Keimanan Sebagai Kunci Kualitas Diri Manusia

Keimanan Sebagai Kunci Kualitas Diri Manusia

Keimanan Sebagai Kunci Kualitas Diri Manusia

Langit dan bumi adalah tanda tanda dari allah untuk orang orang yang mau berfikir. Dari langit allah menurunkan hujan ke bumi untuk menghidupkan bumi yang mati. Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan pada tempat yang gersang yang sebelumnya tidak ada tumbuhan. Pada masalah contoh tersebut dapat diteliti bahwa di alam terdapat system penyimpanan alami. Dan pada hari kebangkitan kelak allah akan membangkitkan umat manusia dengan cara yang sama dengan allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di tempat yang gersang dengan diturunkan hujan.

Dalam meneliti sesuatu maka seseorang haruslah ahli dalam bidang yang ditelitinya. Orang yang berakal adalah orang yang menggunakan rasionalitasnya dan mampu mengkaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan keimanan. Orang yang tidak menghidupkan keimanan didalam hatinya secara tidak langsung maka orang tersebut tidak berakal. 

Abuya As-Sayyid Muhammad Ibn Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam bukunya berjudul khoshois menyimpulkan bahwa penentu kualitas individu adalah keimanannya. Namun yang kita pelajari saat ini di banyak perguruan tinggi adalah bahwa menurut perspektif barat kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh tiga factor. menurut perspektif barat kualitas sumber daya manusia didasarkan kepada knowledge, skill, dan attitude. hal ini sangat disayangkan karena pengetahuan barat seringkali semakin jauh dengan konsep konsep keimanan yang kita pelajari sebagai umat manusia. Sesuai firman allah bahwa kualitas manusia haruslah dibingkai dengan keimanan.

Oleh karena keimanan menjadi penentu maka apabila seseorang memiliki knowledge dan skill namun ia tidak membingkai dengan keimanan akan ayat ayat allah maka ia akan menjadi seorang yang sombong. Dan orang yang memiliki attitude yang baik namun ia tidak membingkainya dengan keimanan maka ia akan menjadi seorang yang tidak memiliki akhlak yang baik dan bisa saja ia berbuat yang sewenang wenang kepada yang lain bahkan ia tidak ragu untuk membunuh. Maka dari itu puncak dari kualitas diri manusia adalah keimanan.

Dalam sebuah kisah nabi Ibrahim as akan kedatangan tamu kemudian nabi Ibrahim menyambutnya dengan penuh kehangatan dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Kemudian nabi Ibrahim as segera memotong salah satu hewan ternaknya untuk di hidangkan kepada tamunya. Masya allah, nabi Ibrahim telah mamberikan contoh kepada kita tentang peningnya memuliakan tamu. Memuliakan tamu adalah sebagian dari keimanan. Sehingga dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin berkambang pesat seperti saat ini pelajaran bagaimana nabi Ibrahim as memuliakan tamunya memunculkan sebuah bidang ilmu yaitu ilmu komunikasi pelayanan.

Untuk memudahkan pemahaman kontruksi keimanan memuliakan tamu, maka dalam masyarakat jawa dikenal dengan istilah gupuh, lungguh, dan suguh. Gupuh yaitu kita segera antusias untuk menyambut kedatangan tamu. Lungguh maksudnya adalah kita segera mempersilahkan tamu untuk duduk. Kemudian suguh artinya adalah kita harus berupaya untuk menghidangkan kepada tamu meskipun seadanya. 

Semoga kita senentiasa dalam limpahan rahmat dan petunjuk allah dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Sehingga kita dapat termasuk ke dalam orang yang senantiasa membingkai  ilmu pengetahuan yang telah kita peroleh dengan keimanan. Dan pada puncaknya kita dapat menjadi manusia yang meneladani akhlak baginda nabi Muhammad SAW. Aamiin  



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Popular This Week
Recent Articles
Jun 9, 2020, 2:32 PM - Novi Kurnia
Jun 2, 2020, 3:25 PM - Deni Riyandi
Jun 2, 2020, 1:37 AM - Singgih Tri Widodo
May 23, 2020, 2:28 AM - Adre Zaif Rachman
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
May 21, 2020, 1:47 AM - Rahmat Gunawan
May 21, 2020, 1:33 AM - Stephanus Putra Nurdin