Nasi Aruk dan Ikan Terubuk Masin

Nasi Aruk dan Ikan Terubuk Masin

Semasa kami pergi ke Khucing untuk menziarahi makam Sultan Tengah, di perjalanan dengan taksi online, supir yang membawa kami bercerita kalau ada makanan khas di Serawak yang selalu dicari wisatawan yang berkunjung ke sana.

Mendengar ceritanya, saya menjadi tertarik. Dia bahkan menganjurkan kami, untuk pergi ke Kompleks Pasar Tradisional yang ada di Serawak tepatnya di Kompleks Kubah Ria Satok.

Dari tempat kami menginap di dekat water front Kuching, ongkos naik taksi online sekitar RM 6.5 Ringgit atau kalau kita rupiahkan Rp 23000 untuk menuju pasar tersebut. Taksi online yang kami dapat adalah mobil milik negara tersebut yakni Proton. Mobilnya bagus, interior dalamnya tidak kalah dengan mobil eropa. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di pasar tersebut.

Ketika memasuki kompleks pasar, yang pertama kami jumpai adalah para penjual sayur. Pasar di sini bersih karena berada di dalam kompleks gedung yang lantainya berkeramik dan tertata. Setiap los ada nama pedagangnya dan apa yang dia jual.

Masuk ke bagian tengah kompleks pasar, kami menemui penjual pakaian, kerudung dan souvenir serta kue lapis khas serawak. Ada mesin ATM milik dua bank Malaysia di sana, untuk memudahkan para pembeli menarik uang tunai jika kekurangan duit saat belanja.

Di bagian belakang kami menemukan para penjual ikan. Karena ini pasar basah, tentu bau nya pasti menyengat. Tapi bau ikan di sini terasa lain, khas bau ikan asin. Tertulis di situ, ikan terubuk masin. Setelah saya amati, ikan asin ini masih basah dan sudah dibelah. Ikan ini dijual mulai dari RM 10 Ringgit.

"Ikan ini sedap bang kalau digoreng," ujar salah seorang pedagang mencoba menawari saya yang sedang mengamati ikan tersebut. Saya bercerita kalau saya hanya wisatawan atau pelancong dan tidak ada tempat untuk memasak ikan tersebut.

"Abang dari semenanjung ke" tanyanya lagi. Semenanjung adalah ungkapan orang Serawak untuk orang Johor dan sekitarnya. Saya lansung bilang bukan, saya bilang berasal dari Kayong Utara Indonesia. Dia keheranan, karena tidak tahu itu daerah mana. Namun ketika disebut Pontianak dia lansung mengangguk. "Bahase abang mirip semenanjung," kelakar dia lagi.

Untuk mencoba rasa ikan ini, dia menyarankan agar kami pergi ke pusat kuliner yang berada di samping gedung tersebut. Saya menoleh kearah yang ditunjuknya, ternyata hanya berjarak lima meter saja tempat tersebut.

Pusat kuliner ini berada di pinggir sungai di kawasan Satok. Tempatnya bagus, kursinya tertata rapi di depan setiap kios yang ada. Kursi dari besi dengan tempat duduk berhadapan dan ada meja yang sudak dilas bersama kursi menjadi satu paket.

Begitu masuk ke Kompleks ini kami lansung disambut seorang makcik penjaga kedai. Dia lansung menawarkan menu andalannya Nasi Aruk Ikan Tersibuk Asin. " Tray dulu ikan ini sedap," tuturnya sembari menunjuk gambar reklame makanan tersebut.

Setelah saya amati, harga yang tertera di reklame untuk menu ini ada RM 8 Ringgit. Atau sekitar Rp 28000. Saya tanya istri apakah mau, dia menggangguk. Sementara anak kami yang sulung Salwa Juana, lebih memilih ayam penyet sambal Serawak. Si adik tidak ingat makan, sibuk bermain mobil mainan yang dibeli di pasar dengan harga yang sama yakni RM 8 Ringgit.

Untuk minuman kami mencoba es cendol serawak yang warnanya kehijauan. Setelah menunggu sekitar 10 menit, nasi aruk dan ikan terubuk gorengnya datang. "Makannya harus pelan dan sambil buang tulangnya," terang Makcik penjaga kedai.

Nasi aruk di kalangan kita masyarakat melayu tentu tidak asing lagi, dari kecil sudah sering makan nasi ini. Biasanya kalau ada nasi lebih dan sudah sejuk yang ndak habis dimakan pada petang hari maka pagi nya pasti dibuat nasi aruk oleh emak.

Yang membedakan nasi aruk dengan nasi goreng adalah, nasi aruk lebih sederhana. Cukup dipanaskan lagi dengan kuali kemudian diberikan minyak lemak atau minyak goreng, garam dan penyedap rasa secukupnya. Warnanya khas, yakni tetap putih dan hanya ada kilapan minyak goreng saja.

Sementara untuk ikan terubuk, setelah saya amati teksturnya mirip bandeng atau ikan selangat atau ikan pirang pirang. Banyak tulang dan harus hati -hati mengambil dagingnya. Rasa ikan ini memang lemak, itu yang mungkin menjadi ciri khasnya. Ikan ini walau sudah diasinkan lemaknya tetap terasa.

Padahal ikan asin basah, saya sering memakannya. Apalagi sebagai orang yang lahir di Pulau Pelapis dan besar di Parit Pelang tentunya olahan ikan asin seperti ini tentunya sudah biasa. Bahkan di masyarakat kita, biasanya ikan asin basah ini juga disayor lemak besantan. Hem...jadi lapar pulak....

Tapi ikan asin ini, memang berbeda rasanya, sekali lagi lebih lemak.
Ikan terubuk dengan nama latin (Tenualosa spp.), di Eropa dikenal dengan ikan herring dijumpai sebagai ikan perairan dan estuari. Di indonesia ikan ini hanya dijumpai dibeberapa perairan di sebelah Timur Sumatera (Bengkalis dan Labuhan Batu) dan dikenal dengan nama ikan Terubuk atau Ikan Pias.

Selain itu ikan ini hanya ada di Serawak dan semenanjung. Di kita ikan ini sudah termasuk ikan yang dilindungi karena habitatnya yang hampir punah. Ikan ini unik, besar di laut. Tetapi ketika hendak bertelur dia akan ke muara sungai yang ada air tawar. Inilah yang mungkin membuat ikan ini lemak....

Di Serawak, selain di kawasan Satok, kami juga menjumpai penjual ikan ini di kawasan Kampung Boyan yakni kampung melayu yang berada di seberang sungai Serawak. Yang mereka jual sama, ikan terubuk masin.

Jika berkunjung lagi ke Serawak, kami akan mencoba lagi makan khas ini.

Ikan Asin Terubuk dan Nasi Terubuk

Ikan Asin Terbuk dan Nasi Aruk disajikan dengan sambal dan lalapan Khas Serawak yang mengundang Selera. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

OR

About Author