Mana yang Lebih Penting (CERPEN Anak)

Mana yang Lebih Penting (CERPEN Anak)

Dian memandang jam dinding dengan gelisah.  Sudah jam 4 sore dan Ibu masih belum pulang juga. Air mata sudah menggenang di mata Dian. Abi, adiknya yang berumur 3 tahun bermain-main dengan riang, seolah tidak memperdulikan kegelisahan kakaknya.

Dian memandang rumah yang berantakan. Dengan 3 orang adik laki-laki yang umurnya berdekatan membuat rumah ini hampir tidak pernah rapih. 2 orang adik kembarnya, Fauzan dan Firdian duduk di kelas 3 SD, Dian sendiri saat ini masih duduk di kelas 5 SD.

Ibu membantu Ayah yang bekerja sebagai  guru dengan membuka warung kelontong di depan rumah. Seringkali Dian diminta membantu untuk menjaga ketiga adiknya sekaligus menjaga warung sementara Ibu berbelanja ke pasar. Namun khusus hari ini Dian sangat berharap Ibu bisa pulang cepat. Intan, Reni dan Icha pasti sudah berkumpul di rumah Tania.

Sambil menggendong Abi ke luar rumah, Dian melongok penuh harap ke ujung gang. Kembali dia masuk ke rumah dengan lesu. Teringat percakapan Dian dan teman-temannya kemarin sore.

“Hai Dian. Besok main ke tumah Tania yuk”

Dian yang sedang bergegegas memasukan buku-buku kedalam tas, melongo memandang Icha.

“ihh kok diajak main malah bengong” Reni menepuk pundak Dian.

“oh iya iya.. aku mau. Besok ya ?” Dian memandang ketiga temannya dengan berbinar-binar.

“iya besok. Katanya kamu jago gambar ya ? besok kita rencananya mau gambar-gambar di rumah Tania.”

Dian tersipu malu. Rupanya ketiga teman sekelasnya ini mengetahui perihal bakatnya dalam menggambar semenjak Bu Uli tanpa sengaja menyebutkan bahwa Dian berbakat menggambar.

terimakasih ya sudah mengajakku. Besok aku akan kerumah Tania” Dian menjawab ajakan dengan malu-malu.

“oke. Ini alamatnya yah. Jangan lupa jam setengah empat sore” Tania memberikan selembar kertas berisi alamat rumahnya sebelum beranjak pergi.

Kertas itu sekarang ada di genggaman tangan Dian. Dian menatap kertas tersebut dengan pandangan berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya Dian merasa bahagia karena diajak main oleh teman sekelasnya yang cukup populer. Selama ini teman dekat Dian hanya Ninit, teman sekelasnya sejak kelas 1 SD. Namun Ninit pindah sekolah mengikuti ayahnya yang harus dinas di kota Samarinda. Tinggalah Dian sendiri yang kebingungan harus memulai pertemanan. Diajak bermain sepulang sekolah memang telah  menjadi harapan Dian sejak lama.

“Da.. dadada..” Abi membangunkan Dian dari lamunannya dan menatap Dian dengan mata cemerlangnya. Air liur Abi menetes, Dian buru-buru membasuh dengan sapu tangan. Tanpa disadari Abi meraih kertas alamat rumah Tania dan merobeknya.

“Abi! Aduhh.. jangan.. ini punya kakak” Dian meraih robekan kertas tersebut dari tangan Abi yang menatap kakaknya dengan tatapan polos.

Dian terisak. Sungguh sedih dengan keadaanya. Di saat terisak tersebut tiba-tiba Fauzan menghampiri Dian. “Kaaak, Firdi nakal nihh.. masa dia menjatuhkan teko di dapur. Sekarang airnya tumpah kemana-mana”

Firdi berlari kecil di belakang Fauzan “bohong kak! Yang menjatuhkan teko itu Fauzan”

“Bohong kak”

“Kamu yang bohong!”

Dian hampir saja menangis keras saat mendengar suara Ibu masuk ke dalam rumah.

“Dian, Firdi, Fauzan..” kebiasaan Ibu mengabsen satu-satu. Ibu masuk dengan membawa 2 kardus penuh barang dagangan untuk warung kelontong.

Dian menatap Ibu dengan mata marah dan berkaca-kaca. “Ibu kenapa baru pulang sekarang!”

Ibu menatap Dian dengan tatapan bingung. Tanpa menunggu jawaban Ibu, Dian beranjak dan berlari ke belakang. Di pekarangan rumah belakang Dian kembali terisak. Air mata yang ditahan sejak tadi tumpah begitu saja. Dian mendengar langkah suara Ibu yang menghamipirinya sambil menggendong Abi. Dian beringsut. Merasa marah dan tidak mau menatap Ibu.

“Dian, ada apa ?”

“huksss.. hukss..” Dian tidak menjawab. Hanya terus terisak.

“Ibu tidak tahu penyebab Dian sedih kalau Dian tidak bilang.”

“harusnya.. hukss hari ini.. hiksss.. Dian.. hikss main kerumah Tania.. hiks”

“hari ini ?”

“iya. Hiks. Dian sudah bilang dan minta ijin sama Ibu kemarin sore dan Ibu bilang boleh.”

“ohya ? maaf Ibu tidak ingat, Nak”

“kenapa sih Ibu pergi lama sekali ? biasanya Ibu ga pergi selama ini” Dian menyentak Ibunya dengan nada tinggi. Biarkan saja. Ibu harus tahu apa yang aku rasakan, batin Dian.

“iya tadi lama di pasar karena Ibu cari sesuatu. Ya sudah Dian besok minta maaf sama Tania dan ajak janjian lagi ya ?”

“Tidak segampang itu Buu... Ibu ga mengerti. Ibu ga tau rasanya jadi Dian” Dian mencurahkan amarahnya. Dilihatnya ekspresi Ibu sedikit berubah.

“Dian, Tidak boleh begitu berbicara kepada orang tua, nak. Ibu juga baru pulang. Dian harus mengerti bahwa Dian punya 3 adik yang harus dijaga. Ibu tidak melarang Dian bermain tetapi hari ini memang Ibu terpaksa lebih lama berada di pasar dan Ibu lupa kalau Dian ada janji”

Dian menatap Ibu yang sedang menggendong Abi. Perasaanya campur aduk.

“Ya Bu. Dian minta maaf” Dian berkata dengan nada datar. Sejenak dia sempat kasihan melihat Ibu yang masih lelah karena baru pulang dari pasar namun harus menggendong Abi yang saat ini rewel karena belum tidur siang. Namun di saat yang sama Dian masih merasa marah kepada Ibu. Biar saja, supaya Ibu tahu apa yang aku rasakan, batin Dian. Dian lalu menyeka air matanya. Tidak menatap Ibu lalu masuk keadalam rumah. “Dian mau membersihkan air teko yang tumpah, Bu” kata Dian singkat sambil berlalu. Dian mendengar Ibu menghela nafas di belakang.

***

Dian membuka matanya. Tenggorokan ini terasa sangat kering. Dian bangun, beringsut dari selimut dan beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Di lihatnya ketiga adiknya tampak tidur pulas. Dian memang masih tidur bersama dengan ketiga adiknya itu. Abi malah terkadang tidak mau tidur kalau tidak bersama dengan Dian karena sehari-hari Dian yang banyak bermain dengan Abi dan menjaganya.

Dian melongok ke jam dinding. Pukul 11 malam. Dengan langkah pelan Dian menuju dapur. Samar-samar didengarnya suara Ayah dan Ibu dari ruang tamu.

“Bagaimana pendapat Ayah ?”

“Apakah memang itu jalan yang terbaik Bu ? lebih baik uangnya kita tabung saja untuk biaya keperluan lain yang lebih penting”

Sepertinya Ayah dan Ibu sedang berdiskusi. Dian kembali ingin beranjak kedapur ketika didengarnya Ibu menyebut namanya.

“Tapi Ayah harus lihat wajah Dian, Yah. Dia sangat sedih sekali tadi sore. Ibu jadi merasa bersalah.”

“Iya Bu. Ayah mengerti. Ayah juga bukannya tidak setuju dengan usul Ibu.” Ayah kembali melanjutkan, “Ayah sadar bahwa mungkin waktu Dian bermain agak kurang dibandingkan teman-temannya yang lain karena harus menjaga adiknya. Tapi memang itu kondisi yang terjadi saat ini. Dian bisa melihat mana yang lebih penting. Toh dia juga masih bisa bermain keluar kalau Ibu ada di rumah. Ini kan kebetulan saja kemarin Ibu harus belanja di pasar agak lama”

“Iya Yah. Tapi Ibu tidak mau Dian merasa diperlalukan tidak adil. Apalagi dengan kepindahan Ninit, sepertinya anak itu kesusahan menemukan sahabat baru di sekolah” Ibu berkata dengan sedih.

Dian mengintip. Dilihatnya Ayah mengangguk-angguk.

“Baiklah Bu. Besok coba Ayah tanyakan kepada teman kalau ada yang tahu lembaga penyalur rumah tangga yang terpercaya. Semoga ada tenaga kerja yang tersedia saat ini. Tapi kita juga harus pastikan tenaga kerja rumah tangga tersebut orang baik-baik dan tidak memiliki niat jahat”

Dian terkesiap “Ibu dan Ayah ingin mengambil asisten rumah tangga!” Tiba-tiba Dian merasa sangat senang. Ini adalah jalan keluar yang terbaik. Dian bisa bermain dengan tenang jika punya pembantu dirumah.

Baru saja Dian ingin kembali ke tempat tidur dengan bahagia ketika didengarnya suara Ayah lagi.

“Andai kita punya banyak uang ya Bu. Mungkin anak-anak kita bisa memiliki waktu lebih banyak untuk bermain dengan normal seperti anak-anak lainnya.”

Kata-kata Ayah ini membuat Dian tersentak.

“Iya Yah. Ibu hanya mau anak-anak kita bahagia, Yah”

Didengarnya nada suara Ibu yang tiba-tiba mengecil. Hati Dian bergetar. Dengan langkah perlahan Dian kembali ke tempat tidur, melupakan niatnya yang ingin mengambil air minum di dapur.

Dian memeluk bantal guling dan menarik selimutnya perlahan. Setitik air mata tertahan, Dian buru-buru menhapusnya dan memejamkan mata. Berusaha untuk tidur dan melupakan suara sedih Ibu yang terus terngiang-ngiang, “andaikan kita punya banyak uang ya Yah..”

                                                                        ***

 “Dian, kemarin kenapa ga jadi datang “ Tania menghampiri Dian kala istirahat.

“mmh.. itu.. aku jaga adik, Tan. Maaf ya.” Dian menjawab Tania dengan tersendat.

“Ohh. Ya udah tidak apa-apa. Lain kali mungkin bisa yah.” Tania mengangkat bahu ringan sambil tersenyum lalu beranjak dari hadapan Dian.

Tidak tahu apa yang mendorong, tiba-tiba Dian memanggil Tania. “bagaimana kalau kalian saja yang main kerumahku ?”

Dian melanjutkan. Kali ini dengan nada suara yang lebih mantap. Terbayang wajah Ayah, Ibu dan ketiga adiknya. Entah darimana tiba-tiba Dian mendapat keberanian untuk mengajak Tania dan kawan-kawan.

“hmmm.. boleh saja sih. Kapan ya enaknya ?”

Dian bernafas lega. “besok sore bisa ?”

“Oke. Besok sore saja. Tapi kamu ajarkan kami menggambar ya ?” Tania tersenyum.

“Boleh. Dengan senang hati” Dian membalas senyuman Tania dengan manis.

                                                                        ***

2 hari berikutnya...

“Diannn” suara Intan menghentikan langkah Dian yang sedang dalam perjalanan pulang sekolah.

Intan, Reni dan Icha mengelilingi Dian dengan tampang antusias.

“Kemarin terimakasih ya sudah ajak kami ke rumah kamu. Ibu kamu baik deh sampai membuatkan gorengan tape dan limun”

“Ya sama-sama.” Dian menjawab dengan wajah yang tak kalah sumringah.

“adik kamu lucu yah. Siapa namanya ? Abi ? genduuutt...” tampang Icha menggambarkan ekspresi gemas.

 “Kapan-kapan kalian main lagi ya kerumahku.” Dian menyahut dengan semangat

“benar ya! Jadi boleh nih kami main sering-sering?” Reni mengerling dengan jenaka.

“Tentu saja! Ibu senang kalau kalian main. Ohya. Aku berterimakasih karena kalian mau datang kerumahku. Tapiii..” Dian menatap teman-temanya dengan ragu.

“tapiii...?”

“kemungkinan aku tidak akan bisa ikut main kalau Ibu harus ke pasar dan aku harus menjaga adik.” Dian menggigit bibirnya. Khawatir akan respon teman-teman barunya tersebut.

“Ohhh.. ya sudah tidak apa-apa. Tapi kami tetap bisa main kerumahmu ‘kan?”

“Tentu bisa! Hanya kalau kalian tidak keberatan aku bermain bersama kalian sembari menjaga adik-adikku” Dian menjawab dengan semangat.

“Baiklah. Kami pulang dulu. Sampai ketemu besok”

Dian pun berpisah dengan ketiga teman barunya itu. Dian melangkah dengan ringan. Terbayang percakapan dengan Ibu pagi tadi.

“Tidak perlu ambil pembantu, Bu. Dian senang merawat adik-adik.”

“Ibu hanya tidak mau Dian sedih. Itu saja” Ibu mengelus-ngelus kepala Dian dengan penuh kasih sayang.

“Tidak. Dian tidak sedih, Bu. Lagipula teman-teman Dian suka main dirumah kita. Mereka bilang Ibu sangat baik dan adik-adik sangat lucu”

“Ya sudah kalau begitu. Ibu tidak keberatan menyambut temanmu main. Tapi ingat ya bermain itu kegiatan tambahan. Tugas utama Dian adalah belaa....”

“diri..! hahaha” Dian tergelak.

Ibu ikut tertawa.

Dian membatin, tidak ada satupun didunia ini yang lebih penting daripada kebahagiaan bersama dengan Ibu dan keluarga.  Dian tersenyum dan melangkah dengan ringan menuju rumah.

***

 

 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma