CERPEN - Lelaki yang Menggantungkan Hidupnya pada-Nya

CERPEN - Lelaki yang Menggantungkan Hidupnya pada-Nya

SYAMSUDDIN Begitu orang memanggilnya. Nama yang begitu khas untuk orang kampung kebanyakan. Wajahnya biasa saja. Bahkan tergolong jelek di kacamata manusia. Kulitnya hitam, hidungnya mancung ke dalam dan tingginya hanya sekitar 145 cm.

Namun dengan wajah pas-pasan seperti itu, dia berhasil menggaet bunga desa kami.

MARNI Gadis cantik, cerdas dan pastinya dia anak Pak haji. Orang terkaya di kampung kami. namun naasnya sang bunga desa malah jatuh cinta pada pemuda biasa seperti Syamsuddin.

Awal datang ke kampung halaman kami. Syamsuddin tentu saja jadi trending topik. Jubah dan peci yang menjadi aksesoris khas yang digunakannya dianggap sebagai topeng saja. Syamsuddin diyakini melayangkan semar mesem atau paling tidak jurus jaran goyang untuk meluluhkan hati Marni.

Tetapi lama kelamaan praduga tak bersalah itu hilang. Marni yang selama ini suka mengumbar aurat demi memikat nafsu birahi para lelaki perlahan namun pasti menutup auratnya bahkan dengan mantap menggunakan furdah yang levelnya jauh diatas cadar.

Syamsuddin sendiri yang awalnya dianggap orang dungu. Selalu menuruti perintah orang lain. Selalu tersenyum dan paling sering dimanfaatkan oleh orang sekitarnya ternyata perlahan namun pasti dihargai oleh tokoh masyarakat karena kesolehannya. “Bang, mereka Cuma mau manfaatin abang,” kataku saat kami menikmati secangkir kopi hangat di sore hari sambil nyantai di teras rumah Syamsuddin.

Tepatnya rumah peninggalan almarhum orang tua Marni. Kini menjadi rumah milik Marni dan Syamsuddin sebab Marni adalah putri tunggal Pak Haji yang mewarisi seluruh harta milik Pak Haji. “Abangmu ini hanya bisa membantu dua hal. Dengan doa dan tenaga,” kata Syamsuddin sambil tertawa. Aku hanya menatap jengkel padanya. “Bukankah salah mengizinkan orang lain mendzolimi kita?” bentakku. Syamssudin hanya tersenyum.

Meski terkadang aku merasa percuma berbicara dengan Syamsuddin. Dia selalu melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda dari orang kebanyakan. Namun aku gerah setiap kali mendengar seseorang meminta bantuannya meski orang itu sendiri mampu melakukannya. Tolong belikan pakan ternak, tolong cabut rumput depan rumahku, tolong panjatkan pohon kelapa, tolong parutkan sekalian kelapanya. Tolong dan tolong, lagi dan lagi Syamsuddin selalu menuruti perintah orang lain tanpa keluhan apalagi imbalan. “itu bukan dzolim namanya. Kalau aku tidak bisa membantu. Aku bisa saja menolaknya,” kata Syamsuddin. Aku membuang muka.

Makin jengkel rasanya melihat wajah dan mendengarkan penuturan Syamsuddin yang tidak masuk akal. “Aku bukan orang kaya yang bisa bersedekah dengan harta. Yang bisa aku lakukan hanya bersedekah lewat tenagaku,” tutur Syamsuddin yang hanya aku tanggapi dengan cibiran. “Tetapi mereka tidak tahu diri. Mereka baik saat butuh. Mereka tidak pernah menganggapmu manusia. Malah menertawakanmu yang selalu bisa dimanfaatkan,” rutukku. “Allah Maha Tahu. Allah tahu ketulusanku untuk membantu mereka,” kata syamsuddin. Cepat-cepat aku seruput kopi hangatku. Lalu meninggalkan Syamsuddin yang melongo melihat tingkahku.

Semua pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda hanya anggap Syamssudin orang yang sok alim. “Dia itu Cuma bertopeng, nggak alim benera,” kata Mu’az dengan suara sengau karena ada lubang yang lumayan besar diantara rongga hidungnya dengan tenggorokannya. “Buktinya dia tidak punya pekerjaaan. Tidak punya anak,” kata Mu’az. “Apa maksudmu?” tanyaku tidak peduli. “Maksud Mu’az itu. Orang soleh itu pasti imannya kuat. Apapun doanya pasti diijabah,” Jelas Ridwan sahabat Mu’az. Aku sejenak berfikir. Benar juga kata Ridwan, toh selama ini Syamsuddin selalu berdoa agar bisa punya keturunan. Tahu waktu-kwatu mustajabnya doa. Lalu mengapa Allah belum menjawab doa Syamsuddin?

Aku mulai meragukan kesolehan Syamsuddin seperti warga lain. Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa Mirna jatuh sakit. Tidak tanggung-tanggung, penyakit yang diderita Mirna penyakit kronis yang setiap saat siap merenggut nyawa Mirna. Suatu hari Mirna dilarikan ke rumah sakit. Mirna koma, sebab jatuh di kamar mandi. Semua warga heboh terlebih lagi keluarga Mirna. Semua berkumpul dan mengadakan musyarawah. “Dia tidak punya anak,” kata Paman Mirna membuka agenda pertemuan. Aku yang hanya orang luar ikut hadir sekedar mendengar keputusan keluarga Mirna. “Rumah, mobil dan kebun merupakan warisan dari almarhum orang tua Mirna. Karena itu harus dikembalikan ke tangan keluarga almarhum orang tua Mirna. Bukan pada suami yang belum setahun menikahinya,” kata tante Mirna. “Keputusan saya serahkan pada paman dan keluarga lainnya.

Saya tidak berhak atas harta ini sebab saya datang tanpa harta,” kata syamsuddin dengan senyum tulus yang malah mengundang tawa meremehkan dari orang-orang yang melihatnya. Tentu saja yang busuk hatinya seperti diriku selalu beranggapan bahwa syamsuddin itu fanatik. Atau paling tidak cacat mental sebab terlalu baik pada orang lain. Lililululilulu Sirine ambulance terdengar dari perempatan jalan menuju rumah Syamsuddin. Semua warga berkumpul bahkan membantu persiapan pemakaman Mirna.

Namun sayangnya yang terjadi tidak seperti dugaan semua orang. Syamsuddin bersedia mengeluarkan Mirna dari rumah sakit sebab desakan dari keluar Mirna yang takut uang Mirna habis untuk biaya berobat. Dengan telaten Syamsuddin merawat Mirna yang sudah seperti mayat hidup. Awalnya hampir setiap hari Syamsuddin menerima tamu dan juga sumbangan untuk biaya berobat Mirna. Sampai akhirnya semua lupa tentang Mirna namun tidak demikian denganku. Setiap hari aku menemui Syamsuddin yang sibuk membersihkan rumah, memasak, bercocok tanam dan merawat Mirna tanpa keluhan. Aku semakin kagum pada Syamsuddin.

Semakin yakin dengan ketulusannya dan pasti makin penasaran seperti apa akhir kisah hidupnya. Sebulan penuh Syamsuddin berjuang merawat Mirna sampai akhirnya Mirna meregang nyawa. Semua keluarga Mirna datang. Mereka berebut harta tepat di depan jazad Mirna. Syamsuddin sendiri sibuk mengurus pemakaman istrinya. Tidak ada raut sedih apalagi tangis di wajah Syamsuddin. Dalam sekejap semua milik Mirna lenyap direbut oleh keluarga Mirna sendiri.

Sedangkan Syamsuddin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah prosesi pemakaman Mirna. Aku menghela nafas bingung. Bukankah Syamsuddin itu orang soleh? Kenapa hidupnya tetap seperti itu? Tidak berubah? Mengapa dia tidak diberikan kehidupan dunia selayaknya kehidupan mulia orang-orang soleh. Seminggu setelah Mirna meninggal semua orang kampung sudah lupa tentang Mirna dan Syamsuddin. Sampai kabar menghebohkan itu kembali terdengar. Semua harta Mirna yang dibagi dengan keluarga tidak bisa dijual sebab semua sertifikat atas nama Syamsuddin. Bagaimana bisa? Tanya semua orang termasuk diriku.

Bukankah Syamsuddin hanya sibuk membantu orang lain? Soal uang dan harta Mirna yang mengatur semuanya. Bahkan berlian yang Mirna beli di sertifikatnya bertuliskan nama Syamsuddin. Semua gempar mencari Syamsuddin meminta agar Syamsuddin mau menjual aset tersebut kemudian membaginya. Seperti biasa Syamsuddin menuruti keinginan semua orang. namun tetap saja aset tersebut tidak bisa terjual.

Sampai seseorang dengan pakaian rapi mengenakan setelan jas mengendarai mobil mewah menanyakan alamat Syamsuddin. Dengan senang hati aku menawarkan untuk mengantar orang tersebut karena akupun penasaran siapa lelaki rapi tersebut. “Perkenalkan saya aliando, pengacara Bu Mirna,” sambil menyodorkan tangannya. Syamsuddin menyambutnya dengan suka cita. Pengacara tersebut ternyata sedang keluar negeri saat Mirna meninggal dunia. Sang pengacara mengeluarkan surat wasiat Mirna yang menyerahkan seluruhu hartanya pada Syamsuddin. Bahkan Mirna sudah memilihkan gadis yang merupakan sahabatnya satu tempat kajian islami untuk Syamsuddin nikahi.

Sebagai lelaki penurut dan selalam itu tidak merusak syariat islam, tentu saja Syamsuddin siap melaksanakan wasiat tersebut. Syamsuddin menikahi perempuan cantik yang sama dengan Mirna. Cantik, kaya dan cerdas. Hanya hitungan setahun saja Syamsuddin sudah mengendong tiga bayi kembar miliknya.

Hidup berkecukupan dan dihargai di mata masyarakat. Sekarang aku yakin bahwa Syamsuddin memang lelaki yang mengantungkan hidupnya pada Allah tanpa sedikitpun kecemasan akan masa depan sebab Allah sudah menjamin semuanya.

THE END.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

Hanya seorang penulis yang selalu ingin menghibur orang lain

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma