[CERPEN] Gua Sarang Burung

[CERPEN] Gua Sarang Burung

Di tengah malam.

Aku berlari terpontang panting menembus belantara. Terengah-engah di antara kerimbunan pepohonan. Tidak berhenti sekalipun sudah mencapai kampung. Terus bersicepat di jalanan yang sepi menuju rumah pak Dulah.

Pak Dulah masih belum tidur bersama beberapa orang di rumahnya. Seperti sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Dan yang ditunggu ternyata adalah aku.

Bukan terkejut atau penasaran, mereka seperti sudah paham apa yang terjadi hanya dengan melihat kedatanganku atau mungkin setelah melihat keadaanku.

Dalam waktu singkat dengan tanpa banyak bicara serombongan orang beranjak pergi ke bukit-bukit batu di sebelah barat desa. Kepergian mereka adalah suatu misi penyelamatan. Yaitu menyelamatkan Habib dan kawan-kawannya.

**

Malam sebelumnya.

Sebuah ketukan saja. Lalu disusul beberapa ketukan lagi membuatku beranjak menarik pintu yang berderit. Sebuah raut wajah yang kukenal dan juga seluruh kampung kenal. Pak Dulah, Kepala dusun sekaligus pengusaha sukses kelas kampung kami.

“To, kamu besok ada kerjaan nggak?”

“Ada pak, ngangkut pasir di bangunan pinggir desa.”

“Oh, mau kerjaan lain nggak. Klo mau ikut saya.”

“Kerjaan apa pak?” 

“Klo mau ikut saya sekarang, upahnya lebih besar. Klo kamu nggak mau saya cari orang lain saja.”

***

Paginya, aku bersama Beni anak pak Dulah dan beberapa orang lainnya yang tidak kukenal sudah menapaki jalan menuju bukit batu di sebelah barat desa mengarah ke hilir sungai kecil yang melintasi desa kami. Kami berjalan hingga hampir tengah hari, desa sudah jauh di belakang kami. Rumah-rumah orang kampung terlihat seperti kotak-kotak kecil yang disusun sekenanya, timbul tenggelam diantara hijaunya dedaunan dan pohon-pohon yang rimbun.

Beni menunjuk sebuah bukit yang menjulang seperti bangunan perpaduan antara pyramid dan gedung pencakar langit.

“Di balik gunung itu pak, kita jalan memutar lalu sedikit mendaki.”

20 menit kemudian, kami berhenti di tepi sebuah lubang alami yang berukuran tidak lebih besar dari sebuah drum. Aku bertugas membawa sebuah ransel besar yang berisi penuh berbagai barang. Tali temali dan perlengkapan lainnya lalu dibongkar.

Pak Habib dan istrinya datang ke desa kami sore kemarin, mereka membawa serta 3 orang pemuda yang gesit dan bugar. Supirnya tidak ikut mendaki gunung, ia tetap tinggal di rumah pak Dulah. Setelah peralatan dan perlengkapan siap di tepi lubang. Pak Habib, melemparkan beberapa barang ke dalam lubang sambil berkomat-kamit entah apa yang dibaca. Aku tidak tahu.

Suasana sedikit tegang ketika seorang pemuda yang bernama Roni mulai menuruni lubang itu dengan bergelantungan hanya pada seutas tali. Tubuhnya dengan cepat lenyap ke dalam kegelapan lubang yang tidak terlihat dasarnya. Dari lubang itu terpancar hawa dingin dan keluar suara-suara lirih yang nyaris seperti dengungan atau bisikan di kejauhan.

“aahh!” serentak kami melongok ke dalam lubang sambil mengarah-arahkan cahaya lampu senter. Terdengar suara riuh di dalam lubang, keriuhan yang semakin mendekat.

“Roni, kamu tidak apa-apa?”

“Ron?”

“Aku nggak apa-apa Ko.” Sayup terdengar suaranya dan terlihat pancaran sinar lampu senternya bergerak di kedalaman. Kami tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan Roni karena suara riuh semakin keras dan semakin dekat. Semakin dekat dan semakin jelas itu adalah suara cuitan burung dan kepakan sayap. Kami terhenyak dan melangkah mundur karena dari lubang batu itu berhamburan burung-burung kecil berwarna hitam.

Burung Walet, ribuan burung walet.

Roni, Koko dan Iwa bergantian keluar masuk lubang itu, hingga sore menjelang sudah 12 karung penuh berhasil dikeluarkan dari lubang gelap itu.

Kami beristirahat tidak jauh dari lubang batu itu. Kudengar pak Dulah mengajak pak Habib pulang.

“Bib, kita pulang dulu, besok ke sini lagi.”

“Nggak. Saya mau habiskan sarang burung di gua ini, jadi besok tinggal pulang saja.”

“Kita bisa kemalaman, kalau tidak pulang sekarang Bib.”

“Tenang, semua sudah saya persiapkan. Segala sesuatunya sudah tersedia untuk bekerja sampai malam. Waktu adalah uang pak Dulah.”

“Bukan begitu Bib, di sini berbahaya kalau hari sudah malam.”

Pak Habib agak kurang senang.

“Eh, pak. Saya ini sudah pengalaman mengambil sarang burung di berbagai pelosok Indonesia. Saya sudah siap menghadapi berbagai macam bahaya. Kalau kamu takut, pulang saja duluan.”

“Baiklah Bib, kalau begitu kami pulang duluan. Tapi hati-hati ya Bib, ini tanah Kalimantan, mungkin ada hal-hal yang belum pernah anda temui di tempat lain. Beni, Toto ayo pulang.”

Kami pun berdiri hendak beranjak pulang. Pak Dulah diikuti Beni dan aku paling belakang.

“Ya sudahlah, kami tidak apa-apa. Saya tidak takut pada hal-hal gaib atau perampok. Jin, setan, genderuwo dan segala macam kawan-kawannya tidak akan mengganggu kami. Eh, anak muda, kalau kamu tetap di sini sampai selesai upah mu dobel.”

Kalimat terakhir ditujukan padaku. Aku terdiam menimbang-nimbang. Beni dan ayahnya memandangiku lalu berbalik pergi. Aku juga berbalik tapi ke tempat semula.

Aku sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan uang lebih banyak dengan tetap tinggal di tempat itu. Keputusan yang ternyata tidak membuahkan hasil yang manis.

***

Iwa, terlihat lelah. Kami semua lelah sebenarnya. Tetapi Iwa terlihat lebih lelah dan mencoba beristirahat. Kami semua lalu beristirahat. Tapi ada yang aneh dan beda dari Iwa.

Iwa, awalnya diam saja. Berbaring, duduk, berjalan-jalan. Tatapannya kosong. Kemudian seiring waktu ia bicara sedikit-sedikit, tapi bahasanya tidak kami mengerti. 

Makin lama bicaranya makin panjang dan makin banyak, tapi kami justru semakin tidak mengerti.

Aku mendengar Habib berbisik pelan ke istrinya, “kesurupan.”

Aku tidak tahu harus berbuat apa, Habib menatapku dan memberi isyarat telunjuk disilangkan ke mulut. Diamkan saja, biarkan.

Kami semua membiarkan saja Iwa dengan tingkah polahnya, tapi suasana menjadi keruh ketika Iwa melempar satu persatu karung yang sudah susah payah dikeluarkan dari dalam lubang. Iwa mengomel dan marah-marah sambil menumpahkan isi karung ke dalam lubang semula. Satu persatu.

Kejadian berikutnya berlangsung begitu cepat. Kawan-kawan Iwa serentak menangkapnya. Habib dan istri berusaha mengusir entitas yang merasuki pemuda itu. Tapi Iwa berontak dengan kekuatan yang luar biasa dan selanjutnya memukul setiap orang yang mendekat. Aku terpaku di tempat tidak tahu mau berbuat apa. Setiap orang yang terkena pukulan langsung jatuh dan tidak bergerak lagi. Mati atau pingsan aku tidak tahu.

Aku tidak tahu, karena saat Iwa menatapku dengan mata yang kemerahan dan seperti menyala di kegelapan malam. Aku menyambar senter. Saat ia melangkah mendekat, aku sudah melesat turun gunung secepat yang aku bisa. Bahkan ada momennya aku merasa lebih cepat dari cahaya. Karena terkadang dalam berlari itu tidak lagi aku memperhatikan cahaya lampu senter. Mungkin pengaruh adrenalin yang membanjiri setiap pembuluh darahku. Atau rasa takut.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
Yosep Rustandi - Jan 18, 2020, 10:53 PM - Add Reply

Cerpen yang menarik. Kehidupan para "pemburu sarang walet" sesuatu yang masih jarang diketahui.
Salam kenal Bang Mursidi. Kunjungi dan baca juga cerpen saya....

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 21, 2020, 3:59 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:56 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:00 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:51 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:42 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:32 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:24 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:09 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 20, 2020, 11:22 PM - Ryan Putra Anugrah
About Author
Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan