[CERPEN] Kamu Memang Bukan Jodohku

[CERPEN] Kamu Memang Bukan Jodohku

Sejak ada kabar reuni SMA, aku tiba-tiba teringat dengan seorang perempuan bernama Lily. Teman seangkatan yang kutaksir sejak kelas satu, namun hingga lulus aku tidak pernah menembaknya. Itulah barangkali penyesalan terbesar dalam hidupku karena aku tidak punya keberanian untuk mengatakan suka padanya.

Sebenarnya aku punya keyakinan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, tapi karena aku tidak kunjung menembaknya, akhirnya kami tidak pernah jadian. Apalagi dia tipe perempuan yang pendiam, jadi mustahil dia yang akan menembaku lebih dulu.

Setelah lulus SMA kami masing-masing kuliah di kampus yang berbeda dan sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi, bahkan aku tidak pernah mendengar kabarnya sampai dengan saat ini. 

Lima belas tahun telah berlalu, aku tidak pernah tahu seperti apa dia sekarang. Pastinya dia sudah berkeluarga, seperti halnya aku juga telah memiliki seorang istri dan dua orang anak.

Ada satu hal yang membuat aku penasaran hingga saat ini, kenapa saat acara perpisahan dia tidak datang menemuiku, padahal saat itu kita sepakat untuk ketemuan di belakang lapangan. 

Selama berjam-jam aku menunggunya, namun dia tidak kunjung datang, jadi aku berpikir dia memang tidak suka padaku. Padahal saat itu aku sudah berniat untuk menembaknya. Yah... mungkin dia bukan jodohku jadi kami tidak dipertemukan.

***

Entahlah, apa yang membuat perasanku menjadi galau saat tanggal acara reuni sudah semakin dekat. Tidak biasanya aku mulai memperhatikan penampilanku, padahal sebelumnya aku tak pernah terlalu peduli dengan hal-hal yang berbau penampilan. 

Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, apakah ini semua karena dia? Aku tiba-tiba berubah karena aku akan bertemu dengannya? 

Tidak.. tidak.. jangan sampai itu terjadi. Aku sudah punya istri yang sangat perhatian, dan aku juga sudah punya dua anak yang lucu-lucu. Jadi, tidak ada gunanya aku memikirkan tentang masa lalu yang sudah lewat. 

Aku harus berusaha menyingkirkan perasaan-perasaan aneh yang tiba-tiba menerpa diriku, meskipun jujur aku memang menunggu saat-saat bisa bertemu dengannya. Tapi tidak seharusnya aku diselimuti perasaan seperti ini, karena ini akan membuatku menjadi salah tingkah di depannya, sekaligus di depan istriku. 

Apakah perasan yang dulu sebenarnya belum sirna dari hatiku? Entahlah... tapi apapun itu namanya, aku tidak boleh terjebak pada kenangan masa lalu yang bukan lagi milikku. Dan dia pun saat ini pasti telah bahagia dengan keluarganya.

***

Di tengah hiruk pikuk peserta reuni yang sedang melepas rasa rindu dengan teman-teman lamanya, aku justru sedang diliputi oleh perasaan gelisah. Entah apa yang membuat jantungku deg degan dan sikapku seperti menjadi salah tingkah saat aku mulai masuk ke dalam ruangan. Untung istriku sibuk mengurusi kedua anakku yang terus berlarian kesana kemari hingga tidak terlalu memperhatikan perubahan sikapku.

Aku terus mencari-cari seseorang yang sampai saat itu belum juga terlihat. Setelah beberapa lama, akhirnya pandanganku tertuju pada sesosok perempuan anggun yang sedang berdiri di tengah kerumunan. Ia menggunakan kerudung jingga dengan balutan gamis yang menawan.

 

Dadaku berdebar kencang saat awal melihatnya. Ya Tuhan ternyata dia masih seperti yang dulu. Meskipun sekarang tubuhnya agak berisi tapi tidak menghilangkan keangunannya. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berperawakan tegap yang tidak lain adalah suaminya.

Aku berjalan mendekat ke arahnya karena di kerumunan itu hampir semuanya angkatanku. Saat orang-orang melihatku meraka langsung menyambutku dengan riang, satu persatu mereka menyalamiku dan bertanya tentang kabar masing-masing.

Akhirnya tiba waktunya aku harus bersalaman dengannya. Jantungku mulai berdetak kencang tapi aku tetap berusaha untuk tenang agar tidak menjadi salah tingkah di depannya. 

“Hai Ly, gimana kabarnya?” aku coba menyapanya lebih dulu.

“Hai, alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya?”

“Alhamdullilah, baik juga Ly”

Oya, kenalkan ini suamiku” ucapnya sambil menggandeng lengan seorang pria di sampingnya.

Aku kemudian bersalaman dengan suaminya, yang ternyata dia seorang dokter.

“Oya, kenalkan juga ini istriku” ucapku sambil menarik lengan istriku yang sedang menjaga kedua anakku.

Kami tidak bisa lama bercengkrama dengannya karena teman-teman yang lain terus menghampiriku dan akhirnya kami hanyut dengan obrolan-obrolan khas laki-laki. 

***

Suara MC mulai memecah kebisingan. Semua peserta reuni diminta untuk menempati kursi-kursi yang telah disediakan. Aku dan istriku memilih kursi di pojok belakang, sedangkan dia dan suaminya terlihat duduk di barisan kursi depan, namun aku masih bisa leluasa melihatnya.

Tidak berapa lama, semua peserta reuni hanyut dengan alunan lagu-lagu milik Dewa 19. Panitia sengaja menyuguhkan tembang-tembang yang hits waktu masih jaman kami SMA mungkin supaya kami bisa merasakan kembali suasana waktu SMA dulu.

Aku sebenarnya merasa nyaman dengan lagu-lagu yang di nyanyikan oleh penyanyi di depan, namun suhu ruangan yang dingin membuatku harus bolak balik ke toilet. Sudah ketiga kalinya aku beranjak dari tempat dudukku untuk buang air kecil. Cukup merepotkan memang, karena posisi toilet agak jauh dari tempat acara. 

Saat aku keluar dari toilet, tiba-tiba aku berpapasan dengan Lily. Aku sempat kaget dan salah tingkah karena tidak menyangka akan bertemu dengannya di depan pintu toilet.

“Eh kamu Ly, habis dari toilet juga?” Pertanyaan yang sebenarnya konyol karena jelas pintu disebelah itu bertuliskan ‘toilet wanita’.

“Eh, Iya Zal, di ruangan dingin banget jadi aku bolak balik ke toilet”

“Iya sama” jawabku dengan nada gugup.

 Sambil berjalan menuju ke tempat acara kami akhirnya berkesempatan untuk ngobrol. 

“Oya, kamu sekarang kelihatan gemuk ya Zal?

“Ah masa sih Ly?”

“Iya bener, tapi ga apa-apa keren kok”

Entah kenapa ucapannya sempat membuat hatiku berbunga-bunga, padahal mungkin itu hanya sekedar basa-basi saja.

“Kamu juga Ly, sekarang terlihat lebih berisi dibandingkan dulu waktu SMA”

“Iyalah jelas, dulu kan aku masih gadis, sekarang aku sudah punya anak dua Zal, ya pastinya lebih gemuk, yang penting kan sehat...?”

“Iya betul Ly. Oya, aku boleh tanya sesuatu Ly” ucapku mulai memberanikan diri.

Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya, kemudian menolehku dengan penuh penasaran.

“Tentang apa Zal?”

Sesaat aku mencoba menenangkan diri dulu agar tidak terlihat gugup olehnya.

“Maaf, aku hanya penasaran saja Ly”

“Iya tentang apa Zal”

“Dulu waktu selesai acara perpisahan, kita kan sudah janjian untuk ketemuan di belakang lapangan, kenapa waktu itu kamu tidak datang Ly?”

Dia terdiam sambil menatapku, dan membuatku semakin salah tingkah.

“Lho, bukannya kamu yang tidak menepati janjimu Zal?”

“Maksud kamu Ly?”

“Waktu itu aku datang ke belakang lapangan, tapi kamu tidak ada, bahkan aku menunggu lama di situ, karena kamu tidak kunjung datang, ya aku akhirnya pulang”

“Lho aku juga menunggumu Ly, bahkan hingga berjam-jam. Sebentar..., kamu emangnya menungguku di belakang lapangan mana?”

“Lapangan voli”

“Ya ampun, benerlah kita nggak akan ketemu, karena aku menunggu kamu di belakang lapangan basket”

Kami berdua akhirnya serempak tertawa mengenang kekonyolan 15 tahun yang silam.

“Ya salah kamu cuma bilang ketemu di belakang lapangan, kan sekolah kita punya dua lapangan”

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala mengingat kekonyolan itu. Benar juga apa yang dikatakannya bahwa ada dua lapangan di sekolah kami, yaitu lapangan basket yang lokasinya di depan sekaligus sebagai lapangan upacara dan lapangan voli yang lokasinya di belakang, letak keduanya berjauhan jadi wajar jika kami tidak bertemu.

“Ya sudah Zal itu tandanya kita tidak berjodoh” ucap Lily sambil menepuk bahuku, kemudian ia pamitan untuk kembali masuk ke ruangan.

“Sudah ya, aku masuk dulu, nggak enak sama suamiku”

“Iya Ly, makasih ya”

“Iya sama-sama, daaah” ucapnya sambil melambaikan tangannya.

Dia kemudian berjalan duluan, sebelum masuk ke ruangan, dia sempat menengok ke arahku sambil tersenyum dan aku sempat membalas senyumannya.

***

“Baiklah, itu rupanya jawaban dari rasa penasaranku selama 15 tahun ini, tenyata penyebabnya adalah kebodohanku sendiri yang tidak menyebutkan lapangan mana tempat kami bertemu. Mungkin benar kata dia bahwa kami memang tidak berjodoh, namun setidaknya ini sudah membuatku lega dan sekarang saatnya aku kembali kekehidupanku yang sebenarnya, sebagai seorang suami dan ayah dari anak-anakku”

Aku pun kembali ke tempat dudukku di samping istriku. Aku raih tangan istriku lalu aku genggam dengan erat. Dia menoleh kepadaku sambil mengerutkan keningnya, mungkin dia heran dengan sikapku yang tiba-tiba romantis. Aku hanya mengedipkan sebelah mata kepadanya dan dia hanya tersenyum melihat kegenitanku.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
Rianda Prayoga - May 2, 2020, 8:14 PM - Add Reply

Jadi pengen ketawa baca sampai akhir, wkwkwkwk

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 12:10 AM - Fernanda Ayu
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma
Aug 5, 2020, 12:31 AM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 12:28 AM - Adre Zaif Rachman