[Cerpen] Suatu Sore Di Sebuah Cafe

[Cerpen] Suatu Sore Di Sebuah Cafe

 Oleh : Ratna Ning

“Aku tengah terbuai mimpi bersama Suji. Meskipun ini mimpi yang salah”

Wanita itu, Bunda Mien, membusai saja sedari tadi. Bercerita tentang cinta terlarangnya dengan Suji, seorang lelaki paruh baya yang dikenalnya tujuh bulan lalu.

Sudah dari jam empat sore kami duduk duduk ngopi di sini. Cafe bersahaja di pinggiraan kota. Cafe yang istimewa.  Disana ada karaoke. Tempatnya di area paling depan pada pintu masuk utama. Melewati kasier lalu turun ke ruang bawah, pengunjung bisa bersantai nyanyi diiringi organ tunggal atau musik karaoke, sembari menikmati menu atau hanya sekedar minum alkohol ringan.

Ada buku buku juga, untuk yang senang membaca. Bisa bersepi sepi sambil ngopi ditemani buku beragam jenis dan judul. Terletak di bangunan tengah.

Di area paling belakang, yang aku tempati kini, cocok untuk merenung. Tanpa musik. Tanpa buku. Atau sekedar berbincang dengaan kawan. Bahkan janjian dengan kekasih.

Hampir tiap akhir pekan, aku datang ke sini. Mulanya sendirian. Merenung menghabiskan me time. Pulang ke rumah selepas maghrib.   Lalu aku kenal Bunda Mien, Lisa, Erina dan Keti. Yang terakhir itu dua pemandu lagu di bagian karaoke.

Dari sapaan  basa-basi, akhirnya kami sering bertukar tukar bualan atau hanya bersenda gurau saja untuk menghibur diri.  Pada akhirnya setelah sekian hari berlalu dan keakraban terjalin, kami malah asyik meluahkan isi hati. Tentang, kenapa kami suka pergi ke cafe ini.

Bunda Mien, seorang perempuan paruh baya. Di usianya yang hampir limapuluh tahun, ia masih terlihat gesit dan segar. Dua orang putra putrinya sudah besar. Bahkan putrinya sudah menikah dan memiliki seorang anak.

“Bunda sudah punya cucu. Seorang bocah laki-laki yang sangat tampan. Sayangnya, Nina dibawa ke tempat suaminya di Jawa Tengaah sana.  Jarak yang jauh membuat kami jadi jarang bertemu. Padahal Bunda ingin mengasuh cucu. Rumah mungkin tak akan terasa sepi. Nandi,  belum menikah, tapi dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jarang pulang juga...” ceritanya pertama kali saat berjumpa denganku di cafe ini.

Bunda Mien selalu menunggu Suji, lelaki paruh baya yang digandrunginya. Sudah tujuh bulan Ia dekat dengan lelaki itu. Seorang duda dengan dandanan perlente dan gayanya yang, menurutku norak dan sok pamer.

Pernah sekali kami duduk berbincang.  Dari kesan pertama aku melihat Suji, aku sudah dapat menilai seperti apa lelaki itu. Gayanya tengil untuk lelaki seusianya.  Umur 53 tahun tapi cara berdandan masih seperti  lelaki belasan taun yang baru pertama puber. Cara bicaranya? Pun seperti  pria belum mapan yang sedang alay-alaynya.

“Bunda...Bunda itu satu satunya wanita cantik yang saya cinta. Banyak sih perempuan lain yang suka sama  saya. Mengajak saya  jalan, bahkan  ada yang minta  dinikahi.  Siapa   sih yang  tidak  mau  saya  nikahi?  Saya  laki-lak i mapan, punya  penghasilan  besar, mereka tidak akan susah  hidup dengan saya. Saya bisa menjamin kehidupan mereka dan keluarganya. Makanya  mereka berebut menginginkan saya. Tapi hati saya sudah terpaut pada Bunda. Bunda besar hati bisa dicintai saya” katanya merayu Bunda Mien dengan gayanya yang  sok ganteng.

Ketika Suji selesai berkata-kata, aku merasa ulu hatiku enek. Tiba tiba saja ingin muntah. Heran, kenapa Bunda Mien sampai tergila-gila dengan lelaki seperti itu? Gayanya yang selalu tebar pesona dan narsis,  membuatku mules di kesan pertama.

“Mbak, sahabatnya Bunda?” Suji mengalihkan perhatian padaku. Aku mengangguk dengan mimik tak acuh. Kureguk white coffe dalam regukan terakhir.

“Ohh baguslah. Titip Bunda untukku ya? Tolong ingatkan dia jika larak lirik pada laki-laki lainnya” Bicara begitu ia melirik Bunda Mien dengan tatapan yang nakal. Dan itu berhasil  membuat  Bunda  Mien tersipu. Olala...mungkin  gaya alay seperti itu yang membuat Bunda Mien tergila-gila hingga mengabaikan suaminya?  Suami yang sudah puluhan tahun setia menemaninya dalam biduk rumah tangga? Aku bergedik.

Di kesempatan terakhir perjumpaanku dengan Bunda Mien dan Suji, laki-laki itu dengan percaya dirinya meminta nomor handphoneku.

Itu dua bulan yang lalu. Semenjak itu aku tak pernah lagi melihat Suji menemui Bunda Mien di cafe Ini. Bunda Mien masih sering ke cafe , setiap sore pada akhir pekan, seorang diri. Seperti sekarang ini, hanya berbusa busa saja meluahkan cerita hatinya padaku.

“Suji  itu kampret. Otaknya cetek. Dia berkata hanya aku yang dia cinta. Bunda terbuai dengan  bujuk  rayunya, hingga hati Bunda tertambat dan jujur tak bisa melepaskannya  begitu saja. Meski  Bunda  tahu,  ia  tak lebih lelaki tukang menyebar gombal butut dimana mana. Ternyata bukan hanya Bunda yang dirayunya. Banyak perempuan lain yang juga dijanjikan mimpi manis olehnya...”

Aku tersenyum  kecil.  Suji  juga  seringkali merayuku, bahkan nekat menemuiku pada  suatu hari. Tapi  berhasil pula  aku  maki maki sebagai lelaki yang gagal bercermin. Aku katakan, mukanya sudah seperti kodok bancet yang tertanam di lumpur dan menginginkanku?  Hilap dalam bermimpipun aku akan cepat cepat tersadar. Dia pikir dia lelaki keren dari abad mana? Menyebar rayuan dengan begitu percaya dirinya tanpa melihat status perempuan yang dirayunya.

“Jika sudah tahu begitu, kenapa Bunda masih juga mencarinya? Masih juga menunggunya?” Tanyaku memberanikan diri. Bunda Mien tersenyum.

“Entahlah, semua itu Bunda juga tak mengerti. Padahal hubungan Bunda sama Ayahnya  anak-anak  belum berakhir. Kami masih serumah. Tapi ada hal yang membuat kami  sudah tidak  singkron lagi  semenjak  lama. Lalu  datang  Suji dalam  kehampaan  hidup  Bunda. Dan Bunda tak munafik, bunda menyukainya.  Ini urusan hati. Entah      sampai kapan hati Bunda akan tertambat pada Suji. ” mata Bunda Mien menerawang           ke kejauhan. Asap rokok yang mengepul dari bibirnya semakin pekat dan semakin kerap     dia isap. Seakan ingin menghilangkan semua kegundahan bersama asap yang keluar dan beterbangan entah kemana.

Sampai disini akupun terdiam. Ikut tercenung. Obrolan dengan perempuan-perempuan yang kuakrabi di cafe ini membuatku makin kabur dalam pencarian.       Pencarian dari suatu kehilangan. Di sini aku juga mengenal Lisa. Perempuan lain yang     juga kerap menghabiskan kopi dan berbatang-batang rokoknya, sembari terus       memantengi hapenya. Melayani chat dan vidio call dari lelaki-lelaki yang dikenalnya. Membuat janji janji palsu yang tidak dijabaninya.

“Mereka hanya untuk hiburan saja. Banyak yang menyukaiku.  Bahkan ada yang nekat ingin menikahiku. Aku ingin berlari mbak, pergi dengan laki-laki lain itu. Laki-laki yang benar-benar menyayangiku tanpa harus membagi cinta pada yang lainnya. Tapi     hatiku tak bisa pergi.  Meski Mas Heri mengkhianatiku, tapi pada akhirnya ia akan      kembali datang, datang dan menguasaiku. Untuk kemudian dia pergi lagi ke pelukan     wanita lainnya.”

Dan begitulah! Lisa seakan ingin menghindari kenyataan. Membuat pelarian-   pelarian dengan lelaki-lelaki  yang Cuma dimodusinya atau sebaliknya.

“Banyak kok yang suka padaku Mbak. Ada pengusaha, aparat negara, manager perusahaan, bujangan, suami orang. Kalau aku mau, aku sudah lama pergi dengan salaah satunya. Ada yang begitu tulus ingin membawaku...”

Aku terkekeh. Bodoh! Bagaimana ia bisa seyakin itu pada lelaki-lelaki yang katanya mencintainya? Sementara bertemupun belum? Haii..apa tidak sebaliknya? Mungkin        lelaki-lelaki  itu  malah lebih parah dari suaminya?

Erina dan Keti. Dua orang perempuan yang sebenarnya tak tergolong belia untuk menjadi seorang pemandu lagu. Mereka juga  mencoba lari dari para kekasihnya yang      over protektive. Bahkan Keti, sudah bukan sekali dua Kekasihnya datang menjemput         dan seringkali itu pula keributan terjadi di tempat itu.

***

Sore ini, aku duduk duduk lagi di cafe ini. Di depanku, Bunda Mien sedang asyik mengutak atik handphonenya. White coffe di depan kami sudah tak mengepulkan lagi asap. Dingin sejak tadi. Sejak Erina pergi meninggalkan kami dengan muka keruh.

“Aku akan bercerai dengan suamiku! Dia tak mempertahanku ketika kukirimkan permintaan cerai kali ini!”

Aku tercenung. Jelas terlihat ada kekacauan pada air mukanya. Aku tahu jauh di lubuk hatinya, Erina masih sangat cinta pada suaminya.  Tapi permintaan cerai itu        berkali-kali ia lakukan dan berkali-kali pula suaminya mempertahankan. Untuk kali ini, mungkin suaminya sudah terlalu bosan untuk bertahan.

Ahh! Sungguh ironis. Semua karena besarnya ego dan keinginan yang berlebihan dari suatu mimpi sempurna  dan  berkembang di hati. Bunda Mien, Ketti, Lisa, Erina...dan aku. Mimpi mimpi tentang pasangan ideal sesuai tuntutan hati.  Semuanya terlalu dipaksakan untuk sempurna.

Aku  ingat suamiku. Suami yang masabodoh, penyendiri dan dingin. Suami yang menginginkan aku manut saja dengan sikapnya. Tanpa harus protes . Sekian lama    pernikahan kami, nyaris tak ada hiburan, jalan-jalan akhir pekan dengan anak-anak.      Waktu dia hanya kerja, kerja dan kerja. Dia tak banyak omong, tak banyak ulah dan        selalu asyik dengaan kesendiriannya. Dia yang tak pernah bertanya jika aku pergi atau menghilang sekalipun. Semuanya ia anggap biasa-biasa. Tak pernah ada pertengkaran    dalam rumah tangga kami. Semua mengalir datar tanpa ekspresi. Dan aku...aku merasa   jenuh dengan semua itu. Aku mencoba berlari mencari kesenangaan lalu mulai    memimpikan hal lain.

Aku melihat kehancuran itu di depan mata. Dan aku tak menginginkan itu. Bagaimanapun, dia ayah yang baik dan sayang pada anak-anaknya. Kerja keras yang ia lakukan adalah semata agar anak istrinya tak berkesusahan. Aku tahu ketika aku pergi seorang diri, dia yang menggantikanku mengeloni dan mengasuh si kecil. Semua dilakukannya tanpa protes.

Aku rindu pulang. Tiba-tiba saja, setelah sekian lama, aku rindu  melihat wajah datar suamiku. ***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma