[CERPEN] Egosentrisme

[CERPEN] Egosentrisme

Ruang Hati yang Terabaikan

Terbangun lagi oleh suara hentakan hebat di lantai kamarku. Aku membuka mata yang segera menyelidik ke seluruh ruangan, hanya suara detik jarum jam dan sesekali suara burung hantu menderu, tak ada apapun, tak ada benda jatuh, tak ada gempa  lantaipun tak retak, tak ada siapapun. Aku kembali menghela nafas panjang, bukan, ini bukan yang pertama, ini yang kesekian kalianya. Entah ini mimpi atau apa tapi aku rasa ini sungguh nyata. Selalu di jam yang sama, jam dua pagi. Setelah ini aku akan sulit tertidur dan aku akan terkantuk-kantuk di meja kantor tanpa menyelesaikan pekerjaan kantor. Tidak. Kali ini aku harus tidur. 

Bantal guling kesukaan kembali aku peluk, mencoba memejamkan mata dan terlelap, namun semua pikiran-pikiran ini mengganggu konsentrasi tidurku.

Apa ini? di rumahku ada hantu? ah aku tidak percaya. Apa aku hanya berhalusinasi, mungkin sudah gila. Pikiranku terus merajalela tak tentu arah dan mataku terus terjaga hingga subuh menjelang. Pagi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya,mata yang terasa berat, dan rasda malas berhasil mengambil alih dan menguasai otakku, lantas memrintahkan tubuhku untuk malas masuk kerja. Ah tapi aku harus bekerja. Enyahlah rasa malas, hujamku dalam hati. Mandi air hangat mungkin sedikit menjadi solusi. Aku tancap gas menyetir mobi di jalanan yang sudah mulai macet dan panas. Sebelum masuk kantor sepeerti biasa aku mampir ke warung kopi langganan, warung kopi tante Euis yang tak pernah sepi pelanggan. Sepulang kantor aku berniat berkunjung untuk mengatasi gangguan tidurku.

 Aku berkunjung ke psikiater.

“Pada umunya, gangguan tidur yang bapak alami disebabkan oleh stress, meskipun ada beberapa faktor lain seperti kondisi medis, untuk mengetahuinya,kita perlu melakukan beberapa langkah medis”

Mendengar penjelasan dokter yang mengatakan harus melakukan beberapa langkah medis sudah membuatku malas, aku ingin langkah instan. Aku ssudah tidak tahan dengan ini, aku ingin dapat segera merasakan indahnya tidur nyanyak tanpa gangguan.

Aku ke paranormal

“Ada roh jahat yang selalu mengintaimu. Ia ingin rumahnya kembali sepi. Ingin kau pergi dari rumah itu. Sediakan garam kasar, Bapak taburkan saja di sekeliling kamar dan ini, kantong jimat ini yang akan melindungi anda dari gangguan roh-roh jahat, gantungkan ini di depan pintu, juga ini kalung jimat yang juga akan melindungi Bapak dari gangguan roh-roh jahat”

Aku ke rumah temanku

“Loe lupa baca do’a sebelum tidur Kali Jo..”

Aku ke rumah ustad peruqiyah, kau mengikuti segala arahan dari ustadz, mulai dari berwudhu dulu, mengenakan pakaian yang bersih, menghadap kiblat dan sebagainya. Ustadz mulai membacakan ayat-ayat ruqiyah, ayat demi ayat, surat demi surat aku dengarkan dengan seksama, sembari tangan Ustadz menyentuh bagian kepalaku, tetapi tak ada reaksi apapan pada tubuhku. Mungkin memang tidak ada jin yang bersarang dalam tubuhku.

Aku tak berhenti di sini, aku masih melanjutkan usahaku, aku pergi ke  rumah orang pintar dan banyak sekali berkunjung. Semua tak bisa  memberi jawaban yang pas. 

Aku  termenung di mobil. Membuka jendela. Menghisap rokok yang sebenarnya baunya hampir membuatku pingsan. Aku seorang perokok, tapi sangat membenci bau rokok. Sayangnya aku sudah terlanjur ketagihan merokok sebelum aku membenci baunya. Menikmati hisapan rokok dan harus bergelut melawan baunya. Entah sampai kapan terus begini. 

Aku sudah tidak tahan menahan kantuk yang sedari tadi membuat kepalaku berat terangkat. Tapi aku harus kembali lagi ke kantor lantas  survei ke tempat baru. Proyek mall lagi. Penggusuran lagi. Aku  pergi bersama mobilku.  Mendarat di warung kopi langganan. Warung Kopi tante Eis yang bodinya aduhai. Seksi montok,  ditambah rok mini dan tank top yang ia sampirkan sudah beralih fungsi menjadi perangsang bagi jiwa lelaki yang kehausan itu. Jiwa kelakianku tak bisa menolak untuk tak memandangya. Mumpung gratis hatiku bilang. Tapi merinding saja kalau kelak aku punya istri begitu. Hati nuraniku masih normal. Menginginkan istri baik-baik.

Dua cangkir kopi tak terasa aku habiskan ditambah dua batang tempe goreng jumbo. Para lelaki hidung belang itu sengaja berlama-lama dalam warung, tidak tahu apa pura-pura tidak tahu kalau di rumah para istrinya sedang kerepotan mengurus anak. Tambah geli telingaku mendengar obrolan ngalur ngidul tentang malam-malam yang mereka lalui bersama. Ternyata tante Eis lebih dari seorang penjual kopi. Aku hanya mendengar di sudut ruangan sambil menahan kantuk. 

“Ah Abang memang paling tahu apa mau Eis…”

“Hahahaha..tentu sayang, nanti malam lagi ya sayang” Selorohnya sambli menyodorkan selipat uang. Aku tersenyum geli, mungkin itu adalah jatah uang belanja istrinya, atau uang pendidikan anaknya.

  Panas. Aku segera meninggalkan warung kopi neraka itu. Tancap gas menuju daerah Kemayoran baru. Ke kantor, urung melakukan survey, mata ini serasa tertibanu, beban yang sangat berat, survey besok saja perintahku pada bawahanku, aku mempersiapkan beberapa berkas yang harus aku bawa untuk kegiatan survey besok 2dan pulang. Jam sepuluh malam aku beranjak tidur. Malam ini aku harus tidur pulas. Tapi ternyata tidur pulas menjadi suatu hal yang amat mahal bagiku. Aku kembali terbangun oleh suara hentakan dahsyat itu ditambah mimpi buruk dikejar bayang-bayang hitam. Aku terbangun dengan keringat yang telah membasahi piamaku.

Ahhhhggggg… aku lelaaaahhhh….. Subuh yang terlalu berat untuk bangun. Mungkin aku baru saja tertidur lima menit. Meringkuk sebentar lagi. Lantas selimut aku lempar jauh. Sentuhan ajaib air pagi hari luar biasa. Kantuk seketika enyah dari hinggapannya.

Genaplah satu bulan begini, bisa mati muda aku ujarku dalam hati. 22 Survei lagi ke sebuah perkampungan kumuh. Lokasi yang strategis sebenarnya untuk sebuah kawasan bisnis, hanya saja tertutup oleh perkampungan kumuh dan jalanan yang becek lagi bau karna sampah yang berserakan. Banyak di antara mereka yang tak memiliki sertifikat tanah. Penggusuran. Bukan aku yang melakukan. Aku hanya melaksanakan tugas sebagai karyawan kantor. Belaku pada diri sendiri. Meskipun sebenarnya jauh suara hatiku mengingkarinya.

Pemberontakan terjadi dengan riuh. Mereka menolak digusur meskipun dipindahkan ke tempat lebih baik. Bahkan hotel bintang lima sekalipun mereka menolak. Kami tak bisa mendapatkan kenyamanan selain di sini kata mereka. Aku geleng kepala. Mereka gila apa edan, bagaimana merasa nyaman tinggal di tempat kumuh begitu. Tapi kalaupun mereka mau dipindah ke hotel bintang lima, itu hanya mimpi. Tak mungkinlah perusahaan akan gantikan mereka tempat sebaik itu.

“Kalian terkutuk. Mentang-mentang orang kaya kalian bisa menindas kami haah..”

“Ibu.. rumah kita kenapa dihancurkan..?”seorang anak kecil merengek dalam gendongan ibunya.

“Jangan.. tolong jangan rubuhkan rumah kami.. kami mohon..”

Ada wanita lansia pingsan. Haah aku tak sanggup melihat semua ini. Aku ngeloyor dengan mobilku. Ke warung kopi tante Eis. Baru satu cangkir kopi aku habiskan. Obrolan yang membuat telingku panas membuatku terusik. Meskipun begitu rasanya aku tak mau beranjak. Hanya di sini aku bisa berdiam tanpa ada yang peduli denganku. Tanpa ada yang mengganggu kesendirianku. Tak ada juga wartawan yang berusaha mengejar memburu berita, dengan isu-isu yang membuat kepala seakan mau pecah. Aku hisap lagi satu batang rokok dan lagi-lagi bau asapnya membuatku mau pingsan.

Hari sudah larut. Matahari telah tenggelam di ufuk barat. Mataku sudah berperakat ngantuk mengajakku tidur. Aku malas tidur di rumah. Aku melaju pelan ke hotel dekat rumah. Aku jauhkan hand phone dan jam dari jangkauanku. Jam dua pagi. Suara itu muncul lagi.

“Arrrrrhggggghh..brengsek. sebetulnya siapa kau!!!! Apa yang kau mau haaahhh”.. nafasku cepat memburu. Berteriak layaknya orang gila.

“Jangan bisanya cuman maen belakang doang..”

“Ayo tunjukkan wujud aslimu”

Kelelahan berteriak-teriak sendirian aku tertidur hingga hari sudah amat siang dan panas. Secepat kilat aku mandi. Mengajak lari kencang mobilku. Ach, tapi sungguh menjengkelkan, ingin jalan ngebut pun tak bisa. Kota ini sudah penuh sesak, berjejal orang-orang datang ke sini mencari keberuntungan, namun apa semua pembangunan yang penuh sesak ini sejatinya memakmurkan pribumi atau justru sebaliknya? Ah... Pikiranku malah jadi berkelana entah ke mana.

“Ciiiiiiitttt…” kakiku menginjak rem spontan. Seorang wanita berambut panjang di tengah jalan.

“Woi.. kamu buta ya? Matamu kamu taruh mana? Kalau mau nyabrang liat kanan-kiri dulu. Pengen mampus kamu?”. Setelah puas mencaci maki aku turun dari mobilku. Tangan kirinya meraba-raba. Tangan kananya menggengam tongkat. Astaga dia buta. Aku membantunya bangkit dari jatuhnya. 

“Maafkan aku”.Ucapnya. 

Rasa bersalah merayap dengan cepatnya memasuki sela-sela hati. Aku yang tak berhati-hati.

“Rumahmu di mana aku antar pulang”

“Nggak ada rumah. Mereka telah menghancurkan rumah kami. Di dalam rumah itu ada makam nenekku. Kami tak punya uang untuk beli tanah kuburan. Terpaksa kami kubur jasad nenek dalam rumah. Tapi kini semua telah hancur. Aku sumpahi mereka tak akan pernah tenang dalam tidurnya. Aku bersumpah. Mereka tak akan pernah tenang hidupnya. Tuhan mengabulkan do’a hambanya yang terdzolimi”. Aku terhenyak sesaat. Menelan ludah.

Apa ini adalah jawaban dari keresahan yang melandaku selama ini? Apa selama ini aku tak pernah mendengar lagi suara hati yang sebenarnya selama ini terus mengingatkanku untuk selalu menjadi manusia yang peduli pada yang lain. Atau memang aku selama ini telah sengaaja menutup ruang suara hatiku, mencoba abai karena tak mau ambil pusing.

Aku kembali melaju dengan mobilku pelan, memasuki gerbang tol, kartu tersentuh pada alat pembaca, pintu dengan sigap terbuka. Jalan tol ini juga, sebenarnya siapa yang menikmati? Sedikit dari pribumi dapat menikmati karena harganya yang tidak murah, melewatinya tentu hanya karena hal yang mendesak. Sedangkan tanah itu milik siapa? Kenapa? Ah sudahlah, aku tak ingin menambah kacau pikiranku.

Sebatang rokok kembali aku ambil dari wadahnya, menyalakan korek dan menghisapnya lalu harus bergelut lagi dengan bau asap rokok yang sebenarnya sangat aku benci. Ach bbodohnya aku! Aku membuang batang rokok yang baru aku hisap satu kali itu. Kenapa aku harus menikmati rokok yang sebenarnya menjadi sumber ketidak nyamanan ku. Aku berjanji pada diriku sendiri, tak akan sentuh kau lagi.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma