Mencicipi Sejarah Terasi atau Belacan

Mencicipi Sejarah Terasi atau Belacan

Hidup di Indonesia penuh pantang petiti. Termasuk masalah cara mengolah makanan. Mengolah Belacan semisal. Di daerah pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat, Belacan tak boleh dibakar. Padahal itulah cara pengolahan yang terbaik. Agar aromanya keluar.

Katanya, bila Belacan tetap dibakar, apalagi dibakar di dalam hutan atau tempat berladang, para penghuni hutan bisa mengamuk. Hutan rimba akan gaduh. Rupa - rupanya hewan dan penghuni lainnya benci dengan bau Belacan ini.

Belacan di Jawa disebut dengan Terasi. Walau, dalam Prasasti Karang Bogem, produk olahan udang dan ikan kecil yang ditumbuk dengan garam ini telah disebut Acan.

Dyah Kudamerta, Raja istana Majapahit Timir yang juga paman dari Raja Hayam Wuruk, tokoh yang dianggap mengeluarkan prasasti  Karang Bogem itu mewajibkan pemilik lahan membayar seberat Seribu (mungkin Kati-Ak) Belacan pertambak yang diusahakan.

Ternyata makanan hasil fermentasi udang dan ikan yang berbau menyengat ini memang sudah nenek moyang kita nikmati. Walau hewan tak menyukai bau hangitnya.

Tak hanya hewan. Henry O Forbes, ilmuan alam asal skotlandia juga tak suka. Bukan hanya dia, hampir semua orang Eropa yang datang ke Asia juga tak suka. Sebagaimana catat John Crawfurd, dalam buku Sejarah Kepulauan Melayu(1820). Bahkan kata dia, baunya bisa membikin orang Eropa menjadi mual.

Catatan Eropa paling awal tentang Belacan bisa jadi adalah catatan Dampier yang membahas cara pembuatan Belacan atau Terasi dalam bukunya Dalam A New Voyage Round the World yang terbit pada 1688.

“Sulit bagi saya menerima kenyataan bahwa secara tidak sengaja saya sudah menyantap benda tersebut setiap hari tanpa merasa jijik sedikit pun,” Sesal Forbes, yang mengelilingi nusantara dari 1878 hingga 1883 ini.

Kalau Forbes menyesal makan Belacan, lain lagi dengan kita. Kita akan menyesal jika makan tak ada sambal belacan. Salah satu nikmat hidung khatulistiwa, selain Durian dan Jengkol.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 26, 2019, 1:04 PM - cucuk espe
Dec 26, 2019, 12:59 PM - Febry Winarto
Dec 11, 2019, 4:55 PM - Agus Kurniawan
Dec 10, 2019, 9:41 AM - Jumadi Gading
About Author

Penulis dan Penerbit Buku Sendiri

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 13, 2019, 1:41 AM - RackTicle Manager
Feb 19, 2020, 10:00 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma