Covid-19 dan Restrukturisasi Mental

Covid-19 dan Restrukturisasi Mental

Apakah terlalu jauh jika saya bicara 'restrukturisasi mental' sebagai bias lanjutan Covid-19 yang masih mendera bangsa ini? Sejumlah kebijakan publik Pemerintahan Jokowi untuk menangkal merusaknya virus ini, sejatinya adalah bentuk restrukturisasi mental yang mewujud dalam perilaku sosial. Sadarkah kita, perlahan kita telah mengubah kebudayaan kita?

Entah dalam rangka perang melawan Covid-19 atau tidak, dan memiliki dampak panjang atau tidak, yang jelas perilaku kita dalam tiga bulan terakhir ini berubah drastis. Kebiasaan yang sebelumnya kita anggap sepele, tidak penting, mendadak menjadi sebuah kewajiban. Juga perilaku yang sebelumnya selalu kita lakukan, mendadak dieliminir alais dilarang dalam konteks pencegahan meluasnya penyebaran virus. Mengamati fenomena ini, saya ingin mempertajam dan melihat dalam konteks sosio kultur. Bias sosial wabah Covid-19 ini ternyata mampu merestrukturisasi mental masyarakat kita. 

Setuju atau tidak, suka atau tidak, Pemerintah Jokowi telah melahirkan kebijakan yang mampu mengubah situasi kultural masyarakat Indonesia. Catatan saya, terlepas dalam.kondisi darurat atau tidak, sepatutnya sebuah kebijakan harus mampu membawa implikasi sosial. Menurut saya, inilah hikmah besar Covid-19. Namun kita tetap harus siaga dan tidak hilang kewaspadaan sedikitpun. Memutus mata rantai penyebaran virus, sejatinya adalah 'kerja kultural' yang terlembaga dalam.bentuk regulasi formal. 

Kita kembali pada topik restrukturisasi mental, barangkali saat ini revolusi mental benar-benar terjadi. Dimana perilaku masyarakat -sehari hari- telah berubah meski dengan satu motif; tidak ingin tertular Covid-19. Struktur perilaku kita, suka atau tidak, harus diubah. Misalnya, cuci tangan (ini soal menjaga kebersihan), jaga jarak (ini berkaitan dengan keamanan relasi sosial), hingga pembatasan jam keluar rumah (ini berkaitan dengan redefinisi makna keluarga). Semua itu adalah kerja mental yang mewujud dalam bentuk kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku.

Mental kita sebagai masyarakat yang -maaf- sering melupakan hal sepele, saat ini benar-benar didobrak. Kita pun harus memperhatikan hal-hal kecil yang --akibat pandemi ini-- akan berpengaruh pada hal besar. Covid-19 ternyata tidak sekedar bagaimana cara memutus mata rantainya namun juga bagaimana kita mengubah mentalitas kita. Himbauan bahkan kewajiban yang disertai sanksi tidak akan mempan dan berjalan baik di tengah masyarakat manakala mentalitas belum terbentuk.  

Segala kebijakan yang terkait pencegahan meluasnya Covid-19 adalah kebijakan yang menyasar mentalitas masyarakat. Tanpa kesadaran mental maka kebijakan akan menimbulkan pekerjaan baru bagi aparatur pemerintah. Sok.jaga jarak dan cuci tangan jika aparat lewat, tapi jika sendiri di rumah, nyaris kebiasaan itu tidak dilakukan. Oleh karena itu, mentalitas kita harus di -setting ulang terkait upaya pencegahan Covid-19 ini. Jika ingin selamat dan sehat, maka cara berpikir dan mental harus diubah.

Semoga kita, masyarakat Indonesia mampu merestrukturisasi mental.*



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 24, 2020, 3:20 PM - Akhmad Fauzi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma