[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-9

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-9

Di dalam mobil kami hanya saling diam. Suasana mencekam menyelimuti. Mobil berjalan menanjak. Mobil berhenti di sebuah taman luas rerumputan hijau memenuhi pandangan mata. Sebuah rumah mewah berlantai dua bertengger di sana

“Lihat ini Mega. Tak lama lagi aku dan Adam akan menggelar pesta pernikahan paling meriah. Di sana di rumah itu nanti kami berdua akan tinggal membina rumah tangga”

Aku menelan ludah. Keringat dingin mulai keluar. Darahku berdesir panas dingin tidak karuan.

       “Oh ya?? Bagus ya rumahnya. Pasti habis uang banyak. Untuk membangunnya Aku harus menabung berapa lama ya? Mungkin seumur hidup. Heheh” aku berusaha tetap tenang. Berkamuflase seceria mungkin

“Kamu, tahu apa yang aku maksud”

 “Emm… maksud? Maksud bagaimana?” tanyaku. Sebenarnya aku tahu apa yang Ia maksudkan.

      “Aku tahu kamu mencintainya. Caramu memandanganya sangat bisa aku baca. Dan aku tak pernah salah..”

        “Ehmmm… i..itu..”

   “Aku mohon kau jaga jarak dengannya. Kamu wanita, dan pasti tau persis apa yang aku rasakan. Aku lebih dahulu mengenalnya. Dan perjodohan ini tak akan pernah gagal. Oleh apapun”. Ia lalu begitu saja pergi dariku. Mengendarai mobilnya. Meninggalkan aku terpaku dengan sejuta rasa yang mencabik-cabik. Aku sadar terlalu tinggi aku terbang. Terjatuh begitu sakit rasanya.

*** 

        Aku menatap wajahku sendiri di depan cermin meniru gaya bicaranya.

       “Aku mohon kau jaga jarak dengannya. Kamu wanita, dan pasti tau persis apa yang aku rasakan. Aku lebih dahulu mengenalnya. Dan perjodohan ini tak akan pernah gagal. Oleh apapun” Huuuuffftttt… menarik nafas aku hembuskan kasar. Iya, aku harus segera sadar. Perbedaan aku dan Adam seperti langit dan bumi. Di sampingnya telah ada seorang bidadari yang diidamkan oleh semua laki-laki di seluruh penjuru dunia. Ayolah Mega sadarlah. Kau hanya teman dekat. Hanya teman dekat tidak lebih. Aku akan menampik setiap rasa yang tak wajar mulai detik ini.

            Rasa ini menancap, menghujam hingga ke palung hati.

Aku harus mengaku kalah untuk rasa ini. Tak perlu aku perjuangkan. Aku akan pergi. Meski menghiris takkan luka ini menodai senyum. Meski perih takkan rasa ini masih berharap pada dekapan malam. Rasa ini biarlah aku tak mengenalnya lagi. Aku harus tetap berjalan, kembali ke langkah awal mengejar mimpi-mimpi bersama bayangan bapak Ibuku. Aku meringkuk mendekap foto mereka berdua. Aliran sungai di sudut mataku tak henti-hentinya mengalir. Bapak Ibu.. Anakkmu sakit, oleh perasaan yang seharusnya tak  membuat sakit. Tapi terlalu perih rasa ini. mencakar hingga berdarah. Memerah dan membengkak hingga membiru. Aku butuh kalian di sini. Sudahlah cukup. Semua ada batasnya.

 Dear Ibool..

Ternyata begini rasa perihnya menyintai seseorang yang tak pernah bisa kita miliki.  Harusnya dari awal aku tak membiarkan rasa ini tumbuh subur dalam hatiku.  Cinta pertamaku, yang kandas menyakitkan.

 

Hei Ibool, kenapa kau sedih? Kau lelah menjalani hidup? Sama juga denganku, terkadang hidup memang melelahkan. Tapi memang inilah adanya. Hidup memang perjuangan,dan pengorbanan ini  adalah kebutuhan bukan lagi menjadi pilihan.

Di dalamnya berbagai macam rasa yang mampu mengaduk-aduk perasaan. Tapi jangan kau remehkan perasaan itu Ibool. Sebab ia mampu membuat kita terkadang begitu bersemangat meski beban berat menekan pundak. Kadang juga membuat kita merasa malas, meski itu masalah remeh temeh.. entahlah apakah perasaan itu yang memiliki kekuatan luar biasa, atau manusianya yang begitu lemah mudah terombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri.

 

Seberat apapun hidup yang kita alami, yakinlah kita tak sendiri. Ada Dia yang selalu ada untuk kita.

Jadi tak ada alasan untuk kita menyerah

Just keep Fighting!!!!

Good Night Ibool

***

 Menunggu bis kampus.Berdiri lama.Panas

“Bushet,,, lama bener ni ya busnya..” ucap Intan

“Sabar..” ucapku. Tak lama kemudian bis menghampiri kami yang telah lama menunggunya di halte bis.

Sore menjelang. Aku pergi ke rumah sakit. Kali ini tidak sendiri. Intan dan Anna menemani. Kondisi Adi sedikit membaik. Pembayaran Rumah sakit harus selesai hari ini. Aku menuju meja administrasi

“Misi.. “

“Iya….”

“Mau Tanya pembayaran atas nama Nor Salamah berapa ya kak?”

“Bilik dekat mana?..”                                   

“Emm.. lupa.. Bilik. Madinah kalau enggak salah kak”

“Bilik Madinah. Atas nama encik Nor Salamah. Sekejap saya ceck …” Ia mengoperasikan computer. Mengetik-ngetikan seseuatu di key board komputernya.

“Pasien atas nama Adi Baridwan. Dah lunaspun..”

“Benarkah. Tapi saya belum membayar kak. Boleh siapa nama orang yang telah membayarnya kak?”

“Maaf. .. ini diminta untuk dirahasiakan kepada siapapun”

 Sudah dibayar? Siapa ya?. Apakah mungkin Adam?.  Entahlah.. aku pun segera memasuki ruangan di mana Adi dirawat. Anna dan Intan sudah masuk sedari tadi.

“Apa kabar sayang? Apa yang kau rasakan sayang?” Mungkin Adi masih asing dengan aku. Adi hanya menjawab “Baik..”

“Tau enggak, akak punya sesuatu buat Adi”

“Apa?”

“Taaraaa..” Aku mengeluarkan dua batang coklat dari tas tanganku. Ia tertawa meriah

“Coklat … terimakasih kak..” aku mengelus kepalanya pelan.

“Cepat sembuh ya dik..” Ia menganguk kepala pelan

“Tadi abang yang semalam antar Adi. Datang jenguk Adi kak..”  Adam.

 

***

  Kejadian yang Terungkap   

 Untuk kesekian kalinya Kunci tertinggal di dalam kamar, aku tak bisa memasukinya, sedang Anna dan Intan pergi main bowling di seksion 19, aku berlari menuruni tangga, pakcik Ahmad, sedang duduk di depan monitor komputernya.

 “Assaamu’alaikum pakcik, serius sekali sedang apa pakcik?”

“Wa’alaikumsalam eh … Mega, kenapa kuncinya tertinggal lagi?”

“Hehe.. ah pakcik tahu saja”. Nyengir kuda

“Kamu ini selalu begitu, masih muda sudah pelupa, bagaimana nanti kalau sudah jadi nenek-nenek?”

“Iya nich,,,, mungkin ini sindrom tua pak cik.. hehe?” tak lama kemudian pak cik beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan kunci serep yang tersimpan rapi dalam kotak kunci.

“Ah… kamu ini, Mega kau tahu tidak lelaki, bukan penghuni asrama ini yang selalu memasuki kawasan asrama. entah bagaimana caranya ia bisa masuk kamar”

“Oh iya…?” tiba-tiba aku teringat dengan Laptop Felly yang hilang, aku pikir ini ada sangkut pautnya, mungkin kali ini memang aku harus cerita dengan cik Ahmad

“Pak cik, beberapa hari yang lalu Felly kehilangan laptop pakcik, apa mungkin ada hubungannya dengan kedatangan lelaki itu?”

           Pakcik terkejut. Setengah menyalahkan aku karena tidak segera memberi tahu pada pihak penjaga asrama. Aku baru sadar. Aku memerlukan bantuan cik Ahmad, aku meminta cik Ahmad untuk membuka rekaman CCTV empat hari yang lalu. Cik Ahmad memutar rekaman dari pagi hingga malam.Berhenti di beberapa gambar yang mengganjal dengan nampaknya lelaki asing yang masuk kamar Felly. Tepat beberapa menit sebelum jam Sembilan malam.

“Pak cik berhenti di sini pak cik!”

 Video itu berhenti di adegan, seorang pemuda yang mengenakan jaket kulit warna hitam, dengan celana jeans biru, dan rambutnya yang gondrong terlihat mencoba membuka pintu kamar Felly hingga memasukinya,kami terus memperhatikan video itu hingga.Ia keluar kamar membawa laptop, aku pause video itu. Nampak jelas wajah pemuda itu, sepertinya aku pernah mengenalnya, namun berkali-kali aku memutar tak kutemukan juga memory dalam otakku.

“Pakcik..bolehkan saya meminta video itu untuk saya tunjukkan ke Felly?”

“Tidak bisa, ini rahasia?”

“Tapi ini untuk kebaikan agar Felly tak menuduh makcik Nor lagi sebagai pencurinya?”

“Apa?”

“Iya pakcik… Please…

“Ya sudah tapi janji aku hanya akan menunjukkan ini pada Felly saja”

“Insya Allah” 

          Pakcik memberikan Soft file video itu melalui falsdisku. Aku segera menuju lantai dua, dan kembali lagi ke lantai satu, karena aku baru sadar, jika aku belum mengambil dupilcat kuncinya

“Pak.. cik..’

“Apa lagi?”

‘Lupa pakcik… kuncinya belum Mega ambil…”

“Acchhhh…. Kamu ini memang lah…”

“Hehe… “ aku hanya tersenyum meringis

“Ini, nanti segera kembalikan ke sini yah… jangan sampai hilang tau..”

“Oke… siap pakcik..”  

 Terengah-engah berlarian menaiki tangga. Memasuki kamar, kemudian kembali lagi ke pos penjaga untuk mengembalikan kunci. Setelah itu, aku memasuki kamar Felyy

“Tok…tok…tok..”

“Siapa??

“Aku kak… Mega..”

“Ada urusan apa?”

“Bukalah dulu pintunya?”

“Saya tidak menerima tamu yang tidak penting”

“Mungkin saya memang tidak penting, tapi yang aku bawa mungkin penting” 

          Sesaat kemudian Felly membuka pintu. Memakai pakaian sedanya dan rambutnya yang berantakan.

“Apa kau bilang?”

“Iya… aku membawa video rekaman, siapa yang mencuri laptopmu”

“Mana?”tanyanya ketus

“Jika kakak bisa bersikap lembut, sepertinya lebih cantik..”

“Alah… udah tidak usah banyak ceramah” 

          Aku memasuki kamar Felly yang berantakan. Pakaian kotor yang berserakan di lantai, juga beberapa sampah. Serta meja belajar yang penuh dengan bungkus makanan.

Beberapa saat setelah aku masuk kamar. Video itu kini mulai berputar di laptopku. Melihat beberapa aksi pemuda yang awalnya tak terlalu jelas wajahnya hingga tampak sangat jelas. Felly mengernyitkan dahinya. Dua alisnya hampir bertemu. Mulutnya menganga dan berteriak keras.

“Tidak mungkin jika Yossi yang melakukannya,,,,, ini pasti bohong… ini pasti rekayasa, kau pasti telah merekayasa ini semua” 

          Felly melotot tajam. Kedua tanganya siap mencengkram ayam. Begitu cepat ia menangkap kepalaku.Membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Berulang-ulang.

  “Tidak mungkin jika Yossi yang melakukannya…kau bohong..” teriaknya menggelegar. Ia terus membentur-benturkan kepalaku. Pusing. Aku mencoba melepas tangannya. Tapi begitu kuat, seperti kerasukan setan. Tubuhku sudah lemas. Ia mencekik leherku kuat. 

“Kak…cu-kup! To-long…. To-long…” ya Tuhan tak adakah yang melihatku saat ini.

“Ahhh…. Tidak mungkin jika Yossi yang melakukannya..” teriaknya keras, tak adakah satupun penghuni asrama ini mendengarnya.

“Cukup kak…..tolong…” aku berusaha teriak. Namun tercekat di tenggorokan. Nyaris tak bisa bernafas. Aku baru tahu kalau Felly bisa seganas ini, sepertinya yang ada di depanku saat ini bukanlah Felly. Sudah, aku sudah tak tahan lagi. Aku melayangkan mumtong jilgi sekuat-kuatnya. Tak kusangaka Felly terpental hingga jatuh. Aku segera berlari keluar kamar mencari bantuan.

***

 Satu kata yang ada dalam benakku saat ini adalah lega. Kini Felly tak lagi hidup di KPZ. Menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Suatu penyakit jiwa mengidapnya. Sosiopat orang yang tak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di dalam masyarakat. Mengalami ketidakseimbangan atau mengalami kegagalan dalam menyelaraskan dorongan-dorongan konstruktif dan destruktif dalam dirinya. 

 Mandi air hangat selepas berlelah-lelah di KLCC sungguh menyenangkan. Mengendorkan otot-otot yang sedari tadi tegang. Kenyamanan menjalari seluruh tubuhku. Aku berbaring di bed meluruskan pinggangku yang serasa bengkok dari tadi berjalan tanpa henti. Aku tutup telinga dengan head seat memutar senandung Maher Zain. Setidaknya aku bisa sedikit tenang. Tidak mendengar Anna dan Intan yang sedang berantem berebut kamar mandi. Sudah satu jam Anna mandi belum juga kelar. Entah kenapa petang ini aku merindukan Adi dan juga makcik. Selepas isya nanti aku akan ke sana.

“Intan.. Anna. Aku mau pergi dulu ya..” ucapku sembari menggendong tas berisi baju ganti dan perlengkapan mandi.

“Mau ke mana?  Tanya Intan

“Ke rumah makcik..”

“Berani sendiri?”

“Berani insyaAllah.. eh… nitip kura-kuraku ya say. Kasih makan dan juga ganti air. Juga tempatnya dibersihkan yah..”

“Iya nyonya..” jawab Intan

“Hehehe… terimakasih banyak. Berangkat dulu Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam.. hati-hati”ucap mereka

“Eeeiitt… belum pamit sama adik-adikku sayang… Kenzi.. Kenzo.. kalian baik-baik yah.. sama kak Intan dan kak Anna dulu ya.. bye..”. 

 Menaiki bis yang dingin. Pendingin ruangan bus beralih fungsi menjadi pembeku mobil. AC belum dimatikan. Kaca nampak berembun. Bis tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang duduk di sampingku. 

     Turun di halte bis. Berjalan kaki menyusuri perkampungan yang sepi. Kembali hanya suara jangkrik menemani, sesekali juga anjing menggonggong. Aku tidak suka mendengarnya. Rasanya atmosfer angker menyelimuti. Di gubug kecil itu aku remang-remang melihat seorang anak lelaki menangis. Aku menghampirinya berjalan perlahan. 

 “Hei.. adik,, kenapa menangis. Sudah malam kok belum pulang?”.Ia diam. Menutup wajah dengan kedua tangannya lalu duduk terpekur

“Jangan takut sama kakak. Kakak bukan orang jahat kok” Ia mengerjap-ngerjapkan matanya memdandangku dengan wajah sendunya. Ia memelukku erat. Sungguh erat seakan tak ingin melepasku.

 “Kakak antar pulang yuck. Rumah adik di mana?”

“Ihsan tak nak balik rumah…”

“Kenapa sayang? Nanti emak abah panik loch..” Ia hanya menggelengkan kepala. Aku duduk merendahkan tubuhku. Kini pandangan mata kami sejajar. Aku mamandang matanya lembut dan aku melihat ketakutan di sana.

“Tolong Ihsan.. abang Ihsan jahat.  Bang Abdul suka pukul-pukul Ihsan” Oh.. ya Allah, abang seperti apa yang tega menyiksa tubuh sekecil ini.

“Setiap hari sayang?” iya mengangguk pelan

“Amak juga suka pukul Ihsan?”

Amak dan Abah dah lama pergi.. Ihsan sendiri je dekat rumah. Abang pun tak selalu setiap hari pulang. Abang pulang Ihsan dipukul-pukul lagi.”

“Tapi Ihsan harus pulang dulu. Nanti Abang marah Ihsan dipukul lagi..”

“Tak… Ihsan tak nak balik rumah. Ihsan takut”

“Tidak usah takut, ada kakak di sini. Kakak akan jaga Ihsan, ya sayang. Yuck pulang kakak gendong yah..” ia mengangguk sambil menghapus air matanya.

“Rumah Ihsan di mana sayang?”

“Dekat sana…” Ihsan mengacungkan jari tangannya ke arah barat.

  Hati-hati aku berjalan di jalan sempit, bertengger Ihsan di punggungku. Di jalan ia terus bercerita, sudah lama ia tak digendong seperti ini, Ia sangat merindukan Ayah Ibunya. Ia seperti hidup sebatang kara. Rabbi.. di dunia ini begitu banyak cerita,oleh skenario indah yang Engkau rancang. Cobaan yang menerpa akan melihat siapa di antara mereka yang paling baik.

 Belasan menit berjalan, kami berhenti di sebuah rumah panggung. Remang-remang cahaya lampu bohlam menerangi. Tak ada suara. Baik suara manusia, radio maupun tele visi.

“Assalamu’alaikum… “ Tak ada yang menjawab

“Abang Ihsan tidak ada di rumah…?” tanyaku pada Ihsan

“Tak tahu, mungkin abang dah pergi lagi” Memasuki rumah kecil, tak ada siapapun di sana.

“Ihsan berani tinggal sendiri?”

“Kalau tak ada abang tak apa Ihsan tinggal di sini”

“Bagus anak pintar. Ihsan ada hand phone tak”

“Ada ini telepon bimbit baru beberapa bulan yang lalu bang Abdul belanje buat Ihsan..”

“Aa.. simpan nomor akak. Nanti kalau ada apa-apa panggil saja kakak ya..”

“Iya..”

“Ihsan sudah makan?”

“Belum ..” aku mengeluarkan nasi ayam goreng. Tadi di jalan aku sempat mampir di jalan, membeli nasi ayam tiga bungkus untuk makan bersama makcik dan Adi di rumah.

“Sedapnya ayam goreng, terimakasih akak…”

“Iya.. makanlah.. jangan lupa do’anya…”

“Do’anya macammana kak?”

“Belum tahu?” Ihsan menggelengkan kepala.

“Aa.. ikuti kakak ya…”

Bismillahirahmaanirrhim……..”. Ihsan mengunyah makanan dengan lahapnya. Bocah kecil mungkin seusia dengan Adi harus hidup sendiri tanpa orang tuanya. Sedari kecil sudah merasakan pahitnya hidup. Beruntung aku yang masih memiliki keluarga utuh dengan kelimpahan kasih sayang dari mereka.

“Nama abang Ihsan siapa?”

“Namanya abang Abdul.. Abdul Rozak..”

“Oh… .”

      Tak lama setelah Ihsan terlelap tidur aku menutup pintu, meninggalkan Ihsan sendiri di rumah itu. Tak tega meninggalkan Ia sendiri., Tak memungkinkan aku membawanya pergi. Membawa orang asing masuk ke asrama, hanya akan membuat masalah baru, bisa saja aku dituduh penculik. Biarlah dia tetap di sini, aku akan mengawasinya dari jauh.

.  Pukul setengah Sembilan malam, aku jalan kaki menuju rumah makcik. Tak terlalu jauh dari rumah Ihsan, lima ratus meter mungkin.

 “Kak Mega..” Adi berlarian menghampiriku.

“Oops.. Hati-hati Adi..”

“Kok jam segini belum tidur? Belum ngantuk?”

“Belum lagi .. Akak.. ceritakan dongeng lagi ya..”

“Iya.. nanti akak cerita special buat Adi” Aku mencubit hidungnya pelan.

“Horee…”

“Amak mana sayang..?”

“Ade dekat dalam…”

Adi menggandeng tanganku, memasuki rumah.

“Makcik…” Sapaku lembut.

“Mega.. “ Makcik tersenyum riang.

“Berani kau malam-malam begini ke sini?”

“Beranilah makcik..”

“Sendiri?” aku mengangguk

“Jalan kaki..”

“Tidak.. naik pesawat, hehehe, iyalah.. jalan kaki tho makcik…”

“Bawa apa itu..”

“Ini Mega bawa nasi ayam. Mega juga bawa coklat buat Adi”

“Coklat…? Wow… nyam.. nyam..” Adi berteriak lonjak-lonjak kegirangan.

“Jom kita makan” ajak makcik

         Di selembar kasur tipis itu Adi sudah terlelap tidur setelah aku dongengkan kisah tikus dan harimau. Aku dan makcik masih menikmati teh yang masih hangat.

 “Mega,,” suara makcik menyobek keheningan malam, yang sedari tadi sunyi-ramai oleh suara jangkrik bersautan.

“Iya,, apa makcik..”

“Apakah kita hidup itu harus bertuhan?” aku tercengang mendengar pertanyaan makcik. Aku mengangguk pelan.

“Tapi sepertinya, hidup bertuhan itu banyak aturankan? Berat sepertinya”

“Makcik, aturan dari Tuhan itu bukan untuk membebani kita. Tapi untuk melindungi kita. Sama juga dengan radio ini” aku mengambil radio yang bertengger di atas meja

 “Pencipta radio ini, tentu tahu jika radio ini dibanting atau dimasukkan ke dalam air, radio ini akan mati. Maka perusahaan radio. Membuat peraturan larangan membanting radio juga memasukkan air ke dalamnya” Makcik mengangguk-anggukan kepalanya. Paham atau berpura-pura paham. Entah.

“Tadi Mega, sembahyang macam tadi. Apa dia punya nama?”

“Maksud makcik sholat..?”

“Nah.. itu tadi sholat. Sholat itu buat apa ba?” logat sabahnya keluar lagi. Aku memandang matanya lembut. Kini aku dan makcik bersitatap

“Begini makcik..” aku menarik nafas dalam.

“ Misalnya Suatu hari makcik dalam masalah besar. Rumah makcik mau diambil orang. Rumah, tanah dan seisinya, padahal mungkin ini tinggal harta makcik satu-satunya. Kemudian ada seseorang datang menolong makcik. Sehingga rumah makcik dan seisinya tidak jadi diambil. Dalam hati makcik yang paling dalam, memiliki rasa bertemakasih tidak dengan orang tadi?” makcik mengangguk

“Makcik ingin berbuat seseuatu tidak untuk orang tadi?” makcik mengangguk

“Sama juga dengan sholat dan ibadah lainnya makcik. Sebagai bentuk syukur kepada Allah, yang luar biasa nikmat Ia berikan. Sebagai hamba yang taat dan mencintaiNya. Kita ini bukan siapa-siapa kok makcik. Orang kita saja diciptakan dari sesuatu yang menjijikan. Kita tak bisa apa-apa tanpa Dia. Kita adalah makhluk yang lemah. Sangat lemah..”

           Makcik meneguk teh yang sudah dingin.

 “Makcik.. dalam hati kita, dikaruniai hati nurani yang suaranya tidak pernah berbohong. Dan suara nurani kita tidak mengingkari adanya Tuhan. Bahkan kalau makcik tahu, semua ilmu pengetahuan. Alam semesta dan seisinya, mendukung teori adanya Tuhan.”

“Dari kecil makcik tak mengenal Tuhan. Orang tua makcik mengenal nenek moyang sebagai sesembahan.”

“Makcik,,,bukankah nenek moyang derajatnya sama dengan kita? Sama-sama manusiakan?” makcik mengangguk pelan. Kini ia berbaring di samping Adi.

“Iya.. makcik pun pernah berfikir macam itu”. Aku sekarang berbaring di sisi Adi yang sesekali menggeliat dan ganti posisi tidur. Miring. Aku tidur di lantai, tak beralas kasur. Hand Phoneku bergetar

Mega kau baik-baik saja kan? Ke mana saja kau akhir-akhir ini menghilang tanpa jejak. Telponku tak pernah kau angkat. Smsku tak pernah kau balas.

 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 15, 2020, 10:23 PM - Shinta Kusuma
Dec 14, 2019, 8:49 AM - Febry Winarto
May 15, 2020, 11:58 PM - Putra Mangaratua Siahaan
Recent Articles
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma
Aug 5, 2020, 12:31 AM - Singgih Tri Widodo