[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-5

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-5
  • ***

Sore ini aku dikejutkan oleh telpon dengan nada suara yang sebelumnya belum pernah aku kenal. Panggilan untuk besok ke Wijaya Erlangga, Sdn.Bhd, bertemu dengan top  manajer untuk presentasi mengenai hasil survey. 

Di sebuah ruangan, dengan meja lonjong besar, dikelilingi oleh kursi keras kayu jati dengan busa empuk. Ruangan masih sepi, hanya ada kursi-kursi kosong dan satu orang berjas hitam elegan sepertinya masih sibuk membuka-buka lembaran kertas di meja. Kami memang berangkat lebih awal dari jam yang dijanjikan

“Selamat pagi”. Sapaku. Acauh tak acuh, masih sibuk membuka lembaran-lembaran kertasnya mencari sesuatu

“Selamat pagi cik..” sapa Anna lebih keras

“Oh..iya selamat pagi, kalian surveyor itu?”

“Iya betul cik..”. ia lalu berdiri menjabat tangan kami. Lalu mempersilahkan kami duduk.

“Terimakasih cik Wijaya?” aku tahu namanya dari tulisan yang terpasang di dada kirinya. Ia masih terus sibuk dengan lembaran-lembaran kertas mencari sesuatu. Melirik arloji di tangan kirinya.

“Pagi sangat, good..”. Beberapa saat kemudian beberapa orang datang, lalu memenuhi kursi mengelilingi meja lojong nan besar itu. bukan hanya para surveyor yang datang, tetapi juga dari pemerintah daerah yang mengurus tentang tata ruang kota, juga para kontraktor.

“Baik selamat pagi semuanya, terimkasih telah menyempatkan sedikit waktu hari ini. bagi saya pertemuan ini sangat penting. Sebab pertemuan ini yang akan menentukan keputusan besar.”

“jadi saya mohon, untuk kejujurannya mempresentasikan dari bidang kalian masing-masing..”. hampir semua hadirin mengangguk-anggukan kepalanya pertanda paham atau pura-pura paham. Satu demi satu mereka mempresentasikan hasil survey mereka masing-masing.

Kini tiba giliranku untuk presentasi

“Presentasi ini bagi saya juga bukan presentasi biasa, sebab sebuah keputusan besar nanti akan muncul, yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Maka saya pun tak akan main-main.” Slide demi slide mulai muncul, diiringi penjelasan dan alasan yang menurutku cukup logis. 

“Proyek ini bisa diteruskan jika, lebih dari 60% warga setuju untuk direlokasikan ke tempat. Saran saya untuk memindahkan mereka ke tempat yang lebih baik, dengan sanitasi, drainase yang baik dan juga tempat yang layak huni.”

“Hanya sebanyak 23% warga yang setuju untuk direlokasikan. Sebagian besar dari mereka beralasan karena sudah nyaman dengan tempat yang mereka tinggali saat ini. hal ini mungkin perlu di agendakan pertemuan dengan perwakilan kepala keluarga. Agar mereka tahu, bahwa mereka akan mendapatkan tempat yang lebih baik”

  “Berkaitan dengan konstruksi yang ramah lingkungan, perlu diadakan pemilihan material yang mampu menekan konsumsi energy. Pasca konstruksi juga diharapkan tetap ada sebagai tahapan pemeliharaan bangunan.. Proyek properti harus menerapkan konservasi dan daur ulang bahan bangunan yang ramah lingkungan, tata guna lahan yang berkelanjutan, serta meminimalkan limbah, dan meminimalkan penggunaan bahan bangunan perusak ozon."

 Sebuah Novel

“Anna .. open the door please..”

“ Iye sebentar..” teriak Intan

“Kok jam segini baru pulang..?”

“Iya tadi browsing dulu, pake wi fi di KL Central.. taraa… aku bawakan nasi goreng kampung buat Anna dan burger buat Intan…”

“Waduh.. burger.. mantaabbb, kebeneran nich lagi laper.. acara apa?..’

“Lolos beasiswa lagi..”

“Mantaabb…” 

“Hemm.. kayaknya gua mencium aroma enak nih..” Anna yang baru selesai mandi, mungkin malam ini habis berlulur ria satu setengah jam. Lihat saja jam setengah Sembilan baru selesai mandi.

“Iya,, ada nasi goreng tuch, makan aja…”

“Hemm,… nyam..nyam… Thank’s Mega, eh ada titipan dari bang Adam tuch..”

“Apa? Makanan Kenzi ya?” tanyaku sambil melihat Kenzi dan Kenzo 

“ Iya makanan kura-kura, sama ada bungkusan, buku kayaknya..” jawab Anna yang mulai melahap nasi gorengnya

“Buku? Perasaan aku nggak nitip buku sama dia..”

Aku buka bungkusan dalam kantong plastik. Dua botol makanan kura-kura dan bungkusan entah apa. Perlahan aku buka bungkusan itu,  Novel For Sale; babys shoes. Never worn. Karangan Ernest Hemingway. Ini novel yang selama ini aku cari

“Cie..cie.. yang baru dapat hadiah, senyum-senyum sendiri’ Celetuk Intan yang sedang asik melahap hamburger.

“Wajar dong, sudah lama aku cari novel ini tan..”

Menenteng handuk menuju kamar mandi, menyapa terlebih dahulu Kenzi dan Kenzo

“Sayang sudah pada bobo’ ya…? Met bobo ya sayang,, sampai jumpa besok…” sambil aku elus-elus cangkangya. Bergegas mandi air hangat akan sedikit mengenyahkan lelah dari tubuhku.

Bersandar pada bantal melepas penat di bed tidur. Melihat Anna dan Intan yang sudah tertidur pulas. Aku masih memangku laptopku, menyelesaikan beberapa tugas kuliah, membuka FB untuk melihat pesanan. Secangkir kopi panas menemaniku. Suasana sunyi senyap, hanya suara detik jarum jam walker dan petikan key pad laptop menemaniku.

List pesanan pekan ini

1. Krim Zaitun 

2. Propolis

3.Sari kurma

4. Mukena lukis

5. Jilbab pasmina

Dear my Heart..

Serentetan perjuangan yang aku lalui, ilumu-ilmu yang aku dapatkan hari ini.

Suasana hatiku sudah tak tentu, terselip kesedihan ketika namaku belum disebut. Putus asa karena mungkin aku bukan salah satu di antara mereka yang lolos.

Melihat juri yang memperebutkan antara aku dan Dani, membanding-bandingkan dan mengadu antara aku dan Dia.

Setelah hati ini semakin kacau, ternyata Kau kejutkan aku. Aku lolos bahkan mendapat nilai paling tinggi. Terimakasih dapat aku raih lagi beasiswa itu.

***

Matahari mulai beranjak dari peraduannya. Memunculkan semburat cahaya oranye pada awan. Embun yang menyelimuti dedaunan pohon itu, telah kering menguap.

Anna sudah berdandan rapi dengan  celana jeans kaos kuning muda menyala. Rambut hitamnya yang ia ikat tinggi dipadankan dengan kaca mata hitam dan topi kuning kombinasi hijau. Kemudian tas punggung, lengkap dengan air mineral.

Intan juga sudah siap. Celana panjang kulot dan hem kotak-kotak merah, tas kecil yang menyelempang di pundaknya ia nampak lebih santai dari biasanya tubuhnya yang tambun, tak terlihat lekuk tubuhnya. 

Setiap akhir pekan, kami beraksi di menara petronas untuk menjadi tour guide. We do like a professional. Jika tidak, bisa saja suatu saat  polisi datang beroperasi sedangkan kami tidak memiliki ijin untuk bekerja di sini. Visa kami hanyalah pas pelajar, jangan bertanya jika tertangkap, urusannya akan ruet. Harus pandai juga akrab dan bergaul dengan konsulat pak Abbas Basori namanya, perwakilan Indonesia di kedutaan RI di KL. Tugasnya representing, protecting, negociating, promoting, reporting dan apalah serba ing..ing... Tertangkap, bisa saja masuk sel. Cukup beresiko, tapi harus bagaimana lagi, biaya hidup di sini sungguh mahal. Yah.. setidaknya aku sudah tidak perlu minta kiriman tiap bulan dari Indonesia.

  Sebagian hasilnya kutabung untuk persediaan ketika sakit atau keadaan darurat lainnya. Beruntung uang kuliah separuh lebih sudah tidak menjadi tanggunganku, sebab sudah tertutup dengan beasiswa yang aku peroleh tiap tengah semeter. Berbeda dengan Anna, seorang anak pengusaha kaya di Jakarta, bisa minta kiriman uang kapanpun ia mau. Tapi entah apa alasan dia ikut, ketika ditanya Anna hanya menjawab, seru saja bisa berpetualang bersama kalian bagi Anna ini hanyalah jalan-jalan dan pengalaman untuk ia bisa ceritakan pada anak cucunya kelak. Tak jauh beda dengan Intan, Dia juga seorang anak dari pengusaha kaya di Jakarta, namun bedanya belum lama ini Ayahnya sakit-sakitan dan Intanpun dituntut untuk lebih mandiri menghidupi dirinya sendiri.

Hand Phoneku bergetar.

Pagi Mega, ada acara ke mana hari ini.

Pagi juga bang. Biasa bang mau ke KLCC

Acara apa?

Cari duit bang

??? okelah semangat menjalani hari 

Semangat!!! 

“Sudah siap kan? Berangkat yuck..!!” ajakku pada mereka yang masih berdiri di depan kaca.

“Eit… tunggu sebentar, kayaknya ada yang beda” ucap Anna sambil melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki

“Iya nich… kaya’nya ada yang beda yah? Waaahhh… Mantab Cuuiy!” tambah Intan

“Apaan?” tanyaku

“Waahhhh…. Ihir… sekarang Mega udah pinter dandan, pake eye liner ama bedak segala. Kesamber setan mana nich??” ucap Anna seraya melihatku dengan menahan tawa.

“Ada yang jatuh cinta nich kayaknya, hayooo sama siapa Ga??? Jangan-jangan sama bang Adam” ucap Intan Menggoda

“Cie…cie..”tambah Anna

“Idichhh… kalian ni apaan sich? Penampilanku amburadul salah, sekarang mecoba terlihat lebih segar, malah kalian anggap aku lagi jatuh cinta, hemmm….” Aku bergedek

“Haha.. iya..iya kaga’ usah cemberut gitu lah…kaga’ jadi cantik entar” ucap Intan 

“Bagus lah peningkatan… ihiiiirrrr….!” Ucap Anna

“Udah yuck berangkat! Berharap hari ini semua lancar”ajakku

“Amiin…”

Sebelum berangkat seperti biasa kami menundukkan kepala sejenak dan berdo’a mohon keberkahan dan kelancaran. Setelah selesai kami mengumpulkan tangan kanan saling berhadapan kemudian melonjak dan memekikkan kata

“Semangaatttt…..!!!!!!”

  Sejak awal kami memang dekat. Terkadang terjadi juga banyak gesekan karena masalah sepele, karena kamar yang berantakan, karena Intan yang suka bernyanyi keras-keras dan masalah sepele lainnya, namun segera hilang dalam satu dua tiga empat lima…… jam.

Matahari sangat terik, berjubel manusia memenuhi kawasan twin Tower. Nampak juga wajah-wajah ras putih dari belahan dunia barat. Tujuan mereka tak lepas dari Skybridge untuk melihat pemandangan Kuala Lumpur dari sana. Skybrige sebuah jembatan penghubung dua menara yang menghubungkan lantai 41 dan 42.  Mereka harus antri untuk mendapatkan tiketnya. Tiket terbatas. Mereka bisa dapatkan gratis. Loket dibuka jam 08.30-17.00. Selain ke Skybrige mereka juga bisa sekedar belanja di Suria KLCC, yang merupakan Mall tersibuk di Kuala Lumpur. Atau hanya duduk-duduk melepas penat di KLCC park yang menyediakan trek joging, kolam bermain, dan tempat bermain untuk anak-anak serta mempertunjukkan kolam dengan air mancur simfonik. Selain itu terdapat pula Orkestra Filharmonik petronas. 

Kami bertiga berpisah untuk mencari target masing-masing, aku mendapati taman kawasan kolam di KLCC Park, Intan menempatkan dirinya di pintu keluar stesen KLCC, sedangkan Anna berada tak jauh dari kawasan Suria KLCC, tepatnya di mall bernama I SETAN.

  Aku masih duduk menikmati pemandangan air yang menari-nari simfonik di atas kolam yang begitu indah. Di kanan-kiriku terlihat banyak pasangan muda-mudi asik menikmati kencan dan terkadang tak sengaja kulihat mereka yang ber-ras putih melakukan adegan yang seharusnya tidak dilakukan di tempat umum. Aku edarkan pandangan di setiap sudut taman, nampaknya belum ada target yang bisa aku tawarkan bantuan. Aku tenggak air mineral dalam tasku, kunikmati kesegaran air menyentuh tenggorokan di tengahnya terik matahari yang membuat tempat duduk  dari bahan semen ini  terasa sangat panas. Aku tutup mataku sejenak yang terasa lelah karena silau matahari yang tajam. Kondisi begini memang sebaiknya mengenakan kaca mata hitam anti UV. Anna biasa menawarkan padaku kacamatanya, namun ada saja alasan untuk aku tidak percaya diri mengenakannya.Aku mulai membuka mata, sinar matahari sedikit demi sedikit mulai nampak dari sela-sela jari, tiba-tiba aku dikagetkan datangnya seorang wanita berwajah Asia timur dengan menenteng tas ransel dan kamera yang tergantung di lehernya.

“Are you a tour guide?” wanita itu  mengarahkan pandangannya ke card yang tertempel di dada kiriku bertuliskan “NEED GUIDE FOR COMPANY YOUR TRIP?”

“Yes I am, Could I help You?

“Of coure I need someone for company me, give me information about that” wanita itu menunjukkan jari telunjukkanya ke arah twin tower. Aku segera sigap berdiri berjalan berdampingan dengan wanita yang menyebutkan dirinya bernama Kim Su Jin dari korea Selatan.

***

Kejadian di Lantai Tiga

Rindu, di halaman rinduku kini semakin melebarkan sayapnya untuk terbang menemui sang pujaan hati. Melalui beberapa hari tanpa melihat wajahnya sudah mampu membuat dadaku penuh dengan rasa yang membuat hari-hariku bagai sayur kurang garam hambar menyelimuti. Namun ada tembok penghalang nan besar antara aku dan dia.

Jarum pendek jam waker di atas meja belajarku menunjukan angka delapan. Lambung dalam perutku sudah protes, asam lambung yang terus menggiling tanpa ada makanan yang masuk sedari siang mungkin sedikit melukai lambungku. Aku terus mengobarak-abrik seisi lemari, tas, tempat tidur, bawah bantal, kolong tempat tidur. Tak ada jejak.

“Mega Kamu lagi nyari apaan sich, dari tadi sibuk sendiri” Tanya Anna

“Nyari Diary, the Blue One… ilang“

“Hilang di mana?” Tanya Intan

“Aku lupa naruh, kayaknya aku taruh di tas dech tadi. Biasanya sih di bawah bantal”

“Heemmmm…. Apa sich kamu yang nggak lupa Ga.., udah cari besok aja, nongkrong di ice room yuck, aku traktir kalian dech...” girang Anna

Intan yang tengah rebahan di atas bednya, tergirap bangun dan berteriak

“Yang bener Na? asikkkk….!!  Ayo buruan dah kalau begitu?”

“Ice room di seksion 8 itu?” Aku terus memegangi perutku yang terasa semakin perih

“Iya.. kamu kenapa Ga? Wajahmu meringis begitu?” Tanya Anna seraya mendekatiku

“Nggak tau nich, sepertinya magku kambuh lagi”

“Dasar Nenek…!!pasti kamu telat makan lagi, udah dibilangin kalo masalah makan nomor satu, nggak boleh telat, kalau sudah sakit begini gimana coba?siapa yang ngerasain sakit?” Ujar Anna 

“Hehehe… iya aku..” jawabku meringis

“Memang nenek sudah tua, kucing.. eh kunci ketinggalan, dompet sering ketinggalan. Tapi anehnya, pelajaran dari jaman Bahoela sampai sekarang masih saja ingat yah? Heran dech…”Ucap Intan

Aku hanya tertawa meringis sambil terus kupegangi perut dan menahan perih di perutku.

“Ya sudah ini diminum dulu obatnya, abis itu kita makan, dan ingat nggak boleh makan pedas sama asam dulu” omel Anna sambil menyodoriku obat mag cair. 

“Oke.. tank You Anna” Dia hanya tersenyum padaku. Anna dan Intan memperhatikan aku yang tengah menenggak satu sendok makan obat mag,dengan ekspresi wajah setengah nyengir karena merasakan rasa yang tidak enak, serasa ingin muntah. Anna sigap memberikanku segelas air putih. Hand phoneku bergetar.

Indahnya langit malam ini tak akan sempurna tanpa gemerlapan bintang yang menghiasi malam.

Tersenyum menyeringai. 

Bulan yang menjadi bagian hidup bumi selalu menyertainya, dengan segala gambaran yang ia punya. Saat ia tak muncul, segurat muncul, separuh atau terlihat penuh. Bumi tak keberatan. Selalu bersama setiap keadaan.

That Nice 

 

Tank You, 

 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma