[CERPEN] Dari Air dan Tanah

[CERPEN] Dari Air dan Tanah

**Ghost Hunter**

TAP TAP TAP

Seorang pemuda tengah berlari menuju sebuah perumahan yang terkenal dengan kata “mewah” (Mepet saWah). Tidak bisa dipungkiri, ketika pemuda itu berlari, keringat hasil ekskresi cairan tubuhnya mengeluarkan feromon yang tidak bisa terbantahkan bagi kaum adam, apalagi hawa. Feromon yang terlalu kuat untuk dipatahkan oleh orang sekelas Ade Rai dan Agung Hercules pamer otot sekalipun. Dengan kibaran rambut ala iklan Shampoo yang dibintangi beberapa pemain sepak bola terkenal itu, dia pun menyisir rambutnya dengan pose Irfan Bachdim sambil berkata, “ Iki nangdi yo?”

Medok. Sangat medok. Cengkok dangdut, dengan suara berat ala Al Ghazali, gerakan tangannya yang lentik pun bagaikan Olga Syahputra. Tidakkah kita berpikir bahwa memang pepatah absolut yang mengatakan, “There is nobody is perfect, even Edward Cullen in Twilight. ?” Ganteng, berkharisma dan feromon kuat ternyata bisa dikalahkan dengan teori simple “logat mempengaruhi penampilan.” sekalipun. Pemuda dengan wajah tampan dan suara cengkoknya beserta tangan yang melambai ini celingak-celinguk tidak jelas, namun jelas bagi orang yang berada di sekitarnya tahu bahwa pemuda ini sedang tersesat.

Seorang kakek-kakek yang penuh welas asih, yang dari kulit dan warna rambutnya terlihat beliau lahir pada zaman Soekarno digulingkan berinisiatif menolong pemuda malang ini.

Kakek ini mendekati pemuda malang kita. “Nduk—eh salah! Le,” Si Kakek ternyata latah. “Nangdi Le? Ojok bingung, Le.”

Pemuda tadi sedikit merespon dengan mencibir dalam hati karena dibilang “nduk.” Selesai ia mencibir, pemuda itu pun tersenyum ramah, “Aku rapopo..Hanya tersesat Kek.”

Si Kakek malah dengan semangat 45nya menepuk-nepuk punggung si pemuda dengan tongkat kayu miliknya, mengamnesiakan diri bahwa itu tongkat kayu jati, kalau dipukul di tulang punggung ya wasalam dan aku ora rapopo. “Jenengmu sopo Le?”

Si Pemuda ber”wadoh! Loroo!” ria dalam hati, membatin, kemudia dengan senyum yang tak sampai ke mata ia menjawab sopan, “Andi, Kek. Raden Andi Gilang Saputra Si Putra Petir.” Dengan genitnya, Andi kita ini mengepipkan sebelah matanya ke kakek orang lain.

“BWAHAHAHAHA!”

Si Kakek dengan polosnya, sepolos wajah aktor Korea ketawa nista, dengan tangan kanannya memukul-mukulkan tongkat kayu jatinya di aspal dan tangan kirinya yang keriput menunjuk Andi.

“Naaaak, pantes kamu sering sakit-sakitan kayak gini!” Tangan keriputnya menunjuk gaya Andi yang sedang dalam pose cucok rempong. “Namamu terlalu berat, Le..”

Andi nampak tak terima, emosinya yang setengah cewek mau ke ubun-ubun, namun akal rasional cowoknya ternyata lebih dominan muncul, “Ehehe..iya Kek. Kok kakek ngerti sih?” Dia lalu mengalihkan perhatian sang Kakek dari namanya. “Oh ya Kek, aku mau tanya.”

Sang Kakek mengangguk mantap seperti tentara. “Tanya saja nak, selagi Kakek bisa menjawab dengan baik dan benar.”

Andi tersenyum, lalu ia mengeluarkan sebuah kertas dari tas bergambar Larva dengan tergesa-gesa. “Kakek tahu dimana tempat ini?” Dia pun menunjukkan sebuah gambar rumah yang terlihat angker.

Sekali lihat saja, sang Kakek langsung menepukkan tongkat kayunya di aspal dengan semangat. “OOH, ini rumahnya Mbak Ayu Annabel!”

“Hah?” Andi cengok sebentar, “Annabel? Kok kayak nama boneka di The Conjuring sih?”

Si Kakek melepaskan tongkatnya dan dengan tiba-tiba memegang kedua bahu Andi, menatapnya dramatis, “Nak, demi masa depanmu yang masih cerah seperti mentari di pagi hari, Kakek yang baik hati ini menyarankan kamu untuk tidak masuk ke rumahnya Mbak Annabel.”  Satu tarikan nafas, dan Kakek itu tidak ngos-ngosan sama sekali ketika berbicara panjang lebar seperti tadi.

Andi menaikkan alisnya yang disinyalir dia memakai pensil alis warna coklat. “Kek, aku nih ya lagi nyari rumah Angker Annalise Anastasia, bukan rumah Mbak Annabel. Lagian yaah,” Nah, gerakan gemulainya mulai dikeluarkan, “Masa depanku ini memang ditentuin sama rumah yang ada di gambar ini, gambar ini!” Dia menunjuk-nunjuk kertas tadi. “Aku ini mau kerja, pekerjaan pertamaku menyangkut rumah ini!”

Si Kakek terlihat bingung, “Nak, pasti karena namamu yang terlalu berat ini, kamu sering sakit-sakitan. Suka berhalusinasi dan berdelusisasi tidak-tidak,” Kata Si Kakek dengan nada seperti Mantan calon suaminya si Artis Goyang Itik. “Wong rumah itu sudah gak berpenghuni, alias kosong!”

Andi memutar kedua bola matanya, “Kek, dengarkan cucumu ini walau aku bukan cucumu,” Dia melepaskan pegangan di kedua bahunya, “Aku punya pekerjaan, dan pekerjaanku ini tidak sembarang orang bisa melakukan, dan mungkin pekerjaanku ini bisa dibilang melenceng dari pekerjaan normal lainnya.”

“Kamu emang gak normal?” Sang Kakek langsung menjauh, “Dari gerakan tanganmu sih—“ Dia menggantungkan kalimatnya, sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya, persis seperti tingkah laku gadis perawan yang takut mau diraep preman pinggiran.

Apaan coba?

“Aku NORMAL, kek,” Andi menekankan kata normal dengan memelototkan matanya. “Hanya saja pekerjaanku ini tidak dilakukan oleh kebanyakan orang lain. Aku ini Ghost Hunter, kalo Kakek tahu artinya sih.”

“Hah? Apa? Gogos Lemper?” Sang Kakek malah salah mendengar, “Kamu jualan kue yah? Ya ampun naaaak, kamu iku—“

“G.H.O.S.T.H.U.N.T.E.R,” Andi mengejakan nama Ghost Hunter ke sang Kakek. “Not Gogos and Lemper, lagian itu makanan keeek, bukan pekerjaan.”

Sang Kakek malah tambah bingung, terlihat dari kerutan dan jerawat yang bertambah karena terlalu banyak berpikir. “Apa itu Gehos Hunterr?”

“Ghost Hunter Kek,” Ralat Andi. “Ghost Hunter itu ya, gampangnya seperti Pemburu Hantu.”

“Oalaaah, seperti yang di tipi-tipi itu ya?! Yang kayak gini,” Sang Kakek memasang kuda-kuda Pencak Silat, “Cia Ciat! Wuuussshh~” Lalu tangannya membentuk gerakan kame-kameha. “Lalu dimasukin ke botol deh! Wah aksi Kakek barusan keren juga yah,” Lalu diakhiri dengan sang Kakek menaikkan kerah baju kokonya.

“Ndak seperti itu juga kali,” Andi mendengus, “Aku gak punya kemampuan seperti itu, kecuali ada yang mirip dengan yang tadi Kakek praktikin. Intinya yah Kek, Kakek tahu gak alamatnya si Annalis Anastasia ini? Aku harus cepat-cepat ke sana.”

“Mbak Annabel, Le..” Ralat Kakek. Andi hanya memutar kedua bola matanya. “Iya, Annabel, Kek.”

“Noh,” Sang Kakek mengarahkan tangannya ke depan, “Kamu lurus saja, setelah itu nganan sek, lurus lagi, ada jalanan kecil, masuk sana, nanti tembus jalan besar. Nanti kiri jalan ada Perumahan Perum Indah Regency, kamu masuk ke sana. Pojok kiri, rumah bercat putih abu-abu kayak rok anak SMA..”

“Sabar Kek, pelan-pelan dikit napa?” omel Andi sambil nyatet alamat pake Iphone 5s silver miliknya. “Perum Indah Regency terus?”

“Pojok kiri, rumah putih abu-abu kayak rok anak SMA, tapi gak mini..hehehe.” Si Kakek senyum nepsong. Maunya sih Andi langsung tinggalin nih Kakek ghoib ke rumahnya, tapi diurungkan dulu karena nih Kakek sepertinya tahu keadaan rumah Annalise Anastasya ini.

“Kek, apa di sana sering terjadi kejadian yang tidak biasa?” Tanya Andi, mulai serius dan dalam gentleman mode. Andi mengerutkan alis tata suryanya. Mau tidak mau yah si kakek ikut serius tapi dengan cara mengerutkan keriputnya. “Iyah ada!”

Andi menaikkan sebelah alisnya, lalu mengusap-ngusapkan kedua tangannya, tertarik. “Seperti apa Kek?”

Sang Kakek mendekatkan wajahnya ke arah Andi. “Mau tahu aja atau mau tahu pake bingit?”

Aroma semur jengkol menguar ke hidung Andi.

“Bau kek! Jengkool iuuh!” Keluh Andi sambil nutupin hidungnya. “Mau tahu yang mana aja deh! Ih si Kakek rempong amat ngejawabnya!”

“Santai anak muda~” Sang Kakek tersenyum, “Kakek sih belum dlihat pasti kejadiannya, tapi menurut warga sekitar yang tinggal di sana, menurut urband legent (widih si Kakek tahu Urband Legend) di daerah Perum Indah Regency, kalau setiap malam Minggu, selalu terdengar suara seperti seseorang merayap di atas loteng, dan selalu terdengar suara seseorang menyeret-nyeret tubuhnya..”

Andi mengangguk-angguk antusias, “Lalu?”

“Ada dua versi. Versi keduanya itu, pernah ada Bapak-bapak yang lewat tengah malam karena mau nyariin mie ayam rasa soto, biasa, istrinya ngidam yang aneh-aneh sih..kok bisa ya—“

“Keeek, fokus Kek fokusss!” Kalau Andi tidak pernah ikut Pesantren Kilat dan tidak pernah belajar Budi Pekerti dulu, pasti anak ini sudah menjitak kepala si Kakek yang setengah botak ini. Bicaranya kemana-mana kayak tawon yang menyebar.

“Eh iya maap le, hehehe..” Nyengir pilonlah sang Kakek. “Begini, si bapak-Bapak tadi kan ngelewatin rumah si Mbak Annabel yang kamu bilang Anestasia itu.. Nah waktu si Bapak ini lewat, dia tiba-tiba merinding.” Si Kakek memperagakan orang menggigil, dan mulai niruin mimik wajah si Bapak yang sedang ia ceritakan ini. “Kok kayak ada yang ngeliatin?”

“Hm? Lalu?”

“Si Bapak tadi itu noleh kan otomatis di rumah Mbak Annabel, dan nak kamu tahu apa yang terjadi??” Si Kakek dengan antusiasnya malah kasih pertanyaan ke Andi.

“Ya manatahulah aku Kek! Aku kan gak di sana keleus!” omel Andi lagi.

Si Kakek melanjutkan. “Ternyata ada seorang wanita baj putiiihh..seputih gigi Mas Budi penjual bakso sms langganan Kakek! Wanita itu tersenyum, tapi kayak senyum psikopat. Rambutnya panjang, dan hampir nutupin separuh wajahnya..dia lagi megang kepala seseorang.. Dan..BAAA!!” Si Kakek histeris sendiri, “Dia lalu menghilang bagaikan daun yang jatuh namun tidak membenci angin..” Dan berakhir dengan monolog.

Andi mengangguk-angguk serius, sepertinya di pikiran anak muda yang bersemangat ini sedang memikirkan sesuatu. “Jadi begitu.. Seperti kejadian waktu itu ya?” gumamnya.

“Hah? Kamu omong apa nak?”

Andi mengibas-ngibaskan tangannya. “Gak kok Kek. Oh ya, makasih ya Kek buat alamatnya tadi, aku buru-buru harus ke tempat ini.”

“Loh loh loh? Kamu seriusan toh pergi ke sana?” Si Kakek bertanya kurang yakin.

Andi mengangguk mantep, “Yup. My first challenge! Aku harus bisa menghilangkan arwah penasaran Annalise Anastasia ini. Ini adalah ujian pertamaku untuk menjadi Ghost Hunter. Kalo Kakek gak ngerti, mending Kakek pulang, cuci kaki, minum jamu terus tidur. Sudah dulu yah Kek dadaaah, pamit sek!” Andi lalu mencium tangan si Kakek dan kabur sebelum sang Kakek berkata sesuatu.

“Ckckckck.” Si Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya, “Anak muda yang bersemangat.” Sang Kakek tersenyum misterius. “Kita lihat bagaimana anak itu bisa menghadapi Mbak Annabel.” Dan dengan kalimat itu, Si Kakek berbalik kemudian menghilang di tengah kabut putih.

 

***Ghost Hunter***

 

Andi memandang takjub ke bangunan tua yang ada di depannya. Bangunan kuno seperti kastil Belanda ternyata masih eksis pada zaman metropolitan seperti ini. Seperti jantung dari daerah Perum Indah Regency, magnet bagi setiap orang yang tanpa sengaja maupun tidak sengaja ketika melewati rumah Annalise Anastasia ini. Siapapun Annalis Anastasia itu, dia pasti dulunya putri Bangsawan, kemudian terjadi kejadian yang membuat seluruh penghuni rumah tua itu dibantai. Arwah mereka penasaran sampai sekarang, dan menjadi urband legend yang terkenal. Kalau bisa Andi melakukan pemburuan ini dan berhasil, maka ia akan lulus dalam ujian Ghost Hunter.

“Oke, i’m ready to hunting..” gumamnya dengan nada percaya diri. Dia lalu memegang kalung dengan bandul segi enam berwarna perak sebentar, setelah itu mengecek semua perlengkapan Hunternya. “Sip.”

Dengan langkah berani, dia pun memanjat pagar yang lumayan tinggi itu, namun bisa dicapai oleh Andi. Entah dia dulunya keturunan bajing loncat atau dia punya bakat jadi maling rumah orang sedari brojol, yang jelas Andi sudah mendarat mulus di halaman depan rumah Annalise Anastasia.

Kaki-kaki kurus itu berlari dengan cepat, kemudian sampailah Hunter kita ini di pintu utama rumah Annalise Anastasia.

Biarpun sudah memantapkan mentalnya untuk berani, namun ada saja hati kecilnya berdegup kencang seolah gugup dengan hal selanjutnya yang akan dia lakukan. Tetap saja kan walaupun dia seseorang yang sudah dilatih untuk tahan mental, tapi untuk pekerjaan ini semua orang pasti akan mengalami apa yang dinamakan ‘gugup’ dan ‘takut.’

“Oke, harus bisa!” Andi mengangguk mantap, lalu dia mulai mengeluarkan segala peralatan malingnya buat membobol pintu. “Kalo orang awam liat gue mah bisa dikira maling stress karena membobol rumah berhantu.” Andi mulai bermonolog, entah untuk menghilangkan rasa gugupnya atau memang hobinya bicara pada diri sendiri.

KLEK!

“Jinkies!” Seru Andi senang, pintunya bisa terbuka. “Hoho, gue berbakat juga nih jadi maling.” Andi kemudian memasuki ruang utama rumah tua itu. kesan pertama yang muncul dalam benak Andi adalah, “Tajir pasti nih yang punya rumah! Gila barang mahal semua ini!” Dia pun terkagum-kagum dengan perabotan yang ada di rumah itu. Tapi tetap saja, apa yang ada di dalam rumah itu terkesan menakutkan sekali. Gelap, sarang laba-laba, cahaya yang ada hanya samar-samar, itu pun karena cahaya bulan.

Andi mulai mengeluarkan sebuah kitab kecil berwarna coklat dengan tulisan-tulisan seperti tulisan kuno, dengan sebuah tasbih berukuran sedang berwarna putih. Pria ini mulai melangkah menuju ke arah ruangan yang sepertinya ruang keluarga itu. Bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri, langkah kakinya semakin lama semakin kecil, tasbih dan kitabnya dipegang erat. Andi dapat merasakan bulu badannya merinding hebat ketika dia telah sampai pada ruang keluarga tersebut. Sebuah figura berukuran 2x4 meter terpajang kokoh di dinding tepat di depan Andi. Sebuah figura dengan foto sebuah keluarga.

Seorang pria berkisar 45 tahun, dan seorang wanita berkisar 30 tahun. Andi meyakini bahwa itu adalah sepasang suami dan istri yang tengah duduk. Lalu ada 3 anak perempuan, 2 orang anak perempuan berkisar 10 tahun yang ternyata kembar berdiri di samping kanan dan kiri orang tuanya, dan 1 nya lagi, Andi yakin dia berumur 5 tahun berada di pangkuan sang ibu.

Yang membuat bulu kuduk Andi merinding adalah tatapan dari keluarga yang berada di foto itu seakan hidup, seolah tengah mengamati apa yang Andi lakukan. Seolah sedang tersenyum, dan senyuman itu menakutkan.

“Jangan sampai gue lengah hanya karena sebuah foto lama ini,” ujarnya menguatkan diri. Entah kenapa keberaniannya menguap seperti kepulan asap yang hilang setelah ditiup angin. Hanya karena figura ini saja, badan Andi terasa lemas. Aura yang dipancarkan dari foto keluarga ini begitu kuat, dan semakin kuat ketika terdengar sebuah suara dari lonceng jam besar yang berada tepat di samping figura.

“Aku lapar.”

Tubuh Andi menegang kaku seketika. Suara seorang wanita, dan itu terdengar seperti lonceng kematian yang siap berbunyi kapan saja. Suara yang mengintimidasi. Andi seakan kaku untuk menoleh ke belakang, jantungnya berdegup kencang, dan keringatnya mulai bermunculan.

“Aku lapar..khekhe..” tawa wanita itu. “Apakah kamu bersedia memberikanku makan? Khekhe..”

Dengan sekuat tenaga Andi berbalik, kemudia menghadap ke arah sebuah sosok yang Andi berani bersumpah atas nama Eyang Subur gak kawin lagi, sosok itu 2 kali lipat menyeramkan dari apa yang dibayangkan oleh Andi. Wanita dengan bola mata merah, dan sepertinya mengeluarkan darah menatapnya dengan tajam, seolah ingin menembus pikiran Andi. Rambut yang panjang dan menutupi hampir seluruh wajahnya, tangan yang menggantung lemas, dengan tangan kiri wanita itu memegang kepala seorang pria. Pakaian yang putih panjang penuh dengan bercak darah, mulut yang tertawa lebar, namun dengan kesan yang mengerikan.

“Sayang sekali gue gak bawa nasi goreng buatan nyokap gue ke elu, Nona Annalise Anastasia.” Kata Andi, “Gue ke sini buat ujian Ghost Hunter, bukan Ujian Skripsi!” Lanjutnya mulai ngaco. “Dan tantangan buat ujian gue itu, adalah memburu lo wahai makhluk dua dunia!” Dia pun mulai memasang kuda-kuda, bersiap mengeluarkan gerakan seperti Naruto.

“Aku lapar..” Ulang Annalise Anastasia. “Aku lapar.. Aku lapar..” Dia pun mulai bergerak menuju Andi. “AKU LAPARRR..hihihihi!” Dia pun dengan cepat merayap dengan tangan dan kakinya menuju Andi. Andi pun dengan cekatan membuka gulungan kitabnya, lalu memegang tasbihnya dengan memfokuskan pandangannya ke depan.

“Gue, gak akan kalah.”

To Be Continued



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

Live your life

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 24, 2020, 3:20 PM - Akhmad Fauzi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma