dengan teori dalam ilmu sosiologi bahwa setiap perubahan sosial secara mendadak akan menimbulkan gejolak dan guncangan sosial.

Mau tidak mau kita akan meninggalkan kehidupan pra-pandemi.Cara baru untuk hidup-pun datang.

Tingkah laku sosial ini akan berlangsung secara terus-menerus,disamping membawa dampak baru dalam masyarakat yang jelas tidak mudah  untuk menyesuaikan.Contoh konkritnya,himbauan-himbauan untuk physical  distancing dls.

Pandemi Covid-19 menjadi faktor pendorong perubahan pola tingkah laku masyarakat tadi secara mendadak.Seperti yang dijelaskan oleh pakar ilmu sosial Soejono Soekanto dalam buku;Sosiologi suatu pengantar,yang diterbitkan Raja grafindo Persada,Jakarta,tahun 1990,bahwa beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial bisa bersumber dari dalam masyarakat (internal) dan luar masyarakat (eksternal).

Covid-19 sebagai sumber eksternal masyarakat mendorong perubahan internal dalam masyarakat sehingga secara struktural masyarakatpun berubah.

Masuk katagori perubahan sosial secara mendadak karena benar-benar tidak direncanakan sebelumnya.

Dalam ilmu sosial perubahan secara mendadak akan memicu ketidak siapan masyarakat untuk menerima,bahkan dapat menimbulkan kekacauan.

Cepatnya perubahan sosial yang terjadi karena wabah ini disamping memicu banyak ketidaksiapan dan mengusik ketenangan,masyarakat harus kehilangan beberapa tradisi hidup lama berganti dengan pola hidup yang baru.

Silaturrahmi dengan bersalaman,berada dalam kerumunan,dan interaksi fisik lainnya berkurang secara drastis sebab protokol kesehatan.

Kapan ini berakhir,tidak ada yang tahu,kurva Covid-19 yang masih meninggi dan timbulnya kegelisahan tentang kapan berakhirnya justru hanya menambah situasi yang semakin tak kondusif,bila berlanjut terus-menerus dan tetap tidak mampu beradaptasi dengan pola dan cara hidup baru,kita akan depresi dan bahkan kehilangan semangat hidup.

Oleh karena itu segera dicarikan solusi untuk mencegah hal tersebut,melibatkan semua unsur sosial,baik pemerintah maupun sipil.Sinergitas keduanya harus dirajut secara harmoni.Tidak hanya dari perspektif kesehatan,melainkan ekonomi,politik,sosial-budayapun harus diakomodir,akibat dampaknya yang menyeluruh dan mempengaruhi semua tatanan.

New normal,wacana yang mencuat akhir-akhir ini sebagai dampak perubahan sosial karena faktor yang didorong pandemi tadi pada awalnya adalah sebuah istilah yang populer di dunia ekonomi dan bisnis.

Pertama kali dikenalkan oleh Roger McNamee,Seorang pembisnis dan investor teknologi,

Kemudian Rich Miller dan Matteuw Benjamin  dalam sebuah artikel yang terbit di Bloomberg 18 Mei tahun 2008 yang berjudul;

"Post-Subprime Economy Means Subpar Growth as New Normal in U.S” menganalisa kondisi keuangan pasca-krisis tahun 2007-2008.

Pasca-krisis keuangan tersebut ekonomi industri harus berhadapan dengan ‘cara baru’,untuk tidak terpesona oleh masa lalu dan takut menghadapi masa depan,itulah ‘cara baru’,New Normal.

Hingga istilah itu digunakan pada sejumlah konteks yang berbeda bahwa sesuatu yang pada mulanya tidak biasa berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Di masa pandemi ini Istilah New Normal mencuat,para pakar menilai akan tercipta situasi new normal,yakni perilaku manusia yang baru yang berbeda dari sebelumnya.

Besar kemungkinan perilaku ini tidak akan berubah kembali seperti sebelum pandemi,cara hidup baru ini akan berjalan panjang,cara hidup yang memperhatikan protap kesehatan dalam keseharian,sosial media akan menjadi aktifitas sosial dan bisnis yang semakin digandrungi,komunikasi online dan daring hari ini benar-benar menjadi signifikan.

Kita harus terbiasa dan mulai beradaptasi dengan cara tersebut,jika tidak cepat-cepat move-on,romantisme sejarah masa silam itu bisa menjadi pemicu depresi yang akut.Meskipun juga harus kita akui ada kekuatan yang tersimpan diinternal masyarakat dan keluarga terkait sulitnya melepas romantisme sejarah itu seperti yang digambarkan oleh Prof.Irwan Abdullah,Guru Besar Anthtropologi,fakultas Ilmu Budaya UGM yang saya kutip dari; ugm.ac.id,”ada kekuatan di dalam masyarakat dan keluarga.Disinilah tantangan sosial budaya untuk mendampingi masyarakat kita untuk kuat masuk ke dalam “New Normal”.Artinya elastisitas dan fleksibelitas masyarakat dan keluarga dalam mempertahankan romantisme sejarah dan rutinitas lama menjadi kekuatan  tersendiri dalam masa “New Normal”.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Pernah belajar di pondok pesantren al_Falah,Jember.

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma