Dakwah Bilqolam Sang Santri

Dakwah Bilqolam Sang Santri

Dakwah bilqolam aktivitas yang dilakukan oleh Fathor Rohman salah satu santri  aktif di Pondok Pesantren Nurul Qolam. Ia memilih berdakwah melalui tulisan karena dirinya terbatas untuk melangkah lebih jauh. Aturan pondok pesantren yang menjadi  batas untuk bergerak ke mana harus melangkah. 

Walaupun dirinya beraktivitas sebagai pendakwah tulisan. Namun, tetap mengikuti kewajiban sebagaimana santri pada umumnya. Sebagai jembatan mempublikasikan tulisannya ke pada calon pembaca memanfaatkan sarana kotak redaksi majalah dan media dinding pesantren. 

Selain aktif menulis, ia aktif membaca buku-buku fiksi dan non fiksi di media dinding asrama yang wajib untuk menerbitkan kreativitas tulis menulis setiap satu bulan sekali. Beberapa tulisannya selalu menjadi trending pada majalah Al-Qolam, salah satu majalah pesantren yang terbit setiap bulan. Selain trending di majalah, juga trending di media dinding pesantren yang terbit satu bulan dua kali. Dari beberapa tulisan yang selalu aktual membuat para pembacanya tertarik untuk menjadi penulis. 

 

"Artikel ini sangat menarik perhatian pembaca iya," kata Robi pada Rohli saat membaca majalah Al-Qolam edisi 18 di asramanya.

"Iya, Rob. Pasti penulisnya Fathor Rohman," sahutnya Rohli seraya mengintip halaman artikel yang dibaca Robi.

"Fathor Rohman itu siapa?" Tanya Robi penasaran.

"Itu, teman asramanya Rosi," jelasnya Rohli.

"Oh iya. Karya-karyanya selalu tampil di majalah dan di media dinding pesantren," tambahnya Robi sambil lalu membaca lanjutan artikelnya.

Para santri lain terlihat sibuk membaca majalah edisi 18 yang mengangkat tema Pena Senjata Orang Sukses. Pada edisi ini Fathor Rohman menuliskan judul “Kenapa Santri Harus Menulis” di rubrik opini. Pembahasannya sangat lugas menarik dengan kata-kata yang mudah dipahami serta motivasi menarik perhatian para pembacanya. Setelah karya-karyanya terus diminati para pembaca dan terus menjadi langganan majalah dan media dinding pesantren ia diangkat menjadi salah satu mentor menulis di Lembaga Santri Bisa Menulis, salah satu lembaga  yang fokus pada aktivitas menulis, baik fiksi ataupun non fiksi. 

"Assalamualaikum," ucapnya Ustadz Faqih salah satu pengurus lasbim.

"Waalaikumsalam," jawabannya Fathor Rohman. Kebetulan ia sedang duduk di depan kamarnya sambil lalu membaca buku. Fathor Rohman pun langsung sowan dan mempersilahkan duduk dengan penuh ta'dzim.

"Lagi membaca buku apa, Man?" Tanya Ustadz Faqih sambungnya.

"Buku Kitab Penyihir Aksara karya Brilli Agung, penulis produktif yang telah berhasil menciptakan puluhan buku," terangnya Fathor Rohman.

"Dari judulnya sangat bagus sekali, pasti isinya sangat inspiratif."

"Iya ustadz, isinya sangat menginspirasi para pembacanya. Pasti orang yang membacanya akan mau menjadi penulis. Dari harganya saja bisa dikatakan mahal namun kualitas isinya sangat memuaskan."

"Mantap, Man. Oh iya ini ada surat rekrutmen mentor menulis dari lasbim mengingat karya-karya kamu sudah menjadi langganan majalah Al-Qolam dan media dinding pesantren. Bahkan dari pembaca banyak mengajukan kamu sebagai salah satu mentor dari lasbim," ucapnya Ustadz Faqih seraya menyodorkan surat rekrutmen kepada Fathor Rohman. 

Fathor Rohman terkejut dengan adanya surat rekrutmen yang sebelumnya menulis bukan tujuan menjadi mentor akan tetapi hanya ingin mengembangkan ilmu pengetahuan serta menyelamatkan ide-idenya yang terus mengalir pada dirinya.

"Apakah ustadz tidak salah merekrut saya sebagai mentor mengingat di pondok pesantren ini masih banyak penulis handal yang karyanya lebih berbobot," lirihnya Fathor Rohman.

"Tidak Man, ini sudah berdasarkan evaluasi dan hasil musyawarah para pengurus lasbim. Jadi mulai saat ini kamu tercatat sebagian dari pengurus lasbim. Semoga dengan ditetapkannya kamu sebagai pengurus sekaligus mentor perkembangan menulis semakin meningkat dan pondok pesantren ini semakin maju." Ustadz Faqih memberikan penjelasan terkait rekrutmen pengurus lasbim.

"Kalau memang seperti itu, baiklah saya terima rekrutmen pengurus lasbim ini. Namun, apabila suatu saat nanti ada kekurangan dan kesalahan yang tidak sesuai dengan konsep mohon bimbingannya."

"Baik, teman-teman pengurus siap. Jadi mulai hari ini sampai selanjutnya silahkan berkunjung ke kantor lasbim dan kebetulan besok malam adalah malam technical meeting peserta baru. Jadi kamu harus hadir sekaligus memberi motivasi sesuai pengetahuan yang dimiliki."

"Baik, ustadz. Insyaallah saya siap hadir."

Ustadz Faqih pamit kepada Fathor Rohman untuk mengantarkan surat rekrutmen kepada calon pengurus lainnya yang akan meningkatkan kualitas organisasi lasbim yang selama ini terus berkembang.

Lembaga Santri Bisa Menulis (LASBIM) sudah dua tahun berdiri dan baru kali ini membuka pendaftaran peserta baru sekaligus merekrut pengurus yang sudah aktif mempublikasikan karya tulisnya pada majalah Al-Qolam dan media dinding pesantren. Sebelumnya, lasbim dikelola oleh para pengurus pesantren dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas penerbitan majalah dan media dinding pesantren serta media asrama. Guna menghasilkan artikel yang berbobot dan terbit tepat waktu pihak pengurus aktif mengadakan kajian yang mendatangkan pamteri dari luar pesantren dan bekerja sama dengan pimpinan redaksi semua asrama.

****

Langit merah berkilau di senja sore menggantikan suasana siang menjadi malam. Ratusan santri sibuk berangkat ke musholla dengan peci hitam serta baju putih dan sarung hijau yang menjadi formalitas pesantren setiap memasuki malam libur pesantren. Para pengurus bagian ubudiyah sibuk mengkordinir para santri ke musholla dibantu oleh ketua asramanya masing-masing.

Suara adzan muaddzin pesantren mengalun keras melalui losepiker musholla. Ratusan santri sudah merapat di shap shalat siap-siap mengikuti shalat berjamaah.  Setelah adzan dikumandangkan digantikan dengan shalawat bersama-sama sambil lalu menunggu imam shalat datang ke musholla. Lima menit kemudian Ustadz  Abdul Aziz siap menjadi imam shalat Maghrib dengan diiringi iqomah dari muaddzin.

Suasana musholla hening tanpa ada suara kecuali suara imam shalat Maghrib yang mengalun merdu membaca surah Al Fatihah dan surah pendek. 

30 menit kemudian santri diperbolehkan untuk meninggalkan musholla dan wajib mengikuti kegiatan asrama berupa pembacaan tahlil serta Asyroful Anam yang menjadi program rutinitas setiap malam libur pesantren.

Suasana pondok pesantren Nurul Qolam kembali ramai dengan alunan pengara suara bacaan tahlil dan Asyroful Anam dengan gaya lagu khas santri yang sudah digelutinya.

Di samping itu para fungsionaris lasbim sibuk mempersiapkan acara yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Segala persiapannya terus dikerjakan sehingga pada waktu yang ditentukan acaranya berjalan sebagaimana mestinya.

Waktu terus bergulir cepat, sehingga tibalah pada acara technical meeting peserta baru lasbim. Para peserta mulai berdatangan menempati barisan-barisan kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya. Para pengurus baru juga sudah menempati tempat yang ditentukan oleh para fungsionaris lasbim. 

Suara pembawa acara menggetarkan para audiens dengan kelihaian kata-katanya yang menusuk jiwa, para hadirin antusias menyimak perjalanan acara yang sungguh sangat meriah. Energi kesuksesan menulis terus disenandungkan melalui gaya bahasa sastra yang menjadikan menarik perhatian pendengarnya. Lirik puisi santri menjadikan pesan yang menyihir para calon-calon generasi penulis pesantren. Beberapa agenda acara tersusun mulai memasuki pada acara sambutan yang disambut langsung oleh pembina lasbim Ust Taufiqurrahman yang telah berhasil menciptakan puluhan buku dan merupakan pengasuh kolom tafsir puisi majalah Al-Qolam. Dalam sambutannya ia tak lepas mengatakan mengutip kata-kata dari sebuah Kitab Penyihir Aksara karya Brilli Agung. "Jangan pernah takut jelek! Menulislah tanpa memikirkan benar atau salah. Menulis untuk meredam kejolak jiwamu. Hanya itu tujuannya. Siapa tahu, setelah beberapa waktu, terpikir olehmu untuk menawarkan tulisanmu ke penerbit. Jika penerbit tersebut menerima naskahmu, bukankah itu menyenangkan? Jika tidak, menulislah lagi. Semakin sering kamu menulis, semakin kamu terlatih. Seperti pisau. Semakin diasah, semakin tajam.” Bunyi kutipannya membawa para anggota semakin menarik untuk belajar menulis dengan iringan tepuk tangan yang meriah.

ZaWriter mengemukakan dalam buku antologi puisi yang berjudul Sajak-Sajak Pecinta Literasi Indonesia pada berjudul perjalanan untuk masa depan. "Tak perlu dipikirkan sejak sekarang. Ada apa di masa yang akan datang. Kita hanya wajib belajar. Perjalanan masa depan. Perjalanan yang sangat rumit dan mengesankan. Karena proses menantang akan berakhir kesuksesan." Ungkapnya dengan gaya penyampaian yang menggetarkan hati para peserta yang hadir pada kesesmpatan kali ini.

Puluhan anggota dan pengurus lasbim terus mengikuti dan menyaksikan berjalannya acara yang berlangsung meriah. Sebelum acara ditutup puluhan anggota diintruksikan untuk saling kenal mengenal agar bisa komunikasi dengan baik pada suatu saat nanti selama kursus menulis berlangsung.

****

Kegiatan Lembaga Santri Bisa Menulis (LASBIM) berjalan sebagaimana mestinya, para santri dibimbing dengan beragam metode oleh para pembimbingnya. Dari beberapa pembimbing mempunyai metode masing-masing dalam menciptakan generasi penulis hebat. Managemen lasbim membebaskan metode bimbingan terhadap para mentor menulis karena kegiatan kursus masih tahap pencobaan.

Waktu demi waktu terus membawa kegiatan lasbim menuai perkemabangan dengan beberapa santri binaannya berhasil menciptakan beberapa karya fiksi  dan non fiksi. Genre yang diperioritaskan adalah genre relegi guna untuk menceritakan berdasarkan kajian ilmiyah dari kitab kuning yang dipelajari sehingga menjadi cerita menarik dan dapat melaksanakan amar ma`ruf nahi mungkar. Dalam kategori non fiksi juga diperioritaskan terkait kajian kepenulisan yang nuansanya Islami sehingga tidak lepas dari kajian kitab kuning yang pernah dipelajari.

Menulis merupakan salah satu jembatan untuk menyampaikan kebaikan kepada khalayak. Apalagi latar belakangnya santri yang diwajibkan belajar kitab kuning yang menjelaskan terkait hukum Islam dan lain sebagainya. Dengan menulis para santri mampu mengulah kembali ilmu-ilmu yang telah dikaji bahkan ilmu-ilmunya semakin berkembang menjadi luas. 

Waktu terus berputar kegiatan lasbim memberikan sinar baru kepada para santri umumnya, beberapa media pesantren berkembang pesat setiap bulan selalu ada artikel baru yang layak dikonsumsi oleh para pembaca dengan ilmu-ilmu menarik dan mampu menarik hati para santri untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki termasuk menulis artikel berupa opini, cerita pendek, dan lain sebagainya. Buku-buku terbaru hadir setiap bulan dari lasbim untuk para santri dan khalayak umum sehingga membawa lasbim semakin dikenal di kalangan masyarakat umum.

Benteng terakhir untuk menyelamatkan ilmu pengatahuan hanyalah orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan peduli terhadap ilmu-ilmu yang dimiliki sehingga memperluaskan ilmu pengetahuannya melalui kreativitas menulis yang  dimiliki.

Menulis mampu menghidupkan diri penulis meski dimakan usia ataupun sudah tiada di muka bumi. Selain itu tulisannya akan selalu berjalan sendiri mencerdaskan para pembaca dalam menciptakan generasi hebat seperti para penulis ilmuan hebat yang karyanya lebih panjang daripada umurnya.

Fathor Rohman kini tercatat sebagai mentor yang mampu melahirkan penulis hebat sebagaimana semua peserta bimbigannya berhasil menciptakan puluhan karya tulis inspiratif bahkan tercipta menjadi buku. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

Penulis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma