Mengikuti Lomba Pidato

Mengikuti Lomba Pidato

Wajah Ridwan masih muram. Sudah seharian ia tidak mau berbicara. Bahkan ia lebih suka mengurung diri di kamarnya. Ibunya sudah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya.

Akan tetapi, Ridwan tidak mau membukanya. Ibunya seperti sudah kehabisan cara untuk membujuk Ridwan agar mau keluar kamar.

Tapi ibunya kembali mengulangi dengan penuh kesabaran. "Ridwan, tolong pintunya dibuka, sayang.....! " Kata ibunya. "Makan dulu. Ibu buatkan masakan kesukaan kamu."

Biasanya Ridwan langsung gembira. Tapi kali ini tidak, Ridwan tidak peduli dengan makanan kesukaannya. Ada apa, ya gerangan? Di dalam kamar, Ridwan tidak mau menjawab. Ia bahkan menutup telinganya dengan bantal. "Aku sudah bilang, aku tidak mau ikut lomba itu. Aku tidak bisa. Aku tidak bakal jadi juara," gerutu Ridwan, tetapi tidak dihiraukan oleh ibunya.

Semalam Ridwan baru saja mengikuti lomba pidato yang diadakan Pemuda Karang Taruna dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Banyak anak seusianya yang ikut.

Mereka ikut karena rata-rata dorongan orang tua. "Nanti ibu dan bapak kamu yang mengajarkan, ya sayang," rayu ibunya waktu itu. Dan akhirnya Ridwan menuruti nasihat orang tuanya. Ridwan memulai persiapan seperti membuat naskah pidato untuk dihafal, cara berpidato, cara menguasai podium, sampai pakaian yang digunakan. Ridwan mulai mempelajari naskah yang dibuat ibunya. Ridwan berulang kali mencoba.

Begitu juga ibunya dengan sabar melatih Ridwan hingga akhirnya ia dianggap mampu. Malam minggu lomba pidato itu dimulai bertempat di kantor RW 05." Semua peserta dimohon untuk menempati tempat yang telah disediakan. Mohon kepada para orang tua duduk di bangku tamu, "demikian bunyi suara pengumuman".

Setelah pengumuman itu, suasana jadi gaduh. Para orang tua tampak sibuk mengantar anak anak mereka ke bangku peserta. Ada orang tua yang beteriak teriak karena kursi buat anaknya rusak. Bahkan ada anak yang berniat untuk mengundurkan diri ikut lomba. Salah satunya adalah Ridwan. Ridwan mengatakan kalau dia gemetar setelah melihat podium dan banyak orang.

Kepala desa menyampaikan sambutannya. "Acara ini diselenggarakan untuk menumbuhkan rasa minat dan kemampuan anak!" Demikian sambutan Kepala Desa Sukamaju. Kepala Desa turun dengan perlahan dari podium dan kembali duduk di tempat semula. Suasana menjadi tegang ketika peserta pertama dipanggil panitia.

Semua mata tertuju kepada peserta pertama yang tidak lain adalah Ridwan. "Hadirin dan dewan juri yang terhormat, inilah peserta dengan nomor undian 25 sebagai peserta pertama," demikian pengumuman pembawa acara melalui pengeras suara.

Ridwan maju ke depan. Kedua orang tuanya memperhatikan dengan harapan cemas. Ridwan menuju podium. Sampai di atas podium, Ridwan terdiam. Hadirin dan panitia menyangka bahwa Ridwan sedang berdoa. Setelah lama ditunggu, Ridwan tidak juga mengeluarkan kata kata. " Peserta pertama dipersilahkan memulai pidatonya!" Saran dari panitia yang melihat Ridwan diam saja di atas podium.

Ternyata anjungan panitia itu bisa dipahami. Ridwan membuka pidatonya dengan salam. Persis seperti latihan. Ibunya tampak gembira. Tapi setelah mengucap salam, Ridwan diam lagi. Lama hadirin menanti. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Ridwan "Aku lupa. Aku lupa lagi. Sekian terimakasih," itulah yang dikatakan Ridwan. Lalu ia turun dari podium sambil menangis. Ibu dan bapaknye langsung memeluk anak yang penuh air mata dan basah oleh keringat itu.

Sampai di rumah, Ridwan masih terisak isak. Itulah sebabnya, mengapa pada hari Minggu ini dia mengunci diri dikamar. "Ridwan, Ridwan, kita main yuk!" Panggil teman-teman Ridwan. Mereka adalah Anto, Rina, Rino, Ahmad, Hamid, Wati, Dina. "Ridwan, ada bu?" Tanya mereka. "Ada, mari masuk!" Ajak ibu Ridwan dengan santun. Ibu Ridwan menjelaskan bahwa dari pagi Ridwan belum keluar kamar mungkin karena lomba semalam.

Salah seorang di antara mereka meminta izin untuk berbicara kepada Ridwan. Dia adalah Anto. "Ridwan ini aku, Anto. Kita main yuk!" Bujuk Anto. "Kamu kan sudah janji bahwa hari ini mau melanjutkan main kasti kemarin. Ayolah!". " Ngeek," suara pintu dibuka. Ridwan pun keluar. "Kita main yuk!" Kata Anto mendekat. Ridwan menganggukan kepala dan berjalan keluar rumah. "Semalam kamu pulang duluan ya" Kata Rino membuka pembicaraan. Lagi, Ridwan hanya mengangguk. "Padahal, kalau kamu tidak pulang, kamu pasti akan melihat penampilan lucu teman-teman kita," kata Ahmad. "Maksud, kamu?" Tanya Ridwan membuka suara. "Tahu tidak kamu, semalam di antara kita, hanya Anto yang juara!" Seru Hamid. "Coba kamu tanyakan saja sendiri kepada mereka," sambung Hamid. "Malah penampilan kami lebih buruk dari kamu, Wan," kata Wati. Ridwan belum mengerti maksud teman-temannya. "

Aku belum sampai memberi salam, tiba-tiba perutku sakit,"kata Anto. "Aku sudah memberi salam, tapi aku lupa memakai peci, aku balik lagi," Kata Ahmad, "Eh satu lagi. Kamu tau tidak, ada peserta laki-laki yang sampai pipis di celana lho. Ridwan mulai merasa bahwa dirinya bernasib sama dengan mereka, tidak juara.

Lomba pidato itu tidak perlu membuatnya malu. Wajah Ridwan tampak semakin cerah. " Aku baru sadar, bahwa aku bukan anak bodoh yang tidak bisa jadi juara pidato. Aku yakin aku punya bakat,"kata Ridwan dalam hati. Mereka melanjutkan mengobrol. Mereka bergembira dan mengobrol tanpa beban.

"SELESAI"

NASEHAT:

Kita harus selalu patuh dan mendengarkan nasihat kedua orang tua kita, jangan sesekali membantahnya. -Jadilah orang yang percaya diri dan berani, dengan percaya diri kita bisa meraih kesuksesan.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma