Herd Immunity Disebut Mampu Menghentikan Virus Corona, Tapi...

Herd Immunity Disebut Mampu Menghentikan Virus Corona, Tapi...

Dunia terus berjuang memerangi virus Corona atau Covid-19. Berbagai cara dilakukan mulai menerapkan Social ataupun Phisycal Distancing, Lockdown hingga menemukan anti virus atau vaksin.

Terbaru untuk cara menekan peredaran Covid-19 ini mengemuka metode Herd Immunity. Metode ini disebut-sebut mampu menyetop penularan virus yang telah membuat Liverpool tertunda menjuarai Primier League tahun ini.

Ngomong-ngomong soal Liga Inggris, Pemerintah Inggris disebut sempat mencanangkan Herd Immunity guna stop penularan Covid-19. Namun belakangan dijelaskan itu hanya konsep ilmiah.

Herd Immunity bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai kekebalan kelompok atau kekebalan kawanan. Herd Immunity sendiri diartikan sebagai suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular. Perlindungan ini terjadi jika sebagian besar populasi sudah kebal dari virus penyakit, baik melalui infeksi secara alami atau dengan melakukan vaksin massal.

Ringkasnya, jika nanti sudah banyak orang atau proporsi lebih besar yang terinfeksi virus Corona atau Covid-19. Setelah sembuh mereka diharapkan menjadi kebal. Dengan banyaknya orang yang kebal, diharapkan dapat sebagai pelindung dari mereka yang belum kebal dengan begitu dapat memutus mata rantai penyebaran virus. Seperti terlihat digambar berikut.

Terdengar seperti kabar baik. Namun dibalik itu sesungguhnya metode Herd Immunity ini tidak bagus-bagus amat. Dinilai cukup efektif menangkal Covid-19. TAPI terasa tidak manusiawi dan beresiko.

Herd Immunity dan kemanusiaan

Jika sudah ada vaksin. Tentunya Herd Immunity otomatis akan mudah dicapai. Karena akan banyak populasi yang sudah kebal virus. Dan virus lama-lama juga hilang sendiri. Jumlah infeksi akan menjadi nol. Disebut eradikasi atau pemberantasan penyakit. Dan tidak ada masalah soal kemanusiaan.

Tapi bila tidak ada vaksin, maka metode Herd Immunity ini harus dicapai dengan infeksi secara alami. Artinya membiarkan orang-orang untuk terinfeksi virus. Sukur-sukur nanti banyak yang sembuh dan kebal akan virus.

Terasa cukup ngeri dan beresiko. Alih-alih banyak yang sembuh, menjadi kebal dan pelindung dari mereka yang rentan. Bisa saja mereka yang sudah pulih dari virus bisa terinfeksi kembali. Dan besar kemungkinan banyak yang meninggal. Tidak ada yang bisa menjamin soal ini. Secara Covid-19 merupakan virus Corona jenis baru dan perkembangannya masih dinamis.

Herd Immunity bisa disebut juga sebagai seleksi alami. Membiarkan virus menular dan menyisakan mereka yang bertahan.

Kita perlu bersyukur di Indonesia masih menerapkan Physical Distancing yang dirasa lebih manusiawi. Tidak Lockdown bahkan Herd Immunity. Maka yang perlu kita patuhi arahan pemerintah dan para ahli. Tidak ada yang tahu bila kita masih saja membandal dan tidak peduli, kondisi mungkin semakin tidak baik.

Di Eropa misalnya. Perawatan pasien Covid-19 diseleksi untuk mereka yang memiliki peluang besar untuk sembuh. Karena banyaknya jumlah pasien.

Keputusan-keputusan sulit bisa saja diambil saat pandemi Covid-19 seperti sekarang. Dan bisa saja keputusan itu susah diterima. Sunggu ironis jika kita masih menyepelekan wabah ini.

Kita tidak usah muluk-muluk berharap wabah penyakit virus Corona ini hilang dalam waktu sekejab. Tapi cara yang logis ialah mengusahakan agar kita tidak sakit atau terinfeksi virus Corona diwaktu bersamaan. Yaitu dengan Physical Distancing atau jaga jarak. Guna memberi jeda nafas tim medis merawat pasien.

Kembali lagi tentang Herd Immunity. Sebenarnya ini merupakan cara yang sederhana dan alami. Namun demi kemanusiaan, maka menerapkan metode ini tanpa vaksin sebisa mungkin dihindari.

Rekam jejak Herd Immunity memberantas penyakit menular

Herd Immunity memiliki rekam jejak yang cukup bagus. Herd immunity tersebut pernah dianggap berhasil mengakhiri penyebaran zika pada 2017 di Salvador, Brasil.

Herd Immunity dengan melalui vaksinasi juga berkontribusi pada pemberantasan Variola di tahun 1977. Juga berkontribusi pada pengurangan jumlah infeksi penyakit menular lainnya. Namun metode Herd Immunity ini tidak berlaku pada Titanus. Yakni penyakit yang bersifat infeksius namun tidak menular.

Pada pandemi Flu pada tahun 1918 atau Flu Spanyol. Penyebaran virus penyakit tersebut berakhir membutuhkan 50% populasi menjadi kebal. Baik melalui vaksin maupun infeksi secara alami.

Nah, virus Corona sendiri diperkirakan mampu menginfeksi 2 - 2,5 orang. Sehingga menurut hitungan matematis dibutuhkan sekitar 60-70% populasi yang kebal sehingga tercapainya Herd Immunity.

Sementara Campak yang merupakan penyakit dengan penularan paling cepat yakni mencapai 12 orang. Maka dibutuhkan 90% populasi kebal untuk terbentuknya kekebalan kelompok.

Namun masalahnya Covid-19 belum memiliki penawar virus atau vaksin. Masih jauh mencapai sekitar 60-70% populasi yang kebal. Hingga saat ini baru sekitar 132 ribu pasien Covid-19 sembuh. Dari jumlah tersebut juga belum dipastikan mereka kebal atau tidak dapat terinfeksi kembali.

Maka selagi tidak ada vaksin. Cara yang terbaik yang bisa kita lakukan bukan menunggu jumlah 60-70% menjadi kebal. Namun harus membatasi penyebaran virus dengan cara jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Memang virus Corona ini tidak terlalu mematikan atau membunuh seketika seseorang terinfeksi. Dan disebut juga virus Corona merupakan penyakit yang bisa pulih sendiri. Tapi bila kita tidak mau menahan laju penularan virus ini. Maka kondisi terburuknya ialah rumah sakit tidak sanggup lagi menampung dan merawat pasien Covid-19.

Awal istilah Herd Immunity digunakan

Istilah "kekebalan kelompok" ini digunakan pertama sejak tahun 1923.  Herd Immunity diakui sebagai fenomena yang terjadi secara alami pada tahun 1930-an. Terjadi pada kasus Campak. Ketika jumlah anak yang kebal terhadap virus semakin banyak. Setelah diamati, jumlah infeksi baru ternyata menurun. Sejak itu vaksinasi digunakan untuk mencapai kekebalan kelompok

Sekali lagi, kondisi demikian jika sudah ditemukan vaksin dari sebuah virus penyakit. Maka untuk mencapai Herd Immunity bisa dibilang cukup mudah. Asal dilakukan vaksinasi massal. Itu juga kalau tidak terjadi penolakan.

Penyakit seperti Polio dan Difteri seharusnya sudah hilang di Indonesia. Namun penyakit itu muncul kembali akibat kelalaian dan adanya sikap anti vaksin. Di Aceh, hanya 8% anak yang divaksin MR (measles and rubella - campak dan campak jerman), sementara target pemerintah adalah 95% vaksinasi baru dapat terbentuk kekebalan kelompok.

Herd Immunity cara ekonomis berantas virus Corona

Seperti yang sudah disebutkan diatas. Herd Immunity merupakan cara menangkal virus penyakit yang alami dan biasa dilakukan. Tapi itu bila sudah ada ditemukan vaksin yang membuat orang kebal dari virus.

Jika keadaannya seperti Covid-19 yang belum ada vaksinnya. Maka infeksi secara alami yang akan diterapkan. Dengan harapan mereka yang sembuh akan menjadi kebal dan pelindung didalam kelompok bagi mereka yayang rentang terinfeksi. Dari segi ekonomi, cara ini cukup hemat bila dibandingkan harus lockdown atau dengan kata lain pemerintah harus menanggung biaya hidup populasi yang terdampak. Apalagi harus cek massal. Itu bakal keluarkan uang yang gak sedikit.

Namun bila dengan Herd Immunity dapat lebih menghemat uang. Metode Herd Immunity dengan membiarkan terjadinya infeksi secara alami ini terkesan tidak memiliki rencana matang dan motif ekonomi.

Pada dasarnya selalu ada untung ruginya disetiap metode pencegahan virus Corona atau Covid-19. Tapi yang utama, jangan sampai merugikan masyarakat umum.

Begitupun untuk kita semua agar memahami keadaan sekarang. Semua kalangan saat ini terkena dampak pandemi Covid-19. Jadi usahakan jangan merasa paling susah sendiri. Kita sama-sama susah. Alangkah baiknya kita saling membantu dan meningkatkan solidaritas. Jadi jangan egois!



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

LUV LUV LUV

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma