Melupakan Ibu (Refleksi Hari Ibu)

Melupakan Ibu (Refleksi Hari Ibu)

Dalam banyak legenda di negeri ini, ibu memiliki peran sentral. Ibu menjadi protagonis yang menentukan alur cerita. Tidak jarang, legenda berakhir ironis akibat jalan cerita yang meminggirkan peran penting sosok ibu. Membaca legenda Malin Kundang, Batu Menangis, Tangkuban Perahu mengingatkan kita pada ‘tuah’ makna figur ibu. Oleh karena itu, cukup beralasan jika kita menyematkan sebutan ‘Ibu Pertiwi’ untuk negeri ini.

            “Kita tidak boleh kehilangan ibu” begitulah pesan dalam novel tendensius ‘Mitj’(1907) karya Maxim Gorky. Novel tersebut diterjemahkan dalam banyak bahasa, salah satunya Bahasa Indonesia berjudul ‘Ibu’. Bagi Gorky, ibu adalah induk segala nilai yang akan menggiring sebuah bangsa menuju kejayaannya. Pada titik ini, saya pun membenarkan ketika Ir Soekarno menggunakan sebutan ‘Ibu Pertiwi’ untuk negeri ini. Terlepas ada atau tidak hubungan (batin) antara Soekarno dengan Maxim Gorky, keduanya sepakat memosisikan ‘ibu’ sebagai pemantik watak nasionalis.

            Mari mencermati realitas kekinian, dimana ibu memiliki makna sangat filosofis dalam dunia batin masyarakat kita. Segala aktivitas kehidupan akan bergerak melalui portal figur ibu. Di sinilah, ibu menemukan titik penghayatan maknawiahnya. Manusia yang sukses adalah mereka yang memiliki komitmen memulyakan sosok ibu. Bukan mitos atau cerita satir! Terlalu banyak kita menemui pribadi yang berhasil dalam kehidupannya akibat pantikan semangat sosok ibu. Sebagai portal keberhasilan, ibu selalu dimintai restu ketika seseorang akan berangkat kerja, merantau, hingga bertarung di arena politik.

            Ibu telah melampaui batas makna kehadiran kemanusiaannya. Dalam catatan Ir Soekarno yang dibukukan berjudul ‘Sarinah’ (1953) sangat jelas digambarkan bahwa ibu telah menjelma menjadi perempuan yang menentukan kebesaran dan keambrukan sebuah bangsa. Hampir-hampir tidak ada negara yang mampu berdiri tanpa memiliki ibu-ibu hebat yang melahirkan generasi nyang berkualitas. Sarinah menjadi metafor yang dipertegas oleh Soekarno bahwa idealnya bangsa yang besar adalah bangsa yang memulyakan figur ibu. Dan terlalu banyak negara hancur karena tingkah ibu buruk.

        Gagasan besar memulyakan figur ibu lazimnya menjadi proyek yang tidak pernah selesai. Sayangnya, peran ibu di era modern telah diambil alih oleh produk global yang membuat manusia melupakan sejarah dirinya. Fenomena ini seolah menguatkan testimoni Maxim Gorky bahwa manusia akan kehilangan kesejatian dirinya manakala meletakkan figur ibu hanya sebagai mozaik masa lalu. Diakui atau tidak, manusia modern adalah manusia yang terputus sejarah dirinya. Ibu bagi manusia modern adalah ‘kemudahan teknologi’. Ibu pun menjadi robot mekanis yang kehadirannya kosong apresiasi. Ibu hanya dibutuhkan saat Hari Raya, hajatan pernikahan, atau disebut untuk mengurus administrasi kependudukan.

            Tidak berlebihan apabila saya menyebut ibu-ibu modern adalah ibu pelengkap administratif. Begitu ironik masyarakat di sekitar kita. Tidak heran jika generasi kekinian menjadi anarkis, vandal, dan jauh dari watak halus budi. Hampir setiap hari kabar kebrutalan –terutama anak-anak—menghiasi layar televisi. Mereka telah menjadi generasi yang kehilangan hangatnya figur ibu. Batin yang suwung dialektika nilai dari seorang ibu.

            Oleh karena itu, cukup beralasan jika kebrutalan generasi muda masa kini akibat terlalu lama melupakan figur ibu. Ibu sebagai gudang tata nilai seharusnya selalu menjadi rujukan kebenaran nilai. Dalam terminologi agama; ‘Surga di telapak kaki ibu’ seolah menjadi satir bagi kita bahwa sedikitpun kita tidak bisa melepaskan (baca; melupakan) sosok ibu. Di Jawa Timur, ada legenda lakon ludruk; ‘Sarip Tambak Oso’ yang berjuang melawan kolonialis Belanda. Berulangkali tokoh Sarip tertembak Belanda, tetapi berkat doa (baca; panggilan) ibunya; ‘Rip, durung wayahe mati, Nak!” (Rip, belum waktunya meninggal, Nak), Sarip pun kembali hidup. Sungguh gambaran makna ibu yang sangat metaforis.

            Kenyataan hari ini, terlalu banyak perkataan ibu yang kita lupakan. Lebih parah lagi, kita sedang bergerak pada pendurhakaan besar-besaran pada figur ibu. Hormat pada ibu hanya menjadi laku parsial di waktu-waktu tertentu saja. Seluruh hidup kita, ternyata teramat banyak digunakan untuk mengingkari tata nilai yang diwariskan seorang ibu. Puncaknya, kita melecehkan ‘ibu pertiwi’ secara masif dan sangat sistemik. Laku korup, main suap, nepotis, merupakan manivestasi masyarakat yang kehilangan bahkan (sengaja) melupakan sosok ibu.

            Begitu pentingnya peran ibu sebagai agen penjaga nilai dan moral. Melupakan ibu ibarat menggali lubang kubur sendiri. Tentu ‘ibu’ kita akan menangis jika menemukan anak-anaknya mengabaikan kehadirannya. Tengoklah, hampir tidak ada kisah yang memenangkan tokoh yang mendurhakai ibu. Kembali pada ‘Mitj’ karya Maxim Gorky disebutkan bahwa kejatuhan martabat seorang manusia –dan sebuah bangsa—adalah akibat meniadakan peran ibu. Maka wajar apabila kita curiga, sudah terlalu jauhkan kita melupakan ‘ibu’ sehingga bangsa ini terus dirundung kebrutalan?

            Mari Merenung.***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma