Mitos Jawa Seputar Gerhana Matahari

Mitos Jawa Seputar Gerhana Matahari

Mitos adalah sebuah cerita yang hidup dalam sekelompok masyarakat yang bersandarkan pada peristiwa alam semesta. Mitos boleh jadi sesuatu yang keliru namun telah kaprah di tengah masyarakat sehingga memiliki ‘pembenaran’ secara kultural. Percaya atau tidak, mitos merupakan bagian integral ‘state of mind’ budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Termasuk salah satunya adalah mitos seputar gerhana matahari.

Akhir Desember 2019 ini, masyarakat Indonesia di beberapa wilayah merasakan fenomena alam; gerhana matahari cincin. Sebuah peristiwa yang secara ilmiah telah banyak dikupas dan diprediksi para pakar. Kala rotasi dan revolusi bumi dan bulan terhadap matahari membuat siklus yang menimbulkan gerhana matahari cincin. Begitulah kajian ilmiahnya! Namun disisi lain ada mitos-mitos yang bernilai kultural yang muncul terhadap peristiwa alam tersebut. Mitos tersebut menyajikan ‘kebenaran kaprah’ yang diyakini masyarakatnya.

Menurut saya, mitos bukan perkara benar atau salah, namun sebagai manifestasi cara pandang atau tafsir kultural masyarakat terhadap peristiwa semesta yang terjadi. Menurut mitos masyarakat Jawa, telah lama Bathara Kala menaruh dendam terhadap Bathara Surya (Dewa Matahari) dan Bathara Soma (Dewa Bulan). Bathara Kala adalah raksasa yang ganas akibat kutukan Dewa Wisnu. Konon, Bathara Kala inilah yang menjadi biang keladi gerhana matahari maupun gerhana bulan. Dia begitu dendam terhadap Bathara Surya dan Bathara Soma sehingga bersumpah akan selalu mengejar dan menelan dua dewa tersebut.

Mengapa Bathara Kala dendam? Suatu ketika, Bathara Kala menyamar menjadi dewa dan ikut perjamuan tirta amerta atau minum air abadi. Nah, saat penyamarannya itulah, Dewa Surya dan Dewa Soma tahu dan melaporkan hal tersebut ke dewa tertinggi, Bathara Wismu.

Akhirnya Wisnu pun mengutuk Bathara Kala. Akibat kutukan tersebut, Bathara Kala bersumpah akan selalu menelan Bathara Surya dan Bathara Soma sampai kapanpun. Maka gerhana matahari dan bulan pun terjadi.

Memang sangat tidak ilmiah. Namun mitos merupakan bagian kekayaan kultural masyarakat Indonesia yang harus dijaga. Bukan untuk diyakini kebenarannya melainkan patut dicatat sebagai warisan kultural. Ketika kita telaah mitos seputar gerhana matahari tersebut, ada nilai kejujuran, moralitas, dan etika sosial yang dapat dipetik. Betapa penyamaran demi keburukan adalah keliru, hidup tidak boleh meninggikan dendam, dan masih banyak lagi. Jangan sepelekan mitos seputar peristiwa semesta.

Mitos merupakan cara nenek moyang kita memberikan pendidikan kultural sebagai bekal menghadapi kehidupan.

Akhirnya, selamat menikmati suasana gerhana matahari cincin di akhir 2019 ini.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Recent Articles
Jun 9, 2020, 2:32 PM - Novi Kurnia
Jun 2, 2020, 3:25 PM - Deni Riyandi
Jun 2, 2020, 1:37 AM - Singgih Tri Widodo
May 23, 2020, 2:28 AM - Adre Zaif Rachman
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
May 21, 2020, 1:47 AM - Rahmat Gunawan
May 21, 2020, 1:33 AM - Stephanus Putra Nurdin