[Cerpen] Ketika Srikandi Menangis

[Cerpen] Ketika Srikandi Menangis

Srikandi! Seperti namanya, Ia sangat menyukai tokoh perempuan kstaria dalam kisah pewayangan. Sejak kelas satu SMP Srikandi telah menamatkan berulang-ulang buku Mahabarata yang dipinjamnya dari Shinta, teman ia, putri dari Guru Sejarahnya. Temannya itu  masih berketurunan ningrat.

Lain lagi yang dikisahkan Bapak tentang nama yang diberikan pada Srikandi. Bapak ingin anak putrinya tumbuh menjadi pribadi yang berjiwa ksatria. Meski Ia poerempuan., Bapak ingin Srikandi jadi gadis yang mandiri, tegar, tidak cengeng dan selalu berlaku jujur dalam hidupnya.

Memang Bapak sebelumnya sangat terobsesi sekali anak pertamanya itu terlahir laki-laki. Ia mengharapkan anaknya bisa di ajaknya ke sawah. Diajarkannya bertanam padi dan palawija ,satu-satunya  mata pencaharian yang menghidupi keluarganya. Pak Wamin berharap, kelak anak sulungnya itu yang akan meneruskannya menjadi petani handal yang pandai mengurus sawah-sawah dan kebun miliknya.

Tapi apa hendak dikata, ketika takdir berkehendak lain. Anak pertamanya itu terlahir sebagai seorang perempuan. Bayi mungil yang berperawakan keras dengan kulitnya yang memerah. Namun begitu, Pak Wamin tetap memperlakukan dan mendidik Sri seperti  laki-laki.

Sedari kecil, Sri memang dekat dengan Bapak. Subuh-subuh, jika  mandi, Bapak akan menggendongnya ke kali. Mengajaknya berenang di tengah lubuk yang dalam.

“Biar badanmu keras. Meskipun kau perempuan, kau jangan lembek Sri!” begitu selalu Bapak berkata pada Sri.

Meskipun dekat dengan Bapak. Bukan berarti Sri di manja oleh Bapak. Seringkali Sri kecil menangis mengadu jika teman-teman lelakinya membully di sekolah. Seperti kebanyakan anak perempuan lain, Sri ingin Bapak membelanya. Setidaknya seperti Bapak Kanti, mencegat anak-anak lelaki nakal itu dan memarahinya.

Tapi itu tidak Bapak lakukan. Bapak malah balik menghardik Sri untuk tidak cengeng dan selalu mengadu.

“Kalau berani, lawan. Teman-teman lelakimu itu sama sepertimu. Makan nasi, bukan makan beton. Cuma jenis kelamin saja yang beda, apa masalahnya? Kalau kamu merasa tertindas, lawan sampai tidak mampu melawan. Kalau tidak berani, ya diam!” ajar Bapak selalu.

Bapak juga tak segan-segan menjatuhkan tangannya jika Sri melakukan kesalahan fatal. Bukan sekali dua, Sri kecil selalu mandi dan main di sungai hingga lupa waktu mengaji. Bapak biasanya akan turun menyusulnya dengan membawa beberapa batang lidi. Sri akan terkena pukulan di kakinya beberapa kali. Sampai Sri berkata “Ampun!” Sri masih bisa merasakaan perih ceprertan sapu lidi itu di kakinya.

Didikan Bapak lainnya tentang laki-laki. Pernah Bapak memarahi Sri yang beranjak dewasa, ketika Sri menerima dua pria sekaligus untuk di pacarinya. Hanya dengan alasan, kedua pria itu sama-sama berjauhan tempat tinggalnya.

“Kau ini mau jadi apa? Perempuan sok laku tukang mempermainkan laki-laki? Cuihh, cantikpun tidak! Bapak ini laki-laki; Bapak tidak mau Kau mempermainkan laki-laki. Putuskan salah satu dari laki-laki itu!” Marah Bapak saat itu. Dan Ia membuang dengaan kasar, buah apel pemberian  pacar Sri.

Srikandi, perempuan tegar yang juga merasa harus pasrah menerima takdirnya. Saat Bapak memaksanya menikah dengan Pria yang menyatakan niat baik untuk melamarnya, di pertemuan pertama  datang  ke rumah.

“Bapak sudah tanya dia. Dia bilang ingin serius menjalin hubungan denganmu Sri. Malah dia ingin menikahimu secepatnya. Bapak tidak ingin kau menunggu sesuatu yang belum pasti. Sekolahmu sudah selesai. Jodohmu juga sudah tiba. Tunggu apalagi? Kamu harus menikah dengannya!” omongan Bapak itu seperti perintah yang tidak bisa di bantah.

Sri menikah dengan lelaki yang tak di cintainya. Lelaki yang dikehendaki Bapaknya hanya karena pertanyaan siap di perjumpaan pertama. Sri memang tidak bisa membantah Bapak. Sekali pernah Ia melawan pada Bapak. Dan omongan Bapak selalu saja bernada kutukan dan hujatan.

“Kau ini Bapak sekolahkan sampai SMA. Bapakmu ini hanyalah orang tua bodoh yang sekolah saja hanya sekolah tengkurep. Tapi itu bukan berarti karena kau pintar, kau bisa melawan pada orangtua. Ingat Sri, pundak itu, bagaimanapun tingginya, dia tetap tak akan bisa lebih tinggi dari kepala!”

Sejak itu Sri tak mau membantah lagi pada Bapak. Kekesalan dan ketaksetujuannya tentang apapun dari Bapak, hanya disimpannya saja dalam hati. Sri takut. Sri tidak ingin durhaka.

***

Srikandi, seperti namanya. Ia seorang perempuan bersifat kstaria. Yang berani, mandiri dan tegar.  Ditambah dengaan ketabahan dan sikap nrimo akibat didikan keras yang lebih menyerupai tekanan. Tekanan yang berlangsung bertahun-tahun, dari ia kecil hingga dewasa. Hingga membuat Sri selalu berusaha menerima, suka atau tidak suka, berlegowo atau terkadang memasabodohkan semua.

Suami pilihan Bapak, seorang lelaki yang tampan. Dengan tubuh tinggi semampai, hidung mancung dan kulitnya yang bersih, ia memang tak seperti pemuda desa lainnya. Tenaganya memang kuat. Tapi sayang, ia lebih memilih menjadi karyawan daripada meneruskan mengolah sawah atau menjadikannya pekerjaan sampingan di sela-sela libur kerja.

Yadi, tidak bisa memegang dua pekerjaan. Ia lurus di pekerjaan  yang satu. Untuk itu, Srikandi lah yang mengurus sawah pemberian Bapak.

“Kalau tidak menerima tawaran  mengolah sawah dari Bapak, kita susah makan Kang. Membeli beras itu repot. Apalagi kalau harganya sedang melambung. Gaji karyawan rendahan tak begitu besar. Habis lagi untuk ongkos sehari-hari pergi ke pabrik, belum lagi rokokmu. Kopi. Biaya anak-anak dan hidup sehari-hari, aku harus setengah mati mengirit. Kalau ditambah dengan membeli beras, susah kita”

“Ya sudah, kau urus sajalah. Kau kan di rumah hanya ngurus anak. Waktumu lebih banyak. Anak satu bisa kau titip pada Ibu jika sesekali pergi ke sawah. Toh tidak harus pergi setiap hari seperti aku kerja di Pabrik...” jawab Yadi dengan tak acuh.

Kalau suaminya sudah berbicara seperti itu, lagi-lagi Sri tidak bisa berbuat apa-apa. Sri mengerjakaan semuanya. Ke sawah, ke ladang, mempersiapkan sarapan suami dan anak-anak, membasuh baju dan pekerjaan rumah lainnya. Waktu duapuluh empat jam rasanya tidak cukup. Dan sri selalu merasakan kelelahan yang teramat sangat di malam harinya.

Itu di tahun ke sembilan kehidupan rumah tangganya. Dengan dua orang anak yang masih merepotkan. Si sulung delapan tahun dan yang bungsu berusia enam tahun.

 

Di tahun ke sepuluh, saat Dwi, anak bungsunya,  mulai masuk Sekolah Dasar, Sri baru saja menyelesaikan rumah kecil mereka. Dari hasil tiga periode panen di tambah tabungannya, Sri bisa membangun rumah permanen meskipun tak begitu besar.

Yadi mulai bertingkah aneh. Ia sering keluar rumah. Sering pergi mancing dengan teman-temannya. Bergaul menghabiskan waktu dengaan hal-hal yang kurang berguna.

Semula, Sri memilih untuk diam. Dan berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Diam dengan menyimpan kemarahan. Di rumah mereka terjadi perang dingin. Itu berlangsung lama. Hingga akhirnya, Yadi meninggalkan rumah.

Bapak marah. Seperti biasa, ia mengeluarkan kata-kata keras dan kurang pantas. Tapi Sri tak membantahnya. Mukanya datar saja menelan semua perkataan Bapak. Tak ada riak kesedihan atau sebaliknya. Wajah yang keras dan tanpa ekspresi. Jikapun wajah itu seperti batu, kekerasan yang tampak dipermukaan itu menyembunyikan betul-betul segala borok yang gerowong di dalamnya.

 Tiga hari kemudian Yadi datang bersama Bapak. Sri sedang melipat baju di tengah rumah. Sembari menikmati secawan sepi yang sudah lama menjadi minumaan favouritenya. Kesepiaan yang hangat, seperti segelas air jahe dalam regukan saat hujan mengguyur sore. Seperti hari itu.

“Sri, Bapak mau bicara. Yadi juga. Ada yang harus dibetulkan!” kata Bapak sembari duduk di sofa. Sri diam-diam saja dengan kegiatannya melipat baju. Seperti tak mendengar bapak bicara.

“Sri...duduk di sini! Bapak mau bicara!” Suara Bapak menggelegar. Suara yang biasanya menerbitkan rasa takut yang teramat sangat. Tapi kali ini Sri tetap tak acuh seolah tak mendengar apapun. Ia tetap  anteng melipat baju.

“Sriii...keterlaluan kauuu!” Bapak meradang. Tiba-tiba saja berdiri. Satu tangannya terbuka, sekilat saja tangan itu hendak jatuh ke pipi Sri. Tapi Sri berdiri, mundur dan...menahan tangan Bapak.

“Cukup Pak!” Tatap Sri tajam menantang tatap Bapak. Meski sedikit berkaca. “Apa yang harus dibetulkan? Ada apa dengan Sri? Sri tidak melakukan apapun....”

“Keras kepala. Ada yang harus dibetulkan. Kamu mau diuruskaan sama orangtua. Kamu salah...”suara Bapak keras.

“Salah? Salah Sri dimana? Pak, kalau Sri selingkuh, itu salah! Bapak tak perlu capek-capek menguruskan dan meluruskan. Seret saja Sri ke lapang. Tanam hidup-hidup, lempari oleh batu sekalian. Bapak boleh panggil orang-orang sekampung untuk merajam Sri...”Sri balas berteriak. “Sri tidak salah Pak! Sri tidak salah. Sri hanya menuntut hak Sri sebagai istri. Kang Yadi malah mentalak Sri dan memilih keluar! Sri sakit Pak...!” Kali ini Suara Sri gemetar.

Tangisnya benar-benar pecah diiringi geluyur hujan.

***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma