Korona, Hoax dan Pengangguran

Korona, Hoax dan Pengangguran

Judulnya sudah seperti tema diskusi tentang virus Korona di program Talkshow Rosi Kompas TV (5/3/2020): Korona, media dan kepanikan publik. Tapi ini bukan artikel tiruan ya. Banyak hal yang bisa dikulik dan menjadi bahan diskusi kita semua dari peristiwa wabah Korona. Termasuk tentang versi lain virus Korona yaitu Virus Hoax Korona. Satu hal yang bikin kita bertanya-tanya mengapa orang sempat-sempatnya menyebar hoax dan bikin gaduh ditengah dunia yang tengah berjuang membasmi wabah Korona. Pernah kah mereka berpikir dunia bisa saja keos akibat perbuatannya.

Ditengah kehebohan saat seperti sekarang dimana baru ditemukan virus Korona di Indonesia. Kepanikan lumrah terjadi ditengah-tengah masyarakat. Meskipun hal demikian tidak perlu dilakukan. Justru rasa panik, menimbun bahan logistik demi mengamankan diri sendiri membuat seseorang menjadi lebih mudah terserang penyakit.

Kita semua pasti sepakat untuk mencegah penyebaran virus Korona. Tapi apakah kita semua sepakat untuk menghentikan penyebaran hoax virus Korona?

Dengar kabar adanya kasus positif virus Korona pertama di Indonesia saja sudah bikin geger dari Sabang sampai Merauke. Apalagi dibumbu-bumbui hoax terkait Virus Korona. Masyarakat makin panik, nanti mafia maskernya makin senang dong!

Tapi gini deh, kenapa saat dunia tengah berperang melawan wabah penyakit virus Korona, masih saja ada yang tega menyebar hoax? Kalau mereka yang nimbun masker tentunya untuk motif ekonomi. Nah ini nyebar hoax buat apa?

Penyebab seseorang membuat atau menyebar hoax sebenarnya beragam. Dan sudah banyak yang membahasnya. Di artikel ini, saya ingin menyampaikan (pemikiran saya sendiri) tentang salah satu penyebab orang membuat atau menyebarkan hoax.

Bagi saya, penyebab hoax ini bisa saja bermula dari hal sepele namun penting bagi sebagian orang. Yaitu rasa ingin diperhatikan dan diakui.

Bermula dari grup chat

Pernah pikir gak rasanya diabaikan di grup WA, forum atau jaring media sosial? Posting sesuatu di grup tapi gak ada yang peduli, tapi begitu keluar grup justru dikatain sombong. Hiks! Agak ada sedih-sedihnya.

Ini mungkin tidak menjadi persoalan bagi sebagain orang. Tapi bagi sebagian lainnya, pengakuan dari Circle merupakan hal penting.

Dorongan untuk mendapat perhatian dan pengakuan dari lingkungannya cukup besar. Seperti meraih personal best dan kepuasan bathin tersendiri.

Dan saat ini, cara untuk "populer" mendadak yaitu dengan buat sensasi. Sensasional sebenarnya bukanlah kesalahan. Tapi terkadang caranya yang salah. Apa saja dilakukan demi menarik perhatian, termasuk menyebar hoax, hasutan, fitnah dan hal-hal gak penting lainnya. Ironisnya netizen lebih tertarik dengan sesuatu yang nyeleneh sekalipun itu kabar palsu.

Makanya cara-cara demikian disukai sebagian orang demi like, comment, views, followers dan subscribes. Coba saja posting konten yang berisi "10 daerah yang masuk zona merah  virus Corona". Pasti banyak yang penasaran dan cita-citamu untuk "terkenal" akan tercapai sekaligus mendapat bonus pengalaman diciduk pihak berwajib.

Hahaha.. mungkin ini akan terasa janggal bagi sebagian orang. Ketika melihat ada orang yang mau melakukan apapun demi eksistensi dan sensasi. Termasuk menyebar hoax. Dan alasan cukup logis untuk menjelaskannya ialah sebab menganggur.

Pendapat saya ini tentunya bukan asal sebut dari pemikiran saya sendiri. Alhamdulillah saya sudah riset kecil sebelum menulis artikel ini.

Jadi menurut Menteri Dalam Negeri yaitu Tito Karnavian. Biang kerok hoax yaitu pengangguran.

Seperti saya kutip dari portal berita Detikcom (7/3/2020) "Jadi kita melihat hoax terjadi, salah satu faktor hoax terjadi karena nganggur, nganggur nggak ada kerjaan lain, apa saja dikomenin, masuk grup ini, masuk grup itu. Itu kita lihat," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi 2020 di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Ngomong-ngomong, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7 juta jiwa. Maka gak heran bila kita sering melihat netizen-netizen yang sering berulah dan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat di medsos. Itu semua untuk eksistensi dan sensasi segala macam.

Ditambahkan lagi tadi kondisi grup-grup chat saat ini. Sembarangan saja invite orang lain masuk grup. Tapi sering mengabaikan anggotanya. Tapi sekalinya keluar grup, justru dikatain sombong.

Maka bagi beberapa orang yang tidak tahan pada keadaan seperti demikian. Tak sedikit yang menyalurkan pada kegiatan tidak bermanfaat.

Kebiasaan netizen yang lebih tertarik pada konten yang bersifat sensasi dan kontroversi meski minim manfaat

Banyak orang yang bilang medsos, televisi, youtube dan sebagainya isinya sampah. Padahal pendapat itu gak sepenuhnya benar. Jika kita mau jernih melihatnya. Ada kok konten keren dan kaya manfaat di internet.

Hanya saja netizen lebih menyukai sesuatu yang bikin heboh tanpa memperhatikan dari segi manfaat. Maka itu gak heran, bila semakin banyak juga konten-konten minim manfaat bermuncul. Pertama karena banyak dicari dan pembuat konten juga tentunya mengikuti pasar.

Berpikir seribu kali sebelum menyebar hoax demi orang tua

Meskipun biang kerok hoax ini bermula dari sesuatu sepele seperti eksistensi dan sensasi. Tapi dicermati lebih jauh ternyata cukup serius persoalannya. Yaitu pengangguran.

Tapi bagaimanapun, sebagai makhluk berakal budi. Seharusnya tidak ada alasan untuk kita melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sekalipun pengangguran, tapi jangan jadikan sebagai alasan untuk bikin kerusuhan dijagat maya. Untuk apasih? Pemberontakan, pengakuan atau apa?

Nganggur itu seharusnya cari kerja atau bikin usaha. Bukan bikin gaduh. Menyebar hoax juga butuh kuota dan itu butuh uang. Mending manfaatkan kuotanya untuk bikin konten bermanfaat. Misalnya menulis di RackTicle.

Bukannya apa-apa ini. Ini agar hidup kita kesannya tidak useless banget. Setidaknya kita berguna bagi sesama terutama orang tua. Kaum orang tua yang umumnya berpendidikan rendah menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak hoax.

Pernah mikir gak ketika kita menyebar kabar hoax dan itu masuk ke grup WA orang tua. Kasihan sekali kalau sampai mereka mempercayai begitu saja.

Ya mungkin ini bisa jadi pertimbangan untuk kita semua sebelum melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Jangan cuma mementingkan ego sendiri demi eksistensi dan sensasi. Lantas dapat menghalalkan segala cara.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

LUV LUV LUV

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 13, 2020, 12:36 PM - Runengsih
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma