[CERPEN] Sisi Hatiku yang tak Kau Sentuh

[CERPEN] Sisi Hatiku yang tak Kau Sentuh

SESEORANG

Angin menghembus pelan. Membuat kaleng-kaleng bekas susu yang sudah karatan lagi berserakan itu berklonthangan. Dingin yang merambah tubuhnya semakin membuat rasa lapar semakin menjadi. Gilingan asam  klorida dalam dinding lambungnya semakin membuat perih. Mencoba berbaring dalam lembaran tikar yang sudah ambrol. Mencoba lupakan rasa laparnya. Rasa lapar itu tak pernah ada hujamnya dalam hati. Tapi ternyata kalimat itu tak sanggup membohongi lambung yang sudah semakin terluka. Dia sudah lupa kapan terakhir kali ia makan. Hanya air dari keran yang berkarat itu membasahi kerongkongan sekedar menggelembungkan lambungnya.

Ia kini berjalan dengan langkah gontai keluar dari gubuk sempit nan lembab itu.Mencari sisa makanan yang terbuang dalam lorong-lorong sampah. Bukan terbuang tapi memang sudah dibuang. Orang-orang yang berjalan memandang jijik pada lelaki berambut gondrong kumal dengan hem putih yang tak putih lagi. Celana bahan hitam yang dulu adalah celana paling mahal di kantornya dirancang oleh perancang terkenal kelas dunia kini sudah lusuh. Sangat lusuh.

Beberapa bulan yang lalu. Ia dibuang oleh istri bejatnya. Camelia yang selalu ia panggil dengan sebutan Lia manisku. Lia sukses menghilangkan sebagian ingatan Ito. Membuangnya ke jalanan tanpa bekal apapun. Bahkan namanya sendiripun Ito tak ingat. Lia membisikkan berita palsu pada semua orang. Ito mati karena kecelakaan. Jasadnya terbakar tak bersisa. Ia membuat semua seakan benar. Sekian lama Ito tak terdeteksi.

Berjalan lagi dari tong sampah ke tong sampah. Sungguh malang nian nasibnya tong-tong sampah itupun telah bersih isinya terangkut bak truk yang besar itu. Orang-orang yang berlalu lalang acuh tak acuh melihatnya. Dari tukang becak hingga mereka yang melaju dengan mobil alus berlalu tanpa dengar suara hati mereka.

Tak menemukan apapun yang bisa ia makan Ia lalu duduk di trotoar jalan depan sebuah toko jahit mungil. Cahaya matahari mulai surut. Tenggelam di kaki langit bersama terbangnya beberapa burung. Pulang ke sarangnya. Lampu-lampu jalan  mulai hidup, Lampu emperan toko juga  mobil-mobil. Swalayan besar di samping toko jahitan itupun ramai penuh. Tanggal muda. Banyak yang gajian. Banyak yang belanja bulanan.  Seorang ibu paruh baya menenteng beberapa tas plastik berisi penuh belanjaanya berserta anak lelaki balita yang kelihatannya sangat walat. Masih berdiri di depan swalayan menunggu taksi. Anak balita itu berlarian mendekati Ito yang masih duduk di depan toko jahitan. Anak balita itu hendak memberikan roti yang masih rapi terbungkus itu untuk Ito.

“Husshhh.. Dony sini kamu. Jangan dekat-dekat. Itu orang gila nanti kamu bisa diculik”

“Diculik.. apa orang gila itu bisa jahat ma..?”.

Ito mendengar jelas apa yang dikatakan wanita paruh baya itu. Sakit hati. Ah sakit hati tak pernah ada. Hujamnya lagi dalam hati. Suara lalu lalang kendaraan, bunyi klakson dan suara radio RRI yang disetel tukang becak yang sudah beruban itu dan suara-suara lain adalah seribu suara yang menutupi satu suara kecil perut Ito yang sedari tadi terus berkeroncong ria. Tak ada yang peduli.

Dua wanita muda berjalan entah ke- mana urung berjalan di trotoar depan toko jahitan.

“Aduh ada orang gila”

“Iya jangan lewat sini..”

“Hey.. kamu jangan lari. Nanti kamu dikejar. Pelan-pelan saja jalannya”

Ito lantas berjalan lagi. Dengan langkah gontai ia menyusuri jalan. Sesekali ia dikagetkan suara klakson mobil-mobil itu. Anjing-anjing buas penjaga rumah mewah itu menggonggong dengan ganasnya. Ia duduk di taman kota. Cahaya remang-remang. Tempat duduk itu dipenuhi orang-orang pacaran. Aroma wedang ronde dan bakaran sate ayam semakin menusuk-nusuk ulu hati. Ia duduk tanpa peduli tatapan aneh yang terjurus ke arahnya.

Ada seorang wanita duduk sendiri di kursi besi panjang berukir bunga-bunga. Mengenakan jaket warna hitam kekuningan karena tertimpa cahaya lampu warna kuning. Berkali-kali melihat jam yang terpasang di tangan kirinya. Mengambil hand phone dari tasnya lantas memasukkan lagi dalam tasnya berulang-ulang. Ito mengamati beberapa pengunjung yang duduk-duduk itu. Saat itulah ia merasa lebih baik daripada mereka, setidaknya ia tidak melakukan ciuman dengan yang belum menjadi miliknya di depan umum. Malam-malam saat cahaya lampu remang-remang warna kuning. Membuat dedaunan pohon yang tertimpa cahaya itu berkilat kuning.

Ia memperhatikan gerak-gerik aneh seorang lelaki berbadan besar dan kekar. Meskipun cahaya remang-remang Ito masih bisa melihat beberapa gambar tato di lengan dan tengkuknya. Ito sudah tak asing lagi dengan wajahnya.  Pria bertato itu melihat dengan pandangan menyelidik ke seluruh penjuru taman. Tatapan matanya berhenti pada seorang wanita yang tengah duduk di kursi besi panjang berukir bunga-bunga. Tatapan mata yang puas. Laiknya kucing menemukan ikan asin. Ito tahu akan terjadi sesuatu pada wanita itu. Ito masih duduk dengan santainya, sambil terus merasakan siksaan aroma ronde dan bakaran sate ayam yang membuat keroncongan dalam perutnya semakin menjadi.

Pria bertato itu mendekati wanita yang duduk sendiri itu.

“Malam-malam duduk sendiri?”. Sembari duduk di sampingnya. Wanita itu hanya diam. Mencium aroma niat tak baik darinya.

“Ditanya kok diam?”

“Maaf saya sedang tak ingin diganggu. Anda bisa duduk di kursi lain. Masih banyak kursi yang kosong”

“Mbak sendiri saya juga sendiri. Kenapa tidak duduk saling melengkapi saja?”

Pelan-pelan pria bertato itu  mengeluarkan sapu tangan yang sudah terbubuhi obat bius. Satu adegan lagi pria bertato itu akan membuat wanita itu jatuh pingsan lantas mengambil tas yang ada di genggamannya. Tapi sebelum adegan itu terjadi. Sebuah batu sudah melayang mengenai tangannya. Sapu tangan itu jatuh.

“Sial!!! Dari mana asalnya benda ini”.  Ito tersenyum setengah bibir. Berhasil ucapnya dalam hati. Wanita itu merasakan ada yang tidak beres. Ia lalu beranjak dari duduknya. Sebelum ia bangkit Pria itu dengan cepat menggenggam tangannya.

“Lepaskan!!!!”

“Tolong..tolong..” semua orang menoleh tapi tak ada yang berani menolong wanita itu. Semua pengunjung taman itu tahu. Ia preman yang paling ditakuti di daerah ini.

“Serahkan tasmu”

“Tidak..”

“Ploookkk..”sebuah tamparan keras mengenainya pipinya.

“Sial!!! Berani-beraninya kau tampar aku orang gila” Ito berdiri tepat di samping pria itu. tersenyum puas. Telapak tangan pria itu terangkat, hendak membalas tamparan Ito. Tapi ternyata gerakan Ito lebih cepat. Kini malah tangan pria itu dicengkeram erat oleh Ito. Tapi teryata pria itu lebih kuat. Tangannya bisa lepas dari  cengkraman tangan Ito.  Lepas.  Melakukan perlawanan.

“Plak…plok…plak..plok..” mereka berdua saling memukul. Wanita itu hanya berteriak histeris. Pisaunya mengenai lengan Ito. Berdarah. Lagi-lagi Ito hanya meringis, menahan perih

“Achhhhh….” Wanita itu lagi-lagi berteriak. Seorang lelaki datang dengan motor.

“Mike…. Cepet ke sini…” lelaki itu masih memarkirkan motornya. Melintang di tengah jalan.

Eh.. ternyata pria yang baru datang itu adalah bosnya para preman. Terang saja pria bertato itu lari terbirit-birit setelah tubuhnya babak belur dihajar bosnya para preman. Bos preman dan wanita itu kini berlalu dari cahaya remang-remang taman kota. Ito lagi-lagi hanya tersenyum separuh bibir. Menahan perih. Tak ada kata terimakasih. Ah kata terimakasih tak pernah ada. Hujamnya dalam hati.

Lengannya banyak keluar darah. Beberapa orang yang berlalu lalang malah melihat Ito jijik.

Tapi ada seorang wanita datang. Wajahnya biasa. Sangat biasa. Tapi melihatnya menyejukkan. Sangat menyejukkan. Ia melihat Ito dengan rasa iba. Mendekatinya.

“Kau baik-baik saja? Oh.. lenganmu berdarah… ya Tuhan.. dalam sekali lukannya ” Ito tertegun. Setelah sekian lama. Inilah pertama kalinya ia disentuh oleh manusia dengan lembut. Wanita berwajah teduh itu membersihkan lukanya dengan peralatan seadanya. Pergi ke mini market dekat taman membeli obat antiseptik dan juga plaster. Wajah itu tersenyum pada Ito. Untuk pertama kalinya juga setelah berbulan-bulan yang lalu Ito tersenyum dengan tampannya. Setelah itu sate ayam dan wedang ronde panas mampir di lidahnya.

“Rasa sayang itu ada, rasa peduli itu ada, rasa lapar itu ada..” ia berbisik. Wanita itu melihatnya heran. Ternyata dia bisa bicara.

“Terimakasih..”

“Hahahahahha… terimakasih Tuhan,… hahhahaha”



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma