[Cerpen] Topeng Dalam Bingkai

[Cerpen] Topeng Dalam Bingkai

Senja baru saja luruh. Anak-anak bermain riang di sebuah halaman. Seorang perempuan muda, cantik lewat di tengah kerumunan. Ia mengangguk dan menebar senyum.

“Baru pulang kerja, Ateu?” Tanya salah seorang tetangga.

Si perempuan  mengangguk, menjawab dengan suaranya yang halus. Anak perempuan yang sedang asyik bermain bola bekel tengadah, berlari mendapati bundanya pulang.

Terengah-engah ia sampai di halaman. Menunggu perempuan yang tak lain Ibunya itu memasukkan motor ke garasi rumah mungilnya yang berlantai dua.

“Bundaa..orang-orang tadi ramai mengambil uang bantuan dari Pemerintah Bund!” si anak langsung bercerita dengan suara termegap- megap.

Sang Bunda hanya melirik. Menanggalkan sepatu dan tasnya. Lalu duduk santai seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah. Ia hanya mencibirkan bibirnya yang bersemu bengkak karena gagal suntik silicon.

Huhh! Semua orang mau duit sumbangan itu. Orang kayapun  ikut-ikutan mengaku miskin. Dan aku? Bunda Mety harus ikut-ikutan juga? Shhh…mau ditaruh dimana muka ini? Perempuan itu menggerundel dalam hatinya. Rumah mungil nan asri dengan perabotan serba luks di dalamnya, gaya hidup glamour meskipun sudah hampir dua tahun diceraikan oleh lelaki kaya pengusaha property bangunan, karena ketahuan istri pertama.

Sekarang, Ia melenggang sendirian, masih belum melepaskan gaya hidup glamournya. Arisan dengan perkumpulan wanita-wanita elite, pergi ke tempat fitness dua kali seminggu, hanging out bersama teman-temannya ke tempat-tempat hiburan paling elite. Shoping ke mall-mall beken nan glamour.

Sementara, ia tetap menjalankan bisnisnya. Berdagang barang-barang yang katanya mahal dan  luks. Tas, sepatu, ikat pinggang, gaun-gaun, asesories hingga ke perkakas dapur. Pergi pagi pulang petang menenteng barang dagangan kesana kemari dengan motor atau sesekali dengan mobil temannya.

Selalu begitu. Setiap hari, tak ada waktu yang terlewatkan untuk keluar. Kerap meninggalkan dua anaknya, Raisa dan Fandi.

“Raisa…Bunda pergi dulu. Ini bekal untukmu dan Abang Fandi. Baik-baik di rumah ya!” Pagi itu Bunda Mety sudah wangi dan rapi dengan dandanannya yang berkelas. Setelah memberikan bekal pada anak bungsunya, ia bergegas ke gudang penyimpanan barang. Keluar lagi menenteng barang dagangannya.

Sementara Raisa mencangkung, menatap Bundanya yang berlalu dan bekal di tangannya. Matanya nanap meriak kelabu. Ada desah nafas yang terhempas dari mulut mungilnya.

Pulang sekolah bunyi perut Raisa seperti meneriakkan kata ‘lapaarrr!’. Ia berjalan lunglai ke dapur. Membuka tutup makanan di meja. Kosong. Raisa manyun. Bunda pulang sore. Ia terduduk di kursi mengantarkan lamunannya kemana-mana. Ke cerita kawan-kawan sekolahnya yang dapat bantuan dari pemerintah. Adi membeli sepatu baru. Mia shoping ke Departemen store. Ani membeli tas dan alat-alat tulis baru. Dan Bimo, uang jajannya hari tadi membengkak.

Lalu ia ingat masa-masa ketika masih berkumpul dengan Papanya. Hampir tiap minggu Papa mengajak Raisa dan Fandi weekend. Kuliner ke tempat-tempat mewah. Membeli makanan lezat dan mahal. Uang jajan yang selalu penuh. Hmmhh..

Bunyi kukuruyuk di perutnya semakin menjadi. Raisa teringat uang bekal sehari ini untuknya dan Fandi. Ia berjingkat, berlari mencari Fandi. Berdua mereka berjalan menuju supermart depan rumah.

Dua jam kemudian, dua bocah itu sudah pulang dengan dua kantong belanjaan yang isinya coklat, es krim, roti dan makanan-makanan ringan dan beberapa bungkus mie instand. Seperti dua orang anak yang kelaparan, mereka memakan makanan itu sambil berbisik-bisik dan cekakakan.

Begitu ulah dua anak itu setiap hari. Sebelum Bunda pulang diantarkan lelaki yang berbeda, menenteng barang dagangan kualitas kawe yang dijual dengan harga tinggi pada pembeli. Dandanan glamournya membuat para pembeli percaya jika yang didagangkannya itu barang mewah kualitas nomor satu.

Hingga suatu hari, seorang petugas security menyusul dua bocah yang selalu berbelanja ‘wahh’ itu dan membawa berita yang sangat menohok ulu hati.

“Maaf  Bu! Dua anak ini sudah kami selidiki beberapa hari ini. Mereka selalu datang dan berbelanja makanan sejumlah lima ribu perak, tapi di saku dan pinggang-pinggangnya mereka menyembunyikan barang-barang yang diambil tanpa izin dari supermart kami!”

Bunda Mety meraung bak harimau kesakitan. Dua anaknya tertunduk bak dua orang pesakitan. Air mata keduanya mengalir tanpa suara. Teringat akan jumlah bekal mereka setiap hari, perut yang selalu lapar dan kenangan manis yang selalu terbayang. Mereka tak bisa menerima rupa perih yang disembunyikan dalam topeng yang dibingkai Bundanya teramat rapi.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 21, 2020, 3:59 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:56 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:00 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:51 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:42 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:32 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:24 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:09 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 20, 2020, 11:22 PM - Ryan Putra Anugrah
About Author
Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Recent Articles