[Cerpen] Kucing Gagah yang Malang

[Cerpen] Kucing Gagah yang Malang

Pernah ada sebuah cerita nyata, dari pelosok desa purbalingga. Cerita tentang kucing gagah yang malang. Mati ia karena tersiram minyak goreng yang panas.

Seekor kucing jantan berbelang hitam. Dengan pandangan mata tajam yang cemerlang, namun kisah hidupnya tak secemerlang matanya yang indah.

Nyawanya melayang karena tak ada satu orangpun dokter hewan di desa itu. Karena semua orang menganggapnya wajar sebuah kematian binatang. Tanpa perlu kita repot ke sana ke mari untuk sekedar mempertahankan sebuah kehidupan dari mahluk yang bernyawa. Karena untuk mempertahankan kehidupan manusia saja mereka harus berjibaku dengan peluh-peluh kerasnya kehidupan.

Sebut saja si belang namanya, ia kucing liar yang senang kesana kemari mencari makan di sekitar pemukiman warga desa itu. Suatu ketika ada warga yang baik hati dan tertarik dengan kesempurnaan fisik kucing belang itu.

Ia bawa kucing jantan itu ke rumah. Sepasang suami istri yang ketiga anaknya merantau ke kota metropolitan. Suaminya seorang buruh bangunan, istrinya seorang yang bekerja membuat berbagai makanan tradisional. Diperlakukannya dengan baik si kucing belang itu.

Setiap hari ibu itu belikan sekeranjang ikan segar dari pasar untuk si belang seorang. Ia ijinkan kucing itu tidur di kasur-kasur yang kosong atau sofa ruang tamu rumahnya yang sederhana.

Ada sebuah kejadian menyentuh yang aku dengar dari kisah si belang dan ibu itu. Sebut saja namanya ibu hasanah. Setiap ibu hasanah pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, si kucing belang itu akan pergi mengikutinya ke masjid. Menunggunya sampai ibu hasanah selesai sholat.

Setelah selesai ia akan pulang bersama-sama ibu hasanah. Kejadian itu sering dilakukan si kucing selama tinggal di rumah ibu hasanah.

Hal menakjubkan yang lain adalah kucing itu tak pernah mau buang air di rumah ibu hasanah. Seolah dia tak mau membuat rumah ibu itu kotor. Setiap ia buang air ia akan ke luar rumah mencari pasir atau tanah. Lalu ia kubur kotoran-kotoran itu dengan pasir atau tanah tersebut.

Aku pernah melihatnya sendiri. Karena rumahku tak begitu jauh dari rumah ibu hasanah. Sungguh berbeda sekali dengan kucing liar yang ku pelihara yang selalu buang air sembarangan di teras rumahku.

Kucing belang itu sungguh seolah mempunyai rasa terima kasih dan balas budi yang tinggi kepada yang memberinya makan dan tempat tinggal. Hingga ia berbuat baik dan tidak ingin membuat tuannya marah.

Hari demi hari badan si belang semakin gagah dan bersih, terlihat sehat dan sangat menyenangkan orang yang memandangnya. Berbeda sekali saat dia belum dipelihara oleh ibu hasanah.

Namun, suatu ketika ada kejadiaan naas yang membuat fisiknya semakin hari kurus kering lalu mati tak terselamatkan. Kejadian itu terjadi saat si kucing tak sengaja menyenggol wajan bekas memasak di dapur ibu hasanah. Wajannya masih panas dan di dalammya masih ada minyak goreng yang panas.

Saat itu ibu hasanah tak berada di rumahnya. Si kucing pergi ke dapur untuk mencari jatah makannya di sana. Namun ia tak menemukan apapun, malah tubuhnya kepanasan tersiram minyak goreng yang panas.

Minyak panas itu membuat bulu-bulu lembutnya rusak. Malah meninggalkan sebuah luka yang cukup lebar di badannya, seperti rambut botak.

Setiap hari kucing malang itu menahan kesakitan bahkan jalannya terlihat pincang. Dan tampaknya lukanya dibiarkan begitu saja, mungkin karena bingung mencari obat kucing. Karena obat kucing berbeda dengan obat manusia, salah memberi obat tentunya akan lebih berakibat fatal.

Ibu hasanah hanya merawat luka si belang dengan ala kadarnya. Semakin hari  tubuh si kucing yang gagah itu semakin kurus kering. Kegagahan dan ketampanan kucing itu mulai hilang tak lagi sedap dipandang. Hanya ada rasa iba jika aku tak sengaja melihatnya melintas di depan rumah ibu hasanah.

Semakin hari fisiknya semakin melemah dan akhirnya ia  tak bisa ia pergi ke manapun seperti dulu kala. Lalu sosok si gagah tak pernah aku jumpai lagi setiap kali aku lewat di depan rumah ibu hasanah. Suatu ketika pernah aku bertanya kepada ibuku kemana kucing milik ibu hasanah. Kata ibuku kucing itu sudah mati.

Kini tak ada lagi seekor kucing yang dengan senang hati berlari-lari kecil mengantar ibu hasanah pulang dan pergi ke masjid. Tak ada lagi si gagah yang selalu duduk meringkuk di sofa milik ibu hasanah.

Tak ada lagi si mata tajam cemerlang yang selalu berada di depan rumah ibu hasanah, bak seorang penjaga yang siap sedia menjaga dan mengamankan rumahnya dengan tulus ikhlas.

Tak ada lagi si belang yang menjadi teman di kala tak ada seorangpun yang mau menemaninya untuk bercengkrama, mengisi kosongnya hari.

Andai dokter hewan tak berada jauh berjam-jam dari desa itu. Andai nyawa seekor kucing berharga seperti nyawa anak-anaknya. Tentu ibu itu akan sekuat tenaga untuk mempertahankan sebuah kehidupan dari seekor kucing.

Namun seekor kucing hanyalah seekor kucing. Jika ia mati semua akan menganggapnya wajar, tak ada air mata. Tak ada duka penyesalan. Karena bagi mereka nyawa seekor kucing tak ada harganya.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

content writer dari purbalingga jawa tengah

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Feb 20, 2020, 11:50 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma