Merry Christmas, Saudaraku...

Merry Christmas, Saudaraku...

Setiap agama memiliki pilar aturan masing-masing. Dalam negara majemuk seperti Indonesia, tabrakan antar pilar tersebut tak jarang membuahkan konflik. Oleh karena itu, sungguh bijak jika di negara semacam ini kita mampu bertingkah bijak. Bukan mengedepankan ego mayoritas yang justru sangat rentan memicu konflik. Termasuk dalam konteks Hari Natal yang dirayakan saudara kita saat ini.

Tak perlu lagi diperdebatkan boleh atau tidak ‘ucapan Merry Christmas’. Juga tak perlu lagi mengungkit segala hal --terkait mayoritas dan minoritas—yang bernuansa SARA.

Sebagai umat beragama di jaman super modern, persoalan agama menjadi urusan pribadi. Secara teologis, agama menjadi laku batin yang harus dihayati oleh pemeluknya. Ketika fungsi teologis tersebut telah dijalankan dengan benar, maka akan berimbas pada fungsi sosial atau kultural dengan benar pula. Tidak jarang, laku teologis keliru maka laku sosial juga terganggu. Akhirnya, beragama di negeri majemuk ini menjadi kurang indah.

Dalam konteks kultural inilah, saya ingin mengajak merenung. Momentum Hari Natal sebagai momentum teologis menjadi hari yang sakral bagi saudara kita umat Nasrani. Dalam konteks kultural, kita tidak boleh mengganggu dimensi teologis tersebut.

Membiarkan setiap agama dan keyakinan yang dilindungi oleh negara untuk berkembang merupakan keharusan. Etika kebhinekaan harus selalu kita kedepankan demi keutuhan harmonisasi sosial. Sebagai warga Indonesia yang dibingkai Bhineka Tunggal Ika, secara sosial kita harus memiliki landasan prilaku yang membuahkan kedamaian dan keselarasan.

Tak perlu rasanya membenturkan aspek teologis (aturan agama) dengan aspek sosial (aturan / norma sosial). Keduanya memiliki koridor yang berbeda meski dalam beberapa hal saling berhubungan. Hidup di Indonesia harus bijak. Mampu melihat keberagaman –terutama keberagaman SARA—sebagai keindahan.

Heterogenitas adalah spektrum batin yang sepatutnya menghadirkan kesejukan, siapapun di dalamnya. Saling menyapa, memberi kabar baik sesama manusia merupakan etika sosial yang meng-harmonisasi perbedaan. Termasuk saat Hari Natal, akan sangat indah manakala secara sosial kita bertegur sapa mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada saudara kita yang merayakannya.

Tidak perlu kita pertentangkan boleh atau tidak, mengganggu akidah –jika Islam—atau tidak. Segala sesuatu tergantung niatnya.

Selama kita berniat membangun kedamaian tidak ada salahnya saling menyapa (memberi selamat). Semoga, tulisan sangat singkat ini mampu membuat kita merenung. Merenung untuk semakin menjadi orang Indonesia yang mengedepankan etika kebhinekaan.

Merry Christmas, Saudaraku….!



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma