Covid-19: Siap atau Tidak, Bersiaplah Dengan Rutinitas Baru

Covid-19: Siap atau Tidak, Bersiaplah Dengan Rutinitas Baru

Sangat tidak diharapkan semua orang didunia ini ketika menerima kenyataan dunia tengah mengalami pandemi Covid-19. Meski ini bukan pandemi pertama di dunia, namun berada pada keadaan saat ini tentu tidak akan nyaman.

Di Indonesia, wabah penyakit yang sudah menjadi pandemi tidak lagi hanya disaksikan di Wuhan lewat media pemberitaan. Tapi "musuh" tak terlihat ini sudah ada di Tanah Air. Siap tidak siap, bersiaplah menyambut tamu tidak diundang ini.

Berhentilah kita berdebat dan berasumsi aneh-aneh dan tidak mendidik. Jangan saling lempar tanggung jawab, karena ini kewajiban kita semua menyelamatkan dunia. Juga jangan bersikap "bodoamat" lantas menggantungkan tanggung jawab ini pada orang lain. Jangan seperti virus atau parasit yang sifatnya bergantung pada sel atau individu lain dan membebankan.

Jangan egois!

Salah satu kata yang bisa di-highlight dalam bersikap dikeadaan pandemi Covid-19, jangan egois! Harus diakui memang reaksi sejumlah orang menghadapi pandemi Korona masih sangat egois atau hanya mementingkan dirinya sendiri.

Dimulai dengan menimbun masker dan menjual dengan harga tinggi. Bahkan ada oknum yang menjual masker bekas. Dan ironisnya diketahui jumlah ekspor masker justru melonjak tinggi ketika kebutuhan dalam negeri juga tidak kalah tinggi.

Katakanlah kita mampu untuk beli masker dengan harga mahal dan kebetulan dapat. Tapi bagaimana untuk mereka yang tidak mampu? Dan bisa saja mereka itu yang sakit. Pikir dong!



Panic buying timbul dari rasa takut



Kemudian ada panic buying. Disejumlah negara yang telah melakukan lockdown guna membatasi penyebaran virus Korona. Reaksi wajar masyarakatnya melakukan panic buying.

Menimbun bahan makanan dengan alasan takut kelaparan dalam kondisi terisolasi. Pernahkah kamu menonton film Apocalypto? Meskipun hanya film namun didalam film tersebut ada pesan yang baik untuk kita semua tentang rasa takut. Bahwa sesungguhnya rasa takut dan panik itu tidak lain ialah sebuah penyakit. Kondisi yang mengacaukan pikiran dan kejiwaan. Dan justru memperburuk kesehatan.

Memulai kebiasan baru

Tidak ada yang ingin ada pada disituasi ini. Tapi please, jangan lebay. Dunia sudah beberapa kali mengalami krisis. Siapa yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan perubahan dunia. Maka Ia lebih berpeluang untuk tetap bertahan. Seperti halnya seleksi alam pada hewan.

Seperti generasi Baby Boomer, mereka yang lahir pada jaman yang paling gak enak di era modern manusia. Yakni pada masa dan pasca perang dunia.

Para Baby Boomer dikenal lebih bisa menerima keadaan. Itu terbentuk dari pengalaman mereka hidup pasca perang. Meskipun mereka agak "kolot", tapi itu karena mereka patuh pada aturan.

Kini memang tidak ada perang. Tapi lawan kita saat ini tidak terlihat. Dan itu mematikan. Terserah Anda mau berpikir ini teori konsipirasi dari suatu negara untuk motif ekonomi, atau virus yang disebarkan alien dan entahlah..

Yang jelas pandemi telah terjadi. Mau tidak mau kita mesti hadapi. Sedikitnya contohlah para Baby Boomer, yang dapat menerima keadaan, menyesuaikan diri dan berjuang dalam kesulitan.

Kita mesti sadari dunia bisa kapan saja berubah. Kalau sebelumnya kita bisa rebahan dirumah, jika bosen bisa hangout. Maka kini tugas kita lebih mudah, dirumah saja.

Berat memang harus dirumah terus selama sekitar 14 hari. Belum lagi bagi mereka yang harus bekerja diluar rumah. Pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan juga harus diperhatikan.

Tapi yang terpenting dari itu ialah sikap kita untuk saling peduli dan sama-sama sadar bahwa ada saatnya habit atau rutinitas sehari-hari harus diubah. Ada kalanya kenikmatan dunia mesti kita kurangi sendiri.

Lupakan dulu jalan-jalan, hangout, kumpul bareng teman, hingga liburan jauh pakai helm bahkan naik "burung besi".

Tahan dulu untuk wisata kuliner. Seperti ke Singapura hanya untuk makan siang lalu kembali lagi ke Tanah air. Haha... Sabar dulu jiwa-jiwa ke-sultanan Anda.

Bahkan gak ada salahnya untuk "ikat pinggang" lebih kencang. Saat-saat sekarang itu bukan makannya yang banyak, tapi makanlah makanan yang sehat. Bila diperlukan makan telur ceplok plus kecap juga gak masalah.

Ada tweet berupa video insipiratif dari Edward Riadi. Salah seorang publik figur dan salah satu pemain di film Bebas besutan Mira Lesmana, mengajak kita semua untuk tidak panic buying.

Perlu diperhatikan pesan ini tidak lantas mengajak kita untuk makan telur ceplok terus-menerus. Melainkan pesan untuk kita tidak mementingkan diri sendiri dan memaksakan diri untuk selalu manyantap sajian mewah. Bahkan bila diperlukan, mengapa enggak dengan telur dan kecap saja untuk tetap hidup.

Katakanlah kita punya uang untuk menimbun bahan makanan. Tapi perbuatan itu sangat buruk. Stok makanan dipasar akan berkurang dan menyusahkan saudara kita lainnnya untuk mendapatkan makanan karena harga melambung tinggi.

Yakinlah semua akan baik-baik saja. Ada makanan yang cukup untuk kita semua. Asalkan gak kita tidak borong secara berbarengan. Jangan rakus.a

Menyesuaikan dengan perkembangan jaman

Saat pandemi Covid-19 seperti saat ini. Jika kita mau perhatikan. Bagi mereka yang sudah bisa memanfaatkan teknologi dan update informasi. Menghadapi pandemi Covid-19 terasa lebih mudah. Minimal kita bisa memperoleh informasi terkini dari sumber terpercaya, bisa belajar dari rumah dan bekerja dari rumah.

Maaf, jangan lagi berlindungan dibalik status sosial maupun ekonomi. Kebiasaan kita selama ini, mental kita yang selalu mengganggap diri sendiri sebagai orang kecil. Hingga menjadi pembenaran untuk apatis dan tidak melakukan apapun. Stop mengatakan "Saya orang kecil, gak tau apa-apa. Pasrah saja".

Apapun kesulitan yang kita alami. Tidak lantas menghalangi kita tidak melakukan hal yang terbaik. Keterbatasan ekonomi seharusnya tidak membatasi siapapun mendapatkan informasi. Biasakan diri untuk peduli sekitar dan menambah wawasan.

Itu akan berguna saat kondisi seperti sekarang. Membekali diri dengan informasi yang cukup membuat kita menjadi tidak gampang panik. Memahami apa yang harus dilakukan. Dan tidak salah melangkah karena percayai hoax.

Mengubah rutinitas meski itu janggal

Meski dunia semakin hari semakin aneh. Tapi kita yang hidup digenerasi ini praktis masih dalam tarap normal. Terkhusus di Indonesia yang relatif damai.dan stabil. Termasuk tatanan sosial, ekonomi, budaya dan agama.

Mungkin kita lupa, kehidupan bisa saja berubah tanpa kita inginkan sebelumnya. Sangat mungkin sesuatu yang selama ini kita anggap janggal bahkan tidak pernah terbayang untuk dilakukan, maka disaat darurat hal-hal demikian mesti dilakukan.

Lepaskan ego diri dan sikap "kolot". Tokh ini untuk kita juga. Tanggung jawab kita semua. Jadi jangan berpikir ini hanya tugas pemerintah. Dengan dalih sudah bayar pajak, maka menyerahkan semua beban ini pada pemerintah. Itu salah.

Tugas kita mudah kok. Dirumah aja, jaga jarak dan jaga kesehatan. Gak ada tuh perintah untuk turun ke "medan  perang' dan angkat senjata. Sesungguhnya bila kini kita berperang, maka dirumahlah medan perangnya itu. Seberapa kuat kita untuk bertahan dirumah dan membatasi aktivitas. Kita berjuang dirumah untuk semua. Sementara tenaga medis berjuang melawan Covid-19 untuk kita yang ada dirumah.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

LUV LUV LUV

Popular This Week
Recent Articles
Apr 6, 2020, 1:37 AM - Deni Riyandi
Apr 5, 2020, 1:02 PM - Andria Ranti
Apr 5, 2020, 10:15 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz