Ketapang, Peradaban di tepi Sungai Pawan

Ketapang, Peradaban di tepi Sungai Pawan

Pawan, akar katanya mirip dengan tutur bahasa Sansekerta; “Pavana (Pawana)” bermakna Angin. Di hulu Sungai Keriau, anak Sungai Pawan, tempat mata airnya berasal, ada gunung Mendung Berangin.

Legenda turun temurun bercerita bahwa aliran Pawan terbentuk oleh Tumbangnya Pohon Kedondong Raksasa, yang dahulu melingkupi seluruh tanah air Ketapang purba.

Legenda ini kita pahami dengan mengamati beberapa peta kuno dari abad 17-18 yang menyingkap adanya negeri bernama dondongan (kedondong) di aliran sungai yang kini disebut Pawan ini.

Beda dengan cara kita menyebutnya saat ini. Pada tahun 1944 dalam peta yang dibuat oleh US Army, Pulau Ketapang Besar digambarkan diapit oleh Sungai Ketapang dengan muaranya di Tanjung Brie dan Sungai Kandang Kerbau. Bukannya Sungai Pawan. 

Ketika kedua sungai itu bertemu di Simpang Sentap atau Kepala Pulau barulah disebut Sungai Pawan. Sampai ke Hulu. 

Kisah Kedondong Raksasa dan asal mula Sungai Pawan ini tak lain adalah upaya simbolisasi kejadian fakta di masa lalu. Tentang Raja, Wilayah Kekuasaannya, Hasil Pertanian dan Tambang serta tumbangnya kekuasaan Kerajaan Dondongan itu.

Di hulu Ketapang, ditepi kanan tepian batang Pawan terdapat sebuah tempat yang diyakini sebagai tempat Rombongan Tuk Upui mendirikan pusat pemukiaman pertama di Tanah Kayong ini, Natai Kemuning namanya. 

Tuk Upui bersama Tuk Ubut, Nek Takon serta Nek Doyan dipercaya sebagai nenek moyang orang di Tanah Kayong ini. 

Menariknya gelar Datu dan Nek adalah gelar – gelar para Raja atau tepatnya Kedatuan Sriwijaya. Bahkan di Sambas pra Islam pernah diperintah oleh seorang penguasa bergelar ‘Nek’, Nek Riuh.

Perhatikan tiap – tiap daerah penting selalu ada ‘moyang’ bergelar Datu dan Nek (Ne’) di Ketapang dan Sukadana. Di Sukadana sebagai kota pelabuhan ada Ne’ Takon, dan bahkan sebelum ke Natai Kemuning, Tuk Ubut pernah bermukim di Sukadana. Saat itu gelarnya masih Patih.

Di hulu Siduk ada Nek Doyan, apa pentingnya daerah Nek Doyan? Dahulu daerah Siduk merupakan pelabuhan penting dan penghasil emas. Nah!



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 26, 2019, 1:04 PM - cucuk espe
Dec 26, 2019, 12:59 PM - Febry Winarto
Dec 11, 2019, 4:55 PM - Agus Kurniawan
Dec 10, 2019, 9:41 AM - Jumadi Gading
About Author

Penulis dan Penerbit Buku Sendiri

Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager