Dampak Viralnya Kasus COVID-19 pada Ideologi Milenial

Dampak Viralnya Kasus COVID-19 pada Ideologi Milenial

Apa yang kita tangkap ketika kita mendengar kata "COVID-19" yang cukup viral akhir-akhir ini? Pasti kita akan memersepsikannya identik dengan virus berbahaya, menular, rasa cemas, rasa takut, kematian, faktor kemerosotan di berbagai bidang dan lain sebagainya. Namun ada juga yang memersepsi kata "COVID-19" itu sebuah virus yang biasa-biasa saja, santai, bahkan tidak ada yang harus dicemaskan sedikit pun. Bisa dibilang, sikap kita menyikapi hal ini tergantung ideologi masing-masing kita. Kalau ideologi kita dangkal pasti kita akan ketakutan luar biasa begitu pula sebaliknya. Seseorang yang berideologi yang baik pasti akan menyikapi kasus ini dengan baik, rileks, dan penuh solusi. Mereka cukup menjaga diri dengan baik sesuai anjuran serta mematuhi himbauan-himbauan yang ada. Prihal sakit atau kematian itu adalah takdir yang penting mereka sudah mempunyai pilihan di awal dengan kewaspadaan yang matang.

 
Ideologi sendiri merupakan muatan dasar pemikiran menyeluruh tentang segala hal dan masing-masing pokok pemikiran mempunyai metode tersendiri dalam pengaplikasiannya. Misalnya, kita mempunyai ide tentang cara pencegahan COVID-19 masuk ke dalam tubuh kita, maka kita pasti mempunyai cara tertentu untuk menerapkannya. Baik, mau diterapkan untuk diri sendiri maupun cara untuk disebarluaskan ke masyarakat luas.
 
Milenial Indonesia khususnya, mempunyai banyak ragam ideologi yang berbeda disetiap individu. Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya; latar belakang agama, sosial budaya bahkan ekonominya. Ideologi mereka berkecamuk tidak lepas dari latar belakang itu. Ambiguitas pun cenderung terjadi di setiap ide yang ada dengan metode yang akan dikeluarkannya. Dilihat dari mayoritas mereka yang begitu pandai berbicara ilmu pengetahuan namun nihil dalam tindakan. Mengapa itu bisa terjadi? Kita kembalikan pada tema artikel kali ini dengan benang merah "Ideologi seseorang bisa terkecoh disebabkan ada faktor pemengaruh". Meluasnya kasus COVID-19 ini adalah salah satunya, ideologi mereka ada yang semakin dangkal ada pula yang semakin dalam. 
 
Bila disesuaikan dengan paragraf pertama di awal, kita sudah bisa menarik kesimpulan beberapa ragam ideologi milenial dari berbagai sudut pandang. Milenial yang menjadikan agamanya sebagai ideologi kemungkinan besar tidak akan terpengaruh psychowar-psychowar seperti ancaman kemiskinan dan ancaman-ancaman lainnya, sebab bagi mereka ketaatan pada Tuhannya adalah segalanya dan apabila ia beragama islam akan lebih baik lagi karena di dalam islam sudah terdapat solusi berupa anjuran dan himbauan-himbauan untuk mencegah dan mengatasi kasus ini. Selanjutnya, ideologi milenial yang berangkat dari latar sosial dan budaya cenderung konsisten kadang tidak. Mereka yang mempunyai sosial budaya yang beretika cukup baik, cukup baik pula cara mereka menyikapi segala hal. Begitu pula ketika mereka dihadapkan dengan aktivitas sosialnya yang terhambat akhir-akhir ini, akan ada banyak solusi yang akan mereka pergunakan sesuai etika yang baik menurut latar budaya dan sosialnya. Itulah mengapa ideologi yang berlatar belakang dari sosial dan budaya ini tergolong labil dan pastinya akan mudah terpengaruh sebab tidak ada pondasi yang kuat untuk menggariskan kebenaran mutlak akan ideologinya hanya berada di tingkat kebenaran yang relatif saja. Dampak COVID-19 pada keberlangsungan hidup kita dapat berdampak pula pada milenial yang berideologi berlatar belakang sosial dan budaya ini. Berdampak positif bila asupan dari lingkungan sosial dan budayanya mampu mengendalikan mentalnya namun akan negatif bila sebaliknya. 
 
Terakhir, milenial yang berideologi dengan latar tolok ukur aspek ekonomi yang tulen alias kapitalisme. Mereka akan memandang segala hal berdasarkan asas materi, istilahnya "Kalau ada materi mengapa tidak?" atau "Kalau ada  uang mengapa tidak?" beda dengan milenial yang ideologinya berangkat dari etika sosial budaya yang masih mengutamakan kemashlahatan, sedangkan milenial yang berideologi kapitalisme akan memandang segala yang mendatangkan materi maka itulah yang terbaik. Bagi milenial kapitalisme situasi negara kita yang terancam COVID-19 ini bisa berdampak positif tapi bisa pula berdampak negatif. Milenial yang meraup materi dari hasil berdagang di pasar-pasar dengan ideologi kapitalisnya yang sangat kental maka ia akan terus berjualan di pasar walau itu akan berbahaya bagi dirinya dan masyarakat luas hanya demi satu yaitu materi. Intinya jenis milenial yang berideologi ini cenderung memisahkan norma dan etika yang berlaku dari aktivitasnya, itu artinya mereka membuat aturan sendiri untuk mengatur dirinya demi kepentingan pribadinya. Akan tetapi, bagi tipikal milenial berideologi kapitalis yang masih berada di tingkat relatif biasa-biasa saja, biasanya masih menimbang-nimbang itu bisa mengancam dirinya atau tidak, jika mengancam mereka akan mencari solusi lain untuk memasarkan dagangannya, yang penting bisa terhindar dari ancaman tersebut dan bisa meraup materi sebanyak-banyaknya dengan situasi keamanan pribadi yang terjamin.


It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma