[CERPEN] Kado Ulang Tahun Itu Seekor Ular Hijau Besar Berbungkus Pita

[CERPEN] Kado Ulang Tahun Itu Seekor Ular Hijau Besar Berbungkus Pita

Apa kado yang istimewa saat sahabat berulang tahun? Aan, Onil dan Aril memilih kado yang mengejutkan. Saat Oca, sahabat mereka yang sudah lama tidak bertemu, berulang tahun, inilah kado yang mereka pilih.  

“Kebayang, begitu membuka kadonya, dia pasti menjerit. Haha... sudah lama kita tidak mendengar jerit kagetnya,” kata Aril.

“Pastinya mulutnya nyerocos tidak jelas seperti dulu. Lalu tertawa sambil berurai air mata. Kangen juga kita padanya hehe...,” kata Aan.

“Tapi... bagaimana bila dia pingsan?” tanya Onil.

“Kenapa mesti pingsan?” Aril balik bertanya.

“Kado kita ini di luar kebiasaan, Bro!”

Aril dan Aan saling memandang.

“Tidak. Dia orang kuat. Hanya sesaat saja kejutan itu mempengaruhinya. Itu juga mengingatkan kepadanya, bahwa kita masih jahil,” kata Aan. “Tapi dia pasti percaya, kita tidak akan mencelakainya. Kita adalah sahabat yang akan membelanya bila ada apa-apa. Sampai nyawa kita taruhannya sekalipun. Dia pasti percaya.”

“Tapi kado kita itu, Bro....” Onil tidak melanjutkan kata-katanya.

Ya, tiga sahabat itu sudah menyepakati, kado istimewa dan mengejutkan yang akan dibuatnya adalah seekor ular hijau besar berbungkus pita hias. Anda terkejut? Bagaimana dengan Oca yang bisa dibilang phobia dengan ular? Ini kisahnya yang menyentuh hati. Dan semoga bisa menjadi inspirasi.

**

 

Geng mereka sebenarnya empat orang. Aril, Aan, Onil dan Oca. Mereka bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di perumahan yang sama di Bandung sebelah utara yang dingin. Sejak TK sampai SMP mereka sekolah di tempat yang sama. Hampir setiap hari mereka bermain bersama.

Sebenarnya tidak juga bila dibilang mereka menutup diri dengan teman-teman lainnya. Mereka juga suka bermain atau pergi bersama teman-teman lainnya. Tapi karena mereka tinggal di perumahan yang sama, sekolah di tempat yang sama, akhirnya sangat akrab berempat itu.

Oca sebagai satu-satunya anak perempuan, tidak merasa risih berteman dengan anak laki-laki.

“Gimana kalau nanti kamu jatuh cinta kepada salah seorang mereka, Ca?” Wiwit, teman sebangku Oca, pernah bertanya begitu.

“Ah, kamu. Aku tuh belum mikirin cinta. Mereka juga asyik-asyik aja. Lagipula, mereka itu sudah seperti saudara. Mereka itu sangat melindungiku sebagai perempuan. Mereka memberi privasi bila ada urusan-urusan perempuan.”

“Ok, kalau begitu. Saya salut kepada persahabatan kalian,” kata Wiwit.

Percakapan itu terjadi saat Oca kelas VIII SMP. Setamat SMP, Oca pindah ke Australia mengikuti kedua orang tuanya yang jadi dosen di sana. Sejak itu sampai sekarang sudah kuliah dua semester, Oca tidak pernah bertemu lagi dengan ketiga sahabatnya. Tentu saja kalau komunikasi tidak terputus. Mereka sama-sama pengguna media sosial. Meski dengan alasan belajar, Oca termasuk yang tidak aktif alias silent rider.

**  

Karena itu rencana Oca untuk pulang ke tanah air membuat gembira ketiga sahabatnya. Hebatnya, direncanakan pas sampai ke Bandung pada tanggal 11 Oktober. Hari itu adalah tanggal ulang tahunnya Oca. Bagaimana bisa melewatkan pertemuan istimewa di hari istimewa bila tanpa kado yang istimewa?

Hah, kado ular termasuk istimewa? Aril, Aan dan Onil tentunya tahu betul bagaimana hubungan Oca dengan ular. Dua makhluk itu seperti musuh bebuyutan sejak lahir. Jangankan bertemu ular di alam, melihat ular terkurung akuarium di kebun binatang; hanya melihat gambarnya saja Oca pasti menjerit. Badannya menggigil. Takut, geli, dan entah perasaan apa lagi.

Waktu baru masuk SD,  Aan sering sengaja mencari ular air di sawah. Oca menjerit-jerit melihatnya. Aan ini memang kebalikan dari Oca. Dia hobi menangkap ular kecil. Dia akan mempermainkannya tanpa merasa takut. Dari orang tuanya yang bekerja di PT Kalbe Farma, Aan memang tahu ular mana saja yang berbisa dan mana ular yang tidak berbahaya. Sementara Aril dan Oni, biasa saja seperti kebanyakan orang. Takut bila bertemu ular, tapi hanya sekejap, dan tidak berlebihan seperti Oca.

Begitulah mengapa kado ular menjadi istimewa, mengejutkan, sekaligus luar biasa bagi Oca.

**

 

Pukul 9 pagi ketiga sahabat itu sudah menunggu di rumah Aril. Rencananya keluarga Oca akan berkunjung ke tetangga-tetangganya dulu. Dan para tetangga di Perumahan Tiis Dingin ini, terutama orang tua Aril, Onil dan Aan; ingin menyambut keluarga Oca yang sudah empat tahun tidak bertemu. Mereka sudah memasak dari kemarin. Pepes ikan mas kesukaan Bapak Oca, mustofa kentang ikan teri kesukaan Mamih Oca, dan tentu sayur asem kesukaan Oca; sudah ada di antara menu yang disuguhkan.

Ketika mobil avanza itu memasuki halaman rumah, para penyambut sudah berdiri di sekitar rumah. Lalu hay-hay hello assalamualaikum dan salam lainnya menyertai tawa dan peluk-pelukan mereka. Kecuali Oca yang tersenyum, tanpa kehebohan para orang tuanya, di hadapan tiga sahabatnya yang bengong.

“Assalamualaikum... hallo... kenapa kalian, kok seperti patung,” kata Oca sambil memberi salam dengan kedua tangannya di dada. “Apa tidak ada yang kangen dengan aku, ya?”

“Eh... eh... aku... saya...,” kata Aril, Aan dan Onil hampir bersamaan dan sama-sama tidak move on.

Ya, ketiga sahabat itu tidak menyangka ternyata Oca memakai jilbab lebar. Salamannya kepada semua lelaki pun hanya mengangguk dan tersenyum dengan kedua tangan di dadanya.

“Kita tidak menyangka Oca sudah berubah seperti ini,” kata Aril yang pertama tersadar dengan keadaan. “Di foto fb kan tidak berjilbab.”

“Itu foto aku waktu kelas 1 SD kan, Aril. Foto waktu kita balapan sepeda di lapangan bola.”

Acara makan-makan sambil ngobrol tentang masa lalu tentu saja dimeriahkan dengan tertawa dan kenangan-kenangan. Aril, Aan dan Onil sudah berkali-kali saling tatap. Mereka ragu untuk memberikan kado kejutannya kepada Oca.

“Hari ini Oca ulang tahun, apa ada yang masih ingat?” tanya Bapak Oca. “Jadi nanti siang mari kita nonton film untuk merayakannya. Sekarang Oca sudah punya penghasilan sendiri. Sambil kuliah dia mengajar kursus bahasa Indonesia dan bahasa Sunda bagi mahasiswa atau dosen yang akan tinggal di Bandung.”

“Selamat Oca. Barokah usianya. Kita memang lupa. Tapi ketiga anak itu pastinya tidak lupa,” kata Mama Onil.

“Onil, Aril, Aan, tidak lupa kan?” tanya Bapak Oca.

“Pasti tidak, Om. Ulang tahun Oca waktu kelas tiga SD di kebun binatang paling berkesan,” kata Aan. “Soalnya saya dicium jerapah sampai terjatuh-jatuh.”

“Ayo, kalau mau kasih kado sekarang saja.”

Aan, Onil dan Aril saling memandang. Tapi kemudian mereka sepakat untuk memberikan saja kado istimewa yang pastinya mengejutkan itu. Semua bertepuk tangan saat Oca menerima kado besar dari ketiga sahabatnya.

“Buka aja, Ca. Biar kita para orang tua tahu kado istimewa dari sahabat-sahabat setiamu,” kata Bapak Oca lagi.

“Bismillah...,” kata Oca sambil membuka pita yang terikat indah. “Tidak jahil, kan?”

Aril, Aan dan Onil, tentu saja pucat wajahnya. Mereka takut kado ulang tahun itu merusak situasi. Mereka menyesal juga kenapa memilih kado yang aneh-aneh.

Oca menyobek lembaran-lembaran kado istimewa itu. Dan saat tutup dus kado itu dibuka, dia terbelalak. Kedua tangannya sampai memegang pipinya. Aril, Aan dan Onil semakin tegang. Mereka rela berhenti bernapas. Mereka takut dengan bayangannya sendiri.

“Subhanallah... indah sekali,” kata Oca. Tangannya menjulur perlahan mengambil ular yang sedang melingkar itu. Ular yang mulutnya dilakban itu seperti yang mengerti, dia diam saat tangan Oca menyentuhnya. Lalu dia merayap ke tangan Oca.

“Waaww, kado apaan ini...!” Malah ibu-ibu yang terkejut dan ketakutan.

Aril, Aan dan Onil semakin bengong. Dia tidak menyangka. Sama sekali tidak menyangka Oca yang waktu kecil menjerit hanya melihat gambar ular saja, yang berlari hanya mendengar orang mengatakan ular saja, kali ini seperti pawang ular yang begitu takjub dengan mainannya.

“Oca ini dulu sangat takut dengan ular. Tapi ada Profesor Ular tetangga kami yang sangat mencintai ular. Oca diajarkan untuk mendekati ular, malah kemudian dia sangat mencintai hewan melata yang seringnya sangat ketakutan bila bertemu manusia,” kata Bapak Oca. “Di rumah hewan peliharaan Oca adalah sepasang pyton Sulawesi.”

Sampai mereka kemudian makan hidangan utama, Aril, Aan dan Onil tidak bicara. Seperti ada yang menyumbat pita suara mereka. Ya, mereka sekarang yakin, sangat yakin, menilai orang itu luar biasa susahnya. Orang yang dinilai bisa jadi sudah berubah 180 derajat. Sementara kita yang menilai masih jalan di tempat. **



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 13, 2020, 12:36 PM - Runengsih
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma