[CERPEN] Gadis Social Phobia

[CERPEN] Gadis Social Phobia

Malam akan selalu bersanding dengan gelap, sekuat apapun kau mengubahnya menjadi cahaya, gelap akan selalu bersanding dengan malam. Sebenci apapun dirimu, gelap akan selalu ada tanda malam tiba. Gelap yang hitam tak mungkin menjadi putih atau merah.

Lalu untuk apa kau berusaha melawan takdir. Tidakkah sebaiknya kau bersyukur dan menerima ketentuan dari Tuhan. Menerima dengan ikhlas dan lapang dada dan memperbaiki apa yang masih bisa kau perbaiki. Melakukan bagianmu sebagai seorang mahluk.

Berusaha, berusaha ikhtiar, berdoa dan bersabar. Lalu jika semua sudah kau kerahkan kau masih juga mendapatkan hal yang sama. Maka terimalah dengan ikhlas sebagai takdir yang tak bisa kau ubah.

Dia adalah gadis social phobia. Kalian tak perlu tahu namanya. Biarlah nama hanya menjadi sekadar nama. Namun kupastikan kalian harus tahu sedikit kisah hidupnya. Gadis yang berbeda, kisah hidupnyapun berbeda semoga kalian bisa mengambil hikmahnya.

Ada yang bilang ia menderita social phobia. Apa kalian tahu itu apa social phobia? Dalam bahasa psikologi definisinya terlalu ilmiah dan mendetail. Tapi menurutku kalian cukup tahu jika orang-orang penderita social phobia itu cenderung menarik diri dari kehidupan bersosial.

Mereka biasanya merasakan kecemasan dan ketakutan yang luar biasa jika berada dalam situasi sosial atau berada di tempat umum, jika berada di tengah-tengah kerumunan masa. Belum dipastikan apa yang menjadi faktor penyebab penyakit kejiwaan seperti itu.

Beberapa berpendapat faktor lingkungan, pola asuh keluarga, genetik ada juga faktor kebiasaan dan juga trauma yang mendalam. Dalam kondisi terparah seseorang bisa mual, muntah hingga pingsan jika kecemasan-kecemasan dan ketakutan itu semakin menjadi-jadi.

Ketakutan itu aneh terasa. Entah apa yang sebenarnya mereka takutkan. Takut semua mata memandang, memperhatikan, takut dikritik, atau rasa takut yang memang aneh muncul begitu saja. Sikap direndahkan dan dijatuhkan di depan umum sepertinya jadi faktor pemicu yang tepat untuk social phobia.

Dia gadis social phobia, sejak remaja ia terkena social phobia. Hidupnya terasa begitu menderita. Untuk keluar rumah ia harus megumpulkan segenap keberaniannya. Bahkan jika hanya untuk sekolah ataupun bekerja.

Sekadar pergi ke depan rumah untuk membeli jajan abang-abang tukang bakso yang lewat saja begitu menyiksa bagi dirinya. Ia lebih suka berdiam diri di rumahnya. Baginya rumah adalah zona teraman dan ternyamannya.

Banyak di rumah membuat dia jauh dari kehidupan sosial. Imbasnya ia tak dipedulikan orang lain, tak punya kawan, dan selalu jadi bahan gunjingan masyarakat. Ah, bukankah begitu tabiat masyarakat. Selalu menggunjing dan menghakimi tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Bagi gadis itu, masa-masa sekolahnya memang begitu menyedihkan dan meninggalkan trauma yang mendalam. Sampai saat ini ia sudah lulus sekolah ia masih saja merasakan ketakutan yang mendalam akan masa-masa sekolah.

Ia sering dihina dan diperlakukan buruk oleh teman-teman dan gurunya. Ia sering dibedakan dan dijauhi teman-temannya. Tanpa mereka peduli apa sebenarnya yang sedang menimpa gadis itu. Sama saja ketika ia masuk ke dunia kerja perlakuan semena-semena dari orang lain selalu ia dapatkan.

Andai mereka tahu betapa tersiksanya hidup seperti gadis itu. Sungguh, jika penyakit fisik akan terlihat tampak nyata dan semua orang akan bersimpati padamu. Tetapi penyakit jiwa yang tak terlihat, hanya akan meninggalkan cemoohan dan pandangan buruk.

Pada suatu hari saat gadis itu tinggal bersama teman kostnya. Seperti biasanya ia hanya mengurung diri di kamar kostnya. Jika teman-temannya berkumpul di ruang tamu rumah kost mereka, ia hanya bisa menguping dari dalam. Ya, bahkan untuk mengobrol dan bercengkerama bersama teman-temannya ia tak berani.

Hingga pada suatu hari ada temannnya yang kesal dan menemui ia di kamar kost gadis itu. “Keluar dong, jangan di dalam aja. Jangan bergaul sama benda mati terus. Sekali-kali sini bersosialisasi”, bucuk temannya sambil menunjukan sikap yang tak berempati.

Ya, memang benar hanya sebuah radio butut dan buku diary kecil yang selalu menjadi sahabatnya. Mungkin tidak salah omongan temannya itu, ia hanya bisa bergaul dengan benda mati. Ah, tapi sungguh ia tak ingin seperti itu tapi tak ada yang mau memahaminya. Orang-orang hanya bisa mencaci dan menghakimi tanpa mau memberikan solusi.

Sama saja dengan teman-temannya, keluarga besarnya juga hanya bisa menyudutkannya sebagai orang yang gagal dalam pendidikan dan pekerjaan. Sama saja di lingkungan kerjanya, ia dikucilkan teman-teman kerjanya. Mereka hanya mempedulikan orang  lain, gadis itu tak pernah dianggap ada.

Ia sering berpindah-pindah tempat kerja karena selalu tak diterima oleh rekan kerjanya dengan kondisi kejiwaannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berdiam saja di rumahnya karena dunia luar begitu menyakiti hatinya. Ia hanya bisa bergumam dalam hati “Apa sebegitu buruk dan menjijikan kah seorang social phobia, hingga aku diasingkan dan dikucilkan.”

Pada suatu hari gadis itu putus asa, ia benar-benar depresi dengan hidupnya. Tak punya pekerjaan, tak punya uang. Ia hanya bisa mengutuki hidupnya di rumahnya. Di rumahpun tempat yang ia anggap paling aman dan nyaman tiba-tiba berubah jadi sangat menyiksa.

Orang rumah selalu mengkritiknya yang tak bisa sekolah tinggi dan bekerja. Selalu membanggakan saudara-saudaranya yang berhasil dan sukses, sedang ia hanya pecundang sejati. Puncaknya ia kabur dari rumahnya.

Pergi jauh dari rumahnya ke tempat ia bisa menenagkan diri. Walau sebenarnya ia tak punya tempat lagi yang bisa menerimanya selain keluarganya. Ia bingung harus kemana. Namun perasaan terluka oleh keluarganya membuat ia ingin kabur sejauh mungkin.

Ia selalu berpikir keluarganya sama saja dengan teman-temannya tak bisa mengerti dan memahami kondisinya yang harus berjuang melawan penyakitnya seorang diri.

Ia tak tahu lagi ke mana harus melangkah, namun kakinya membimbing ia ke sebuah masjid di kota yang besar. Ia tinggal di masjid itu, tinggal beberapa hari di sana membuat ia merasa tenang dan nyaman.

Hingga pada suatu jama’ah sholat isya, ia mendapati lantunan merdu dari imam masjid itu. Hatinya menangis, air matapun jatuh membasahi pipinya. Ia baru tersadar ia masih punya Tuhan.

Sungguh meskipun seluruh penduduk bumi tak menginginkanmu, masih ada Tuhan yang menginginkanmu untuk kembali pada-Nya. Untuk mendekat, bertobat dan meraih cinta-Nya. Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumah.

Ia juga memutuskan diri untuk belajar membaca Al Quran dengan tajwid dan tahsin yang benar. Ia bertekad untuk mendalami lagi agama islam, lebih mendalami lagi Al Quran dan As sunah.

Entah mengapa ia menemukan kedamaian yang luar biasa saat mendengar atau membaca Al Quran. Ketenangan yang nyaman lebih tenang dari sekedar menenggak Alprazolam.

Ia ingin memperbaiki diri, lebih mendekatkan diri lagi pada Sang Pencipta. Percuma saja jika ia bolak-balik ke psikolog atau psikiatri kalau jiwanya saja tidak tenang. Ia hanya akan menghabiskan obat-obatan kimia yang bisa jadi membuat ia ketergantungan.

Percuma juga ia menuruti saran dan nasihat psikolog dan psikiater untuk terapi keberanian, terapi kecemasan hingga hipnoterapi. Percuma saja jika imannya tak kuat. Dari mana ia akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan serangkaian terapi itu jika imannya lemah dan hatinya sakit, jauh dari Tuhannya.

Setahun kemudian gadis itu hidup lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ia tak lagi merasa ketakutan dan kecemasan yang berlebihan jika berada di tempat umum. Sedikit-dikit ia bisa bersosialisasi dan mencoba selalu berpikir positif dengan orang lain.

Meskipun orang lain tak pernah menyukainya, ia bisa mengendalikan dirinya untuk selalu tersenyum dan berbuat baik dengan orang lain. Ya mungkin perjuangannya untuk sembuh masih panjang. Tapi, paling tidak ia bisa merasa tenang sekarang, bukankah rasa tenang itu paling berharga di dunia ini.

Rasa takut jika bertemu orang lain sudah tak ada lagi, walaupun itu orang yang paling penting sekelas pejabat sekalipun. Kecemasa-kecemasan jika ia harus berinteraksi dengan orang lain perlahan berkurang. Kerja keras, doa dan kesabarannya Allah bayar tunai semuanya.

Wahai kawan, mintalah pertolongan kepada Allah apapun masalah kalian. Jangan pernah putus asa dalam berdoa dan menantikan pertolongan dari Rabb semesta alam. Karena Allah tak akan mengecewakan hamba-hamba-Nya yang selalu menggantunggkan hidupnya pada Allah semata.

“Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang-ulang doa ketika Allah menunda ijabah doa itu. Dialah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya kepadamu, bukan menurut pilihan seleramu. Kelak, pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.” (Ibnu Atha’ilah).



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

content writer dari purbalingga jawa tengah

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma