[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-8

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-8

Di luar sana Nino terus melambai-lambaikan tangannya padaku “Naresemoga Berjaya, kau pasti dapat “ mungkin itu yang ia katakan, tapi mimik wajahnya terlihat sangat aneh penuh kecemasan,sambil terus komat-kamit seperti mbah dukun baca mantra, tanpa aku bisa mendengar suaranya ia ontang-antingkan falsh disk di depan wajahnya, oh.. ya Rabb itu pasti bahan yang harus aku sampaikan nanti.

 Berlari perlahan aku menuju ke arahnya mengambil flas disk dengan gantungan kunci berbentuk doraemon.

“terimakasih..”ucapku padanya

“yupz…” sambil mengacungkan ke dua jempol tangannya ia begitu bersemangat mendukungku. 

 

Satu persatu pembicara itu mulai tampil, sementara kakiku terus bergemetaran menunggu giliranku, sepertinya tenagaku sudah tersedot habis karena perasaan takut, gugup, grogi yang berkecamuk dalam hati, kembali aku menarik nafas dalam-dalam, menutup mata mencoba menenangkan diri, aku imajinasikan dengan jelas dalam pikiranku apa saja nanti yang akan aku sampaikan, mempercayakan diri bahwa aku pasti bisa, ini hal mudah yang bisa dilakukan oleh siapa saja, jika aku tak bisa melakukannya maka seharusnya aku malu.

 

Tak lama kemudian namaku disebut untuk maju ke depan podium. 

“Bismillahirrahmanirrahim..” 

Dengan pelan aku berjalan ke depan, aku sematkan senyum kepercayaan diri di bibirku, dan menyapu pandangan pada seluruh peserta. 

“Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa barakatuh,good Morning Ladies and Gentlement”, aku sampaikan alasan kenapa aku berdiri di sini, menggantikan Adam dengan kondisi yang tidak memungkingkan ia hadir di sini. Slide mulai muncul.

“Ladies and Gentlement,Water is more… and more critical than energy, we could have alternative sources of Energy, But water there is no choice.. no alternative”

Aku sampaikan tentang air adalah system yang paling penting di bumi ini, kemudian keunikan molekul air, dan tentang sifat air yang ternyata mampu merekam, membawa pesan apa yang ada di sekelilingnya, yang tentu saja sudah telah ada pembuktian ilmiah oleh Dr.Masaru Emoto, dalam slide aku tunjukkan beberapa gambar Kristal yang terbentuk oleh air ketika diperdengarkan aliran music heavy metal, Shimpony Mozart dan ketika dibacakan do’a Kristal air menunjukkan bentuk yang berbeda-beda seakan ia mengiyakan bahwa sesuatu yang baik  akan muncul dan terbentuk dengan sesuatu yang baik pula. 

Dengan spontan aku meminta operator untuk memutar musik, beberapa aliran music seperti musik heavy metal, Shimpony Mozart dan yang lain, kemudian perasaan mereka menimbulkan reaksi yang berbeda-beda, sama juga dengan sifat air yang membentuk Kristal yang berbeda-beda pula, terang saja ini terjadi karena 70% tubuh manusia adalah airta,sehingga ketika kualitas air minum yang kita minum itu bagus, maka bagus pulalah tubuh kita, dan di sini peran kita sebagai penghuni bumi yang bertanggungjawab juga untuk melestarikan kualitas air. 

“The desire for major multi-national corporations to privatize the drinking water industry has already been mentioned. This may happen someday because no commodity on earth is considered more important than water, especially freshwater. There is potential for literally trillions of dollars to be made in the future through the sale of fresh water.”

Selama tiga puluh menit aku berdiri, bericara dan menjawab beberapa pertanyaan dan tanggapan hingga akhirnya terdengar suara tepuk tangan meriuh tinggi, ketika aku menutup acara, beberapa pembicara menghampiriku dengan senyum mengembang, Prof Rossita menyalami aku

“Congratulation, I’m very Proud of you..” ucapnya menjabat tanganku sambil menepuk-nepuk pundaku. Beberapa teman panitia juga mendatangiku, dan cahaya-cahaya photo mulai berpendar bersamaan dengan hujan pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan.

Ploookkkkkk…. Tiba-tiba sebuah benda tumpul semacam sepatu melayang tepat di wajahku, benda yang tepat mengenai tulang hidungku, hingga terasa sangat ngilu, tubuhku menghambur ke lantai bagai kapas yang terjatuh berhambur dari pohonnya.

Aku lihat samar-samar beberapa orang berlarian mencari siapa pelakunya, suasana atrium menjadi ramai tak terkendali.

“Felllyyyy….!!!!!”. 

Perlahan membuka mata. Beberapa wajah tepat di atasku panik. Aku segera bangkit.

“Aku baik-baik saja kok..” bangkit dan duduk. Tulang hidungku sedikit ngilu.

“Di mana Mega? Mana dia?” suaranya tidak asing aku dengar

“Mega kau baik-baik saja?” Tanya Adam

“Aku tak apa. Kau sudah kembali?” beberapa orang yang tadi mengerumuniki kini satu persatu mulai beralalu. Sibuk dengan hal yang lain. MC sudah menutup acara seminar. Menyampaikan permohonan maaf atas hal yang tak seharusnya terjadi tadi. Perserta pulang satu per satu keluar ruangan. Panitia yang lain sibuk mengantar pembicara.  Penjaga mulai sibuk membersihkan gedung. Felly. Di mana keberadaanya. Aku tak peduli. Hazelin di tangga luar melihatku. Tak sengaja aku melirik ke arahnya. Ia segera membuang muka. Adam berdiri tak jauh dari sisiku. Mengajakku ke kantin.

“Terimakasih telah menggantikanku”

“Lain kali mana boleh begini. Peserta seminar merasa kecewa”

“Kecewa karena apa?”

“Ternyata bukan abang pembicaranya”

“Justru mereka senang. Tanya sama mereka. Kamu lebih bagus kok..”

“Perasaan biasa aja”

“Bagaimana hidungmu masih sakit”

“Sedikit”

“Kita ke dokter ya..”

“Nggak usah nanti dikompres air es juga sembuh”. Hazelin tiba-tiba datang. Berdiri disamping kami yang tengah duduk

“Mega, bagaimana keadaanmu?”

“Hazelin.. tidak apa-apa hanya luka sedikit”

“Boleh aku duduk di sini” Adam mengangguk. Hazelin duduk di samping Adam. Duduk lama. Bercerita lama. Entah apalah yang mereka perbincangkan. Tentang rencana pernikahan. Aku hanya terdiam mendengar perbincangan yang menurutku tak penting itu. Bosan. Panas. Nafasku menjadi berat rasanya. Hazelin terus memandangi Adam.

“Permisi, aku mau pamit pulang dulu”. Pamitku memotong pembicaraan mereka.

“Pulang sekarang?” Adam berdiri dari duduknya. Lalu berjalan menuju kasir

“Mau ke mana?” Tanya Hazelin.

“Antar Mega pulang dulu ya”

“Oh.. begitu ya?” Rasanya aku ingin melonjak kegirangan. Kali ini aku merasa menang dari Hazelin. Tapi aku tahu diri lah..

“Nggak usah nanti aku pulang dianter Anna kok..”

“Sudah ayo cepat” Adam menarik tanganku menuju mobilnya.

“Bagaimana dengan aku?” Tanya Hazelin. Bola matanya membesar.

“Tadi ke sini naik mobil sendiri kan? Kan bisa pulang sendiri”

“Ta.. tapi..”

“Kami duluan ya. Nanti pulang hati-hati” kata Adam. Aku tersenyum di atas kemenanganku.

***

Aku dan dia kembali duduk di bawah payung besar, menikmati minuman dingin.

“Kenapa tadi bersikap acuh tak acuh begitu?” tanyaku

“Siapa?”

“Abang. Bukankah Hazelin kan calon istri abang?.”. Adam hanya terdiam. Menikmati muinuman dalam botolnya.

“Mega lihat botol ini” pandangan mataku menuju botol minuman yang baru saja diletakkannya di meja bundar.

“Apa botolnya terisi penuh?” tanyanya.

“Mmm botolnya kosong separuh”

“Kau bisa saja bilang kosong separuh atau separuh isi. Tergantung dari sudut mana kau melihat. Sama saja dengan kejadian tadi. Tergantung dari sudut mana kau melihatnya” aku menelan ludah. Menatap wajahnya. Tak mengerti apa yang ia maksud.

***

Siang yang cerah. Tak ada kegiatan. Dekat jendela bergorden warna pink yang tersingkap aku duduk di meja belajar. Melihat banyak kertas yang tertancap di stereoform tepat di depan mata kepalaku. Warna-warni, daftar tugas yang harus diselesaikan pekan  ini semakin membuat kepala terasa berat. Butuh hiburan. Aku bosan menggonta-ganti program radio. Tak ada yang menghibur. Di saat begini paling menyenangkan baca novel mumpung tak ada Intan dan Anna, aku bisa konsentrasi membaca, mengembara bersama alam imajinasiku. 

Mengingatkanku akan. Novel jaman bahoela yang susah dicari For Sale; babys shoes. Never worn. Karangan Ernest Hemingway. Belum sempat aku ucapkan terimakasih padanya.Adam. Ambil Hand Phone yang masih tergantung di jas almameterku. Dari pintu kamarku yang terbuka lebar. Terlihat dari kejauhan lorong lantai dua. Nampak sorang wanita berjalan dengan langkah gontai.

Makcik. Berjalan semakin mendekatiku yang berdiri di depan pintu kamar.

“Makcik… Sepertinya tidak sehat. Mata makcik sembab”

“Tak apa.  Makcik sehat..”

“Benarkah? Tapi Mega tak percaya. Mari masuklah makcik” Makcik enggan. Aku memaksanya.

“Intan dan Anna belanja ke mall, Mega kesepian di sini.. silahkan duduk makcik” aku buatkan Makcik secangkir teh

“Terimakasih..”

“Iya.. minumlah makcik.”

Wajah sayu. Mata sembab. Tangan bergemetaran memegang cangkir

“Mak cik belum makankah?”

“Sudah..” jawabnya singkat. Aku menyentuh leher makcik perlahan. Memastikan suhu tubuhnya tengah normal. Suhunya normal

“Ada masalah?” tanyaku pelan

“Tak… tak ada..”

“Jangan bohong sama Naremakcik..”

“ Iya.. Makcik peninglah..anak makcik satu-satunya sakit. Ia sendiri di rumah.”

“Sakit?? Kok makcik, masih masuk kerja?” 

“Kau tak tau. Makcik mau ambil cuti. Sukar sangat…badanya panas. Tadi malam ia kejang-kejang. Makcik bingung. Tak ada duit buat bawa dia ke dokter”

“Ya Allah..”

Petang ini aku menemani makcik pulang ke rumahnya. Di sebuah kampung. Entah apa namanya. Aku tak bertanya. Di kampung yang jauh dari kota. Jauh dari jalan raya. Untuk memasukinya, tak ada transportasi umum kecuali jalan kaki. Di kampung itu banyak anjing berkeliaran. Hampir semua rumah di kampung itu memiliki model yang sama. Rumah panggung. Jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain berjauhan. Sangat sepi. Bahkan tak ada warung maupun pos kampling. Tak ada rumah peribadatan. Hanya ada satu surau kecil di ujung kampung, tak ada lampu alat pengeras suarapun tak ada. Sepi dan kotor. Melalui jalan setapak yang sempit. Jalan yang pasti akan sangat licin ketika hujan. Tak ada penerangan. Hanya suara jangkrik menemani.

Rumah kecil, dapur dan kamar tak ada pemisah. Bukan. Bukan kamar, sebab ini adalah ruang tamu. Selembar kasur kecil menyita ruangan sempit itu. Sisanya berisi lemari, meja, kursi dan sepeda mini roda dua, mungkin milik Adi.

“Suami makcik di mana?”

“Dah lama suami makcik meninggal. Kala itu Adi masih bayi.”. Jawab makcik sambil mengompres Adi. Adi masih sangat kecil. Mungkin kelas tiga Sekolah Dasar. Ia menggigil. Aku sentuh dahi Adi. Sangat panas.  

“Sudah berapa hari Adi panas makcik?” tanyaku mulai panik.

“Semalam Adi panas..”

“ Kita harus segera bawa Adi ke hospital makcik”. Aduch, tapi bagaimana caranya ya? Ach. Adam. Barangkali bisa membantu.

“Tut..tut…tut…tut..”

“Bang Adam..”

“Iya ada apa Mega?”

“Lagi sibuk bang?”

“Tidak, lagi main bowling saja?”

“Boleh minta tolong?”

“Iya apa? Kalo bisa pasti abang bantu…”

Menunggu puluhan menit. Adam tiba di rumah setelah beberapa kali nyasar masuk gang yang salah. Kondisi Adi semakin mengenaskan. Tubuhnya semakin panas. Adi mimisan. Makcik semakin khawatir. Menangis bingung

“Makcik.. tenang.. Semua akan baik-baik saja” ucapaku mencoba menenangkan sembari memasukkan beberapa potong pakaian Adi dalam tas.

Adam datang. Langkahnya cepat memburu. 

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam..” jawabku, menghampirinya di depan pintu.

“Bagus kau datang lebih cepat bang. Kondisi Adi sudah semakin memburuk. Secepat mungkin bawa Adi ke Hospital bang”. Adam masuk ke dalam. Menyentuh dahi Adi

“Panas sekali. ..” Adam segera menggendong Adi menyusuri jalan setapak. Tak memungkinkan mobilnya lewat jalan sempit itu. Makcik megunci rumah. Aku bergegas jalan membuntuti Adam, sambil membawa beberapa perlengkapan untuk di rumah sakit. Persiapan saja barangkali Adi harus dirawat di sana.. Adam semakin bergegas lari membawa Adi. Aku dan makcik sama bergegas lari. Gerimis Turun. Adam semakin kencang berlari membawa Adi ke mobilnya. Aku berjalan semakin cepat.

“Emaaaakkk…..”Kaki makcik terpeleset di jalan tanah yang licin karena gerimis.

“Astaghfirullah.. makcik enggak apa-apa kan?” aku membantu makcik berdiri. Aku letakkan bawaanku sembarangan.

“Awh...” Makcik terjatuh lagi

“Sakit buat jalan makcik?”

“Iya.. Macam keseleo ..”. Adam yang tahu makcik terpeleset semakin cepat membawa Adi ke mobilnya lantas Ia segera balik ke belakang menggendong makcik. Lihatlah pemuda itu. Siapa yang mau melakukan hal seperti itu. Makcik dan Adi tentu bukan siapa-siapanya, bukan keluarga atau orang terdekat. Tak pernah bertemu sebelumnya.  Adam mengendarai mobilnya kencang. Aku duduk di belakang menjaga Adi. Makcik duduk di depan sembari menahan sakit.

Sesampainya di Rumah Sakit, dokter dan perawat sigap melakukan tindakan pada Adi. Adi mengalami demam berdarah. Seperti dugaan di awal, Adi harus dirawat di Rumah sakit. Makcik juga dibawa ke ruang periksa. Tidak apa, hanya keseleo.

“ Masalah biaya. Macammana?”  Tanya makcik padaku

“Tenang saja masalah biaya. Enggak usah dipikir..”

“Tapi..”

“Sudah.. makcik istirahatlah. Makcik capek benget kayaknya..”

Makcik duduk di samping Adi. Adam sejenak mengajakku keluar mencari makanan. 

Aku mengantarkan Adam yang hendak pulang.

“Bang.. terimakasih banyak ya, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak..”

“Amin. Mega butuh ape saje just call abang”

“Oh.. Oke.. siap 24 jam?”

“Haha.. ready 24 hours.. Emmm.. makcik tu siape?”

“Emmm.. makcik tu, ibu angkat Narebang..”

“Oh.. kaupun punya ibu angkat kah?.. kau Nampak penat. Rehatlah..”

“Iya bang.. terimakasih..”

“Nanti..abang ada waktu, abang datang lagi dekat sini. Rumah abangpun tak jauh.”

“Iya abang..”

“Pulang dulu a.. Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam.. hati-hati bang..”

“Eh.. bang…!” ucapku setengah teriak. Adam sudah memasuki mobil dan menutup pitunya. Ia membuka jendela.

“Terimakasih novelnya”

“Oh..iya,, semoga bermanfaat”

“Tapi,, dari mana abang tahu, Mega lagi cari Novel itu?”

Ia hanya tersenyum manis. Mobil sudah distater

“Aa.. sudahlah.. hati-hati di jalan” Ia mengangguk. Melambaikan tangan, menutup jendela dan mobil mulai berjalan. Aku masih berdiri melihat mobilnya, hingga hilang dari pandangan di tikungan ujung jalan.

Teguran Panas

Panas yang sedari siang membakar tanah, mengepulkan hawa panas lagi kering. Hujan yang mengguyur beberapa saat yang lalu, sedikit membuat tanah meredamkan amarahnya. Aroma kesturi tercium dari mana-mana. Beberapa orang mahasiswa yang tadi berlarian mencari tempat berteduh, masih memenuhi kantin ini. 

“Pulang yuck,, udah berhenti ujannya..” ajakku

“Bentar lagi ngapa, aku masih mau nambah makan lagi kok..” kata Anna

“Mantaab,,, mesti mau dapet nich. Makanya kaya orang kesurupan aja” celetuk Intan.

“Iya nich kayaknya, perut gua udah kaya diremet-remet rasanya”

“Bakalan ada yang sering ngomel-ngomel sendiri nich” Sambar Intan

“Hhahhahaha” 

Seseorang berambut panjang sepinggang, berjalan mendekati meja makan kami. Aku kenal wajah itu. Wajah yang membuat jantungku memompa darah panas ke paru-paru.

“Mega … aku ingin bicara denganmu..” tanpa basa-basi Hazelin berucap. Sorot mata yang tajam menembak mata. Dalam hingga palung hati. Anna dan Intan saling memandang.

“Hazelin, duduklah..” timpalku. Gugup. Namun berusaha setenang mungkin.

“Maaf, aku ingin berbicara empat mata.  Mungkin kita bisa keluar sebentar”

“Emmm… tidak bisa di sini saja?” ia geleng kepala. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma