[PUISI] Memikul Siang dan Malam

[PUISI] Memikul Siang dan Malam

Oleh : Akhmad Fauzi Abdullah

Puisi ini, khusus orang - orang yang mempunyai beban hidup tak berkesudahan, semisal air mengalir ke muara sungai tanpa henti meskipun dihalang - halangi perubahan zaman. Berjuanglah sampai engkau lupa pernah gagal. Hingga berjuta mata merasa takjub melihatmu berdiri di atas gunung dan berkalung emas. Jangan menyerah hanya karena engkau terkucilkan, dihina dan tak pernah mendapatkan perlakuan yang sesungguhnya. Ingat, kita lahir kedunia sama - sama telanjang, jadi tetaplah hidup dan terus menebar kebaikan.

Tetap tegar, berjalan di atas paku - paku tajam, bahkan jika  harus terbakar api sekalipun masih tetap bertahan. Setia selalu dengan hantaman badai walau tak harus melawan. Karena serangan yang mematikan, adalah dengan tetap bertahan.

Malam - malam panjang menjadi saksi Para Pejuang kehidupan, meramu hari dengan perasan otak menyongsong masa depan

Hiruk pikuk riuh gema panggilan Ilahi memanjakan dahaga sekian tahun

Melepas goresan dengan rintihan meringis pencari keadilan

Jeritan hati menangis pilu memikul beratnya zaman, meronta laksana pengemis jalanan

Terluka di bawah panasnya mentari dan dinginnya hujan

Merintih mengharap bintang jatuh ke pelukan dengan mesra

Apalah daya, tanggungan semakin besar, harga diri tetap menjadi satu panutan

Kusut, berpikir negatif meluluh lantahkan impian dengan sayap - sayap patah

Senyuman berubah menjadi tangis yang tak kunjung mereda, semisal musim hujan tak berkesudahan

Tak habis pikir, tolakan alami alam menjelma bak hantu di tengah perjalanan

Menutupi diri dengan topeng kepalsuan, dan terus - menerus berperang dengan jaman

Berusaha menyingkirkan sasaran namun dengan beban tanpa henti dan terus merongrong licin dan penuh rayuan

Fatal hidup tanpa pupuk semangat menebar nilai positif putus penuh kekecewaan

Kompetisi menjadi yang terbaik, gugur salah haluan dan tidak pernah sampai

Kebiasaan membuat derap langkah terhenti dengan rasa bingung berkepanjangan

Kaki terasa berat melangkah, mata tak ingin melihat, dan otak tak mampu berpikir

Punya segalanya namun terlahir dari aliran darah mengucur deras, semisal peluh yang menetes dari kulit

Pertanggung jawaban masih buram, menyepi di sudut malam dengan penerangan yang suram

Tak ada lagi keindahan, segalanya nampak buruk , dan penuh kerusakan

Pusaran hati bimbang dalam pilihan yang membuat keraguan tanpa pegangan luar dalam

Bertahan dalam amukan masa, berjuang di tengah badai dengan kehebatan tersudutkan

Kecewa selalu, menutupi sakit tanpa luka, mengais kehidupan dengan bayaran seadanya

Masihkah terus berdiri meski raga diterpa amukan badai tanpa mengejarnya

Tidak pernah benar dari sudut pandang manapun, tak bisa berpijak di atas kaki sendiri

Alam tak mau bersahabat dengan kemurungan jiwa - jiwa kering kerontang

Serupa kemarau seratus tahun , kiamat kecil menyentuh jalan hidup seorang pejuang

Lirih, tak dapat memikul siang dan malam

 

Madura, 26 Januari 2020

 

" Semakin dipaksa, semakin luas jalan untuk perpisahan "

Segala seauatu tidak akan didapatkan dengan instan. Derai air mata, keringat kuning , bahkan kucuran darah harus menjadi tumbal dari sebuah kesuksesan. Tanpa mengenal lelah atau menyerah pada kejamnya persaingan untuk menjadi yang terbaik. Ambisi wajib ada, dengan peluang dan kesempatan yang menjanjikan. Roda hidup terus berputar, berada di bawah ataupun di atas relatif untuk dipertahankan. Tersebab perubahan akan hadir selepas niat , tekad, dan naluri berusaha tetap ditegakkan. Dan jangan lupa tetap tersenyum bahagia, dikala kenyataan tak sesuai dengan harapan.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 5, 2020, 12:24 AM - Akhmad Fauzi
Jun 9, 2020, 2:32 PM - Novi Kurnia
May 20, 2020, 1:47 PM - Novi Kurnia
Apr 26, 2020, 11:45 PM - Stephanus Putra Nurdin
Feb 16, 2020, 7:53 PM - Akhmad Fauzi
Feb 4, 2020, 1:16 PM - Runengsih
Feb 1, 2020, 12:54 AM - Arnoldus Suluh Dwi Candra
Jan 30, 2020, 12:51 PM - Prisma Vista Sari
Jan 30, 2020, 9:39 AM - Arnoldus Suluh Dwi Candra
About Author

Lahir dengan selamat pada 13 Juni 1993

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma