[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-6

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-6

Berjalan kaki kami keluar menuju ice room. Kami pilih tempat duduk di luar yang tak beratap. Hanya beratap langit yang saat itu tampak ditaburi bintang-bintang. Udara malam yang  tidak panas dan tidak dingin,membuat malam ini benar-benar nikmat untuk melepas penat. Sepertinya bukan karena udara malam ini, tapi karena ada suasana lain di hatiku. Entah tak pernah sebelumnya aku begini. Senyumnya selalu membayangiku. Manis sekali. Sejak kapan ya aku selalu memikirkannya. Aneh.. tapi rasa ini indah. Udara yang aku hirup mendadak tercium aroma parfumnya. Memenuhi dada, meninggalkan sensasi rasa yang tak terungkapkan. 

“Mega…Mega.. hallo.”. tersentak, dengar suara Anna

“Ah.. iya? Ada apa?”

“Dari tadi diajak ngobrol nggak nyambung. Senyum-senyum sendiri lagi”

“Kayaknya ada yang lagi kasmaran nich. Cihuuiitt..siapa Ga?” Tanya Intan. 

“Ah.. apaan sich kamu Tan. Mana ada aku suka sama Adam”

“Ah.. Adam? Benarkan Narelagi jatuh cinta…”

“Cieee…”

“Kalian ini.. .” Tersipu malu.

Kami bertiga asik bercerita tentang pengalaman hari ini Anna yang bertemu Andrea Hirata,Intan yang tadi tercebur kolam karena menolong kucing yang hampir mati jatuh dari ranting pohon, entah apa yang dibuat kucing itu di atas pohon, sudah tahu di bawahnya ada kolam.. haha dasar kucing. Kemudian aku yang bolak-balik mencari buku diary biru, hah… bagaimana bisa dia hilang? Atau tertinggal di dalam rapid KL? Atau Train? Atau mungkin juga waktu aku duduk di taman? Aduchh… sifat teledor dan pelupa begini memang merugikan.

Kembali Aku Anna dan Intan menyusuri trotoar jalan, sebelum pulang kami mampir ke kedai mamak, beli makan malam. Di samping jalan raya yang masih terlihat lalu lalang kendaraan yang tak cukup ramai. Sehabis makan, rasa mual semakin menjadi kurasa, membuatku segera ingin berbaring di kamar dan tidur. Menaiki tangga hingga ke lantai tiga cukup membuat nafas sedikit tersengal-sengal. Sampai di lantai tiga hampir memasuki kamar, terlihat banyak orang berkumpul di dekat ruang tengah, tempat bekumpul, nonton TV dan memasang pengumuman. Ruangan ini adalah satu-satunya ruangan yang tak terjangkau CCTV. Terlihat Mak Cik Nor penjaga asrama, yang setiap harinya membersihkan kamar-kamar dan lingkungan asrama, menggelesot di lantai dan menjadi bulan-bulanan Mahasiswa yang berkumpul.

“Eh… ada apaan si rame banget?” bisik Intan yang tepat berada di samping kananku

“Jika kau kembalikan laptopku malam ini, habislah kau” Felly kakak tingkatku melayangkan tendangan kecil di kaki makcik, makcik menangis.

“Aku tidak mencurinya, bukan aku” keluar dari mulut mak cik pelan, melihat pemadangan itu tidak tahan aku langsung melontarkan kalimat pada Felly

“Hei kak! Bisa nggak halus sedikit?”Geramku

“Tau apa kau Mega, mahasiswa Indonesia yang sok tau, kita mesti memperlakukan maling dengan kasar biar dia tau rasa”

Aku melangkahkan kakiku ke arah mak cik, merendahkan tubuhku, hingga wajah kami sejajar bertatapan

“Betul makcik yang mengambil Laptop Felly?” tanyaku lembut, makcik hanya menggelengkan kepala dan berucap. 

“Aku bersumpah atas diri saya sendiri, bukan saya pelakunya” Entah dari mana asalnya. Aku mengenal mak cik bukanlah orang jahat, Ia penyabar dan rendah hati yang selama ini aku kenal mak cik Nor adalah pribadi yang jujur. Ach.. tapi entahlah

“ Buktinya apa jika makcik yang mencuri?” Tanyaku

Semua orang hanya terdiam, dan semua mata tertuju pada Aku dan Felly

“Jelas-jelas aku tahu yang terakhir masuk kamarku itu dia, dan hanya dia yang bisa masuk kamarku,sudah jelas mau apa lagi?”

“Begitu saja tidak cukup dijadikan bukti”

“Kau membela wanita tua ini, jangan-jangan kau adalah komplotan pencuri” sambil melayangkan kaki nya ke arah kaki makcik

“Hei…jangan tendangi makcik, sekali lagi kau tendang makcik maka…” belum sempat aku selesaikan ucapanku ia sudah menerocos

“ Maka apa? Berani menjamin apa kau, kalau wanita tua ini bukan pencuri?”

Pertanyaan Felly membuatku mengernyitkan dahi, kutarik nafas panjang. Anna mendekatiku dari belakang ia menjawilku, dan berbisik

“Sudah…ayo pergi saja, ini bukan urusan kita, jangan berurusan dengan Felly, bisa panjang entar urusannya” aku hanya terpaku dan menjawab dengan lantang 

“Tak perlu aku cari tahu. Yang benar tetap benar. Tuhan tidak tidur”

Felly segera membuang wajah membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah kamar yang tak jauh dari tempat kejadian. Semua orang yang ada di sanapun akhirnya bubar kembali ke kamar masing-masing.

Mak cik yang masih tergelatak tak berdaya di lantai, segera aku bangunkan

“Ayo makcik, bangulah, tidak usah takut, bukan mak cik yang mencuri kan? Kenapa harus takut?”

“Iya.. terimaksih nak..” mak cik memelukku dan menangis sesenggukan. Mak cik mengingatkanku pada ibuku, semakin menganga rinduku pada orang tua di Indonesia.

Intan dan Anna Mendekat.

“Sudahlah,,, makcik tidak usah menangis lagi, ada kami bertiga di belakang mak cik” ucap Anna, dengan tatapan yang dalam pada makcik.

“Iya.. makcik tidak usah khawatir, kami akan membantu makcik, aku tahu makcik orang yang baik kok, dan kami tahu waktak Felly seperti apa?”tambah Intan

  Aku terkejut dengan ucapan Anna dan Intan, aku pikir sebelumnya mereka tidak peduli, ternyata aku tidak akan bekerja sendirian. Aku menatap mata Anna dan Intan bergantian.

***

 Hari Minggu yang cerah, matahari sudah sepenggal naik, aku buka jendela. Aku biarkan udara segar memasuki ruangan, bersirkulasi dengan udara kamar. Sesekali terdengar burung yang berkicau, awan tipis itu menutupi sebagian wajah langit dan matahari menutupi silau matahari yang berpendar. Setelah sedikit lari pagi dan kuguyur tubuhku ini dengan air dingin, serasa membuat pagi ini lebih bersemangat, dari semalam masih juga kurasakan perih dan mual di perutku. Biasanya tidak selama ini, obat cair itu seperti tak bereaksi.

“Nek.. muke lu pucet banget, sakit?” Intan sambil memasukkan air mineral ke dalam tas slempangnya.

“Nggak tau nich, perutku masih perih aja dari semalam”

“Wah…harus segera ke Medical Centre loh Ga, takutnya kalo  jadi mag kronis tu loch”

“Aduh,.kamu jangan bikin aku panik dong tan..” ucapku yang kembali meringkuk di bed menahan rasa sakit.

“Nggak nakut-nakutin Ga, secepatnya kita ke medical centre..”

“Kenapa? Medical Centre? Siapa yang sakit?” Anna yang baru masuk kamar bertingkah seperti orang bingung

“Ini Mega, perutnya masih sakit katanya, dari tadi malem belum sembuh”

“Waduh…. Tapi sayangnya Medical Centre tutup, ini kan hari Minggu”

“Oh  iya,aduh,, harus ke rumah sakit dong….”keluhku

“Udah… elo buruan ganti baju, kita ke rumah sakit di seksion 13 aja yang deket, naik taxi ajah”

“Aduch… ”ucapku sedikit cemberut

“ Nggak usah mikirin duit, gampang gue ada kok..” kata Anna

“Eh…gua ikut yah?” ucap Intan

“Berarti kalian hari ini nggak ke twin tower?” tanyaku sambil menatap mata Anna dan Intan bergantian, merekapun terlihat saling berpandangan dan tersenyum kemudian berucap

“Kesehatan sahabat lebih penting” merekapun tersenyum, akupun ikut tersenyum

“Terimakasih Na… tan… aku tak tau bagimana jadinya tanpa sahabat seperti kalian di sini” tanpa terasa air mataku sedikit meleleh.

Sejurus kemudian Anna memesan Taxi, kami bertiga pergi ke rumah sakit. Dalam perjalanan yang hanya sekitar sepuluh menit itu, aku terus memutar otak, untuk bagaimana membuktikkan, bahwa makcik tidak bersalah. Terus berfikir tapi belum juga kutemukan solusinya.  Sesampainya di rumah sakit dengan nomor antri yang cukup panjang, akhrnya setelah 15 menit kemudian, nomor antrianku dipanggil. Seorang dokter wanita dengan jilbab putih yang rapi memeriksaku dengan seksama.

Sambil ia ukur tensi darahku ia bertanya

“Sebelumnya sudah sering kambuh?”

“Lumayan dok, biasanya kambuh kalau telat makan”

“Jangan sampai telat makan lagi, hindari minuman berkafein, makanan, pedas dan asam, kemudian juga hindari makanan siap saji yah, ini resep obatnya”

“Baik dok..  terimkasaih.”

Selesai diperiksa, kubuka pintu ruang periksa, kemudian Anna dan Intan yang telah berdiri di ruang tunggu segera berdiri

“Apa kata dokter?”Tanya Anna

“Yah… seperti biasa, hindari makan ini … itu…” 

“Ah… syukurlah nggak harus opname,mana resep obatnya?”ujar Anna

Begitu aku tunjukkan kertas resep obatnya, Anna langsung merampasnya dari tanganku, kemudian segera pergi ke tempat pengambilan obat dan membayarnya. Anna jiwa penolongnya selalu memesona.

Sesampainya lagi di asrama aku berlarian menaiki tangga. Anna dan Intan pergi shopping.Setelah minum obat kucoba rebahkan tubuhku di atas bedku yang terletak di dekat jendela. Aku arahkan mataku ke jendela, di luar sana aku melihat langit yang begitu terang, awan-awan yang tak beberbentuk itu, mengingatkanku pada seseorang. Namanya sepertinya belakangan ini selalu memenuhi pikiranku.  akan kejadian tadi malam. Ach.. bagaimana caranya pencuri itu masuk ke kamar Felly, sementara Felly di dalam kamar hanya tinggal sendiri. Pastilah tak ada yang memegang kunci kamar kecuali dia, penjaga  atau pencuri itu bisa mengambil kunci duplikat yang ada di ruang penjaga asrama lantai satu. Tapi sangatlah tidak mungkin, penjagaanya cukup ketat, aku harus segera mencari makcik untuk menyodorinya beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantu memecahkan masalah ini. Anna dan Intan tampak belum pulang dari berbelanja, kutulis sms untuk mereka.

Anna, Intan aku pergi sebentar, Kunci aku taruh di ruang penjaga yah.

“Kenzi dan Kenzo, Kakak pergi dulu ya.. baik-baik sayang…”

Bergegas menuju lantai satu, di pos penjagaan asrama itulah aku titipkan kunci kamar. Dekat kotak penyimpanan kunci, terpasang jadwal clean up bed room untuk lantai satu hingga lima. Kupaksa retina mataku untuk lebih berfokus membaca tulisan kecil itu. Pegal. Mungkin minus mataku. Samar-samar tertulis tiga nama orang petugas bersih-bersih asrama.Nor Salamah, Een Yamini dan Siti Hasanah.

Cik Ahmad penjaga pos. Terlihat sibuk dengan hand phonenya.

“Pak Cik…boleh tak saye pinjam, cleaning schedule penjage asrama tu?” tanyaku pada Pak Cik Ahmad yang hendak melangkahkan kakinya ke luar ruangan sepertinya sedang terburu-buru, setelah ia baca sms di Hand Phonenya.

“Buat ape?” Pak Cik berhenti sejenak 

“Emm.. tak ade, nak tau saje....”

“Ee… ambiklah, copy saja” sambil berlari ke luar ruangan

“Ee… terimkasih pakcik…” aku setengah teriak.

Sambil membawa kertas itu segera aku copy ke warung foto copy yang tak jauh dari sana, salinannya aku bawa, dan aslinya aku kembali tempel di asalnya. Setelah kututup ruangan penjaga, dengan sigap aku melangkahkan kaki menuju lantai lima untuk menemui mak cik Nor. Menaiki tangga demi tangga membuat perih dalam perutku mulai terasa setelah menghilang untuk beberapa saat. Nafasku terengah-engah sesampainya di lantai lima.Aku berputar-putar dan mengedarkan pandanganku ke setiap sudut lantai lima mencari keberadaan makcik. Sampai di ruang tengah, aku lihat makcik yang sibuk mengepel.

 “Makcik sibuk?”

“ Eehh..Mega, ya.. biasalah, sibuk bersih-bersih”.Segera aku ambil alat pel yang masih ia pegang kemudian meminta makcik Nor duduk.

“Jangan.. biar makcik saja, “ kata makcik

“Tak apa, makcik duduk saja. Makcik pasti penat. Sejenak istirahat kan bo aku akan mengepel dengan cepat, nanti Nare ingin bertanya beberapa hal pada makcik”

Makcikpun masih saja tidak mengijinkan aku mengepel. Aku tak peduli. Aku hidupkan TV. Mempersilahkan Makcik duduk dan menikmati sajian program TV.

  Beberapa mahasiswa lalu lalang. Memandangku. Lalu berlalu tak peduli. Aku terus mengepel cepat. Bahkan secepat kilat. Wusshhh.. seperti angin. Dalam sekejap lantai kinclong. Cliiing.. Hingga ke seluruh sudut ruangan. 

Gerah. Keringat bercucuran. Makcik mengambilkanku segelas air putih. 

“Alamak… keringat kau ni, macam lepas mandi saja ba…” Logat kental asli Sabah.

Setelah air itu membasahi kerongkonganku, aku mulai menanyakan pada mak cik tentang beberapa hal.

“ Mak cik, bagaimana ceritanya sich.. kok Felly bisa seenaknya sendiri menuduh mak cik pencuri..”

“En…tah… Mak cik pun tahu ba..” aku perhatikan bibir makcik yang merah bergaris. Bukan karena lipstick, tapi karna aktivitas menginangnya.

“Eh.. kau sudah makan pagi kah..?” Aku menggeleng

“Makcik, Mega tak pernah makan pagi, makan siang juga makan malam..”

“Ba… iya kah? Tak lapar kau?” Aku menggeleng

“Mega memang tak pernah makan pagi, tapi makan nasi.. hahahahaha..”

“Betul juga kau cakap, mana bisa kita makan pagi… hahahah”

Makcik membelai kepalaku lembut. Tersenyum. Sinar matanya teduh. Matanya sipit. Kulit wajahnya sudah kendur. Karet gelang mengikat rambut makcik. Tergelung rapi. 

Semua keterangan yang makcik berikan tentang kejadian di kamar Felly, membuat aku geleng kepala.

Makcik masuk ruangan pukul Sembilan malam.Sepuluh menit sebelum Felly masuk, kamar dalam kondisi rapi. Hanya beberapa pakaian yang berhamburan di tempat tidurnya. Pintu kamar mandi dalam kondisi terbuka dan lampu yang masih dalam kondisi on. Mak cik mengaku ia tidak membuka pintu lemari. Hanya saja saat ia ingin meninggalkan ruangan ia melihat lemari pintu belum ditutup. Maka ia kembali melangkahkan kaki ke belakang untuk menutup pintu. 

Saat itu secara tiba-tiba Felly membuka pintu dan seakan memergokinya yang tengah mencuri laptopnya. Sungguh suatu tuduhan yang sangat bodoh dan tak beralasan.

  Sedari dulu memang begitu. Paling berkuasa. Teringat dulu saat aku baru masuk asrama. Ia  menertawaiku, entah karena apa. Melempariku dengan sampah-sampah yang ada di tong  dekat ruang tengah. Sambil tertawa bersama gengnya dan mengataiku sampah berjalan.

 Kemudian mereka juga menggelindingkan koper hingga turun dan berhenti di lantai dua. 

Ah.. tapi bukannya sekarang bukan waktunya untuk mengatakan tuduhan itu tak beralasan. Tapi menemukan siapa pelakunya. Sungguh malas berurusan dengan Felly. Jika bukan karena makcik, maka aku akan lebih baik tutup telinga. 

“Makcik…. Mega, balik ke kamar dulu yah… mau sholat, Makcik juga sambil berdo’a ya..”

“Makcik mesti berdo’a pada siapa? Makcik tidak punya Tuhan..”

Aku tercengang. Kalimatku tercekat di tenggorokan. 

Tiba-tiba makcik memelukku erat. 

“Kau mirip dengan putri makcik yang telah tiada” Makcik menangis. Aku terdiam. Pamitan.

Aku raih Hand Phone. Lagi-lagi aku ingin mengirimkan sms untuknya. Adam. Semakin membuat aku merasa tak dapat lepas darinya. 

Terkadang beban begitu berat menekan pundak.. Bisakah aku letakkan pundakku sementara. Untuk aku bisa beristirahat sejenak?

Bisa saja kau letakkan pundakmu untk sejenak beristirahat, tapi itu akan membuang waktumu. Masih banyak yang harus kau kerjakan. Mintalah untuk Tuhan lebih menguatkan pundakmu.

Terimakasih 

Keep fighting 

Aku tersenyum sendiri membaca smsnya. Adam. Meneruska agenda siang ini adalah ke toko buku bareng Anna dan Intan, sekaligus mencari buku diari yang baru, meski yang baru tak akan pernah menggantikan yang lama.

***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma