[CERPEN] Misteri Dibalik Kematian Sumarni

[CERPEN] Misteri Dibalik Kematian Sumarni

Di suatu pagi yang cerah, tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari arah kamar belakang sebuah rumah kost. Ibu Meida seorang pemilik rumah terlihat sedang berdiri di pintu sebuah kamar sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia terus menjerit-jerit seperti orang sedang kerasukan. Di depannya terlihat sosok tubuh wanita terbujur kaku dalam kondisi setengah telanjang. Pada daerah selangkangannya terdapat bercak darah, sedangkan di lehernya melingkar sebuah tali kawat berukuran kurang lebih satu meter. Wajah perempuan itu sangat mengenaskan. Matanya terbuka lebar dan lidahnya menjulur keluar.

Teriakan Ibu Meida membuat seisi rumah menjadi kaget. Mereka berlari berhamburan ke arah sumber suara itu datang. Seorang laki-laki paruh baya terlihat berlari tergopoh-gopoh menghampiri Ibu Meida. Ia langsung memeluk Ibu Meida sambil mulutnya mengucap istigfar beberapa kali. Laki-kaki tersebut adalah Pak Marzuki, suami Ibu Meida yang pada saat terjadi teriakan sedang tertidur di kamarnya. Di belakang mereka tampak berdiri empat orang laki-laki yaitu Beni, Herman, Yudi dan Aris. Mereka adalah mahasiswa yang kost di rumah Ibu Meida.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi sirene dari arah halaman rumah. Beberapa orang polisi berlarian masuk ke dalam rumah. Seorang polisi yang berpangkat paling tinggi memberi instruksi kepada semua penghuni rumah. 

“Perhatian semuanya… tidak seorang pun yang boleh masuk ke dalam kamar itu dan bagi semua penghuni rumah agar berkumpul di ruang tengah, tidak ada satu pun yang boleh meninggalkan rumah ini.” Beberapa orang anggota polisi masuk ke dalam kamar untuk melakukan identifikasi.

Salah seorang dari anggota polisi membuka sebuah tas besar dan mengeluarkan alat-alat untuk mengidentifikasi sidik jari. Mereka mulai menyisir setiap sudut di ruangan kamar. Dari hasil identifikasi polisi mendapatkan bukti-bukti berupa sidik jari di beberapa tempat, antara lain: di pegangan pintu, meja rias dan tempat tidur Sumarni. Selain itu, ditemukan juga bercak darah dan sperma di dalam dan sekitar pangkal kemaluan yang menunjukan praduga bahwa sebelum dibunuh Sumarni telah diperkosa terlebih dahulu.

Ibu Meida terus menangis sambil memanggil-manggil nama Sumarni, sedangkan Pak Marzuki duduk tepat di samping Ibu Meida dengan muka pucat. Sesekali tangannya mengelus-elus rambut Ibu Meida yang terus menangis tidak henti-henti, sedangkan Beni, Herman, Yudi dan Aris masing-masing duduk berkumpul di sofa sudut ruangan. Mereka seperti masih bingung dengan kejadian yang baru saja mereka saksikan.

Sumarni adalah seorang pembantu rumah tangga. Ia telah 5 tahun bekerja di rumah Ibu Meida dan Pak Marzuki. Sumarni berasal dari salah satu desa di Banyumas, Jawa Tengah. Usianya masih muda karena sejak lulus SMP ia langsung bekerja di tempat itu. Paras Sumarni cukup cantik dan rupawan, walaupun kesan-kesan perempuan desa sangat terlihat di wajahnya. Kecantikan itu tetap terpancar di balik penampilannya yang sangat sederhana. Tutur katanya sopan dan menarik simpati bagi setiap orang di sekitarnya. 

Sumarni sangat disayang oleh majikannya, karena ia pandai mengambil hati terutama Ibu Meida. Sumarni bahkan telah dianggap seperti anaknya sendiri karena Ibu Meida dan Pak Marzuki tidak memiliki anak.

Sumarni sering digoda oleh anak-anak kost yang tinggal di rumah itu. Mereka semua terlihat mengagumi Sumarni. Aris pernah mengungkapkan perasaannya kepada Sumarni, namun Sumarni tidak menggubrisnya, sedangkan Beni, Herman dan Yudi telah lama memendam kekaguman di dalam hati masing-masing, namun mereka tidak berani menyampaikan secara terus terang perasaannya kepada Sumarni.

Sekitar 3 jam polisi melakukan olah TKP di kamar Sumarni. Jenazah Sumarni dibawa ke dalam ambulan diikuti oleh beberapa orang anggota polisi. Salah seorang polisi kembali memberi instruksi kepada seluruh penghuni rumah yang saat itu masih berkumpul di ruangan tengah. “Pak Marzuki, Ibu Meida dan semua adik-adik yang kost disini, sekarang juga harus ikut kami ke kantor polisi, karena akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus ini.” Semua yang ada serempak menganggukan kepala. 

Tidak berselang lama semua penghuni rumah itu diboyong ke kantor polisi dengan menggunakan mobil dari kepolisian. Di halaman rumah masyarakat telah berkumpul. Mereka rela berdesakan untuk mengetahui lebih dekat tentang kejadian yang menimpa penghuni rumah itu.

***

Di dalam sebuah ruangan, terlihat Ibu Meida bersama suaminya duduk di kursi lipat, sedangkan Beni, Herman, Yudi dan Aris duduk di kursi panjang yang melintang di bagian pojok ruangan. Mereka duduk berdampingan, namun tidak ada sedikitpun pembicaraan di antara mereka. Kecemasan menghantui setiap wajah mereka. Tidak lama kemudian salah seorang anggota polisi memanggil mereka satu persatu untuk masuk ke ruang pemeriksaan, diawali oleh Ibu Meida, Pak Marzuki lalu keempat mahasiswa yang tinggal di rumah Ibu Meida.

Dari hasil pemeriksaan didapatkan keterangan bahwa Ibu Meida bangun sekitar jam 06.00 Wib, lalu ia menuju ke dapur yang letaknya berdampingan dengan kamar Sumarni. Tidak seperti biasa, pagi itu Sumarni tidak kelihatan ada di dapur. Ibu Meida berteriak memanggil Sumarni, namun tidak ada jawaban. Akhirnya, Ibu Meida mengetuk pintu kamar Sumarni beberapa kali dan tidak pula ada suara menjawab dari dalam kamar. Ibu Meida mencoba membuka pintu kamar Sumarni, ternyata kamar itu tidak terkunci. Saat pintu itu terbuka, ia melihat sosok tubuh Sumarni telah terbujur kaku dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Dari hasil pemeriksaan Pak Marzuki didapatkan keterangan bahwa ia terbangun oleh suara jeritan dari arah kamar belakang. Ia berlari menghampiri sumber suara itu dan mendapatkan istrinya sedang menjerit-jerit sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Keterangan Beni, Herman dan Aris pada umumnya sama seperti keterangan Pak Marzuki, namun yang sedikit berbeda adalah keterangan Yudi. Ia menerangkan bahwa pada malam kejadian sekitar jam 02.00 Wib sempat terbangun untuk buang air kecil, saat akan menuju ke kamar mandi terlihat pintu kamar Ibu Meida tidak tertutup rapat. Sewaktu akan kembali ke kamarnya, sekilas melihat sosok Pak Marzuki keluar dari kamar Sumarni dengan mengendap-endap, tapi ia tidak begitu memperhatikan karena sedang dalam kondisi ngantuk berat.

Setelah dilakukan pemeriksaan pada seluruh penghuni rumah, polisi kemudian mengambil sampel DNA dari Pak Marzuki, Beni, Herman, Yudi dan Aris untuk mencocokan dengan DNA sperma yang ada dalam alat kelamin Sumarni. Saat itu polisi belum bisa menetapkan siapa yang menjadi tersangka karena bukti-bukti yang didapatkan belum memenuhi standar pembuktian, sehingga polisi memulangkan kembali semua penghuni rumah itu sambil menunggu hasil pemeriksaan DNA dan sidik jari dari laboratorium forensik Mabes Polri.

***

Seminggu kemudian, tiga orang anggota polisi mendatangi rumah Ibu Meida, tanpa basa basi anggota polisi itu langsung menanyakan keberadaan Pak Marzuki. Hal itu membuat Ibu Meida menjadi tidak enak hati karena para polisi yang datang menunjukkan gelagat yang kurang baik. 

“Di mana Bapak Bu?” tanya salah seorang anggota polisi tersebut dengan suara yang agak keras. Ibu Meida menjawab dengan nada gemetar “Bapak ada di belakang” jawabnya sambil bergegas ke belakang memanggil suaminya. Tidak berselang lama Pak Marzuki muncul. Tanpa menunggu aba-aba tiga orang polisi itu menyergap Pak Marzuki dan langsung memasangkan borgol di kedua tangannya. 

Pak Marzuki meronta-ronta, sedangkan Ibu Meida menangis sambil bertanya kepada salah seorang anggota polisi yang memasangkan borgol di tangan suaminya “Apa kesalahan Bapak hingga ia harus diborgol?” Salah seorang polisi menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan DNA dan Sidik Jari oleh Laboratorium Kriminal Polri ternyata DNA sperma yang ditemukan di tubuh korban identik dengan DNA milik Pak Marzuki. Selain itu, sidik jari Pak Marzuki juga sama dengan sidik jari yang ada di kamar Sumarni. 

Lemaslah Ibu Meida, namun mulutnya terus tidak henti berteriak “Tidak mungkin Bapak pelakunya... Tidak mungkin Bapak pelakunya” sampai Pak Marzuki hilang dibawa pergi oleh ketiga orang anggota polisi tersebut.

***

Tiga bulan kemudian…

Kasus pembunuhan dan pemerkosaan Sumarni mulai di gelar di pengadilan. Sejak pagi gedung pengadilan telah sesak dipenuhi oleh puluhan orang yang ingin menyaksikan jalannya persidangan, namun mereka tidak diijinkan masuk ke ruang sidang karena persidangan digelar secara tertutup karena salah satu tuduhan dalam kasus tersebut berkaitan dengan kejahatan kesusilaan. Hanya keluarga terdekat korban saja yang diperbolehkan masuk ke ruang sidang. 

Terlihat di kursi pesakitan Pak Marzuki duduk dengan wajah memelas. Tidak berselang lama semua yang hadir serempak berdiri. Tiga orang hakim masuk ke ruang sidang dengan penuh wibawa. Persidangan kasus pembunuhan dan pemerkosaan Sumarni dimulai dengan suara ketukan palu sebanyak tiga kali.

Setiap tahapan persidangan berlangsung dengan sengit. Penuntut umum dengan gigih berusaha membuktikan dakwaannya melalui bukti-bukti yang memberatkan terdakwa, sedangkan penasihat hukum terus berjuang meyakinkan hakim bahwa bukan terdakwalah pelaku pembunuhan dan pemerkosaan itu. 

Bukti pemeriksaan DNA terhadap sperma yang ditemukan di alat kelamin Sumarni dan kesaksian Yudi digunakan oleh penuntut umum untuk meyakinkan hakim bahwa Pak Marzuki lah pelakunya, sedangkan penasihat hukum hanya memiliki kesaksian dari Ibu Meida yang dianggap menguntungkan bagi Pak Marzuki.

Setelah semua bukti-bukti diajukan, giliran Pak Marzuki yang diperiksa sebagai terdakwa. Hakim ketua bertanya kepada Pak Marzuki “Benarkah saudara pada malam itu masuk ke kamar Sumarni?” Pak Marzuki tertunduk, ia kemudian menghela nafas panjang, dengan lirih ia menjawab pertanyaan itu “Benar Yang Mulia, pada malam itu saya tidak bisa tidur, lalu saya berniat meminta Sumarni membuatkan mie, karena saat itu saya merasa lapar jadi saya pergi ke kamar Sumarni. Saya ketuk pintu kamar Sumarni beberapa kali, namun tidak ada sedikitpun jawaban. Saat saya sentuh pegangan pintu kamarnya ternyata pintunya tidak terkunci. Saya buka pintunya perlahan-lahan dan terlihat Sumarni sedang tertidur lelap. Saya merasa kasihan untuk membangunkan Sumarni, jadi saya urungkan niat untuk menyuruh Sumarni. Saya menutup kembali pintu kamarnya dan akhirnya saya kembali ke kamar. Pada keesokan harinya saya terbangun oleh teriakan istri saya dan mendapati tubuh Sumarni sudah terbujur kaku tak bernyawa.”

Pertanyaan terus bertubi-tubi diajukan kepada Pak Marzuki, baik dari hakim anggota maupun dari penuntut umum. Pak Marzuki tidak bisa berkutik dengan beberapa pertanyaan menyangkut tujuan ia masuk ke kamar Sumarni malam itu yang dianggap oleh penuntut umum menimbulkan kecurigaan besar.

Setelah semua proses persidangan dilalui tibalah saatnya majelis hakim menjatuhkan putusan. Sebelum putusan dibacakan, hakim ketua bertanya kepada Pak Marzuki “Apakah ada yang ingin saudara sampaikan sebelum putusan ini dibacakan?” terlihat Pak Marzuki menganggukan kepala. Ia berkata sangat lirih. “Majelis hakim yang mulia, benar saya akui bahwa malam itu saya masuk ke kamarnya Sumarni, tapi saya bersumpah bukan saya yang telah melakukan pembunuhan itu.” 

Hakim ketua menjawab dengan arif “Baiklah semua pembuktian tentang itu sudah kita periksa, jadi sekarang tolong simak dengan baik putusan yang akan kami bacakan.”

Secara bergantian ketiga orang hakim yang mengadili perkara itu membacakan putusan setebal 120 halaman dengan begitu detail mengutarakan segala hal yang terungkap di persidangan. Kurang lebih 2 jam sejak putusan itu mulai dibacakan tibalah saatnya hakim ketua membacakan amar putusan. 

Pak Marzuki berdiri dengan wajah penuh cemas. Hakim ketua membacakan satu per satu diktum amar putusannya. Dengan suara bulat majelis hakim berkesimpulan bahwa Terdakwa Marzuki terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan dan pemerkosaan. Terdakwa Marzuki dijatuhi pidana penjara selama 18 tahun.

Pak Marzuki terlihat lemas mendengar amar putusan tersebut. Ia langsung mengajukan banding, sedangkan di kursi pengunjung Ibu Meida terlihat menangis terisak-isak. Ia tidak mampu membayangkan dalam waktu yang sangat lama akan terpisah dengan suaminya.

***

Setahun telah berlalu sejak Pak Marzuki divonis bersalah oleh pengadilan. Semua upaya hukum telah ditempuh, namun tidak membuahkan hasil. Pak Marzuki akhirnya pasrah pada kenyataan untuk menjadi penghuni lapas hingga delapan belas tahun ke depan. 

Ketika ia sedang asik dalam lamunannya, tiba-tiba seorang petugas Lapas menghampirinya. “Pak Marzuki ada yang menjenguk Bapak di ruang tunggu.” Mendengar kabar itu wajah Pak Marzuki terlihat sumringah. Sudah hampir 6 bulan ia tidak pernah lagi dijenguk. Pak Marzuki berjalan di belakang petugas lapas menuju ruang tunggu. Setiba di sebuah ruangan yang dibatasi oleh sekat kaca, mata Pak Marzuki tertuju pada seraut wajah yang tidak asing baginya. Wajah yang selalu ia rindukan setiap saat, yaitu Ibu Meida. Di seberang ruangan terlihat Ibu Meida membawa dua bungkusan plastik besar berisi makanan dan segala kebutuhan sehari-hari.

Mereka duduk berhadapan dibatasi oleh sekat kaca. Pada bagian bawah terdapat lubang yang memanjang sampai ke sudut ruangan. Tangan Pak Marzuki meraih tangan Ibu Meida melalui lubang itu sambil berkata “Ibu... Bapak kangen sekali sama ibu.” Ibu Meida hanya mengangguk kecil sambil berkata “Bagiaman keadaan Bapak, apa Bapak sehat-sehat saja di sini.”… “Alhamdulillah, Bapak sehat-sehat saja Bu, tapi batin Bapak tersiksa di sini, karena sampai saat ini Bapak masih belum bisa menerima kenyataan ini” jawab Pak Marzuki sambil meremas-remas jemari Ibu Meida. Terlihat air mata mengalir dari sudut matanya. 

“Ibu... Bapak tidak pernah melakukan perbuatan ini semua. Percayalah Bu Bapak tidak pernah membunuh atau memperkosa Sumarni.” Ibu Meida terdiam lalu ia menatap langit-langit ruangan. Sesaat kemudian Ibu Meida berkata “Iya, Ibu tahu Bapak tidak membunuh dan memperkosa Sumarni dan Ibu juga tahu semua tentang kejadian itu.”

Pak Marzuki terlihat kaget dengan perkataan Ibu Meida. “Apa maksud Ibu bilang seperti itu?” tanya Pak Marzuki. Ibu Meida melanjutkan perkataannya “Malam itu sebenarnya Ibu belum tertidur ketika Bapak keluar dari kamar. Ibu merasa penasaran apa yang akan Bapak kerjakan. Ibu ikuti Bapak dari belakang, ternyata Bapak pergi menuju ke kamar Sumarni. Ibu merasa curiga apa yang akan Bapak lakukan di sana. Ibu mengendap-endap ke samping jendela kamar Sumarni. Ibu mendengar semua percakapan antara Bapak dengan Sumarni malam itu. Ibu benar-benar tidak menyangka, ternyata antara Bapak dan Sumarni menyimpan perselingkuhan busuk di belakang Ibu.”

Mendengar cerita itu Pak Marzuki terperangah, namun Ibu Meida tidak memperdulikan sikap Pak Marzuki yang sedang terpaku, ia terus melanjutkan ceritanya “Ibu mendengar Bapak mengajak Sumarni untuk melakukan hubungan suami istri malam itu, tapi Sumarni menolaknya dengan alasan sedang datang bulan. Bapak akhirnya kembali lagi ke kamar. Sebelum Bapak keluar dari kamar Sumarni, Ibu telah lebih dulu balik ke kamar dan pura-pura sedang tidur. Sesampainya di kamar, Bapak membangunkan Ibu dan melampiaskan gairah Bapak yang tidak kesampaian kepada Ibu. Setelah selesai Bapak menggauli Ibu, lalu Ibu bilang akan pergi ke kamar mandi, padahal sebenarnya Ibu pergi ke dapur mengambil kaos tangan dan sebuah botol kecil. Ibu masukan sperma Bapak yang masih tertinggal di tubuh Ibu ke dalam botol kecil, kemudian Ibu pergi ke kamar Sumarni. Kamar itu tidak terkunci, saat Sumarni tertidur lelap Ibu cekik leher Sumarni sambil membekap mulutnya. Setelah tidak bergerak lagi Ibu mengambil potongan kawat jemuran yang tergeletak di sudut kamar. Ibu lilitkan kawat itu di leher Sumarni hingga Sumarni benar-benar tidak bernafas. Kemudian Ibu buka rok Sumarni dan mengambil botol kecil yang berisi sperma Bapak dari dalam saku daster Ibu. Ibu tumpahkan sperma Bapak di kemaluan Sumarni agar terkesan ada pemerkosaan, setelah itu Ibu kembali lagi ke kamar.”

Pak Marzuki terperanjat mendengar cerita istrinya. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ibu Meida tertunduk sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia berkata lirih kepada suaminya “Sudah dua puluh tahun kita menikah, kenapa Bapak tega menghianati Ibu. Sumarni pun telah Ibu anggap sebagai anak Ibu sendiri, tapi kenapa kalian melakukan itu terhadap Ibu.” Pak Marzuki terdiam seribu bahasa entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Ia seperti kehilangan kesadaran. Suasana ruangan seakan menjadi gelap gulita. Air mata pun tak sanggup lagi tertumpah. Ibu Meida mencium tangan Pak Marzuki sambil berbisik di antara sekat kaca “Pak... Ibu akan tunggu Bapak sampai tiba saatnya nanti.” Ia kemudian keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai meninggalkan sosok Pak Marzuki yang terdiam mematung.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 13, 2020, 12:36 PM - Runengsih
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma