[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-7

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-7

Wanita Anggun Bernama Hazelin 

Senin pagi yang penuh dengan sindrom kemalasan. Pandangan seperti itu harus segera ditampik dengan melakukan aktifitas yang menggairahkan. Berdangdut ria sebelum mandi aku rasa bagus untuk sedikit mengeluarkan keringat mengusir kemalasan.

“Basah…basah..basah… seluruh tubuh.. aah..aah..ahh.. menyentuh kalbu”

“Manis..manis..manis.. semanis madu.. aah..aah..aah.. menyentuh syahdu” sambil goyang jempol. Anna dan Intan yang setengah mati membenci musik dangdut ikut bergoyang jempol sambil mengalungkan handuk. Saat mandi air dingin yang mengguyur tubuh benar-benar sempurna menghilangkan kemalasan. Pagi yang indah. Kami bertiga berhamburan keluar asrama menuju kampus.

Jam 13.20, Seperti biasa Adam menghampiriku di halte bus. Satu jam yang lalu ia kirimkan pesan singkat mengajakku makan siang.

 “Kenapa kamu ga?” Adam heran melihat tanganku yang masih terus memegangi perutku. Lambungku masih bermasalah. Mual juga perih yang teramat sangat.

“Nggak apa-apa kok..”. sejurus kemudian Adam menepikan mobilnya di pinggir jalan.

“Mega kamu pucat banget” aku merintih kesakitan. Adam menyetuh dahiku.

“Panasnya… kita ke dokter sekarang.”

“Nggak usah. Baru kemarin aku ke dokter. Bawa aku pulang saja. Mungkin hanya kelelahan. Butuh istirahat.”Ia tak peduli dengan omonganku.Sedan hitam ini lantas melaju pelan ke rumah sakit. Dokter melakukan pemeriksaan endoskopi. Sebuah benda lentur macam selang dengan chip di ujungnya masuk melalui mulutku. Dokter mengobservasi apa yang Nampak di layar monitornya. Dinding lambungku yang terlihat kemerahan. Nampaknya beberapa luka kelihatan. 

“Ssshhh.. sangat parah”

“Apanya dok?” Tanya Adam

 “Mag kronis, ditambah ia kelelahan, mungkin butuh beberapa hari untuk istirhat”

“Rawat jalan saja ya dok” pintaku. Adam memberikan isyarat pada dokter untuk tak peduli dengan perkataanku.

Akupun tak bisa berkata apapun. Tubuhku sudah melemah. Makanan yang sedari tadi masuk ke dalam lambungku, tak sanggup aku ubah menjadi energi. Selalu keluar aku muntahkan. 

Dua hari berlalu, aku masih terkapar di ranjang ini. ranjang yang rasanya membuat jiwaku sakit. Mencium bau obat saja sudah mampu membuatku pusing, ditambah lagi dengan jarum suntik. Jarum infuse. Hhhhhh.

 

Senja yang meriuh dengan warna jingga di langit, kini telah berganti keanggunan malam. Warna hitam dengan gemerlap bintang sebagai gaun malam langit. Di tambah cahaya purnama menambah kesan romantis malam ini. Aku ingin keluar menimkati malam. Senja tadi beberapa teman datang menjenguk. Sesekali adam juga Nampak. Anna dan Intan yang tak pernah absen, mereka selalu berada di sisiku.

“Nenek.. cepet sembuh dong.. kita kangen nonton bareng tau..” ucap Intan

“Iya.. breakingdown udah keluar loch.. gila Edward Cullen tambah cakep aja cint..” Ucap Anna sambil berucap penuh ekspresi. Menggigit jari telunjuknya sendiri.

“Hahaha… kalian ini Edward Cullen, Cuma ada di dunia khyal. Cari yang nyata-nyata aja dong..”

“Ach.. mentang-mentang udah punya dokter cinta, gitu ni ye ngomongnya”

“Iya tuch mentang-mentang sekarang udah ada cowok ganteng yang selalu setia..”

“Ganteng??? Iya juga ya baru sadar aku. Hahahaha..Aduh perutku”

“Pelan-pelan. Ga usah ketawa dulu ngapa?” ucap Intan. Aku hanya nyengir kuda sambil memegangi perutku. 

“Tok..tok..tok..” pintu terbuka. Seseorang yang siluetnya begitu aku kenal menyapaku dengan senyum manisnya. Anna berdehem. Intan melirikku. Menjawili lenganku. Seketika wajah sumringahku berkabut. Seorang wanita cantik datang berjalan bersisian dengan Adam. Dengan balutan rok sepan ketat hitamnya. Rambutnya berurai panjang. Membuatnya terlihat sangat anggun.

“Bagaimana keadaanmu?” 

“Sudah baikan kok. Tinggal masa penyembuhan. Aku sudah ingin cepet-cepet keluar. Pengen naik bis lagi. Hehehe” 

“Baguslah.. cepat sembuh biar kita bisa asik cerita-cerita lagi ya” Adam mengacak-acak rambutku. 

“Oh iya, kenalkan ini Hazelin” Tangan lembutnya menjabat tanganku. Tersenyum. 

“Aku dengar kau sakit. Aku mengajaknya ke sini menemaniku menjengukmu”

“Dengar aku sakit?” aku terkejut.

“Emm.. darimana dengar”

“Dari mana lagi kalau bukan dari Adam. Dia selalu bercerita tentang kamu. Kalian nampaknya teman yang sangat akrab.” Aku hanya membalasnya senyum.

“Betulkah? Ah.. terimakasih sudah mau menjengukku. Hanya sakit kecil saja. Tak terlalu parah”

Untuk beberapa saat suasana menjadi sunyi senyap. 

“Ayo ga.. katanya kamu mau keluar liat langit…” Ucap Intan. Hanya alasan saja yang diada-adakan Intan

“Oh..iya katanya dari tadi kamu pengen liat langit” tambah Anna.

Anna dan Intan membantuku bangun dari baringanku. Adam segera ambil alih. Membawakan infuse tergantung di tangannya.  

“Emm.. biar Anna saja yang bawakan botol infusenya. Sudah malam Hazelin mungkin sudah lelah. Butuh istirahat. Abang pulanglah”

“Tidak apa, kan Cuma sebentar” balasnya

“Adam.. aku ada acara. Kita harus segera pulang..” 

“Ehmm.. sekarang? Tak bisakah sebentar lagi?” Hazelin menggelengkan kepalanya.

“Baiklah… maaf Mega aku harus segera pulang..”

“Iya,, hati-hati di jalan..”

***

Bebas dari rumah sakit rasanya bagaikan kapas yang jatuh dari pohonnya. Melayang-layang di udara dengan ringannya. Menghirup udara bebas tanpa beban. Beginilah nikmat sehat, yang sering kali terlupakan. Sering lupa juga untuk menjaganya.

Menjelang 30 hari seminar internasional, rapat koordinasi lebih kerap digelar. Siang ini selepas kelas akan ada rapat koordinasi. Seperti biasa Adam menjemputku. Belum begitu kenal dengan beberapa teman yang lain, ia yang memperkenalkan aku. Akhir-akhir ini aku lihat Adam sering jalan dengan Hazelin. Kabar-kaburnya setelah lulus mereka akan hijrah ke Jepang lalu menikah. Hei ada apa denganku, ini kabar baik bukan? Bukankah harusnya aku bahagia?

“Sini biar aku yang bantu catatkan” Tawar Hazelin pada Adam. Adam hanya senyum. Tipis sekali.

“Mega, bisa minta tolong” Pinta Adam 

“Iya apa? Minta tolong koordinasi dengan Mr. Benjamin mengenai pembicaranya, apakah sudah fixed?” 

“Oke bang..” Selanjutnya aku sibuk menghubungi Mr Benjamin, dan beberapa pembicara dari luar negeri yang nanti akan jadi pembicara. Beberapa kali Hazelin memandangiku. Aku terkejut wajah manis itu berubah jadi buas.

“Kita butuh manager on stage yang bagus. Yang benar-benar bisa mengondisikan acara. Baik dari pembicara, MC moderator dan yang lain. Jangan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, hancur tidak karuan. Kali ini bukan main-main seminar  internasional” katanya serius dalam podium, semua terdiam.

 “Siapa?” Tanya Bang Mike

“Mega.” aku tercengang mendengar namaku disebutkan. 

“Setuju” celetuk bang Mike. Aku terdiam melihat beberapa wajah menganggukan kepalanya.

 “Saya” tanyaku penuh keheranan

“Iya.. kamu bisakan?”

“Baik.. saya bisa”

***

Gelombang hati manusia bagai garpu tala. Getaran pada garpu yang satu,akan menyalurkan getaran pada garpu yang lain. Mungkin sama halnya hatiku yang merasakan hal yang tidak biasa saat aku bertemu dengan Hazelin. Meski saat bertemu semua seakan baik-baik saja. Itu macam kepura-puraan yang dibuat. Namun sejatinya aku dan dia seperti musuh bebuyutan. 

Adam menghampiriku. Kaca depan yang perlahan mulai turun. 

“Naiklah, kami antar kau pulang” Hazelin. Aku sekejap terhenyak. Menarik nafas dalam aku hembuskan perlahan. 

“Ah..aku tunggu bis saja, kalian mau pergi kayaknya” tersenyum riang. Berusaha menyembunyikan kekacauan hatiku. 

“Naiklah, sekalian satu jalan” ucap Hazelin.

Aku mengangguk, lantas menaiki mobil. Duduk di jok belakang. Menyaksikan mereka yang sesekali tertawa lepas. 

“Mega kau baik-baik saja?” Tanya Adam padaku yang sedari tadi terdiam.

“Aku baik-baik saja… heheh lucu sekali ya ceritanya”

“Kalau nggak mau tertawa jangan dipaksakan. Jelek tahu” semprot Adam.

Tak ada sepuluh menit aku sudah sampai. Aku turun dari mobilnya lantas melambaikan tangan.  Melihat mereka yang semakin menjauh dan kemudian hilang di tikungan jalan. Aku menelan ludah dalam kesendirianku yang masih berdiri di depan gedung asrama. Huuufftttt tak ada lagi agenda cerita sore.

 

Letih menghidapku sepanjang hari ini, naik turun tangga,meloncat dari satu kelas ke kelas lain, menyeberangi beberapa laboraturium. Tas punggung berat berisikan buku-buku tebal air mineral dan laptop. Punggungku kini tak dapat aku gerakkan. Memanfaatkan tubuh ini dengan maksimal. Bukan berarti terus memanfaatkannya tanpa memberikan penghargaan. Setelah mandi air hangatpun tak cukup membuat otot-otot tubuhku melemas. 

  Bukan hanya aku. tapi Anna dan Intan juga mengeluhkan hal yang sama. Mencoba menyembuhkan diri dengan ber-yoga di kamar. Anna sebagai instrukturnya. Dulu sewaktu masih SMA, setiap Minggu mama Anna selalu membawanya ke pusat pelatihan yoga. 

Di kamar posisi Anna yang lebih depan dari Aku dan Intan, ia memeberi contoh gerakan Perfect pose. Duduk menekukuk kedua pergergelangan kaki ke dalam. Meletakkan kaki kiri di atas kaki kanan, kemudian meletakannya di atas ujung paha dengan menemukan ujung ibu jari dengan telunjuk, posisi punggung tegak, sedangkan dagu menempel pada atas. Setelah itu masih ada beberapa gaya yang kami lakukan. Kami melakukan gaya yoga mudra, child pose hingga terakhir kami menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Seakan saat megeluarkan nafas, kami mengeluarkan semua beban yang ada dalam pikiran.Selesai beryoga kami merasa sedikit lebih baik dan segar.

“Aahh… udah agak enakan rasanya ni badan” ujar Intan seraya menaruh tangannya di punggung kemudian menghamburkan tubuhnya di atas bed.

“ Haha… udah enakan kan?” ujar Anna seakan membela metodenya untuk menghilangkan lelah tubuh

Aku Anna dan Intan berbaring di bed kami masing-masing, bed yang sejajar dengan sprei kotak-kotak berwarna biru, yang jaraknya tak begitu jauh antara satu dengan yang lainnya, membuat kami bisa leluasa bercerita dengan santai sambil berhadapan wajah satu sama lain.

“Anna , Tan..! kalian perhatiin enggak, Mira baru beli laptop kan kemarin?”  tanyaku pada Intan dan Anna yang sudah terkantuk-kantuk

“Iya… emang kenapa? Jawab Intan?”

“Enggak, aku merasa ada yang ganjal saja, karena laptopnya sama persis dengan lapotop Felly yang hilang” ucapku sambil mengelus-elus boneka panda pesar di pojok bedku.

“Hah?? Apa kamu bilang?” mereka berdua kompak terkejut dan spontan bengkit dari baringnya, dan menghampiriku, akhirnya kami bertiga duduk di satu bed kecilku.

“Yah,,,, laptop yang baru dibeli Mira itu sama persis dengan laptop milik Felly”

“Dari mana kamu tau?” Tanya Anna

“Setelah aku selidiki, bertanya-tanya dari Adam teman sekelas yang sering minjam laptopnya, laptop Mira bermerek Toshiba …. Dan yang paling penting adalah, diujung layar bagian kanan ada tulisan kecil warna biru muda bertuliskan F & Y, yang merupakan nama kepanjangan Felly dan pacarnya Yosi, itu permanen dan tidak bisa hilang, aku lihat tadi Lap top Mira ada tulisan itu dan sama persis semua merek, type, dan apalah, tidak mungkin secara kebetulan ada laptop bertuliskan F & Y, dengan posisi yang sama persis, dan juga warnanya yang biru muda, jika ada mungkin seribu banding satu di dunia ini” Anna dan Intan mendengarkanku dengan seksama, seperti seorang anak yang sedang mendengarkan dongeng dari ibunya dengan penuh penasaran

 

“Tapi hal ini, jangan sampai diketahui Felly, jika tau, bisa saja ia menuduh Mira sebagai pencurinynya, padahal itu tidak mungkin, dia tidak tinggal di asrama ini, juga tidak memiliki teman dekat di sini kecuali kita, bisa-bisa kita nanti juga ikut tertuduh” aku menghela nafas berat.

“Berarti kita harus tanyakan langsung pada Mira, dari mana ia membeli laptopnya?” ucap Anna

Aku mengangguk pelan, dalam hati kurasa benar ucapan Anna, tapi ada sedikit keraguan dalam hati.

“Eh… bukannya abang Mira juga tinggal di asrama ini?” ucapan Intan mengingatkanku tentang Fadli, abang Mira, yang tinggal di lantai empat, dan seingatku dia sekarang sedang menempuh semester enam sama dengan Felly namun beda jurusan. Tapi apa iya jika mungkin Fadli yang mencurinya? 

“Ach… aku jadi pusing, aku ingin tidur, besok sajalah kita pikir lagi” Anna dan Intan pun akhirnya kembali ke bed mereka, aku lihat jam di hand phone menunjukkan pukul Sembilan malam, aku pasang alarm jam tiga pagi untuk sholat dan juga mengerjakan tugas, biasanya kami bertiga biasa mengerjakan tugas hingga larut malam, tapi kali ini aku rasa tubuhku sangat letih ingin segera istirahat.

Pagi yang sangat sibuk, kesibukan para penghuni asrama sudah sejak subuh tadi, berebut kamar mandi. Satu dua bersabar menunggu. Beberapa beradu mulut, mondobrak pintu siapa saja yang mandi terlalu lama. Senior yang galak. Selain takut telat, juga karena takut kehabisan air, seringkali di KPZ suplai air tersendat. Sangat mengganggu.

Aku sudah mandi dari awal, selepas subuh tadi air dingin sudah mengguyur tubuhku  bersiap untuk seminar hari ini.

Berjubel manusia memenuhi Gedung Atrium Fakultas Enginering, antrian panjang bagai semut di pinggir tembokpun terlihat di meja registrasi ingin menyaksikan seminar terbesar di Asia tenggara,seminar yang bertajuk “Save The Ground Water” sebelumnya memang belum pernah terjadi seminar sebesar ini di UKM  Malaysia. Beberapa professor dan mahasiswa perwakilan Universitas dari beberapa negara di Asia Tanggara diundang untuk hadir di sini. Ini adalah salah satu program pemeritah  Malaysia untuk mengelola air tanah dengan bijak. Beberapa wartawan, media cetak maupun media elektronik tak ingin absen memburu berita. Di pelataran depan, 11 bendera Negara-negara Asia Tenggara berkibar-kibar bagai nyiur di pantai, termasuk juga bendera merah putih Indonesia.

“Ga… kacau.. parah banget ”masih ngos-ngosan Nino salah satu panitia seminar ini menghampiriku

“Ada apa No? Santai…santai”

“Mau santai gimana?ini baca sms Adam” dengan ekspresi wajah yang aneh sambil mengerucutkan bibirnya Nino menyerahkan Smart Phonenya.

Membaca sms dari Adam, aku terduduk lemas di kursi,menelan ludah. Nino mengernyitkan dahi dan tiba-tiba jambul rambut spikynya meleok tak berbentuk bagaikan rerumputan yang tersapu angin. Penerbangan delayed . Dia harus menunggu dua jam lagi. 

“Waduh.. terus gimana dong?? Tiga jam lagi baru sampai di sini, tidak mungkin , acaranya sudah bubar” cemasku

Sejenak aku dan Nino bersitatap, dengan tatapan penuh kebingungan.Sementara dalam atrium sudah terdengar menggema suara pembawa acara memulai seminar. Aku dan Nino hanya mondar-mandir tidak keruan.

“Aduch… macammana ini Ga? Rektor dah beri sambutan pula …” cemas Nino

“Kita harus segera hubungi Mr. Benjamin”usulku

Segera kuraih Hand Set, tertulis nama Pembantu Rektor III, Mr Benjamin Basintal

“Hallo, Good Morning ?”

“Morning Sir”

“Who’s Talking?”

“Ini Mega Sir”

“Oh… Mega, Bagiamana?”

“ Adam tidak bisa jadi pembicara, masih di Sabah..”

“Whaaaaaattt……??!!!” bagai tersengat lebah, suaranya lantang bagai halilintar, membuatku menjauhkan jarak Hand Set dari telingaku. Sesaat suasana sunyi senyap. Terbayang di dalam pikiranku Mr. Benjamin Basintal seorang dengan perawakan tak cukup tinggi, berwajah oriental khas Asia timur. Kepala yang sedikit botak, putih rambutnya dan mata yang nampak sudah sayu kini ternganga. Semua persiapan yang sudah dipersiapkan apakah harus gagal hanya karena Adam tidak ada? 

“Mega…” Setelah beberapa saat terdiam, Mr. Benjamin memecah keheningan membuatku tersentak dari lamunan.

“Iya pak?”

“You kena gantikan Adam tau….”

“ Sa…saya ?”

“iya,,, kamu pasti bisa”

“Ehhmmmm…” aku berpikir terdiam. Bagaimana mungkin, aku tanpa ada persiapan apapun harus berbicara di depan tamu-tamu agung dari Negara tetangga? Di depan beratus-ratus pasang mata?. Seminar lokal biasa mungkin tak masalah, tapi ini bukan main-main.

“Macam mana Mega? dapat?”

“Ya… ehmm… Okay Sir..”

“Well… Good Luck”

“Thank You Sir..”

Aku segera persiapakan diri, tugasku sebagai manager On Stage diambil alih oleh Nino. Mengganti pakaian selayaknya, dan memasuki atrium duduk di sebelah  kanan depan bersama beberapa pembicara besar. Adalah Prof Mei Young Menteri Sumber Daya Alam dari Myanmar, kemudian Janne Douglas doctor muda dari Amerika Serikat dan Dodid Murdohardono dari kementrian energi dan sumber daya mineral dari Indonesia yang merupakan Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan. 

Aku melihat Anna sibuk dengan cameranya. Ia memang tengah sibuk mengambil gambar sebagai wartawan majalah kampus tentu ia harus gesit. Ia terkejut melihatku duduk berada di samping para pembicara. Apa yang kau lakukan di situ? Di mana Adam?. Pasti itu yang ia pikirkan, aku hanya memberi isyarat padanya dengan meringis sambil menggerak-gerakkan kedua alisku ke atas dan ke bawah.

Tak bisa dielakkan aku kehilangan kepercayaan diri,serasa tidak bisa mengendalikan diri, semua keberanianku terasa raib terhisap oleh pikiran dan perasaan negatif yang melayang-layang menggodaku, tidak adanya kesiapan membuat tubuhku jadi dingin berkeringat “hemmm..” aku tarik nafas dalam-dalam. Aku keluarkan perlahan bersama semua ketidaknyamanan dan pikiran negatif. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma