Kumpulan 10 Puisi Nasihat

Kumpulan 10 Puisi Nasihat

Puisi memiliki berbagai macam jenis tema, ada  tema percintaan, persahabatan, keluarga, religi hingga puisi bertema nasihat. Puisi bertema nasihat biasanya memiliki tujuan untuk menasihati orang lain.

Selain itu puisi bertema nasihat bertujuan untuk memberikan petuah-petuah kepada para pembacanya agar melakukan sesuatu yang dianjurkan atau tidak melakukan sesuatu hal yang dilarang.

Di bawah ini saya akan menuliskan 5 puisi bertemakan nasihat lengkap dengan makna dan hal yang menginspirasi dalam penulisan puisi-puisi tersebut.

 

1. Dengarlah Sayang

Dengarlah sayang,

Mendung boleh bertemu hujan

Dedaunan hijau boleh bersua layu

Kelopak mawar boleh berguguran

Namun semangatmu tak boleh gugur nan layu

 

Dengarlah sayang,

Itik kecil boleh salah jalan

Angin sepoi boleh salah menerbangkan

Api merapi boleh salah menghanguskan

Tapi hidupmu tak boleh salah dalam bertuhan

 

Dengarlah sayang,

Zaman penjajahan tlah tergantikan

Era pasar bebas tlah datang

Tapi prinsipmu tak boleh tergadaikan

Menjadi pribumi yang kian matang

 

Puisi berjudul Dengarlah Sayang ini ditujukan kepada orang-orang yang penulis sayangi. Puisi ini terinspirasi ketika melihat banyaknya orang-orang jaman sekarang yang sering mengeluh dan depresi terkait dengan persaingan hidup. Baik dalam dunia percintaan  maupun dunia pekerjaan.

Orang-orang jaman sekarang juga cenderung mengerahkan segala upaya agar bisa bersaing di pasar bebas. Namun terkadang gempuran pasar asing membuat kita warga lokal kehilangan jati diri. Mengikuti gaya hidup orang luar negeri dan menganut prinsip-prinsip mereka. Bahkan jika prinsip itu melanggar norma dan agama.

Nasihat untuk terus semangat walaupun terkadang alam murung, penuh bencana dan tak sesuai dengan kehendak kita. Segala sesuatu di alam sekitar kita boleh saja layu tak berenergi, namun kita tak boleh selalu terpuruk dan larut dalam setiap masalah.

Manusia harus bangkit dan tak boleh terlalu lama terlarut dalam duka dan kesedihan. Bangkit untuk menjalani kehidupan yang sudah Tuhan gariskan. Jika kita berfikir untuk menyerah dan tak mau bangkit maka usailah kehidupan manusia.

Manusia yang diberi akal dan kreatifitas berbeda dari alam, hewan maupun tumbuhan. Maka manusia harus mampu bangkit apapun yang terjadi di dunia ini.

Sandaran utama kita untuk bangkit adalah janji Sang Pencipta. JanjiNya untuk memberikan kita kemudahan setelah kesulitan. JanjiNya untuk memberi masa yang terang setelah kegelapan datang menghadang.

Selain nasihat untuk semangat, bangkit dan berpegang pada ajaran Tuhan, puisi ini juga mengingatkan kita untuk selalu memegang prinsip-prinsip kita, apapun yang terjadi. Meski jaman telah berubah, namun nilai-nilai kebaikan dan moral kebajikan tak boleh berubah.

Menjadi manusia yang kian matang dan tidak tergoda oleh budaya-budaya asing yang jauh dari nilai-nilai agama maupun nilai-nilai moral bangsa kita. Menjadi pribumi yang dewasa dan mampu bersaing dengan dunia luar tanpa kehilangan jati diri bangsa yang luhur dan agung.

2. Sehampar Nasihat

Emas permata memang indah menyilaukan mata

Tapi ia tak selalu indah dipasangkan denganmu

Karena ia akan membuatmu gelap mata, tinggi hati dan tak tahu diri

Lumpur jerami memang tak pernah sedap dipandang mata

Tapi ia tak selalu buruk jika dipasangkan denganmu

Karena ia akan membuatmu mau berbagi, rendah hati dan tahu diri

 

Kaya miskin bukanlah prestasi

Hanya sekadar ambisi penuh arogansi

Yang kaya miskin hati

Yang miskin kaya hati

Diciptakan untuk saling melengkapi tak untuk iri hati

Diciptakan untuk saling berbagi

Tak untuk menyakiti

Diciptakan untuk saling membenahi tak untuk saling adu gengsi

 

Puisi ini terinspirasi dari banyaknya orang jaman sekarang yang suka membanggakan diri dengan harta kekayaan mereka. Sebaliknya orang miskin cenderung minder, malu dan merasa gagal jika mereka harus dibanding-bandingkan dengan orang kaya.

Banyak yang berlomba-lomba mengumpulkan harta hanya demi sekadar gengsi harga diri. Pada kenyataannya harta, emas permata, kedudukan sering membuat kita lalai dan terpedaya. Merasa bangga dan merasa diri kita hebat sehingga sering merendahkan orang lain yang tak memiliki apa-apa.

Hanya karena merasa lebih punya dari yang lainnya sering sekali menyakiti perasaan maupun merendahkan orang yang berada di bawah. Padahal hidup bukanlah tentang materi saja. Ada banyak nilai-nilai non materi yang lebih patut untuk kita punyai.

Seorang miskin yang kaya hati akan selalu merasa hidupnya berkecukupan, dan tak perlu merendahkan diri untuk meminta-minta. Mereka akan lebih senang memberi dari pada diberi.

Sedang seorang kaya yang miskin hati akan selalu merasa kurang dan kurang sampai harus menempuh cara yang haram demi mengumpulkan kekayaan. Ini tentang hati, hati yang merasa cukup atas pemberian Allah, dan hati yang selalu merasa tak cukup atas pemberianNya.

Ya, harta duniawi sering sekali merubah kita menjadi orang yang tinggi hati dan tak berbudi. Maka harta duniawi itu tak baik untuk kita. Namun jika harta duniawi itu membuat kita semakin menjadi pribadi yang baik ahlak dan perilakunya, semakin membuat kita dekat pada sang pencipta maka harta itu bermanfaat bagi kita.

Kadang kemiskinan, kekurangan harta merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik dan merubah kita menjadi manusia yang bertakwa. Maka kemiskinan itu baik untuk kita. Namun adakalanya kemiskinan itu membuat kita kufur, sibuk mengejar dunia memalingkan kita dari sang pencipta. Maka kemiskinan itu tak baik untuk kita

Rabb semesta alam menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasangan untuk saling melengkapi. Sebagai bagian dari sifat kesempurnaanNya dan keagunganNya. Baik buruk, siang malam, besar kecil, juga kaya dan miskin. Bukanlah untuk menjadikan manusia sombong saling beradu gengsi, namun untuk saling mengisi kekurangan satu sama lain. Saling membantu dan hidup berdampingan.

 

3. Tak Semua

Tak semua pelangi itu indah

Tak semua mendung itu kelabu

Karena setiap manusia memiliki makna

Tentang kebahagiaan mereka masing-masing

 

Tak setiap gerimis ada di ujung kelopak langit

Mungkin hari ini ada di ujung kelopakmu

Kelopaknya, atau mereka

Tak setiap duri akan meninggalkan luka mungkin air mata ...

Tapi air mata syukur bahagia

 

Tak semua mawar itu cantik

Tak setiap jemari itu lentik

Tapi setiap pribadi adalah unik

Maka jadilah wanita berbudi baik

Yang menghargai kurangku dan kurangmu

 

Puisi ini terinspirasi dari makna kebahagian dan penderitaan yang hakiki. Tak semua yang nampak indah dan membahagiakan baik untuk kita. Juga tak semua yang nampak tak indah dan menyedihkan buruk untuk kita.

Manusia sejatinya seringnya hanya memandang segala sesuatu yang nampak saja di permukaan. Manusia umumnya akan berpikir mendung itu tak lebih indah dari pada pelangi. Namun jika manusia mampu berpikir lebih dalam, mendung adalah bertanda akan turunnya hujan.

Hujan adalah rahmat bagi alam sekitar. Dimana bunga-bunga akan tumbuh setelah lanyunya. Hujan yang memberi kehidupan. Dimana ladang-ladang akan tumbuh subur, bangau-bangau akan gembira meneguk air tawar di danau-danau yang luas. Hujan tanda berakhirnya duka kemarau yang panjang.

Manusia seharusnya tak melihat sebuah penderitaan hanya sebagai sebuah hal yang buruk. Tapi mampu merenunginya dengan baik, bahwa segala penderitaan dan nasib buruk suatu saat akan memberi sebuah kebahagiaan dan pembelajaaran yang sempurna untuk proses pendewasaan manusia.

Jika setiap manusia menanamkan pemikiran tersebut pada dirinya masing-masing. Maka mereka akan selalu bersyukur pada Rabb semesta alam apapun yang terjadi pada dirinya. Entah itu duka atau bahagia.

Jika manusia selalu menyadari bahwa keberuntungan tak hanya datang dalam bentuk kebahagiaan tapi datang dalam bentuk sadarnya diri dalam mengambil hikmah dari setiap penderitaan, maka penderitaan apapun yang ia alami, akan ia terima dengan lapang dada. Tak mudah terpuruk jika mengalami benturan dahsyat dalam hidupnya.

Dan setiap manusia memiliki makna kebahagiaannya masing-masing. Tak semua manusia mendefiniskan kebahagiaan dengan banyaknya harta atau karir yang cemerlang. Tapi banyak dari mereka yang menilai arti kebahagiaan dengan hal yang sederhana.

Ada sebagian manusia yang merasa bahagia jika ia mampu bertakwa pada Rabbya. Ada sebagian  manusia yang merasa bahagia jika mampu membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Adapula yang merasa bahagia jika ia mampu berbagi terhadap sesama dan bermanfaat untuk sesama. Karena kebahagiaan tak selalu dinilai dengan materi.

Maka sebagai manusia yang baik menghormati perbedaan sesama, dan tak memaksakan kehendak untuk selalu sama adalah lebih berbudi. Dan semua manusia penuh kekurangan, sudah sepantasnya kita saling menghargai kekurangan itu dan tidak selalu mempermasalahkannya.

Karena kita tak mampu mengubah orang-orang di sekitar kita menjadi sempurna sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Maka berdamai dengan ketidaksempurnaan adalah jauh lebih manis. Berdamai dengan kekurangan setiap orang dan tak selalu menuntut kesempurnaan manusia.

Alangkah indahnya jika hidup kita saling mengingatkan, memotivasi dan mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari dahulu. Menjadikan kekurangan sebagai sebuah kekuatan untuk bisa terus menguatkan sebuah ikatan kasih sayang.

4. Warna yang Memudar

Ia warna yang memudar

Awalnya cerah lalu hilang tanpa sadar

Tertelan kesedihan yang terlampau besar

Hingga malam tak ada bedanya denggan fajar

 

Ini dunia yang terus berputar

Hanya sekejap dalam belukar

Hanya sekilas memegang gusar

Kuatkanlah hati untuk terus bersabar


Hapus air matamu jangan kau terkapar

Perbarui asa dalam banyaknya istighfar

Memupuk doa untuk selalu tegar

Walau warna duniamu terus memudar

 

Puisi ini terinspirasi dari orang-orang yang sering tenggelam terlalu dalam ke dalam kesedihannya. Hingga ia kehilangan keceriaan, kebahagiaan dan ketenangan hidupnya. Hidupnya seolah selalu malam yang kelam, meskipun di sekitarnya adalah fajar yang terang dan membahagiakan.

Orang-orang yang ditimpa kesedihan karena kehilangan orang-orang yang mereka kasihi, karena trauma masa lalu atau penderitaan yang begitu mengguncangkan jiwa. Tertimpa kemalangan sehingga mereka tak punya semangat hidup dan selalu murung. Mereka ibarat warna-warni dunia yang lama kelamaan pudar warnanya.

Dunia, ya ini adalah dunia, yang telah ditetapkan atas kesedihan dan kebahagiaan di dalamnya. Sangat mustahil untuk kita selalu menghilangkan penderitaan dalam dunia ini. Dan sangat mustahil pula bagi kita untuk selalu mendatangkan kebahagiaan dalam dunia ini.

Bahagia akan selalu beriringan dengan penderitaan di manapun kita hidup. Selama bumi masih berputar menghilangkan duka lara selamanya adalah hal yang sia-sia.

Begitupun kepedihan tak akan selamanya menjadi milik kita. Adakalanya kepedihan itu enggan berlama-lama menghantui hidup kita. Ada kalanya kesedihan lenyap oleh waktu. Dan itu adalah janji Rabb kita. Dimana akan datang kemudahan dan kebahagiaan setelah kepedihan yang berliku.

Kita dituntut untuk bertahan menanti kepedihan berlalu. Dituntut untuk sabar menanti kebahagiaan datang. Dan doa adalah senjata kita agar tetap tegar dan kuat menghadapi duri-duri kehidupan. Sehingga walaupun dunia di sekitar kita warna indahnya terus memudar, penuh dengan tragedi dan bencana. Kita akan tetap berdiri tegak dan bertahan.

Jadikanlah Allah sebagai sandaran hati utama kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang begitu panjang dan melelahkan. Maka warna hidup kita akan terus menyala dan penuh syukur bahagia.

Kita hanyalah sementara di dunia. Merutuki kepedihan sepanjang waktu adalah hal yang sia-sia. Namun bangkit dan menjadi manusia yang lebih baik dari dahulu adalah hal termanis yang perlu kita lakukan dan perjuangkan.

 

5.  Untukmu

Untukmu yang dilanda pilu

Bersabarlah dalam sabar yang tak palsu

Yang selalu menuntutmu mengecap empedu

Terasing terlunta bak yatim piatu

 

Untukmu yang dilanda ragu

Ragu akan janji-janji Tuhanmu

Padahal Ia akan menolongmu

Di masa indah yang tak kau tahu

 

Manusia tak selalu ada untukmu

Rabbmu selalu ada kapan kau mau

Namun kau selalu tak tahu malu

Hanya dzikir ketika datang sedihmu

 

Untukmu yang selalu ragu

Di dunia kita hanyalah tamu

Janganlah terlena  di dalam semu

Hingga lupa siapkan bekal akhiratmu

 

Puisi ini dibuat untuk semua orang yang sedang dilanda kesedihan, kepiluan hidup. Hidup menuntut kita untuk bersabar dengan sabar yang tak palsu. Sabar yang tak hanya ada di mulut saja. Namun ada dalam setiap derap langkah kita. Sabar yang benar-benar nyata, menahan lisan dari berkeluh kesah, dari mengutuki takdir dan menyalahkan orang lain.

Sabar yang benar-benar nyata yang menerima dengan lapang dada dari semua keputusan yang kuasa. Dan sabar yang nyata itu selalu meminta kita untuk menelan mentah-mentah pahitnya kehidupan. Pahit memang akan pahit, tapi itu akan mengajari kita bagaimana caranya menjadi dewasa dan kuat.

Kesabaran yang nyata, yang bahkan kau harus terasing seorang diri demi bertahan dan bersabar. Sabar yang tak palsu saat bencana pertama kali menimpamu.

Banyak orang yang akan belajar bersabar ketika bencana telah lama terjadi, dan itu akan lebih mudah. Namun belajar bersabar saat pukulan pertama dari bencana adalah sesuatu yang sulit. Namun yakinlah kau akan mampu melakukan itu dan semua akan baik-baik saja.

Keyakinan itu akan lahir ketika engkau yakin dengan pertolongan Rabbmu, dengan janji-janji Rabbmu yang tak mungkin ingkar. Bergantung selalu pada Tuhan daripada lebih mengandalkan pertolongan manusia. Karena manusia tak selamanya siap sedia ada untuk kita. Karena pertolongan manusia terbatas, sedangkan pertolongan Allah tanpa batas. Maka jangan pernah ragu akan pertolongan Rabbmu.

6. Apa yang Hina

Tolong katakan padaku

Apa yang hina dari sebuah pena

Yang ingin menggoreskan aksaranya

Tanpa mempermasalahkan yang tak sepaham dengannya

Biarkan aku menjadi diriku seutuhnya

Menyambut nasibku dengan bahagia

Meski semua orang meremehkannya

 

Tolong beritahu aku

Apa yang hina dari setangkai bunga

Yang ingin berbeda dari beribu bunga di taman sana

Menerobos labirin tradisi dan gengsi

Mendobrak dogma tetua yang gila harta tahta

Memenjarakan pangkat yang terhormat

Dalam penjajahan arti bahagia sejati

Karena bahagiaku tak selalu sama dengan mereka

 

Tolong katakan padaku

Apa yang hina dari ruh ini

Yang hanya ingin menemukan jalan bahagianya sendiri

Tak peduli orang memandangnya atau tak memandangnya

Karena orang terpandang tak selalu dipandang Tuhannya

Karena pandangan manusia penuh ambisi dan basa-basi

Karena pandangan manusia selalu tentang materi duniawi

 

Puisi ini terinspirasi dari sikap segelintir orang yang terkadang memaksakan kehendak dan pemikiran mereka. Puisi ini juga ingin menyampaikan kepada semua orang jika tak ada yang salah untuk menjadi berbeda dari yang lainnya.

Tak ada salahnya mempunyai prinsip hidup sendiri yang berbeda dari kebanyakan manusia. Jika manusia sudah lupa akan ajaran kebaikan apakah kau mau terus sama dan melebur dengan mereka.

Sesekali kau menjadi penentang kebatilan dan pelopor kebaikan ditengah kebobrokan, bukanlah sesuatu yang salah. Dan bukan juga sesuatu tindak kejahatan.

Kau terus kukuh dalam prinsip saat semua orang meleburkan jati diri satu persatu, demi materi, pangkat dan kehormatan. Meskipun engkau harus terasing. Meskipun engkau harus disebut berbeda dan tak sama dengan mereka. Dan meskipun kau harus keluar dari barisan mereka dan tak dianggap ada oleh mereka.

Karena tak penting apa pendapat orang lain tentangmu, yang terpenting adalah pendapat Rabbmu tentangmu. Karena tak penting dipandang terhormat oleh manusia, yang terpenting adalah Rabbmu mau memandangmu sebagai manusia yang teguh akan prinsip kebenaran sejati.

7. Sebuah Aksara

Apa yang salah dari sebuah aksara yang ingin menjadi kata

Apa yang salah dari sebuah kata yang ingin penuh makna

Menggoreskan kalimat duka dan bahagia

Mengabadikannya dalam naskah-naskah cerita


Apa yang salah dari sebuah aksara yang ingin menjadi kata

Mengungkapkan apa yang tak bisa hadir di bibir

Memberi wejang yang kian dalam menghilang

Bak candra yang ingin sempurnakan malam yang gemilang


Inilah kata yang tak kaya akan diksi

Hanya sinyal hati yang menghiasi

Semoga kau mampu memaknai

Setiap kata yang terangkai ini

 

Secara garis besar puisi ini ingin memberitahu kita semua untuk jangan mencela sebuah kata yang kadang tak seirama dengan pemikiran kita. Mungkin kita saja yang belum mencerna makna yang sebenarnya. Menilai sesuatu secara serampangan, sebelum mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Hari ini kau tak sepakat, mungkin karena pemikiranmu yang tak sampai. Karena ego dan harga dirimu yang terlalu tinggi. Hingga tak menerima kebenaran yang hakiki. Namun janganlah kau cela setiap kata yang lahir dari kedalaman rasa. Tapi pahamilah, mungkin suatu saat kau akan menemukan makna indah yang sebenarnya.

8. Siapa yang Salah

Jika badai datang menerjang

Menjungkalkan bahtera dalam samudera nestapa

Jika terpaksa karam tertelan gelombang

Tak tahu harus menyalahkan siapa


Siapa yang salah

Apakah penumpang perahu?

Perahu yang bodoh atau angin yang dungu

Atau cuaca yang tak tahu malu

Tak pernah setia dengan suasana hatimu


Ingin salahkan badai tak kuasa

Ingin memaki bahtera tak pantas saja

Ingin membunuh nahkoda semakin terhina

Lalu harus salahkan siapa?

Apa kau ingin menuntut Sang pencipta

Sang pemegang peradilan yang paling diraja

Atau kau ingin menghukum jiwa

Kenapa memilih berlayar di samudera


Tak ada yang salah, yang ada hanyalah jiwa yang belum bertemu makna dan hikmahnya

Tak ada yang salah, yang ada hanyalah hati yang belum menyadari

Sebuah tanda cinta di balik tragedi

 

Puisi ini terinspirasi ketika manusia mendapati kemalangan dalam hidupnya, mereka sering kali menyalahkan segala sesuatu. Menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, nasib buruk, bahkan menyalahkan yang kuasa.

Namun sebagai manusia yang dewasa, kita dituntut untuk tak sibuk menyalahkan atas segala apa yang telah terjadi. Namun lebih sibuk untuk memperbaiki kesalahan, untuk bangkit dari keterpurukan, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa.

Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Selalu terselip tanda cinta dari yang kuasa. Namun terkadang kita tak mampu menemukannya. Tak menyadarinya, atau bahkan belum mengetahui hikmahnya. Tapi percayalah, tak ada yang sia-sia dari setiap peristiwa yang ada di bumi. Semuanya telah Allah susun dengan indah. Dan akan indah pula pada waktunya.

9. Pasrah

Seperti sang surya tak pernah mempertanyakan ini kepada tuannya

Kenapa ia harus memberi tanpa mengharap kembali

Kenapa ia harus terus menyinari ketika semua sejenak meredupkan diri

Kenapa ia hanya ada satu di langit tinggi

Kenapa ia harus membagi miliknya yang berharga dengan sang candra

Tak pernah mengeluhkan ini pada tuannya

Maka layaknya yang dicipta tak mengeluhkannya pada yang mencipta


Seperti hujan yang kadang jatuh di atap genting

Kadang tersingkirkan di selokan

Kadang terbuang jauh di samudera

Kadang alpha membasahi rambutmu

Kadang hujan jauh ke utara

Kadang hujan jatuh ke selatan

Selalu ada dalam riak yang tak terduga

Namun ia selalu patuh pada tuannya

Dan sudah semestinya seorang abdi patuh pada junjungannya


Seperti kapas yang diterbangkan sangat jauh oleh sang bayu

Dihempaskan keras hingga ujudnya tak lagi utuh

Namun ia tak pernah menyalahkan sang bayu

Ia jua takkan menyalahkan ini pada tuannya

Maka sudah semestinya jika yang dicipta tunduk pasrah kepada yang mencipta

Tak pernah menyalahkan Sang Pencipta

Jika ia harus terpenjara di dunia demi merdeka di surga

Tak pernah menyalahkan tuannya jika ia harus terluka demi akhirat yang bahagia

 

Puisi ini terinspirasi dari perilaku kita yang terkadang ketika bencana melanda kita selalu mempertanyakan kenapa terjadi. Kenapa hidup kita begini, kenapa harus menderita, kenapa harus terluka. Kita ingin selalu protes kepada sang pencipta kenapa dunia ini seolah tak adil.

Sebagaimana alam yang tak pernah mempertanyakan segala sesuatu kepada Tuhan. Maka, kitapun pasrah mengikuti takdir yang kuasa. Karena kita yakin skenario Tuhan adalah yang terbaik. Sudah sepantasnya kita sebagai seorang hamba tunduk patuh pada keputusan sang pencipta.

Dan karena kita yakin Allah selalu menempatkan sesuatu sesuai kadarnya. Kita saja yang tak memahami, kita yang terlalu kerdil untuk mampu mengambil hikmahnya, untuk mampu memahami keputusanNYa.

 

10. Kehilangan


Ketika kehilangan aku menjadi air...

Air yang tanpa riak gelombang

Seolah tak ada kehidupan di sana

Ketika kehilangan aku menjadi mentari

Mentari kelam yang tertutup awan hitam

Kelam, seolah tak ada kehidupan di sana


Bagai malam yang kehilangan purnamanya, pekat...

Seolah dunia adalah kolam jelaga

Tak ada kehidupan di sana

Bak dedaunan kering yang kehilangan hujan

Merana-rana sepanjang kemarau

Seolah hidup hanyalah luka


Sungguh bukankah ini dunia

Dunia yang memiliki dan kehilangan adalah titah-Nya

Dunia yang luka dan air mata adalah hiasannya

Terus berputar menyelimuti takdir manusia


Hari ini kau memiliki

Esok kau kehilangan

Hari ini aku luka

Esok aku bahagia




Puisi ini bermakna ketika kehilangan seseorang ataupun sesuatu yang amat berharga kadang membuat dunia kita berubah. Hari-hari yang bahagia seolah kosong dan hampa. Tak ada canda tawa tak ada semangat yang membara.

Tapi atas apa yang ada di muka bumi ini, tak ada yang abadi. Sesuatu itu tak dapat kita miliki selamanya. Mungkin suatu saat kita yang akan ditinggalkan atau meninggalkan. Karena demikianlah sifat dunia yang semu. Suatu hal yang tak mungkin mengharapkan kekekalan di dunia ini.

Maka pahamilah, sadarilah, akan ada masanya nanti memiliki. Ada pula masanya nanti kehilangan. Ada waktunya datang dan ada waktunya pergi. Semua berjalan sesuai garis nasib manusia. Pahamilah itu sebagai sebuah keniscayaan dan realita yang ada. Maka kau akan merasa ringan menghadapi kehilangan.

Pahamilah dunia ini hanya sementara, maka kau tak akan terus bersedih untuk sesuatu yang hanya sementara. Dan kau tak akan terus menangis untuk sesuatu yang memang akan hilang dari genggamanmu. Semua yang ada di bumi ini suatu saat akan hilang. Entah dirimu atau sesuatu yang kau miliki. Hanya tinggal menunggu waktu, entah kini ataupun nanti.

 

Demikianlah tadi 10 puisi nasihat yang saya tulis, semoga mampu memberi motivasi pada diri kita semua untuk bangkit dan tidak menyerah dalam menjalani kehidupan kita.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
Akhmad Fauzi - Jun 11, 2020, 9:31 AM - Add Reply

Samasama senang berpuisi saling komentar saja

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 5, 2020, 12:24 AM - Akhmad Fauzi
Jun 9, 2020, 2:32 PM - Novi Kurnia
May 20, 2020, 1:47 PM - Novi Kurnia
Apr 26, 2020, 11:45 PM - Stephanus Putra Nurdin
Feb 16, 2020, 7:53 PM - Akhmad Fauzi
Feb 4, 2020, 1:16 PM - Runengsih
Feb 1, 2020, 12:54 AM - Arnoldus Suluh Dwi Candra
Jan 30, 2020, 12:51 PM - Prisma Vista Sari
Jan 30, 2020, 9:39 AM - Arnoldus Suluh Dwi Candra
About Author

content writer dari purbalingga jawa tengah

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma