CERPEN - Kemana Sepedaku?

CERPEN - Kemana Sepedaku?

Pada suatu siang, di SMP Negeri 1 Mendawai tepatnya di Perpustakaan Sekolah, ada sekelompok siswa dan siswi yang sedang belajar bersama untuk persiapan lomba.

Tuti        : “Nyong, bisa ngerjain nomor 5 gak? Ajarin dong.“ (Sambil menyodorkan lembar soal)

Inyong  : “Gak bisa, Ti. Tanya yang lain aja.“ (Sambil main HP)

Tuti        : “Yah, beneran dong, Nyong. Kamu nih gimana sih, masa gak bisa. Main HP mulu lagi.”

Inyong : “Ya udah, daripada marah gak jelas, kamu juga pasti bosen kan? Mending pulang aja yuk, kan udah kosong juga perpusnya.” (Sambil membereskan alat tulisnya)

Tuti        : “O.K, Ayo deh...”

Akhirnya kedua siswi tersebut berjalan keluar sekolah, dengan maksud hendak menunggu di halte, menunggu jemputan masing-masing.

Inyong :  “Tuti, kam nunggu di halte kah?”

Tuti        : “Iya, kenapa?”

Inyong : “Loh, kam ga bawa sepeda kah?”

Tuti        : “Oiya, astaga, aku lupa, Nyong. Sepedaku dimana lah?”

Inyong : “Di bawa Mimi Sehun kali, di bawa ke kahyangan.” (Menahan tawa)

Tuti        : “Coba jangan bercanda, Nyong. Lagi serius nah!”

Inyong : “Iyaa, maaf, sans aja kali mbaknya. Coba cari di dalam sekolah siapa tau ada.”

Tuti : “Oiya, bener juga lu, tong.”(berlari ke dalam sekolah, mengecek ada tidaknya sepeda Tuti)

Kemudian, Tuti pun mengikuti saran yang diberikan oleh Inyong mengecek ada tidaknya sepeda Tuti di dalam sekolah. Namun, yang didapati Tuti setelah mengecek ke sekolah, sepedanya tak ada.Akhirnya Tuti berlari lagi menuju halte, untuk menemui Inyong.

Inyong : “Gimana, Tut? Ada gak sepeda kam?”

Tuti : “Aduh, gimana nih, aku udah cek tadi, rupanya gaada, Nyong.. Kemana kah larinya sepeda tercintaku nih?”

Inyong : “Yaudah, ikhlasin aja, mungkin kam dan dia ga bisa bersatu, makanya dipisahin langsung sama yang maha Kuasa.yang sabar ya, Tut.”

Tuti : “Ngomong yang bener dikit kek, gabisa ya.. masa karena ga bisa bersatu.”

Inyong : “Yaudah sans aja, lebih baik dicari kan yaaa.”

Kemudian, Inyong pun membantu Tuti yang kemalingan untuk mencari sepedanya yang dimaling oleh maling. Namun, di halte tersebut ada hal  yang aneh bagi mata Tuti.  Ada 2 orang lelaki sekiranya berumur 30-50 tahunan yang sedang duduk di halte mengenakan jaket hitam, sepatu hitam, kacamata hitam dan topi hitam.

Tuti : “Nyong, kam ngerasa ga sih kalo om berdua itu agak mencugirakan?”

Inyong : “Yeee, yang ada mencurigakan Tuti ku sayang.”

Tuti : “Oiya, itu maksudnya. Ngerasa ga sih kam?”

Inyong : “Iya, mencurigakan. Kaya teroris. Jangan-jangan mereka bawa bom lagi.”

Tuti : (Ketakutan oleh apa yang dikatakan Inyong) “Jangan gitu, ah. Mungkin aja mereka tukang gali kubur yang ke sasar, jadi..” (Tuti tak sempat melanjutkan perkataannya karena di potong oleh Inyong.)

Inyong : “Ya, kali bah tukang gali kubur cem itu.”

Tuti : “Iya juga yah, hmm jangan jangan.... mereka,..”

Inyong: “Jangan suudzon dulu, Tut... mungkin aja...”

Tuti : “Suudzon apaan? Aku belum selesai ngomong... maksud aku siapa tau mereka itu artis Korea itu lho.”

Inyong : “Jangan mimpi ketinggian, ntar kalau jatuh sakit.”

Tuti : “Ah kamu tuh, sok bijak deh. Daripada sembunyi ga jelas gini, lebih baik kita ngomong ke om nya.”

Inyong : “Ngomong apa nah?”

Tuti : “Tanya, jual gorengan ga!!!”

Inyong : “Serius dong, jangan becanda.”

Tuti : “Ya tanyain, liat sepeda ku atau gak.. masih nanya lagi.”

Inyong: “Ih kamu aja lah, aku gaberani.”

Akhirnya mereka berdua menemui om-om yang sedang duduk di halte. Sebelum Inyong dan Tuti menghampiri om-om tersebut, rupanya mereka sedang melepaskan jaket mereka dan terlihatlah seragam polisi lengkap yang mereka kenakan. Yang satu bernama “Asep” dan satunya “Cecep”

Tuti : “Misi om... om Asep. Mau nanya oom ada liat sepeda warna biru merk ‘Poga Lion’?”

Om Asep : “Maaf dek oom ga liat dari tadi pake kacamata hitam. Buram ga kedengaran.”

Om Cecep : “Iya tuh dek, kami daritadi gak liat ada sepeda yang lewat.”

Tuti : “Oh, makasih om. Emm, tapi ngomong-ngomong, om berdua ini kerja apa sih?”

Om Cecep : “Eh, kenapa emangnya dek?”

Tuti : “Gak apa-apa, sih. Cuma om-om berdua ini kelihatannya sedang ada sesuatu yang mau dikerjakan gitu. Kayanya sih penting.”

Inyong : “ Iya, bener tuh?”

Cecep : “Oh, kami ini dari kepolisian setempat, dek. Kami lagi ditugaskan untuk penyelidikan terhadap  orang yang kami curigai sebagai tersangka pemalingan.”

Inyong :  “Loh, banyak bener yak yang kemalingan?”

Asep : “Memangnya kalian berdua ini kemalingan apa sihh?”

Tuti : “Lah, kan tadi saya udah bilang, SEPEDA SAYA OM, SEPEDA SAYA.”

Inyong : “Iya, Om. Lah emang tadi om berdua ngiranya apa yang hilang?”

Asep & Cecep : “Jiwa kalian! Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw!!” (tertawa dengan keras tanpa henti)

Tuti : “Oh iya, Om. Saya mau tanya, tadi nama om berdua siapa aja ya? Boleh sekalian minta kontaknya biar kami bisa hubungi om kalau ada apa-apa.”

Asep : “Memangnya kalian mau kemana?”

Inyong : “Kan udah dibilang om, mau nyariin sepeda temen saya yang hilang ini.”

Cecep : “Nama saya Cecep. Kalau temen saya ini namanya Asep.”

Tuti : “Oh, jadi om Cecep dan om Asep, ya..”

Asep : “Iya, dek. Lagian kalau kalian mau nyari barang yang hilang, lebih baik kalian buat laporan aja ke kantor polisi terdekat. Biar polisi yang menindak kasus ini.”

Cecep :  “Iya, dek. Bahaya kalau Cuma kalian yang nyari kasus kehilangan kaya gini. Apalagi masih kaya kacang baru tumbuh. Maksudnya, masih kecil, gitu dek.”

Inyong : “Tapi, kami gatau oom caranya buat laporan kehilangan di kantor polisi. Isa gak kalau om berdua yang bantu kami. Kan, om berdua ini juga polisi kan?”

Asep : “Sebenarnya, kami mau bantu, dek. Cuma kami ini lagi ditugaskan untuk mengawasi. Jadi, tidak bisa menemani kalian, dek.”

Tuti : “Yah, gimana sih. Masa polisi gak bisa membantu mewujudkan ketentraman bagi rakyatnya sendiri.”

Asep : “Kan, udah dibilang, dek, kami ini sibuk. Lagi ada tugas dari kepolisian.”

Inyong : “Tapi kan, Om....” (Omongan Inyong terpotong saat melihat Tuti pergi sendirian)

Cecep : “Loh, itu adiknya mau kemana?”

Inyong : “Tuti, mau kemana?!” (sambil setengah berteriak)

Tuti : “Kalian kelamaan, banyak ngomongnya. Daripada sepeda aku gak ketemu, lebih baik langsung nyari aja kan.”

Cecep : “Aduh, dek. Kan, bahaya tau. Ya sudah, ayo, Sep. Kita temani aja mereka ke kantor Polisi. Daripada anak orang kenapa-kenapa nanti.”

Akhirnya, om Asep dan Cecep menyetujui untuk mengantar dan menemani Inyong dan Tuti untuk melaporkan kejadian hilangnya sepeda. Namun,..

Asep : “Emang gimana sih kronologinya, sampai sepeda kamu bisa hilang?”

Tuti : Jadi, gini lho om. Saya itu kan mau ke sekolah buat belajar. Lha terus, biasanya saya naik sepeda kan biar macho. Ya, jadi sepedanya saya taruh di parkiran sekolah kek biasa.”

Cecep : “Terus sepeda kamu hilang pas kamu mau pulang?”

Tuti : “Iya, om.”

Kemudian, di tengah perjalanan ada paman penjual pentol. Inyong yang sedari tadi belum makan pun merasakan sinyal dari perutnya bahwa ia lapar dan harus makan.

Inyong : “Tuti, traktir aku pentol, dong. Sama es ya.. aku laper banget nih.”

Tuti : “ Oke deh. Ayo.”

Inyong : “Eh, kamu bawa uang ga?”

Tuti : “Ya bawa lah. Ayo om, sekalian kita beli pentol dulu.”

Inyong : “Paman! Sini,, kami mau  beli!”

Paman pentol : “Iya, mbak.”

Tuti : “Paman, esnya 4 sama pentolnya 4 bungkus yang 5 ribuan.”

Asep : “Banyak banget uang kamu ya.”

Tuti: “Iya, om. Ini kan uang jajan saya buat tadi pagi.”

Cecep : “Siapa yang ngasih, dek?”

Tuti : “ Ya, ayah saya lah. Tadi pas nganter ke sekolah.”

Inyong : “Loh, Kamu dianter sama papahmu?”

Tuti : “Iya...”

Asep : “Berarti kamu gak bawa sepeda?”

Tuti  :” Oiya, ya ampun, baru ingat kalau ga bawa sepeda. Hehehe.”

Inyong : “Dasar kamu. Udah buat orang khawatir sampe kelaparan lagi.”

Asep : “Makanya lain kali jangan lupa. Masa sepeda sendiri aja bisa lupa sih, dek.”

Tuti : “Iya maaf, om, Inyong..”

Cecep : Ya sudah, yang penting kasus ini kita nyatakan selesai!”

Tuti : “Sip, om. Makasih atas bantuan semuanya.”

Inyong : “O.K deh. Yuk ah pulang. udah sore nih.”

Tuti : “O.K, ayo.”

Inyong : “Eh tapi tunggu dulu, dimana dompetku ya?”

Tuti, Asep, Cecep : “ASTAGA!”



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma